
Di dataran kematian adalah salah satu dari beberapa ratus ribu pulau pengasingan untuk hewan spiritual. Akan tetapi banyak yang tidak tau jika dataran ini adalah dataran paling berbahaya di dunia. Setidaknya masuk dalam sepuluh dataran yang tak boleh dikunjungi manusia biasa kecuali dia seorang pendekar atau master pendekar.
Setelah perang besar melawan iblis dan ras siluman berakhir, para pendekar tangguh yang baik hati memindahkan hewan spiritual ke dataran tanpa penghuni yang wilayahnya cukup luas. Bukan karena apa, Tuhan menciptakan berbagai mahluk itu dengan tujuan agar mereka bekerjasama dan hidup berdampingan. Namun sifat sombong, bangga akan diri sendiri, iri hati, rakus akan kekuasaan membuat sebagian orang rela melakukan apapun demi memuaskan hasrat mereka sehingga persaingan bahkan peperangan yang disebabkan masalah sepele pun sering terjadi. Untuk menghindari perang di kemudian hari hewan spiritual yang merupakan keturunan ras iblis dipindahkan ke berbagai pulau di dunia ini.
Sebelumnya aku pernah kesini dulu saat perang enam tahun lalu tapi tidak seramai ini. Disini banyak hewan yang mempunyai kekuatan lebih dan setara dengan para pendekar bahkan ada pula pendekar yang kualahan saat melawannya.
Dikatakan dulu leluhur akademi pendekar milik kami mampu mengalahkan penguasa dataran ini dan diberi izin untuk para murid dari akademi pendekar memasuki dataran ini dan menguji kemampuan mereka dalam sebuah pertarungan. Sebab itulah para peserta dikirim di tempat yang berbeda-beda.
Aku penasaran sudah berapa lama hewan spiritual itu berada di sini dan perjanjian apa yang disepakati oleh leluhur dan pemimpin dari dataran kematian ini. Sambil menuju ke tempat Kelana sebaiknya aku mencari informasi tentang itu dan jujur saja pemimpin para hewan spiritual itu yang mana aku tak tau.
"Kau sudah menemukannya" ada sebuah suara yang bersumber dari belakangku.
"Oh. Sudah lama ya, Widi" kataku sembari menengok kearah sumber suara itu.
Ternyata dia ada di atas pohon duduk dengan kaki di ayunkan. Dia mirip dengan manusia akan tetapi ia mempunyai sayap berwarna putih salju dan bulu sayapnya lembut sekali, bahkan lebih lembut dari apapun.
Dia tersenyum padaku kemudian melompat turun ke bawah.
"Kau masih saja mengenaliku walau aku berwujud seperti ini" katanya.
__ADS_1
"Huft" aku menghembuskan nafas.
"Kemajuanmu boleh juga" kataku.
"Uhh. Baru ketemu seharusnya menanyakan kabar cipika cipiki, kangen kangenan, lalu boleh menyanjungku" katanya sedikit agak kesal.
"Kurasa tidak ada aturan seperti itu" ujarku sambil mengangkat bahu.
Dia memalingkan muka. Aku tau dia cemberut, terlihat dari sini.
"Baiklah, apa kabar kakak?"
"Jadi, kau pemimpin dataran ini?" aku mulai serius.
"Betul" Widi juga mengimbanginya.
"Jadi aku orang ke-dua yang dapat mengalahkanmu?" aku langsung menuju pada apa yang ingin aku ketahui.
Bukan karena apa, namun aku mulai merasakan Kelana dalam masalah. Aura ini seperti seorang pendekar berkemampuan khusus. Namun untuk sekarang kelana tak masalah, karena dia bersembunyi di semak-semak.
__ADS_1
Dari kejauhan samar-samar aku merasakan bahwa ada singa berekor ular ungu. Mahluk itu seperti namanya, mempunyai ekor ular dan berwarna ungu. Kemampuan spesialnya adalah racun tingkat tinggi dalam ilmu pengobatan. Meski begitu dia juga mempunyai penawarnya, yaitu empedu miliknya. Selain itu tidak ada penawar lainnya.
Dihadapan ku Widi menjelaskan semua yang ia ketahui sejak masa penguasa lama sebelum penghuni dataran ini sebanyak ini.
Ia mengatakan jika leluhur dahulu ternyata tidak sepenuhnya mengalahkan Widi. Ia menyetujui jika muridnya dan penghuni dataran ini saling bertukar kekuatan, akan tetapi salah para murid menyebarkan rumor bahwa leluhur lah yang mengalahkan Widi dan mampu menguasai dataran ini yang menyebabkan para penghuni dataran ini geram dan berani membunuh manusia. Itu lah penyebab perang di dataran ini.
Widi menjelaskan bahwa ia dan leluhurnya adalah penghuni asli dataran ini. Kehidupan disini sangat damai dan makmur. Sampai akhirnya seratus tahun lalu ras iblis mulai mengacaukan semuanya dan memulai perang. Salah satu penyebab dataran ini menjadi momok adalah campur tangan dari ras iblis yang turut menbunuh manusia dari akademi generasi ketiga dan menyebabkan rumor yang berisi adu domba.Widi setelah bertemu denganku pada waktu itu langsung mencari tahu kebenarannya. Setelah itu kami menjadi teman dekat sampai aku meninggalkan tempat ini.
"Begitulah" pungkas Widi.
"Jadi semua hanya kesalah pahaman" ujarku.
"Memang seharusnya begitu" aku setuju dengan perjanjian leluhur pada waktu itu.
"Jika demikian aku harus menghentikan singa ungu berekor ular. Temanku dalam bahaya" kataku.
"Aku akan menyusulnya" imbuhku.
"Aku ikut" pinta Widi. Aku hanya mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
Saatnya meluruakan ini semua.