
Aku bisa merasakan kalau Kelana tengah berusaha menghadapi singa itu. Dengan teknik tebasan angin miliknya Kelana mampu memukul singa itu. Sayangnya singa itu tidak tinggal diam. Dia melancarkan serangan hembusan api ungu yang terkenal akan suhu panasnya yang melebihi panas api pada umumnya. Kelana kali ini mampu menghindari sengangan tersebut, sedikit saja telat menghindari api itu akan menghanguskan tubuhnya.
"Kuat sekali" ujar Kelana.
"Kau pikir dapat menghindari ini yang selanjutnya" kata singa itu.
"Hujan api beracun!" singa itu mengeluarkan jurusnya.
Api itu berada di angkasa seperti bola meteor kecil yang siap dijatuhkan.
"Rasakan ini. Haaaa" bola api itu terjun seperti hujan turun dari langit. Kelana tidak dapat mengelaknya.
Api itu menghujam tanah dengan cepat. Kebakaran dimana-mana. Tumbuhan dengan radius seratus meter mendadak mati dengan seketika. Api itu benar-banar mengerikan.
"Sepertinya bocah manusia itu mati setelah menerima serangan tadi. Hahahah" singa itu percaya diri.
Beberapa saat kemudian api itu padam. Singa itu mengarah kan pandangannya dimana kelana tadi berdiri.
"Hampir saja telat" ujarku.
"A-api hitam? siapa kau sebenarnya?" singa itu agak tidak percaya bisa melihat api hitam itu.
Sebenarnya api milikku berwarna putih bercorak emas jika dilihat dari kejauhan. Karena menetralisir racun warnanya berubah menjadi hitam.
"Ho, api hitam huh?" aku berdiri di depan Kelana yang terduduk di belakang ku.
"Modo?" Kelana kaget.
"Api hitam hanya untuk memanggang ayam. Ini lebih dari itu" kataku sambil memperlihatkan api putih milikku di ujung jari ku.
"A-api abadi?" aku tau dia kaget.
Sejenak dia terdiam. Entah apa yang ia pikirkan.
"Walau pun aku akan terbakar habis sampai rohku sekalipun, aku tak akan menyerah" katanya sambil mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
"Leonard, hentikan" seseorang berhasil menghentikan singa itu.
Ternyata Widi baru sampai. Dia mendarat dengan anggun.
__ADS_1
"Raja" singa itu berlutut ketika Widi datang.
"Ca-cantik sekali" Kelana berdecak kagum.
"Jadi itu penguasa dataran ini?" sambungnya.
"Hei manusia, sopanlah ketika raja datang. Dasar manusia lemah" kata singa itu dengan geram.
"Sudahlah tak apa. Perkenalan, ini Modo dan temannya. Mereka temanku" jelas Widi kepada singa itu hingga ia tak mempercayainya jika aku dan Widi berteman.
Sebenarnya dalam perjalanan ini aku menceritakan semuanya kepada Widi akan Kelana. Memang, Kelana memiliki tubuh yang spesial yang disebut tubuh fajar seribu tahun. seorang yang mempunyai tubuh seperti itu hanya akan hadir seribu tahun sekali. Tubuh ini sangat berharga bagi singa ungu itu. Pasalnya seseorang yang mempunyai tubuh fajar seribu tahun adalah orang yang di takdirkan memegang senjata suci milik ras singa ungu. Bukan hanya itu, orang yang ditakdirkan memiliki tubuh fajar seribu tahun akan menjadi raja bagi ras singa ungu dan menjadikan ras tersebut menjadi lebih kuat.
Pada zaman dahulu seseorang dengan kekuatan spesial menyelamatkan ras singa hijau. Orang tersebut bernama Penawar Racun. Seorang pendekar yang mengajarkan ras singa ungu menggunakan racun dan api secara berdampingan. Dulu ras singa ungu hanya akan hidup beberapa puluh tahun saja karena di ekor mereka yang berbentuk seperti ular mengandung racun mematikan bahkan bagi tubuh mereka sendiri.
Pendekar Penawar Racun itu mengajarkan mereka ras singa ungu untuk mengendalikan racun mereka. Dengan perjuangan keras akhirnya mereka berhasil dan menjadi salah satu hewan spiritual yang terkuat di dunia saat ini. Sebab itu pemimpin ras singa putih sangat berterima kasih kepada orang tersebut.
Pada akhir hayatnya pendekar Penawar Racun itu berpesan bahwa suatu saat jika menemukan tubuh fajar seribu tahun ras singa harus mewariskan buku yang ditinggalkan pendekar itu. Tubuh fajar seribu tahun adalah tubuh yang mampu bertahan melawan racun tingkat tinggi. Walau akan mati juga karena racun itu setidaknya membutuhkan waktu lama sampai orang tersebut benar-benar tidak dapat mempertahankan efek racunnya. Bahkan jika itu racun tingkat menengah bawah tidak berefek sama sekali pada orang yang memiliki tubuh fajar seribu tahun.
Singa itu terlihat agak murung. Mungkin ia teringat sesuatu.
"Maafkan aku duhai manusia. Aku harap kau memaafkan aku" kata singa itu.
"Se-se-seenaknya ka-kau bicara" suara kelana terdengar bergetar.
Dengan anggun singa itu datang dan berlutut di dekat kami. Kelana semakin bergetar.
"Sebagai permohanan maaf, saya sebagai panglima ras singa ungu akan membawa anda kepada pemimpin kami dan memberi sedikit kompensasi" paparnya dengan lembut.
Kurasa itu sudah seharusnya. Pikirku.
"Tidak! Mereka akan memakanku. Kalau tidak aku akan diberi makan yang enak lalu diberi racun. Atau tidak mereka mereka...."
Haih. Malas menulis ocehan Kelana yang lagi parno. Bisa-bisa menghabiskan seribu kata.
"Kalau begitu aku saja yang akan memakanmu disini sampai tidak tersisa" kata singa itu.
Seketika Kelana terdiam. Tubuhnya lemas dan mulutnya berbusa.
"Haih, bikin repot saja. Pakek acara pingsan segala" keluh ku.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian setelah Kelana kubawa.
"Aaaaaa! Kandang singa!" teriaknya terdengar halaman depan.
"Modo! Banyak singa disini" kata Kelana panik.
"Tenang lah" kataku.
Dia tidak mendengarkan ku. Hanya clingak-clinguk ketakutan.
"Hoi. Tenang lah" teriakku sambil menggoyangkan tubuhnya sampai mulutnya berbusa seraya menjelaskan apa yang terjadi.
"Oh, seperti itu"
Dia agak tenang setelah kujelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi tidak ada makanan pembuka yang terbuat dari manusia?" kata kelana.
"Tidak. Hanya akan memajang bokong mu di perapian pemimpin saja" kata Leonard dari belakang Kelana tepat. Kelana pucat lagi.
"Leo!" seru pemimpin ras singa ungu.
"Aku hanya menggoda dia saja ayah" Leonard menjauh sambil tertawa.
"Baiklah. Untuk sisanya aku serahkan kepada pemimpin Lui saja" kataku berusaha mengahiri pembicaraan.
"Tak apa pendekar Modo. Itu sudah menjadi kewajiban kami" pemimpin Lui merendah.
"Ah, aku hanya orang biasa. Kalau begitu aku titip Kelana disini pemimpin Lui. Aku mohon diri sekarang" kataku sembari memberi salam.
"Ah, baiklah. Mari saya hantar sampai gerbang depan"
Kami pun berjalan santai sampai gerbang wilayah ras singa ungu. Setelah berpamitan lagi aku langsung bergegas pergi.
Ditengah perjalanan Widi ternyata sudah menungguku di bawah pohon rindang dekat padang sabana. Dia terlihat agak murung.
"Ada apa?" tanya ku setelah aku berada di dekatnya.
"Aku butuh bantuanmu. Ini mendadak" tanpa basa-basi dia langsung menggandeng tanganku dan terbang pergi.
__ADS_1