Pendekar Harum

Pendekar Harum
Menunggu


__ADS_3

Hari sudah siang ketika May Ling kembali ke goa Iblis.


Leon yang sudah kelaparan langsung menyerbu kearah May Ling yang banyak membawa ikan.


" Kenapa kamu sendirian, dimana kakak? " mata Mei Ling melirik kiri kanan mencari Su Kha.


" Hah.. Mana aku tau, tadi pagi waktu aku bangun kakak Su Kha sudah tidak ada. maka ya pergi sendiri mencari ikan" ucap Mei Ling dengan bingung.


...


...


Sampai keesokan paginya Su Kha masih belum muncul, tampak kekawatiran terliat diraut wajah kedua gadis kembar.


" Apakah kakak pergi meninggalkan kita " Ucap May Ling dengan wajah sedih.


" Tidak mungkin kakak meninggalkan kita. Jika memang dia ingin meninggalkan kita mana mungkin dia menyelamatkan kita dari para perampok yang hendak membunuh kita " balas Mei Ling masih dengan kecemasan diwajahnya.


Sudah empat hari Su Kha menghilang, Mei Ling yang berusaha bersikap tenang agar tidak membuat adiknya cemas hanya memutar-mutar segel mantra yang diberikan Su Kha kepada mereka berdua dan juga Leon.


" Mei Ling apakah kita akan pergi juga" ucap May Ling sambil mengusap kepala Leon yang tampak tak perduli dengan menghilangnya Su Kha.


" Tidak..! aku akan tetap menunggu Kakak walaupun sampai tua bahkan jika harus mati di sini pun aku akan tetap menunggu " balas Mei Ling dengan wajah kesal.


Mei Ling mengusap segel mantra Jurus Langkah Demensi yang dibuat Su Kha pada batu yang bisa dijadikannya tempat duduk saat mempelajari Kitab cahaya. " Sebelum kakak menghilang apa kamu masih ingat yang diaucapkannya? "


" Ee.. kalau tidak salah, kakak bilang kita bisa kembali kegoa ini kapan saja jika sudah bisa menguasai langkah ruang" ucap May Ling sambil mengusap kepalanya yang tidak gatal sambil.


" Benar, dan aku yakin kakak akan kembali kegoa ini! " balas Mei Ling.


" Iya aku juga sangat yakin kakak pasti akan kembali " sambil berjalan mendekati api unggun berencana untuk tidur karna hari sudah malam.


...


...

__ADS_1


Disuatu tempat yang gelap dan dingin. Hanya ada setitik cahaya terliat.


Su Kha yang kebingungan terus menuju ke titik cayahay itu.


Semakin lama berjalan cahaya itu semakin besar sampai tiba-tiba Su Kha berada dibawah sebuah pohon yang rindang. Suasana disana sangat nyaman, sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Setidaknya itu yang ada dalam benak Su Kha.


Sejauh mata memandang hanya ada hamparan padang rumput, satu-satunya teman Su Kha ditempat itu hanya pohon besar tempat nya beristirahat itu.


Su Kha menarik napas dalam lalu menghembuskannya kasar. " Bagaimana kabar mereka? " gumam Su Kha. " Semoga mereka baik-baik saja".


Tidak terasa sudah beberapa hari Su Kha ditempat itu. Sudah ribuan kali Su Kha mencoba keluar dengan Jurus Langkah dimensi tetapi hasilnya tetap nihil.


" Aneh juga, kenapa baru sekarang aku merasa lapar" Rasa bingung dan aneh yang baru saja dia sadari.


Matanya menatap ke atas pohon mencoba mencari buah dari pohon itu untuk dimakan. Merasa tidak melihat apa-apa Su Kha akhirnya menaiki pohon itu untuk memastikan ada tidaknya buah yang bisa dimakan dipohon itu.


" Ah... buah apa ini, beracun tidak ya " gumam Su Kha. dia mengurungkan niat nya untuk memakan buah yang baru saja dipetik nya itu.


Dari atas pohon Su Kha mencoba meliat kesekelilingnya, tapi sejauh mata memandang tidak terliat apa-apa selain rumput dan langit yang menjulang.


" Apa itu?! aku harus memeriksanya aapa tau disana ada orang" Dengan langkah awan Su Kha melesat menuju ke sumber cahaya itu.


Setelah cukup jauh berlari tetapi masih jua belum menemukaan apa-apa. " Apakah aku berhayal " k


Su Kha menghentikan larinya sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


" Aku yakin tadi melihat kilauan cahaya " lalu menarik napas dalam. "Baiklah, aku tidak akan menyerah " lalu berlari kencang kembali menggunakan jurus langkah awan, jurus pertama dari Kitab Cahaya.


Tidak terasa sudah memasuki hari yang Kedua Su Kha berlari. Rasa lelah dan letih sudah menyerang tubuh nya. Tenaga dalamnya pun sudah hampir habis terkuras. Lapar dan haus yang sudah lama mendera nya sudah tidak diperdulikan nya lagi, yang terpenting baginya sampai secepat nya ke sumber cahaya yang diliatnya. Karena itulah satu-satunya harapan untuk keluar dari tempat ini.


Hari ketiga Su Kha berlari semua yang dimiliki nya sudah habis dikeluarkan. Bajunya basah oleh keringat. Napasnya sudah diubun-ubun.


" Agh mungkin inilah saat kematianku " Pikir Su Kha sebelum jatuh pingsan.


Tepat ketika kepalanya hendak menyentuh rumput kembali matanya melihat kilauan cahaya, bedanya kali ini lebih terang dari beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


" Aku benar, ini bukan hayalan ku " lalu matanya terpejam udah jatuh pingsan.


Beberapa hari kemudian,


" Ouhuuekk.. Su Kha terbangun karena ada rumpun kering yang tertiup angin masuk ke mulutnya.


" Rupanya aku belum mati" tapi rasa lapar dan haus serta kehabisan tenaga dalam membuat Su Kha kesulitan untuk bergerak. " Entah sudah berapa lama aku pingsan" pikir nya.


" Mungkin ak masih diberi dewa kesempatan untuk hidup" sambil tersenyum ketir memaksakan diri untuk berdiri.


Buukk...


Su Kha terjatuh kembali " Agkhh aku hampir tidak bisa menggerakkan tanganku ".


Tiba-tiba saja dia teringat buah yang dipetiknya. Mungkin inilah saatnya dirinya mempertaruhkan semua.


" Kali ini ak pertaruhkan semuanya " Su Kha membatin.


Karena perut yang sudah sangat lapar, tenaga yang habis terkuras dan ditambah rasa putus asa karena terdampar di padang rumput tak berujung akhirnya Su Kha memakan buah itu tanpa perduli apa yang akan terjadi kemudian. Yang terpenting saat ini baginya adala bertahan hidup . Karena ini lah harapan terakhirnya untuk menuju ke sumber cahaya tersebut.


Baru satu gigitan tiba-tiba saja seluruh jiwa dan raganya menjadi amat kesakitan. Jika tahu akan menjadi seperti itu Su Kha lebih baik memilih mati.


Dengan kondisi tubuh yang berada di titik terendah Su Kha akhirnya jatuh pingsan kembali.


Tepat sebulan berada di padang rumput itu Su Kha akhirnya sadar, tapi baru saja membuka mata sakit itu kembali menyerang nya, Su kha akhirnya kembali jatuh jatuh pingsan.


Kejadian ini terus berulang beberapa bulan berlalu.


Booom..


ledakan besar tenaga dalam terjadi pada diri Su Kha. " Se..seekarang ak menjadi seorang petapa" dengan suara lirih dan mata yang bekaca.


" Paman Yu Liong.. Bibi Lei.. adik-adik, aku Yu Su Kha akan membalaskan dendam kalian " dengan tangan digenggam erat mengarah ke langit.


" Tunggu aku keluar, akan aku bumi hanguskan. Kerajaan Langit Barat " sambil meliat kedua telapak tangan masih tak percaya dengan kekuatan yang dimilikinya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2