
Saat ini May Ling Terluka cukup parah walaupun berhasil menghindar dengan jurus langkah kilat pembunuh memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Kondisi fisiknya yang lebih kuat dari Mei Ling membuatnya tetal sadar walaupun sebenarnya lukanya cukup lebih parah.
" Agh.. andai kak Yu Su Kha ada disini...."
Braak...
Jendral Song mendarat di depan May Ling dengan hentakan keras menampakan kearoganannya, seolah-olah dialah orang terkuat dimuka bumi ini.
Cueih...
Darah yang tersisa dimulut nya di ludahkan May Ling kepada Jendral Song.
Ha.. ha.. ha...
" Tawaranku masih berlaku kepada kalian berdua jika masih ingin hidup " May Lung yang mendengar ucapan Jendral Song langsung berdiri dengan sisa-sisa tenaga nya berusaha melindungi Mei Ling yang tidak sadarkan diri.
Jendral Song yang meliat tindakan tersebut langsung mengacungkan pedangnya keatas bersiap untuk menebas kedua gadis kembar tersebut.
" Baiklah jika itu keinginan kalian maka matilah..." sambil menebaskan pedangnya kearah kedua gadis itu.
Baru separuh jalan dari ayunan pedang itu dari dalam hitam melesat tiga buah bola api melesat menuju kearah Jenral Song.
Booom..
Boooom...
Dooouuuaaaarrrs...
Dua bola apai berhasil ditangkis tapi tidak dengan yang ketiga. Bola api ketiga mengenai Jendral Song membuatnya terlempar sejauh belasan meter.
Oohouek...
Darah segar dimuntahkan dari mulut Jendral Song. Wajahnya kini terlihat pucat pasi. Tubuhnya gemetaran ketika dipaksakan untuk berdiri.
Aooummmm....
Leon mengaum keras mengeluarkan amarahnya ketika berada disamping kedua gadis kembar.
Setelah menatap sesaat Leon berjalan perlahan menuju kearah Jendral Song. Langkahnya yang perlahan seolah-olah menyiratkan kekejaman yang akan dilakukannya.
Jendral Song yang berdiri gemetaran dengan bertongkat pedang merasa ciut hatinya. Kesombongan yang tadi diperlihatkan kini telah berganti dengan ketakutan dan kengerian.
__ADS_1
" Si... singa Hitam Legendaris " ucap nya ketika debu yang menutupi pandangannya akibat serangan bola api telah menghilang.
Dihatinya cuman ada penyesalan. " Agh... Andai aku sudah menjadi Petapa pasti aku akan mudah melarikan diri dari singa ini " batinnya berkata.
Leon berhenti sejenak lalu menatap May Ling. May Ling sendiri yang meliat tatapan Leon langsung memalingkan wajahnya seolah mengerti maksud dari tatapan Leon tersebut.
" Ja.. ja...jangaaan... mendedeeekat " ucap Jendral Song ketakuatan.
Leon yang melihat tingkah tersebut cuma membuka tutup mulut memperlihatkan gigi tajamnya seperti sedang melakukan pemanasan. Tingkah laku Leon ini membuat Jendral Sing semakin ketakutan.
" A..ak..akku mohon jaang..jangaaan bunuh aku " tubuh nya kini terduduk lunglai. Sudah tidak ada tenaga yang tersisa ditubuhnya.
Andai saja dia tidak memakai Armor pelindung tubuh pasti dia sudah mati. Sehingga tidak akan merasakan kengerian ini.
Kini Leon sudah berada didepan Jendral Sing. Mulutnya sedikit terbuka seakan-akan tersenyum mengejek nya.
" Tidaaaaaaa.....kkk " teriakan ketika Leon mencabik tangan Jendral song yang memegang pedang.
Kraaaakk...
Bunyi pegelangan tangan yang langsung putus akibat gigitan Leon.
Buk..
Aghh...
" Aaaaa......"
Kini tangan yang satunya kembali lepas dari badan. Penyesalan dihati Jendral Song Semakin besar jika saja dia tidak memakai Armor. Tapi nasi sudah menjadi bubur.
May Ling yang sudah mulai kehilangan kesadaranya kembali tersadarkan metika mendengar teriakan Jendral Song yang kesakitan ketika tiap-tiap bagian tubuhnya dicabik-cabik oleh Leon.
Aaaaaaaahhh........
Aaaaaaaaahhhh........
Cuma itu suara yang keluar dari mulutnya. Kaki dan tangan berserakan disamping Jendral Sing. Matanya kini sudah tidak berada ditempatnya. Hidungnya kini cuma ada satu lobang menganya. Semua bagian tubuh yang bisa dimutilasi sudah terpisah dari tubuhnya, kecuali kepala yang tetap pada posisinya.
Leon berjalan menjauh meninggalkan tubuh Jendral Song untuk menendekati kedua gadis kembar.
May Ling yang merasa ada mendekatinya memalingkan wajahnya melihat kearah Leon. Baru sesaat kemudian matanya terpejam dan jatuh tidak sadarkan diri.
Melihat May Lung jatuh pingsan Leon melompat mendekatinya. Akan tetapi belum sampai ketempat kedua gadis kembar itu Leon behenti dan berbalik kearah Tempat Jendral Song berada.
__ADS_1
Gooarrrr...
Leon mengaum mengagetkan pemuda yang berada disamping Jendral Song. Auman yang diiringi tenaga dalam membuat pemuda tersebut menjatuhkan pedangnya.
" Ba..babaiik..." ucap pemuda yang tak lain adalah pangeran Ve Pian yang paham maksuk dari leon.
" Singa ini sangat kejam " Pangeran Ve Pian membathin yang paham dari maksud Leon membiarkan tubuh tanpa lengan dan kaki tersebut untuk mati secara perlahan.
Pangeran Ve Pian berjalan mendekat lalu berdiri disamping Gadis kembar yang langsung mendapat tatapan tajam dari singa.
" Mereka belum mati. Tapi keadaan mereka sangat kritis. Jika kita tidak segera mengobatinya nyawa mereka pasti tidak akan bisa diselamatkan " sambil menyandarkan tubuh kedua gadis kembar itu kebatang pohon.
Leon sekali lagi menatap tajam kearah Pangeran Ve Pian setelah selesai menyandarkan tubuh kedua gadis kembar tersebut.
Seolah-olah mengerti akan tatapan Leon " Kita harus membawa mereka kekerajan Laut Timur " ucap Pangeran Ve Pian membalas tatapan Leon.
Pangeran Ve Pian yang tidak sempat membawa pil penyembuhan sewaktu melarikan diri cuma bisa bermaksud memberi saran pada Leon untuk membawa kedua gadis kembar ke Kerajaan Laut Timur untuk mencari alkemis kerajaan.
" Memang kemungkinan besar para tabib dan alkemis kerajaan sudah tidak lagi berada dikerajaan tpi cuma itu saat ini harapan kita " ucapnya dengan wajah sedih.
Walaupun yang dikatakanya benar kecil kemungkinan para alkemis kerajaan masih berada didalam istana. Karena semua pejabat dan tokoh kerajaan beserta keluarga melarikan diri begitu benteng berhasil ditembus oleh pasukan yang dipimpin Jendral Song.
" Andai saja kamu tidak menolongku, pasti keadaanmu tidak tidak akan seperti ini " batin Pangeran Ve Pian yang merasa bersalah atas apa yang menimpa Mei Ling. matanya menatap lurus kewajahnya yang cantik.
Ah...
Pangeran Ve Pian tersadar dari lamunanya ketika Leon mengibaskan ekornya kewajahnya. Dia melihat kearah Leon yang memandangnya.
Leon yang memandang Pangeran Ve Pian lalu mengalihkan pandanganya kepada kedua gadis kembar yang bersandar dipohon. Sesaat kemudian Leon memandang punggungnya.
Pangeran Ve Pian yang mengerti maksud dari pandangan Leon langsung menaikan kedua gadis kembar itu keatas punggung Leon.
" Sekarang ayo kita berangkat " ucap pangeran Ve Pian sambil melangkahkan kakinya.
Baru beberapa langkah Pangeran Ve Pian menghentikan langkahnya ketika merasa Leon tidak ikut berjalan.
" A..apa yang kamu tunggu " ucapnya sambil menatap bingung.
Sekali lagi Leon memandang punggungnya menyuruh Pangeran Ve Pian untuk menaiki punggungnya.
Melihat itu pangeran Ve Pian langaung naik keatas punggung Leon.
" Dengan ini perjalanan kita akan jauh lebih cepat " gumamnya sambil memegangi tubuh kedua gadis kembar agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Leon berlari kencang menuju kearah Kerajaan Laut Timur.
Mohon dukungan teman-teman dengan memberikan Like pada karya saya ini dan syukur-syukur jika ditambah dengan Komen. Terima kasih sudah membaca karya saya ini.