
Seperti dugaanku, aku masuk dalam kelompok petarung. Sebelum aku berhasil masuk ketua Har mengujiku terlebih dahulu untuk uji kelayakan peserta. Aku dihadapkan dengan orang-orang yang kuat. Kebanyakan mereka adalah penyihir tipe jarak dekat dan mereka diharuskan menggunakan senjata untuk mempertahankan diri.
Sebenarnya ada juga tipe yang non senjata. Mereka adalah ahli beladiri yang mengkombinasikannya dengan ilmu sihir. Layaknya pengguna tenaga dalam mereka mengalirkan sihir ke bagian tubuh untuk di jadikan senjata. Teorinya pelatihannya simpel, kita hanya perlu memfokuskan hati dan fikiran kita untuk menyerap energi dari alam untuk menguatkan sihir kita. Dalam konsep ini si pelaku akan memusatkan energinya dalam tubuh dan membuka jalur khusus yang diberi nama jalur energi. Ini lah yang disebut fondasi awal dalam teknik sihir.
Dalam ujian awal aku tidak mengalami kendala sama sekali. Kebanyakan gerakan mereka asal-asalan, bisa di bilang tampa dasar. Banyaknya celah yang terlihat termasuk faktor utama kenapa aku memenangkan ujian masuk ini dengan mudah. Dan saat ujian kekuatan sihir.
"Tidak mungkin" seru salah satu penguji.
"Padahal dia sangat berkompeten, tapi sayang, dia tidak mempunyai fondasi sama sekali"
Semua orang heran, kenapa bisa begini? Padahal benar yang di katakan penguji bahwa aku memang mempunyai skil bertarung diatas rata-rata, namun sayangnya tidak mempunyai fondasi sihir.
"Tak apa" ketua Har bersuara di tengah-tengah bisingnya orang-orang yang bergumam.
"Dia layak walau pun dia tidak mempunyai aliran sihir"
"Tapi, ketua. Dia akan mencoreng nama kita sebagai ahli serangan jarak dekat jika dia diterima" kata seorang penguji.
"Jika begitu argumenmu, coba kau kalahkan dia dengan seluruh kekuatanmu" kata ketua Har.
Semua orang kaget dengan pernyataan ketua Har. Bagaimana bisa seorang pemula bahkan tidak mempunyai fondasi sihir sama sekali berhadapan dengan seorang instruktur. Bahkan jika instruktur menggunakan sedikit kekuatan saja bisa menang.
"Baiklah ketua. Akan aku tunjukkan pada sampah ini apa itu sihir" penguji itu bersiap-siap menyerang.
Dalam arena penguji memberikanku sebuah pedang, dia tak mau jika pertarungan ini dianggap tidak adil.
Dengan sigap aku menangkap pedang yang dilemparkan oleh penguji dan bersiap untuk bertarung. Kulihat dia mulai memfokuskan energi sihirnya keseluruh tubuh dan menyelimuti pedangnya dengan aliran sihir.
Ini seperti dalam dunia beladiri. Biasanya tingkat siswa pun bisa menggunakan trik semacam itu. Sayangnya..
__ADS_1
"Mari kita mulai. Jangan sal.." belum sempat dia selesai bocara, aku mengunci lehernya dengan pedangku.
"Dia cepat sekali" kata dari seorang penonton.
Seperti tidak percaya, dia hanya bengong ketika keadaannya membalik. Dia kalah dengan satu gerakan saja.
"Kau lamban, instruktur" ujarku.
Aku merasa bahwa instruktur sangat kesal. Dia terlihat marah. Walau aku hanya melihat raut wajahnya dari samping, aku mengerti jika dia begitu kesal.
"Kau jangan meremehkan ku" dia mulai serius.
Instruktur mulai mengeluarkan seluruh energi sihirnya hingga menyelimuti seluruh tubuhnya. Aku menjauh agar memberi jarak dari dia. Dengan keadaan seperti ini berbahaya jika dia melakukan serangan dadakan.
Kekuatan instruktur itu cukup besar. Dia berhasil membuat takut para peserta ujian. Aku memperhatikan dia dengan seksama, jika ada celah aku akan mengakhiri ini sebelum ada yang terluka.
"Terima ini. Sihir angin, tebasan ang.."
"Sebagai seorang instruktur, kau terlalu lamban" kataku setelah aku berhasil mengarahkan pedangku tepat di depan lehernya.
"Tidak mungkin" dia berlutut. Tak percaya dia kalah dengan satu gerakan. Lagi.
"Padahal ketua har akan sulit melakukan hal semacam itu. Tapi kenapa kau.."
"Tak kusangka malah secepat ini" kata ketua Har dari kursi pengawas.
"Jadi ketua sudah menduganya?"
"Aku memang telah menduga jika pria ini akan menang. Tapi, tidak secepat ini. Menarik" kata ketua Har sembari berjalan kearahku.
__ADS_1
"Bahkan akupun akan kesulitan mengatasi itu. Wajar jika kau kalah instruktur Jun" katanya lagi.
"Jadi, selamat atas kelulusanmu. Mulai sekarang kau akan bergabung dengan akademi sihir ini" ujarnya sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Aku tersenyum dan menjabat tangannya kemudian undur diri.
"Pria yang menari" gumam ketua Har.
Aku tau dia penasaran. Bagaimana bisa seorang yang bahkan tidak mempunyai fondasi awal tapi mempunyai kecepatan dalam bergerak, hingga dia pun hampir tidak melihat pergerakan ku saat beradu tanding dengan instruktur Jin tadi. Dia berfikir jika aku akan menjadi murid yang sangat berguna di area perang nanti. Namun bukan itu tujuan ku. Aku kesini hanya untuk mencari tau tentang kelompok yang telah menculik Widi.
Setelah pertemuan tadi aku dipandu oleh instruktur Hana menuju ruang senjata. Katanya penyihir tipe petarung harus memiliki alat sihirnya.
Alat sihir wajib dimiliki oleh penyihir. Pada umumnya berupa tongkat sihir seperti di film fiksi yang berbentuk seperti ranting pohon dengan panjang sekitar 30cm. Namun seiring dengan perkembangan zaman, alat sihir dimodivikasi sedemikian rupa hingga menghasilkan alat sihir seperti saat ini. Selain simpel tanpa harus mengucap mantra sebelum menggunakan tongkat sihir, alat ini bisa digunakan tanpa mengucap mantra sama sekali dan tentunya alat ini lebih kuat dari pada tonggkat sihir kuno.
Ada banyak macam alat sihir seiring berkembangnya penemuan-penemuan baru. Di ruang senjata ini bisa dikatakan cukup lengkap jenis senjatanya. Mereka berjejer rapi di dinding. Ada juga yang diletakkan di dalam lemari yang diberi penghalang oleh sihir. Dikatakan penjaga ruang senjata adalah kalau senjata yang berada di dalam lemari dengan penghalang sihir itu senjata yang terbaik. Menariknya lagi, ruang senjata ini akan diperbarui sebulan sekali dengan senjata jenis baru.
Aku diberi saran oleh penjaga ruang senjata untuk mengambil senjata dengan penghalang sihir. Bisa dikatakan itu adalah senjata terbaik. Para bangsawan juga menggunakan senjata berkelas seperti itu. Namun aku aku tidak tertarik, karena kebanyakan senjatanya mudah rusak jika untuk bertarung. Kurasa bahan untuk membuat senjata-senjata ini kurang berkualitas.
Aku malah tertuju sebuah pedang ramping lengkap dengan wadahnya yang tertancap di tanah. Walau terlihat usang, namun terlihat sangat kuat. Terbuat dari batu yang keras dan sepertinya aku mengenal bahan ini. Ah, ini adalah batu meteorid dari galaksi tetangga. Aku ingat jika batu dari galaksi itu sangat bagus. Bisa dikatakan bahan unggulan untuk membuat senjata. Pedang Yama yang kakek berikan juga berasal dari batu meteorid tetangga.
"Aku mau yang ini" kataku pada penjaga Kris.
"Itu kumpulan benda berharga dan pedang itu tidak ditanami sihir sama sekali. Lagi pula.." belum selesai penjaga Kris selesai bicara aku mengambil pedang itu.
"Ka-kau mencsbut pedang itu dengan mudah?" dia terkejut.
"Emang ada apa?" tanyaku polos.
"Haih. Padahal kepala akademi membutuhkan bantuan seratus penyihir untuk memindahkan barang itu kesini, tapi kau malah mencabutnya dengan mudah" dia menjelaskan dengan penuh penghayatan. Tapi aku tak peduli.
__ADS_1
Pedang ini tidak terlalu berat jika dibanding dengan Yama. Tapi ini terlihat kuat dan sangat tajam. Bahkan lemari penghalang dengan sihir terkiat pun terbelah menjadi dua dan tak lama. BOOMM!
Ruang senjata roboh sebagian.