Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Ajaran Arisanti


__ADS_3

"Kita tak sama" kataku memecah keheningan.


"Memang benar jika Widi lenyap saat perpindahan. Mengapa kau masih bertahan hidup sampai saat ini?"


"Siapa namamu?" tanyanya.


"Aku Modo"


"Ya, Modo. Sebenarnya ini adalah sisi lain dari dunia yang sebenarnya. Hanya karena berbeda benua saja. Orang-orang dari negerimu memanfaatkan energi alam yang melimpah dalam nadinya melalui pernafasan. Itu yang disebut teknik beladiri. Namun penjelasan mengenai sihir adalah energi alam yang dimanfaatkan oleh orang yang didasari imajinasi. Seperti bertapa, para penyihir memfokuskan pikiran mereka dengan merapal mantra-mantra tertentu dan mulai menyimpan energi alam di dalam tubuh mereka. Mereka menyebutnya mana atau energi sihir. Keunggulan dari sihir adalah dapat meminjam kekuatan alam tanpa harus menggunakan energi yang dia punya, namun kelemahannya adalah perapalan. Meski itu penyihir tingkat tinggi pun butuh beberapa detik untuk merapal mantra"


"Seperti ini" dia mempraktekan apa yang dia katakan.


Sekarang aku paham. Kenapa aku saat datang kesini tidak terdeteksi oleh alat sihir. Pada waktu itu cermin pengukur aliran energi sihir berwarna putih karena mendeteksi energi alam. Namun karena cermin itu tak mampu membaca energi apa yang ada di dalam tubuhku dia pecah. Itu seperti kita menatap langit dan mulai menghitung bintang. Walau kita tau ada banyak bintang, namun kita tidak dapat menghitung jumlah pasti bintang itu. Walau kita memaksanya, kepala kita akan kebingungan dengan angka-angka dan akhirnya membuat kepala sakit. Sama halnya cermin itu, dia tau jika ada energi alam yang terdapat dalam tubuhku namun tak dapat menjelaskannya secara visual dan kemudian pecah.


Aku bisa belajar dari ini. Memanfaatkan energi alam untuk menghemat tenaga dalam. Fokus dalam pernafasan lalu mengumpulkan energi di sekitar dalam sekali helaan nafas. Ini tidak sulit, aku sudah terbiasa dengan ini. Aku bisa mengontrol energi sekitar dengan kemauanku sendiri. Aku juga dapat memanfaatkan ini dengan cepat. Seperti diriku, cepat dan waspada.


"Hah? Seriusan. Kau langsung mengerti apa yang aku katakan?" kata Arisanti kebingungan.


"Yah. Aku berpikir jika penyihir dapat memanfaatkan energi alam, kenapa aku tidak"


"Eh, ada sesuatu yang menyentuhku" dia kebingungan.


"Itu termasuk pengembangan pemanfaatan enegi alam ini. Langkah sembunyi milik ku"


Ya, aku dapat bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Seperti tubuhku lebih ringan setelah memahami pemanfaatan ini. Aku tak lagi bergantung pada dasar pernafasan dalam teknik ku. Apakah ini yang kakek bilang tubuh 'ringan seperti angin dan kuat bagai gunung'. Ini menakjubkan.


"Woah. Awalnya aku hanya ingin menjelaskan apa yang kau tak fahami, loh. Malah seperti aku menunjukan pencerahan kepadamu. Walau leluhurku dari daratan yang dimana pembeladiri dengan teknik pernafasan berada, aku baru lihat jika pendekar hebat itu memang ada" katanya dengan mata yang berbinar-binar.

__ADS_1


"Tapi ras kami tetap yang terbaik. Banyak manusia yang memuja kami seperti tuhan. Pasti leluhurku lebih hebat darimu" katanya dengan penuh kebanggaan


Yah, aku juga tidak akan mengatakan jika sebagian rasnya musnah karena ulahku di dataran itu. Jika dia tau aku yang menyebabkan mereka musnah apa yang akan terjadi, ya. Apakah akan ada peperangan lagi. Entahlah.


"Yah, walau kenyataannya kakak ku tewas didataran itu karena keserakahannya dan menjadi iblis seutuhnya"


Eh, sepertinya ada sesuatu.


"Kakakmu bernama Satan?" tanyaku.


"Ah, bagaimana kau tau? Walau dia cukup kejam namun dia cukup terkenal juga, yah"


"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika tau kakakmu tewas di tangan manusia. Apa kamu akan membalaskan dendamnya?" aku ingin tau. Sungguh ingin tau.


"Yah, walau dia adalah kakak kesayanganku, walau hatiku sakit ketika dia ternyata tewas. Namun itu salahnya. Lagian aku tak kan bisa mengalahkan orang yang membuat kakak ku tewas. Dia sangat mengerikan, dan..."


"Emm. Sepertinya auramu familiar. Seperti aku pernah melihatmu. Tapi kapan yah"


Wah, bakalan jadi masalah nih jika dia tau aku yang membuat kakaknya tewas. Jika itu terjadi, bakal jadi apa pegunungan ini.


"Ah, sial!" tiba-tiba dia murung.


Aku baru sadar jika iblis juga mempunyai sikap konyol seperti itu. Dia seperti kakak perempuan yang konyol dan tak misterius seperti pertama kita bertemu beberapa saat lalu.


"Betapa bodohnya aku mengatakan hal-hal barusan kepada lawan" ekspresi menyesalnya jelas sekali.


"Ah, tidak ada harapan. Tidak ada. Tidak ada" dia semakin lesu.

__ADS_1


"Hei, apa yang kau maksud?" aku mencoba menjadi polos. Terkadang itu perlu.


"Ah, bukan apa-apa. Lagi pula sudah terlanjur. Aku akan mengajarimu semuanya" ujarnya masih dengan ekspresi sama.


Kemudian dia mengajariku apa itu sihir. Mulai dari dasarnya hingga menggunakan energi alam untuk membentuk energi baru dalam tubuh. Rasanya cukup aneh di dalam tubuhku. Aku merasakan dua energi baru ini berlawanan arah. Seperti ada jalur nadi baru yang terbentuk.


Dalam tujuh hari aku berusaha menguasai dua energi itu. Ini cukup sulit jika tidak dilatih dengan sungguh-sungguh. Seperti menggambar lingkaran dan persegi dengan bentuk sempurna dengan kedua tangan secara bersamaan. Aku juga tidak bisa berhenti. Ini akan menyebabkan kekacauan di aliran darahku. Setidaknya lumpuh adalah efek minimal dari latihan ini. Aku tidak boleh menyerah.


Ini cukup sulit. Aku membutuhkan setidaknya tiga puluh hari lebih sampai aku menguasai teknik baru ini. Bukan sihir tapi pengembangan bela diri. Aku akhirnya menyerah dan meluruskan dua energi yang berbeda menjadi satu. Sekarang aku merasakan seperti mendapat tubuh baru yang lebih ringan. Apakah ini terobosan baru yang belum di capai oleh pendekar manapun. Ini sangat menyegarkan.


"Sekarang coba kau merapal mantra bola api dengan memfokuskan pikiranmu seakan-akan kau membuat bola api dengan tanganmu" Kata Arisanti.


"Bola api" aku mencoba apa yang ia katakan.


Bola api itu muncul dan terbang seperti sebuah tembakan. Anehnya api itu terlihat besar dan ledakannya mampu membuat tebing salju yang berada di seberang hancur sebagian. Itu kerusakan yang agak fatal sih.


"Seperti dugaan ku. Kau itu monster" kata Arisanti sedikit geram.


"Apa aku lulus?" Aku masih tak mengerti, padahal aku hanya mengikuti instruksinya dan berhasil. Pertanyaannya adalah mengapa aku berhasil?


"Yah, kau berhasil. Yang lebih mengejutkanku adalah kau menggabungkan mana dengan tenaga dalam mu. Itu cukup mustahil di lakukan, tapi kau berhasil. Sebagai efeknya kau mampu menggunakan sihir walau hanya dengan tenaga dalam mu"


"Hmm. Sebenarnya ini sangat murni. Ini seperti semesta alam berada dalam dirimu. Sangat dalam dan tak terbatas" katanya sembari melihat-lihat tubuhku.


"Selanjutnya aku akan mengajarkan lebih banyak teknik lagi. Dasaran sudah, sekarang tinggal penerapan"


Dan akhirnya kami sudah seperti guru dan murid.

__ADS_1


__ADS_2