Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Perpisahan


__ADS_3

Hari menjelang petang ketika kita berhasil menyelesaikan misi pertama kami. Setelah kami mengumpulkan bahan sesuai permintaan dari guide, kami pun istirahat untuk malam ini. Bukan ide bagus jika kita berjalan tanpa penerangan saat malam hari. Belum lagi masih terdapat hewan magis yang berkeliaran saat malam hari. Jika aku sendirian tak akan masalah, sedangkan ada Widi yang belum pulih ingatannya. Menurut buku panduan petualang, mayoritas hewan magis takut pada api kecuali hewan magis yang ber elemen api. Untung wilayah ini tidak ada hewan magis ber elemen api jadi masih tergolong wilayah aman.


Aku mencari ikan di sungai yang tak jauh dari gua, sedangkan Widi bertugas mengumpulkan kayu bakar di sekitar gua. Untuk soal menangkap ikan aku tak kesulitan sama sekali, sekejap saja bisa mendapat lumayan banyak. Rencanaku sih sehabis ini aku akan membantu Widi mencari kayu bakar jika sempat.


Saat aku kembali gua sepi. Hanya terdapat setumpuk kayu bakar tergeletak di tanah tapi Widi tidak ada. Mungkin dia masih mencari kayu bakarnya, pikir ku. Aku langsung meletakkan hasil tangkapan dan bergegas keluar gua. Ini aneh, kita hanya berdua di sini.


Aku melihat beberapa jejak kaki dan seekor kuda. Ini sekawanan orang yang baru saja melewati daerah ini dan menuju ke arah berlawanan dari sungai. Mungkin hanya orang lewat saja, pikirku.


Saat aku beranjak pergi dari tempat itu aku melihat potongan kain yang mirip dengan baju Widi. Jangan-jangan Widi dalam bahaya. Tapi disini tidak ada bekas petarungan sama sekali.


Tunggu dulu.


"Lihat lah!" aku menggunakan kekuatan mata pinjaman Tuhan. Sebuah kekuatan yang diberi oleh sang pencipta.


Benar saja dugaanku. Jejak kaki ini baru, tidak ada tanda kekerasan atau pertarungan di sekitar sini sedangkan Widi menghilang entah kemana.


Dengan mata ini aku dapat melihat samar-samar apa yang terjadi di masa lampau dengan syarat harus bensentuhan langsung dengan benda yang bersangkutan.


Aku melihat dua orang dengan sigap membius Widi dan seorang lagi menunggu di balik semak. Lalu mereka pergi kearah timur dengan membawa Widi. Setelah itu sekelompok orang datang dari balik semak dan menuju timur juga. Kelompok orang itu menunggu aksi dari kelompok pertama selesai dan akan bergerak jika terjadi hal yang tak terduga. Strategi yang baik.


"Setidaknya aku sudah menemukan satu petunjuk. Lambang mereka sama" ujarku.


Hari semakin gelap ketika aku berjalan kearah timur. Aku tak akan tergesa-gesa, karena mereka juga akan berhenti istirahat saat malam, kemungkinan seperti itu. Akan tetapi...


"Hah, sial" upatku.


Mereka masuk pemukiman padat penduduk. Sepertinya ini daerah yang berbeda dengan daerah pertama yang aku tinggali dulu. Ini bukan sebuah perkampungan biasa, setelah aku masuk pemukiman yang terlihat sedikit ini satu fakta, ini sebuah kota. Kota yang maju.


Letak kota itu ada di bawah hutan. Seperti sebuah jurang berbentuk lingkaran dan areanya luas. Kota itu di kelilingi tebing dan masih ada tembok pertahanan yang besar.


Kota ini di jaga sangat ketat. Pemeriksaan sebeum masuk mengular hingga ratusan meter. Menurut orang-orang disini yang aku tanyai, hanya ada dua pintu disini yakni pintu masuk dan keluar. Pemerintah kota ini melakukan sistem ini supaya meminimalkan tindakan kejahatan seperti, pencurian atau kejahatan lain. Dinding yang mengelikingi kota ini juga diberi mantra sihir gravitasi yang sangat kuat hingga penyihir tingkat tinggi tidak dapat melewatinya dengan mudah.

__ADS_1


Aku turut berbaris dengan mereka yang ingin memasuki kota. Orang-orang disini kebanyakan pemuda dan orang tua yang katanya ingin menyekolahkan anaknya di kota aman ini. Aman adalah julukan kota ini, bukan tanpa alasan jika kota dengan penjagaan ketat seperti ini.


Butuh waktu lama hingga giliranku untuk di periksa. Sejauh yang dapat aku lihat mereka yang melewati kota ini akan diberi sebuah gelang, entah apa kegunaannya namun semua yang masuk diberi gelang itu.


"Selanjutnya" kata petugas pemeriksaan.


Saat giliranku petugas itu mengamatiku dengan seksama dari atas hingga bawah.


"Dia hanya orang biasa yang tak mempunyai aura sihir sama sekali" kata seorang petugas lain.


"Apa tujuanmu datang kesini?" tanya petugas.


"Eh, itu" aku berfikir sejenak.


"Aku ingin jadi penyihir, tuan" kataku dengan tegas.


Tiada reaksi aneh dari mereka. Mereka hanya tertawa keras hingga air mata mereka menetes.


"Ku beritahu sesuatu" dia berbisik si hadapanku.


"Aura sihirmu itu tidak ada, kau akan ditolak oleh tim penguji akademi" tuturnya meremehkan.


"Jadi aku tidak boleh masuk?" tanyaku polos.


"Sudah jelas, bodoh. Mendingan kau pulang lalu nangis keras-keras. Bilang ibumu, jika dia bersedia jadi istriku, aku akan mengabulkan permintaan mu. Apapun itu"


Orang ini sangat menjengkalkan, ingin rasanya aku menghunus pedang ku dan memotong lehernya.


"Tapi aku tidak punya orang tua, tuan" kataku sok polos. (terkadang itu perlu saat menghadapi masah seperti ini)


"Tidak usah banyak bicara. Pergi sana" nadanya mulai meninggi.

__ADS_1


Satu sisi aku ingin menerobos masuk dan mematahkan lehernya. Satu sisi aku harus bersabar agar dapat petunjuk di dalam sana. Siapa tau bermanfaat.


"Hei, hei. Jangan kasar terhadap pemuda yang mempunyai tekad yang kuat" kata seorang dari belakangku.


"Oh, ketua Sen. Hormat ketua Sen"


Pria itu bertubuh pendek, kurus dan berkumis tebal. Dia adalah ketua Sen, pemegang kuasa atas gerbang masuk ini. Rumornya dia itu penyihir dengan kemampuan mental. Salah satu kemampuan penyihir pikiran dapat melihat niat baik dan buruknya seseorang, bahkan dapat membuat ilusi saat bertarung.


"Sa-salam" aku membungkukkan badan untuk memberi hormat. Dia memang memiliki wibawa yang kuat.


"Hahaha. Kau sangat menarik. Siapa namamu" tanya ketua Sen.


"Namaku Modo" ujarku.


"Modo. Apa nama margamu?"


Aku terdiam. Waktu dulu yang aku punya cuma kakek yang merawatku hingga aku beranjak remaja, jadi aku tidak punya marga.


"I-itu.."


"Ah, tak apa. Kau bisa ikut denganku. Aku akan merekomendasikanmu kepada ketua Har, dia adalah ketua di akademi sihir kota ini. Kamu bisa bergabung dengan penyihir tipe penyerang. Kau punya fisik kuat, nak"


Semua terdiam. Aku pun demikian.


"Baiklah, ayo ikut aku"


Aku hanya mengikutinya berjalan. Sepanjang jalan ketua Sen memuji kekuatan fisikku. Padahal aku sudah menekan tenaga dalamku hingga orang awam pun menganggap ku seperti orang biasa yang tak memiliki kekuatan, namun ketua Sen dapat merasakan aku punya tubuh fisik yang kuat. Dia bukan orang yang sembarangan.


Kami berhenti di sebuah akademi yang luas. Bentuknya seperti kastil di negri dongen. Ada empat menara disini, masing-masing mewakili jenis sihir yang berbeda. Ada tipe penyembuh, pertahanan, tipe jarak jauh, dan yang terakhir tipe petarung. Mungkin aku akan menjadi petarung jika mengingat apa yang di katakan ketua Sen.


"Kita sudah sampai"

__ADS_1


__ADS_2