Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Hilangnya Kota Soffa


__ADS_3

Asap mengepul dari arah kota yang aku singgahi. Walau dari jarak sejauh ini aku yakin telah terjadi kebakaran yang sangat besar di sana. Aku pun bergegas kembali ke kota.


Semakin dekat aku dengan kota asap itu semakin banyak. Seperti kota yang makmur telah terbakar dalam waktu sekejap. Sesekali juga terdengar suara ledakan yang diikuti asap baru yang muncul. Langit pun perlahan berubah menjadi gelap pekat akibat kebakaran. Aku penasaran apa yang terjadi sebenarnya.


Aku baru bisa memastikannya setelah aku mendekati kota. Kurasa ini akibat serangan musuh yang berusaha mengambil alih kota atau semacamnya. Aku tak tau pastinya, yang jelas kota ini tak ada seorang pun disini. Gedung-gedung yang dibangun oleh warga lokal hampir menjadi abu. Puing-puing sisa bangunan juga berserakan dimana-mana. Tak ada tanda kehidupan sejauh beberapa meter, namun aku merasakan ada pertarungan jumlah besar di tengah kota.


Setidaknya ada beberapa puluh atau mungkin ratusan orang. Aku tak tau mereka kawan atau lawan. Kuharap itu adalah kawan. Jika mereka musuh, kota ini tak hanya menjadi lautan api, juga menjadi lautan darah. Aku jamin akan membakar mereka bersama puing-puing ini.


"Cari mereka sampai dapat!"


Aku mendengar sebuah suara. Kurasa disana ada seseorang. Aku harap mereka adalah kawan.


"Hei, teman. Apa yang terjadi disini?" aku berusaha menyapa.


"Disini masih ada yang selamat. Cepat, bunuh dia!"


Ah, sialnya aku datang ke kandang macan. Ternyata sekelompok orang ini lah yang sudah membuat seisi kota menjadi lautan api. Beruntung sekali aku ini.


"Jangan biarkan..."


"Ah!"


Satu persatu erangan kesakitan menggema ditengah bisingnya suara api yang melahap bangunan dan properti kota. Sepertinya aku tak harus berbaik hati lagi. Orang yang berani mengacungkan sanjatanya, dia akan kehilangan nyawanya.

__ADS_1


Kali ini aku sangat mencolok. Erangan kematian yang menggema membuat teman-teman mereka berkumpul dan segera mengepungku. Setidaknya masih ada puluhan prajurit atau semacamnya dan beberapa ahli sihir tingkat atas. Aku tal tau apa tingkatannya karena aku tak bisa mengukur seberapa tebal kemampuan ahli sihir. Ini seperti melihat dasar di air yang keruh.


"Apa yang kalian lakukan terhadap kota ini. Siapa kalian?" tanyaku.


Mereka satu persatu telah berkumpul. Ini akan lebih mudah menghancurkan mereka dengan sekali ayunan pedang.


"Kami hanya menghacurkan tempat dimana penghianat tinggal. Seperti pepatah, satu kesalahan membuat semua berantakan"


"Pepatah macam apa itu? Jangan konyol. Siapa kalian!"


"Kami adalah anggota dari aliansi sihir. Kami ditugaskan untuk meluluh lantakan kota Sofa ini. Ada masalah?"


Aku tersenyum. Alasan macam apa itu. Tak adakah rasa kasihan dari mereka untuk mengampuni orang-orang yang tidak bersalah. Dimana hati nurani mereka.


Dia tertawa. Mereka tertawa. Sebagian orang juga memamerkan kepala yang ia tebas. Ekspresi mereka yang mati membuatku tak dapat menahan diri lagi. Dunia macam apa ini. Apakah hanya yang terkuat yang akan menjadi pemenang. Ini tak ada bedanya dengan iblis.


"Itu sudah cukup sebagai jawaban"


Aku terpaksa menggunakan ini. Jurus ini kuperoleh dari seorang ahli pedang di dunia persilatan. Orang itu salah satu orang yang menemani masa kecilku. Orang yang sangat suka akan kesenian terutama adalah seni tari. Jurus ini juga terinspirasi dari tarian. Namanya tarian seribu pedang.


Jurus ini terfokus pada kerusakan suatu area. Kata orang itu jurus ini hanya boleh digunakan saat kita tengah dikepung oleh musuh seperti saat ini. Gerakan pedang ini cukup indah. Seperti seorang penari yang sedang pentas untuk menghibur penonton. Meski jurus ini sangat kuat, namun memiliki kelemahan.


"Seperti yang kuduga. Jurus ini memang kurang sempurna" kataku.

__ADS_1


Meski demikian beberapa puluh orang telah terbunuh. Ini setidaknya memberi mereka pelajaran berharga untuk...


"Jika kau bergerak sedikit saja, gadis ini akan kami penggal"


"Alice, Yori?!"


Siapa mereka sebenarnya. Bahkan kombinasi ras naga dan Alice tak mampu menandingi mereka. Atau mungkin mereka menggunakan trik kotor untuk melumpuhkan mereka. Tapi untung saja Yori tak mengamuk, jika tidak dia juga dalam bahaya yang serius.


"Apa yang kalian inginkan?"


"Mudah sekali. Kau ikut kami dan semuanya selesai"


Jika seperti ini tak ada pilihan lain. Untuk saat ini aku akan mengikuti mereka dahulu. Aku akan mencari tau apa yang tengah mereka rencanakan. Apakah wanita itu memang sekejam ini. Biarlah, nanti juga aku akan mengetahuinya.


"Baiklah"


"Hahaha. Bagus, kau menjadi penurut sekarang. Ikat dia!"


Mereka mengikatku dengan alat pengekang sihir. Kurasa mereka tak tau jika aku tidak menggunakan sihir sama sekali. Aku bisa membebaskan diri sewaktu-waktu.


"Baiklah, bawa dia dan selebihnya bereskan yang tersisa!" perintah dari seorang yang kurasa komandan atau semacam ketua.


....

__ADS_1


Butuh satu purnama perjalanan menggunalan kereta kuda. Kami sampai di kota yang sangat aku kenali. Kota dimana aku pertama kali memijakkan kaki dalam kerumunan dan mendapat teman. Dinding-dinding yang menjulang tinggi sebagai pertahanan kota selalu membuatku takjub. Ku kembali lagi ke kota ini. Kota Tersembunyi.


__ADS_2