Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Misi Pertama Bersama Alice


__ADS_3

Aku sudah memikirkan ini sangat lama. Fondasi Alice terletak pada sihir dan bukan dari dasar pernafasan. Aku takut terjadi sesuatu padanya ketika aku memaksanya melalukan teknik pernafasan dan penyerapan mana secara bersamaan. Jadi aku hanya mengajarkan apa yang Arisanti si dewi salju itu katakan. Mungkin ini yang terbaik.


"Cobalah fokuskan pikiranmu untuk menyerap mana di sekitar sini"


"Baik, master"


Aku lega karena dia sangat terampil. Dengan dua atau tiga peringatan dia langsung dapat memahami penyerapan mana itu. Sejujurnya aku masih bingung akan hal ini. Tapi itu terlihat berjalan dengan lancar.


Selanjutnya aku akan ke guild untuk mencari misi untuk kita berdua. Karena kami yang terkuat di guild kami diwajibkan menerima seluruh misi tingkat delapan keatas. Namun demikian, pembagian hasil yang kami dapat tidaklah seratus persen melainkan delapan puluh persen, dan sisanya akan dibagi merata ke setiap petualang yang berhasil menyelesaikan misi dengan sempurna.


Ini cukup adil. Mengingat banyaknya bayaran yang diterima misi tingkat atas seorang pendekar pedang, tentu aku tak ingin memonopoli itu sendiri. Dulunya sih ada party dari kelompoknya Alice yang di ketuai olehnya. Namun sekarang dia memilih untuk menjadi muridku. Untuk itulah si sesepuh Husen menerapkan kebijakan tersebut melalui rundingan.


"Nona, Kana. Apa ada misi baru?" aku langsung bertanya ketika sudah sampai.


"Ah, tuan Kara!" dia terkejut.


"Sebentar, aku akan mengeceknya untukmu"


Setelah beberpa saat.


"Ah, ini semua adalah misi tingkat delapan dan sembilan. Apakah ada yang anda minati?" dia memberiku setumpuk kertas misi.


"Banyak juga ya. Rata-rata tempatnya tak jauh dari sini" kataku sembari memilah misi mana yang cocok untuk latihannya.


"Hmmm. Karena ini mendesak, aku akan menerima semua sekali. Apa boleh?"


"Ah, itu. Aku tidak berani memberi keputusan itu. Ini terlalu beresiko untuk anda dan nona Alice"


"Aku paham. Sesepuh Husen dimana? Aku ingin bernegosiasi dengannya"


"Sesepuh sedang..." belum selesai bicara sesepuh Husen menyelanya.


"Kau boleh mengambil semuanya sekaligus" kata sesepuh Husen.

__ADS_1


"Sesepuh" kata aku dan Kana hampir bersamaan.


"Kau boleh mengambil semuanya sekaligus. Lagi pula ini cukup mendesak, jadi aku minta kau selesaikan masalah ini sesegera mungkin. Juga akan memakan waktu untuk mondar mandir memberi laporan kesini. Jadi, tak masalah" tuturnya.


"Dan untuk Kana. Sementara ini belum ada petualang setingkat mereka berdua, jadi mereka bisa mengambil misi tingkat delapan ke atas dengan sekali ambil. Mohon bantuannya, Kara" kata sesepuh Husen.


Yah, ini jauh lebih baik. Aku dapat leluasa berpetualang dengan tujuan pasti. Sekarang aku hanya perlu hidup tentram dan damai di kota yang mayoritas penduduknya adalah orang yang ramah. Setelah aku kehilangan Widi, kurasa ini adalah jalanku satu-satunya untuk sementara waktu.


....


Misi pertama dan cukup mendesak. Ini terletak di lokasi yang cukup dekat dengan kota. Ini sangat sempurna untuk menjajal jurus baru Alice, yakni jurus bayangan pedang.


Jurus ini adalah kombinasi jurus pertama ajaran kakek yang menekankan kecepatan dan jurus yang biasa digunakan Alice ketika bertarung yang menekankan kecepatan dan kekuatan. Gerakan itu cukup bagus. Seperti sebuah bayangan yang meluncur dengan cepat dan memotong target.


"Yo, Alice" kataku dari luar pagar rumah.


"Ah, master. Selamat datang" dia menyapaku hangat.


Aku sudah terbiasa dengan sapaan hangatnya. Walau hanya beberapa hari saja rasanya sudah terbiasa mendengarnya. Rasanya ada ruang kosong yang terisi kembali. Ini menyenangkan. Semoga Alice tak seperti kepala aliansi itu.


....


"Master. Apa tidak apa-apa kita pergi walau tanpa persiapan?" Alice ragu-ragu.


Aku hanya tersenyum. Toh, nanti dia akan mengetahuinya. Naga salju salah satu dari anggota ras naga yang dibawahi oleh naga putih. Walau pun sifatnya agak tempramen, sebenarnya dia juga baik.


Naga salju sering bermain dengan Arisanti saat aku berada di puncak tertinggi waktu itu. Kami juga sering mengobrol saat aku memiliki waktu senggang. Walau kedekatan kami tak seperti aku sama naga putih, namun dia tetap naga yang baik jika sudah mengenalnya.


Butuh waktu satu hari penuh menuju sarang naga. Rencananya kami akan bermalam disana sebelum kami melanjutkan ke tempat lain. Walau mendesak, namun kami tak perlu terburu-buru. Ada baiknya kami menjali hubungan demi masa depan. Setidaknya kami akan saling menolong jika suatu saat kita dalam masalah di tempat yang kita sendiri tak mengenal tempat itu. Artinya, teman sangat diperlukan.


"Kita sampai" kataku setelah kami berhenti di mulut gua yang lumayan besar.


Naga salju termasuk tipikal naga yang suka akan kebersihan. Walau terdengar aneh, namun kenyataannya sarang yang dia huni termasuk sangat bersih. Tidak ada sisa-sisa buruan pun yang berserakan. Di depan gua juga terdapat beberapa tanaman obat sebagai hiasan. Aku rasa ini ada hubungannya dengan sesepuh Husen yang sering mendapat barang bagus di guildnya.

__ADS_1


"Naga salju, ini aku. Kau dimana?" seruku.


Tak ada jawaban. Mungkin dia sekarang berada di puncak tertinggi bersama Arisanti atau jika tidak sedang berburu di sekitar lembah salju. Entahlah.


"Sepertinya dia sedang tidak ada. Alice kita tunggu disini, ya. Tapi jangan sentuh apapun kare..." belum sempat aku memberi alasan, Alice menyentuh bunga kesayangan naga salju itu.


"Hei! Apa yang kau lakukan?!" aku mencoba menghentikannya.


Fiuh. Untung saja aku tepat waktu. Jika tidak, Alice akan menjadi boneka salju mainan naga salju itu.


Ini aneh. Tak biasanya dia meninggalkan tempat kesayangannya selama ini. Malam semakin larut dan dia belum juga kembali. Aku penasaran sedang berada dimana dia. Atau mungkin dia sedang berada dalam masalah.


Jujur saja, aku semakin khawatir. Aku menggunakan penglihatan illahi ku untuk mendeteksi dia sedang berada dimana. Aku akan melacak mananya yang sudah aku tandai sebelumnya. Walau dia tak tau jika aku menaruh tanda pada bagian tubuhnya namun itu akan sangat bermanfaat untuk dirinya kelak. Untuk ku juga sih.


"Ketemu!"


Akhirnya aku menemukannya. Sekarang dia sedang bertarung melawan tiga penyihir yang cukup hebat. Jika dilihat dari bekas pertarungannya sepertinya sudah berjalan cukup lama. Area di sekitar menjadi rusak dan beberapa tebing juga seperti telah diledakkan. Ini gawat, aku harus membantunya.


"Alice, sebaiknya kau bermeditasi saja di dalam gua. Aku akan menyusul naga salju itu"


"Master, bolehkah aku ikut bersamamu?"


"Untuk sekarang jangan dulu. Lebih baik kau bermeditasi"


"Ta-tapi master"


"Ini perintah!"


Alice terdiam dan terlihat sedih.


"Percayalah, Alice. Aku akan kembali. Aku berjanji" bujukku untuk menenangkan hatinya.


"Baiklah, Master. Harap berhati-hati" nadanya terdengar seperti orang yang kecewa.

__ADS_1


"Pasti. Aku pergi dulu"


__ADS_2