Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Sebuah Suara Memecah Keheningan: Alice


__ADS_3

"Hentika!"


Seorang gadis muda memasuki arena. Kurasa dia belum genap menginjak umur dua puluh tahun. Dia masih terlihat masih remaja dengan dada subur. Wajahnya cantik dengan rambut kecoklatan yang di kuncir kuda. Dia membawa pedang yang cukup bagus.


"Ketua!" semua orang berkata demikian.


Namanya Alice. Dia adalah pendekar pedang terkuat di kota ini. Merupakan ketua dari kelompok pendekar pedang. Dia mampu bersaing dengan penyihir tingkat tinggi yang hampir menembus tingkat suci. Dia cukup hebat menurut desas desus orang-orang ini.


"Kau seharusnya tau, jika pedang adalah harta berharga seorang pendekar pedang. Biar aku yang mengujinya"


Ah, ini akan menyenangkan. Bertukar jurus pedang dengan gadis cantik yang cukup menarik.


"Baiklah. Silahkan memulainya" kataku menjawab tantangannya.


"Aku mulai!" dia langsung mengambil langkah cepat.


Ini mengesankan. Setelah sekian lama aku baru menjumpai lawan yang seperti ini. Gerakannya bagus, tenaganya kuat. Jurusnya hampir tak ada celah sama sekali. Dia pantas mendapat gelas pendekar pedang terkuat di kota ini.


Suara adu pedang kami menggema di atas arena. Gerakan yang cepat hampir membuat sebagian orang tak bisa melihat pergerakan kami. Jual beli jurus pedang kami perlihatkan dihadapan mereka. Seperti pertunjukan dua pendekar pedang dengan skill tinggi yang beradu dihadapan mereka. Yah, walau hanya menggunakan sedikit kekuatan saja, namun dia mampu bertahan sampai sekarang.


"Kau cukup mengagumkan. Namun kau masih banyak celah" kataku setelah menghentikan pedangku tepat dilehernya.


"Cih! Jangan sombong!" ungkapnya. Dia berusaha mengelak. Pertarungan berlanjut.


Dia gigih juga. Namun aku merasa bosan jika seperti ini. Walau dia terlatih, namun kekurangannya cukup banyak.


"Kau terlalu lambat, Nona" kataku setelah menghentikan pedangku tepat di wajahnya.


Dia berusaha mengelak dan terus menyerang.


"Jika ini pertempuran sesungguhnya, lehermu akan terpotong"


Dia mengelak lagi dan lagi. Semangatnya sangat bagus. Namun.


KLAAANGG!

__ADS_1


Pedang Alice terpental jauh. Aku mengarahkan pedangku dihadapannya yang kini terduduk dengan nafas yang memburu. Dia kalah!


"Sudah berakhir" Kataku sembari meninggalkan arena.


"Tunggu!" serunya menghentikan langkahku.


"Jadikan aku sebagai muridmu" dia berlutut dihadapanku.


"Oh, murid" kataku tanpa sadar.


"Eh, murid?" kami semua terkejut.


Aku sudah mengira dia akan mengerahkan seluruh kemampuannya, namun ini tak terduga. Dia ingin menjadi murid? Ini terlalu berlebihan. Aku belum pernah menerima murid sejauh ini. Apa yang akan aku ajarkan?


Sementara itu desas-desus tentang dia yang seorang pendekar pedang tingkat sembilan ingin menjadi murid dari seorang pemula dari guild ini. Ini berita besar bahwa seorang pendekar pedang tingkat sembilan ingin menjadi murid dari seorang pemula. Seketika pertanyaan siapa aku sebenarnya akan menjadi teka teki bagi mereka dan akan ada orang yang mencari tahu siapa aku sebenarnya. Ah, merepotkan.


"Benar. Saya, Alice Laurent bersumpah akan melayani tuan dengan seluruh jiwa raga"


"Eh, bangunlah"


Aku merasa tidak enak. Ada aura membunuh begitu kuat dari sekitar. Para pengagum Alice tidak terima.


"Murid ini tak peduli. Murid ini akan melayani guru dengan sepenuh hati. Akan ku curahkan semuanya untuk guru" kata Alice membuat kesalah pahaman ini semakin menjadi.


"B-baiklah. Kau bisa menjadi muridku. T-tapi kau bisa menarik ucapanmu tentang memberikan segalanya tadi. Aku tidak enak hati"


Setelah aku mengatakan itu suasana semakin mencekam. Kecemburuan merasuki mereka. Rasanya udara disini agak sesak karena kecemburuan mereka.


"Tidak bisa. Apa yang telah aku katakan tidak bisa ditarik lagi. Itulah jalanku"


Aduh. Dia emang polos apa bloon sih. Dia tak sadar apa yang dia katakan. Dia membuat semua yang ada disini mengucapkan sumpah serapahnya. Ini buruk.


"Y-ya, terserah k-kau saja" kataku sembari meninggalakan arena.


....

__ADS_1


Dengan adanya Alice aku mendapat peringkat sepuluh. Artinya aku sekarang menjadi satu-satunya dan pertama kalinya seorang pendekar pedang mendapat peringkat itu.


Kabar tentangku pun menyebar dengan cepat. Seperti angin yang berhembus, desas desus yang mengatakan jika Alice menjadi istriku semakin kuat setelah dia turut tinggal bersamaku dalam satu atap.


Aku mendapat rumah sebagai hadiah karena telah menembus peringkat sepuluh. Itu adalah satu-satunya di kerajaan Bulu Biru ini. Yah, ini lebih baik daripada harus kesana kemari dengan gadis polos bersamaku. Akan jadi masalah jika aku membawanya kesana kemari. Bakal menjatuhkan martabatnya sebagai seorang wanita.


"Nah, Alice. Sudah waktunya untuk latihan" kataku.


"Siap, Master" dengan sigap dia berada di posisinya.


"Eh, tidak memakai itu. Pakai ini" aku melempar batang pohon sebagai pengganti pedang.


"Pedang kayu?" katanya kebingungan.


Aku hanya mengangguk saja.


Yah, aku akan mengajarkannya dari gerakan dasar saja. Jika dilihat, dia cukup mempunyai banyak tenaga, jadi kita lewati penguatan fisik dan langsung ke gerakan dasar.


"Cobalah ikuti gerakanku" kataku sembari memperlihatkan tiga gerakan awal.


Gerakan itu cukup mendasar. Gerakan itu meliputi kuda-kuda, serangan, dan pertahanan. Sebenarnya gerakan ini ada banyak versi dan sudah dikembangkan menurut masing-masing perguruan. Walaupun begitu teknik yang diajarkan oleh kakek menekankan ke kekuatan serangan dan pertahanan secara bersamaan. Tentu ini cukup sulit, tapi akan bermanfaat bagi pendekar pedang nantinya.


Sebagai media memperlancar gerakan aku sudah menyediakan boneka yang kubuat dari jerami. Ini akan memudahkannya dalam latihan. Aku juga mengatur waktu latihan dan istirahatnya agar tidak terlalu membebaninya. Sebenarnya ini berbeda dengan apa yang diajarkan kakek dulu. Bahkan aku hampir tidak bisa beristirahat sama sekali. Apa lagi setiap tengah malam aku akan di tinggal di atas bukit dan harus turun sebelum matahari terbit. Ah, jika aku mengingatnya rasanya ingin nangis.


"Kuatkan serangannya! Perhatikan gernakanmu!"


"Ya, Master!"


Ini memang yang terbaik. Aku tak akan menerapkan latihan kejam seperti dulu yang aku rasakan. Walau hasilnya akan memakan waktu, setidaknya dia punya modal tekad yang kuat.


....


Dalam beberapa minggu terakhir Alice selalu latihan tepat waktu. Tak ada kata protes sedikit pun. Aku juga mengajarkan beberapa jurus pertama pernapasan. Walau ini berbeda dengan jurus tarian benang merah, jurus ini adalah modalku mengembangkan teknik tarian benang merah.


Aku juga sedikit lega karena Alice juga dapat menggunakan mana. Dengan begitu aku tinggal mengajarinya teknik sihir pedang dengan sedikit mana. Walau aku tak bisa menggunakan mana setidaknya Alice kelinci percobaanku tentang teknik itu. Kuharap dia dapat menguasainya.

__ADS_1


"Jadi, sudah sembilan munggu ya"


Yah, memang waktu berjalan begitu cepat. Waktu sembilan minggu adalah waktu yang sebentar. Tapi sepertinya dia cukup dapat menguasai apa yang aku ajarkan. Dengan begini tinggal penerapan gaya berpedangnya dan mengkombinasikan jurus yang ia kuasai untuk menjadikannya selangkah lebih kuat lagi.


__ADS_2