Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Kawan Reptil


__ADS_3

Dunia ini berbeda dengan duniaku sebelumnya. Di dunia ini keseluruhan adalah pengguna sihir, orang biasa bahkan sampai pejabat negara menggunakan sihir dalam keseharian mereka. Jadi jika ada orang yang tidak bisa menggunakan sihir bisa dikatakan orang tersebut adalah produk gagal dan aku salah satunya.


Widi tersenyum ketika kita menjalankan misi pertama kami. Dalam misi ini kami terpaksa diperbolehkan oleh pengurus guide karena ini adalah langkah awal bagi Widi untuk mengasah kemampuan miliknya itu. Karena kami adalah tim duo, jadi aku diperbolehkan ikut dia.


"Menyebalkan"


"Sudahlah. Lagian ini misi tingkat rendah" kata Widi berusaha menghiburku.


Sungguh aku sangat kesal sekali. Latihanku bersama kakek bertahun-tahun di dunia ini dibilang tidak berguna. Apa lagi dulu tidak ada yang bisa menandingi kehebatanku di dunia sebelumnya, tapi mengapa di dunia ini di bilang sampah.


"Ahghh" Erangku keras dan Widi hanya tersenyum.


"Kau tau, kan? Dulu aku pendekar benang merah yang tak terkalahkan. Bahkan bangsa iblis pun aku taklukan. Tapi... Tapi mengapa!"


Widi hanya tersenyum dan berusaha menenangkan ku dan tak membantu.


Aku masih ingat saat cermin itu berubah menjadi putih dan sesaat kemudian pecah. Padahal penjaga bodoh itu tak tau apa yang terjadi dan kemudian kepala guide turun dan mengatakan jika aku tidak punya bakat sihir sama sekali. Pake ngatain aku sampah pula.


Widi berhenti berjalan ketika aku ngoceh tanpa henti seperti penyiar radio yang sedang siaran dan ngomongnya asal tanpa henti. Dia terpaku, pandangannya keatas seperti melihat sesuatu yang menakutkan. Bibirnya tak bisa bicara. Aku tau dia ingin mengatakan sesuatu sampai akhirnya dia menunjuk ke atas. Saat ku tengok ternyata piton merah raksasa sedang menghalang perjalanan kami.


"Aih. Kenapa ketemu ini makhluk"


Piton itu berdiri tegak dan sesekali menjulurkan lidahnya.


"Hei. Aku sedang dalam mood tidak bagus. Pergi saja sana" gertakku.


Seperti orang yang mengerti perkataanku dia tersulut emosinya dan menyerangku.


"Hah. Sudah kubilang aku sedang dalam mood yang kurang baik" Aku menghadiahi poton itu dengan tendangan keras hingga ia terbang hingga benerapa meter.


"Sudah kubilang, kan? lebih baik ..."


Belum aku menyelesaikan perkataanku piton itu menyemburkan bisa nya. Seketika aku merangkul Widi yang berdiri terpaku dan menghindari bisa ular itu.


Ini aneh, piton kok punya bisa yak. Bukanya kemampuannya melilit mangsa kayak renternir.


"Baiklah kalau kau memaksa"


Aku mengeluarkan pedang kesayanganku. Sebenarnya aku tidak mau serius sih, tapi dia seperti ingi membunuh ku. Tidak ada pilihan lain.


Aku berlari zig-zag dengan cepat agar ia terkecoh. Dalam sekejap aku tepat berada di belakang kepalanya, aku hendak mengayunkan pedangku ular itu mengibaskan ekornya dan mengenaiku. Aku terpental jauh hingga menabrak pohon.

__ADS_1


"Boleh juga kau" aku berusaha tenang dan memasang kuda-kuda.


"Ini untuk menghormatimu ular payah"


"Tarian benang merah satu. Memotong bawang" dengan ini dia akan terbelah menjadi dua bagia dan akan menjadi ular panggang.


"Berhenti" tiba-tiba Widi menghalangiku. Seketika aku membelokkan seranganku kearah lain agar dia tidak terbelah juga.


"Kenapa kau menghalangiku?"


"Dia sedang meminta pertolongan terhadap kita agar menolong anaknya yang tersangkut di pohon" tutur Widi.


"Hah?" Seperti tidak percaya saja. Gimana bisa ular itu tersangkut di pohon. Main apaan sih?


Benar saja, anak ular itu tersangkut diantara dua pohon. Aku tau dia merengek kesakitan ketika aku melihat gelagatnya. Posisi ini bahkan induk ular pun tidak bisa mengatasinya. Dia terhimpit dua pohon berbentuk seperti huruf V dan posisi ular itu berada di tengah-tengahnya. Sebelumnya induk ular berusaha menolong akan tetapi malah memperparah keadaannya. Akhirnya dia minta tolong kepada Widi yang menurutnya dapat mengerti perkataannya.


"Emang kamu ngerti apa yang dia katakan?" tanyaku.


Widi hanya mengangguk dua kali dan fokus ke masalah tadi.


"Ini sih harus di potong" ujarku.


"Hah, apa? Jangan. Dia bisa mati" Widi menolak pendapatku.


Aku berjalan kearah lain dan berhenti di sebuah pohon. Setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi sampai ahirnya Widi membangunkanku.


"Hei, tolong lah"


"Hooaamm. Tidak mau. Tadi kau tidak butuh kenapa sekarang malah minta tolong" aku merajuk.


"Lihat itu" Widi menujuk kearah ular kecil yang berlumuran darah.


"Apa yang kamu lakukan sih kok bisa seperti ini" aku bergegas kesana dan mengeluarkan pedang ku.


"Kau cepat cari daun obat-obatan di hutan aku akan mengeluarkannya"


Ini sepertinya gawat. Ular kecil itu sepertinya hampir tidak sadar kan diri. Aku harus cepat dan tidak melukai ular itu.


"Haahh!"


Aku berhasil memotong pohon itu tanpa melukainya. Sukurlah, karena aku tidak bisa jika hanya memotong sebagian. Dalam hati rasanya kurang enak gitu.

__ADS_1


"Terimakasih sudah menyelamatkan anakku, Tuan" tiba-tiba berbicara.


Seketika aku melompat agak menjauh. Kaget cuy.


"Kok kamu bisa bicara" aku takut.


"Aku memang dapat berbicara layaknya manusia karena aku termasuk hewan magis level delapan" jelas piton merah itu.


"Jadi ada berapa tingkatan hewan magis?" tanyaku seraya menggendong anak ular yang malang itu.


"Seluruhnya ada sembilan tingkat. Jika tingkat sepuluh berarti termasuk hewan legendaris yang sangat langka" tuturnya.


Aku meletakkan anaknya tepat disampingnya kemudian duduk dekat piton itu.


"Tingkat hewan magis di ukur berdasarkan usianya. Semakin tua hewan tersebut semakin kuat dia" tutur piton merah itu.


"Mengapa demikian?"


"Kami hewan magis dengan sendirinya dapat menyerap energi alam dan membuat mereka berumur panjang"


"Ah, ternyata seperti itu" aku baru tau, ternyata begitu.


"Jadi, kau tipe penghancur?" tanya induk ular.


"Tipe penghancur?" tanyaku.


"Iya, tipe sihir penghancur"


Aku menceritakan tentang apa yang aku alami sebelumnya hingga di bilang sampang. Yah, menyedihkan.


Setelah semua berahir dan si kecil anak ular pun sudah diobati aku dan Widi melanjutkan perjalanan ketempat yang ditentukan.


"Kapan-kapan mampir, ya" seru induk ular.


"Namaku Chi" dia berteriak lagi kerika kita sudah jauh.


Sekarang aku sedikit tau tentang dunia ini. Untuk saat ini mencari info sebanyak mungkin agar bisa mengembalikan ingatan Widi dan juga bisa kembali ke tempat asalku. Walau banyak yang tidak mengenakkan namun disana cukup tenang dan guru pasti sekarang pasti mencemaskanku.


"Oh ya, Modo. Kita lewat mana?"


Sebagian hutan hancur dan sebuah gunung juga terpotong menjadi dua bagian.

__ADS_1


"Ah! jalannya kemana?"


"Bukannya kamu penyebabnya" kata Widi sinis.


__ADS_2