Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
26


__ADS_3

"Dia benar-benar monster"


"Benar, bahkan aku hampir tak bisa melihat puluhan tebasan dalam sekejap"


"Ini sungguh masalah serius. Kita harus mendapatkannya atau kita melenyapkannya saja"


"Apa yang dibicarakan oleh petinggi asosiasi ini?" kali ini suara perempuan yang membuat suasana diskusi menjadi hening.


Dari bali pintu datang seorang dengan wibawa yang luar biasa. Seperti tekanan yang sangat berat menyelimuti seluruh ruangan. Para petinggi yang mengadakan rapat dadakan sekejap terdiam. Hening sekali di sini, hingga detak jantung pun terdengar dengan jelas.


Wanita itu adalah sang penguasa. Pengguna sihir kelas atas dari yang teratas. Jika dibandingkan dengan peringkat misi yang diadakan oleh paviliun pembunuh di dataran tempatku tinggal dulu kelasnya mungkin sekelas malapetaka atau diatasnya. Kurasa dia mampu meratakan pulau hanya dengan beberapa rapalan mantranya, bahkan aku yang berada dalam tahanan bawah tanah saja dapat merasakan energi yang sangat mendominasi ini. Dia tak lain adalah sang ratu sihir, Hania Adir.


Ya, dia tak asing bagiku. Dia bahkan bisa mengelabui perasaanku yang sangat peka terhadap kekuatan besar pada waktu itu. Bahkan saat aku di dalam gua waktu itu belum mampu mendeteksi kekuatannya yang sebenarnya. Jika mungkin aku berhadapan dengannya mungkin setengah benua ini akan hancur, puluhan nyawa akan melayang, dan aku belum pasti dapat mengalahkannya atau tidak.


Aku pernah dengar dari penguasa langit. Ada seorang wanita muda yang mempunyai tubuh yang spesial. Dia dapat menggetarkan langit pada usianya yang masih muda. Raja langit bahkan ingin mengadopsinya sebagai penerusnya yang selanjutnya. Mengingat cerita itu mungkin dia adalah wanita muda yang di ceritakan raja langit waktu itu.


"Hah, jika demikian bakal sangat merepotkan jika aku harus bertarung dengannya" gumamku.


Sementara itu di tempat perundingan itu.


"Aku sendiri yang akan mengatasinya. Kalian tak perlu repot-repot mengatasi hal sepele ini"

__ADS_1


Semua masih terdiam.


"Kalian memang tidak dapat mengatasinya bukan berarti aku tak dapat mengatasinya"


Tak ada suara yang keluar. Masih hening.


"Bawa dia ke kediamanku. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya"


....


Tengah malam dalam rimbunnya hutan. Angin berdesir pelan membuat malam ini terasa sejuk. Jauh dalam hutan sisa-sisa penduduk kota Soffa yang terdiri dari beberapa pria dan kebanyakan anak-anak, wanita dan orang tua bergerak kearah gunung yang dipenuhi salju disisi lain hutan. Mereka mengharapkan jika dewi mereka memberi pertolongan padanya. Kurasa itu menurutku.


Disana Alice dan Yoru bergerak mengikuti arahan dari sesepuh kota. Dia mereka bingung ada apa sebenarnya yang terjadi. Tiba-tiba datang segerombol orang yang memberitahu bahwa ada beberapa bandit menyerang kota dengan jumlah yang sangat besar. Suasana gambaran yang diceritakan bahwa pasukan itu sudah seperti penyerbuan dalam hal memperluas kekuasaan. Alasan mereka disuruh pergi karena mendapat surat mandat dari pemimpin asosiasi penyihir, sang Ratu sihir, Hania. Karena alasan itu mereka mau tak mau harus meninggalkan kota.


"Alice, kenapa master belum kembali?"


"Nanti dia akan menyusul" ujar Alice.


"Hmm. Aku percaya padamu. Dan jika hawa keberadaan master melemah, saat itu aku meratakan negeri ini" katan Yoru datar.


Alice hanya tertawa pelan.

__ADS_1


Sementara itu, diwaktu yang sama di dalam kediaman Ratu Hania.


"Kita ketemu lagi" katanya sembari senyum ramah.


Aku tak tau senyumnya itu benar-benar tulus atau tidak. Dia orang yang berbahaya.


"Aku akan terus terang saja. Maaf"


Kata itu membuatku tersentak. Sementara itu belenggu yang mengikat tangan, kaki dan tubuhku pun lepas.


"Apa kau tak takut aku akan menghancurkan seluruh dataran ini"


Dia hanya tersenyum dan menghadapkan wajahnya ke arah jendela.


Langitnya sangat cerah. Walau bulan tak hadir malam ini, namun bintang-bintang menari-nari seperti mereka tak keberatan bulan tak datang.


"Benar" dia bersuara. Sejenak hening dan hanya terdengar hembusan anggin yang semilir.


"Jika waktu itu kau serius ingin melawan kami, mungkin daratan ini, benua ini akan musnah mungkin. Atau hanya setengahnya saja itu sudah sangat mengerikan"


Aku tak paham apa yang ia katakan namun aku hanya terdiam.

__ADS_1


"Di pinggiran kota ada sebuah kedai yang terbengkalai. Mungkin akan menjadi tempat sempurna mengingat kau sangat menghindari pertarungan dan untuk sitasi mu, aku akan bantu" dia mengatakan hal aneh lagi.


Ah, sudahlah.


__ADS_2