Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Gagak Lintang


__ADS_3

"Sudah satu minggu Modo belum keluar. Kita kehabisan makanan"


Putri Kalya mengangkat bahu.


Hani berjalan hilir mudik tak jelas sedangkan putri terduduk diam. Wajah Kalya semakin pucat seiring berjalannya waktu. Tatapannya kosong, pendengarannya tidak begitu jelas. Ia memaksakan diri agar tidak terjatuh, itu membuat Hani akan kerepotan nantinya.


Lukanya semakin parah. Energi murni berangsur memudar. Hanya satu hal yang akan terjadi ketika seseorang kehilangan energi murni sihir mereka, yaitu kematian.


Hani sebenarnya sudah mengetahui sejak beberapa hari setelah aku masuk ke dalam kuil itu. Dia sangat khawatir akan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan terjadi kepada Putri. Jika itu terjadi, bukan hanya Hani, aku juga akan bermusuhan dengan kerajaan ini karena telah membawa putri dan mengakibatkan dia tewas.


Rasa panik semakin lama semakin menggelora. Sudah dua hari sejak mereka kehabisan bekal makanan dan belum makan sama sekali. Hani terlalu takut untuk keluar saat ini. Dia memilih untuk tetap diam dan menunggu.


SHREEK BUUUKK! Putri terjatuh.


"Putri Kalya!" Hani semakin panik, Putri pingsan.


"Modo, cepatlah keluar. Bertahanlah putri"


Sementara itu dimana aku berada.


Aku tengah mendengarkan petuah seseorang yang bahkan tidak sanggup aku melihat wajahnya. Dia hanya mengatakan bahwa dia adalah kakek moyangku, itu saja.


Berada di sampingnya rasanya sangat nyaman. Rasa hangat seperti dekapan seorang ayah yang menyayangi anaknya sepenuh hati. Rasa tidak mau pisah dari seorang ibu. Rasa hormat seperti berhadapan dengan raja. Hanya ada satu kemungkinan jika sudah begini. Dia lah sang penerima kitab dari Tuhan, Wakil Tuhan terakhir.


Dia sangat baik. Seperti seorang guru, ia mengajarkan banyak hal kepadaku. Dia bilang; semakin tua padi maka semakin merunduk. Penjelasan dari kata itu adalah semakin tambah umur semakin bertambah ilmu, semakin tambah ilmu semakin kita merendah.


Tidak ada yang akan abadi di dunia ini. Kekuatan, kekuasaan, dan semuanya akan musnah. Ada kehidupan ada kematian. Ada hitam ada putih. Dua hal yang menjadi tanggung jawab setiap manusia, hati yang merendah sedalam lautan. Memikul tanggung jawab setinggi awan.


Kesombongan, keserakahan, iri, dengki, bangga pada diri sendiri dan dendam perlahan akan menghancurkanmu. Kesombongan menimbulkan iri. Dengki menimbulkan dendam dan semua itu diakibatkan karena kebanggaan pada diri sendiri.


Semua yang bersifat duniawi hanya kesenangan sementara. Kesengsaraan untuk menegakkan keadilan untuk semua, dalam arti kesengsaraan untuk mewujudkan perdamaian akan di bayar lunas ketika kita naik ke alam selanjutnya.


Sebenarnya aku tidak tau ada berapa alam. Yang dikatakan oleh orang itu dunia adalah alam kedua. Perjalanan menuju singgasana Tuhan masih lama. Pada saat itu semua akan berada dalam keadaan yang sebenarnya. Kebaikan akan dibalas kebaikan seribu kali lipat dan keburukan akan dapat diampuni selama mereka mau untuk merubah jalan pikir mereka.


"Dan tugasmu selanjutnya adalah untuk mendamaikan dunia sihir ini agar tidak terjadi perang dunia sihir ke tiga" katanya di ujung penjelasan panjangnya.


"Lalu, bagaimana aku akan melakukannya?" aku masih bingung dengan tugas yang dia berikan.


"Mulailah dari gadis yang tergeletak karena lukanya itu"


Gadis itu, Kalya?


"Apa maksudnya?" ketika aku menoleh dia sudah menghilang.


Aku tidak tau kemana dia pergi. Hawa kehadirannya memang tidak ada sejak pertama kali ia muncul. Aku heran kenapa aku merasa Hani dan Kalya sangat dekat padahal jarakku dan mereka cukup jauh. Lagi pula terhalang oleh bangunan misterius ini.

__ADS_1


Aku tahu, ini adalah penglihatan alam. Ini memungkinkan aku dapat melihat berbagai hal di dunia ini tanpa pinjaman dari Tuhan. Jika pinjaman adalah pemberian sementara, yang aku punya adalah pemberian selamanya.


Baiklah, waktunya menjalankan perintah kakek yang terlihat sangat prima itu. Walau aku tak bisa melihatnya aku yakin dia lelaki yang tampan dan penuh wibawa. Tidak ada nada intimidasi atau kesombongan di sana. Semoga aku dapat berjumpa lagi dengannya.


"Sekarang ayo kita mulai"


Aku bergegas menuju kearah Hani dan Kalya. Hani tampak cemas menungguku datang. Kalya butuh pertolongan. Jalur energinya kacau, aku harus menolongnya segera.


"Untung kau sudah selesai, Modo"


"Sudah berapa lama dia pingsan, Han?"


"Sekitar satu jam"


"Baiklah. Tolong pegang dia"


Aku akan menyalurkan tenaga dalamku kepadanya. Walau jalur sihir dan tenaga dalam berbeda, kurasa permasalahan jalur rusak ini aku dapat mengatasinya. Aku tidak yakin, sih. Tapi pantas dicoba.


Difokuskan tenaga dalamku dalam satu titik kemudian menyalurkan ke tubuh Kalya. Ini akan memakan waktu, tapi dengan kondisiku saat ini tentu saja bukan masalah. Aku dalam keadaan prima.


"Ukhg" Kalya muntah darah kotor.


Ini bagus. Kotoran yang ada di dadanya sudah keluar. Selanjutnya bagian perut dan kedua tangan.


"Fiuh. Selesai juga" ujarku akhirnya setelah selesai.


"Hemm?" Hani kebingungan.


"Haih" aku menepuk jidat.


"Tunggu saja dia dan antar saja ketika sudah bangun"


"Antar? Kemana?" dia tambah bingung.


"Tunggu saja dan jika nanti dia butuh buang hajat, antar saja" aku mulai kesal.


"Buang hajat" dia mikir.


Anak ini memang nyambungnya lama.


"Sudahlah. Aku mau ngambil sesuatu di dalam" aku beranjak meninggalkan Hani dan Kalya.


Ada sesuatu yang harus aku ambil. Mungkin itu akan berguna nanti untuk hani. Itu adalah sebuah pedang yang sangat ringan. Ayunannya bahkan tidak menimbulkan suara. Seperti udara yang berhembus pelan, namun memiliki tegana tornado. Dan satu lagi armor ini kurasa cocok untuk putri. Ini fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan tubuh pengguna dan aku hanya tertarik pada buku tua ini.


"Yah, setidaknya aku ucapkan terimakasih kepada pemilik kuil ini. Maaf aku mengambil pusaka ini" aku memberi hormat.

__ADS_1


"Tak apa, Nak" suara misterus muncul.


"Siapa itu?" aku menoleh kanan kiri dan tidak ada seorang pun.


"Aku di depanmu"


Ternyata itu seekor gagak. Dia berbicara.


"Jangan terkejut seperti itu. Aku bukan hantu. Ini hanya kesadaran kecilku" dia berlagak.


"Hei. Tatapan apa itu" dia tersinggung saat aku menatapnya aneh.


"Aku ini penyihir terhebat di dataran ini. Namaku Lintang" dia mulai mendeskripsikan dirinya, panjang lebar dan tidak terlalu penting.


"Jadi aku meninggalkan barang ini kepada siapa saja yang dapat mengambilnya. Jika kau mampu.." belum sempat dia selesai bicara aku mengangkut tiga barang itu.


"Tidak sopan. Aku belum selesai bicara tapi kau malah mengambilnya" dia marah.


"Maafkan aku, Kakek. Bolehkah aku mengambilnya" Kataku dengan mata berbinar.


"Ehem. Kau orang yang baik. Lagi pula itu sudah mengakuimu. Kau boleh melikinya"


"Terimakasih" aku tersenyum manis.


"Hei. Hentikan senyum menjijikkan itu" dia mudah kesal rupanya.


"Ada satu syarat. Kau harus membawaku keluar"


Aku tau kenapa dia ada di sini. Kakinya terkena mantra pengekang. Tentu dia tidak bisa bergerak jauh.


"Baiklah" aku mengangkatnya.


"Wah, bagaimana kau melakukannya?" dia heran karena terlepas dari pengekang itu.


"Entahlah" aku juga bingung.


Sejenak dia terdiam.


"Ada apa?" aku kebingungan.


"Baiklah. Aku akan ikut denganmu" tiba-tiba dia bilang begitu.


"Kenapa?"


"Tak usah banyak tanya. Bawa saja aku bersamamu" dia memang mudah marah.

__ADS_1


Aku tersenyum.


Ya sudahlah. Toh tidak membuat aku rugi juga. Sepertinya akan berguna juga dimasa depan.


__ADS_2