Pendekar Harum

Pendekar Harum
Pohon Kehidupan


__ADS_3

Tidak terasa sudah delapan bulan berlalu.


" Tidak sia-sia penderitaan yang kualami selama berada ditempat ini" dengan senyum bahagia terpancar diwajahnya.


Su Kha berencana kembali memetik buah ajaib ketika dia sudah berhasil menemukan jalan keluar.


" Dengan kekuatanku sekarang aku yakin bisa mencapai tempat itu " dengan tatapan penuh keyakinan dimatanya.


Kali ini dengan Jurus Langkah awan berlari lima kali lebih cepat dari biasanya. Hari-hari berlalu dengan cepat. Tidak terasa sudah hampir satu bulan.


Kelelahan sudah mulai terasa, lapar dan haus dahaga sudah menyerang tapi tempat yang dituju masih belum terliat.


" Aku harus kembali kepohon itu " Pikir Su Kha, tapi itu tidak terjadi karena ketika dia menggunakan jurus langkah ruang.


" Apa yang terjadi?? tempat ini!? mustahil jika aku harus kembali karna aku pasti akan mati ditengah perjalanan dengan kondisiku yang sekarang" lalu berlari kembali menuju cahaya yang kini tampak terliat jelas.


Setelah berhari-hari kembali berlari akhirnya Su Kha sampai pada titik kritis yang belum pernah dialami.


Dengan tubuh tengkurap diatas rumput dan kesadaran yang sudah hampir menghilang dibawah alam sadarnya " Jika kamu ingin menjadi kuat kamu harus berusaha dua kali lebih keras dari orang lain, dan juga harus pintar ".


" P a m a a a a n Y u L i o n g . . . "


Teriakan keras yang seolah-olah menjadi sumber tenaga baru. Kesadarannya pulih total tetapi tidak dengan tenaganya. Dengan tekad dan semangat yang kuat Su Kha terus menuju kearah cahaya ini dengan merayap bahkan. Disaat dirinya tak sadarkan diri sekalipun.


Tepat satu tahun berada berada di padang rumput yak berujung. Su Kha akhirnya membuka mata setelah beberapa bulan merayap dalam keadaan tidak sadar. Hanya tekad kuatnya lah yang membuatnya bertahan sampai sekarang.


" I ini... , tempat ini?!? " dengan mata terbelalak tak percaya.


" Setelah selama ini berjuang... " Su Kha kebingungan, marah dan putus asa memandang pohon besar tempat pertama kali dia datang. Tubuh Su Kha berbeda jauh saat dengan dia datang. Saat ini tubuhnya kurus kering tinggal tulang berbalut kulit.


" Semua usahaku selama ini bukan sia-sia belaka. buktinya ak sekarang sudah menjadi seorang petapa" lalu menarik dapat dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


" Ak cuma harus berusaha sedikit lagi saja " gumamnya setelah cukup lama diam merenung.


nasibnya


Dengan sedikit tenaga yang terkumpul Su Kha mencoba menaiki pohon ajaib. Setelah bersusah payah menaiki pohon itu akhirnya dia berhasi memetik buah ajaib.


Ha.. ha.. ha....


"Nampaknya aku akan menikmati kesenangan memakan buah ini lagi " sambil menggigit buah ajaib itu lagi.

__ADS_1


" Kenapa tidak terjadi apa-apa? hahaha... syukurlah sambil terus mengunyah.


Tepat saat kunyahan terakhir ditelan, " ini..."


Bluuukk..


Su Kha terjatuh dari pohon.


" Tidaaaa aaaak "


" tiiidaaaakkk " rasa sakit itu kini kembali datang. Dan kali ini jauh lebih menyakitkan.


Su Kha merasakan seluruh tulang nya terasa hancur, kulit nya rasa terbakar. Tapi memang itulah yang terjadi.


Setelah beberapa hari kini dari mata dan seluruh lobang ditubuhnya mengeluarkan darah hitam kental.


Matanya kini mulai memutih berbeda saat dia pertama kali memakan buah itu. Kali ini kesadarannya terus terjaga membuatnya terus dapat merasakan siksaan itu terus menerus.


Tulangnya yang hancur lebur kini kembali utuh dan kulitnya yang hitam hangus terbakar kini telah kembali putih bersih seperti sedia kala.


Tapi itu hanya berlangsung sekejab mata. Karena berikutnya hal itu kembali terulang kecuali darah yang tidak lagi keluar dari semua lobang di tubuh nya.


Kejadian ini terus terulang sampai hari terakhir tahun ketiga Su Kha ditempat itu akjatuh jatuh pingsan.


" Ouuuaaagh.. " berdiri sambil mengeliat dan memutar tubuh nya kekiri dan kanan.


Kretakk..


Kretakk..


Bunyi tulang saat Su Kha merenggangkan tubuhnya.


" Eh dimana ini? " Dengan wajah bingung karena belum mengingat dan sadar sepenuhnya atas apa yang dialaminya selama ini.


Setelah beberapa tarikan napas akhirnya Su Kha mengingat semua kejadian yang telah dilaluinya.


" Buah apa itu sebenarnya " sambil menatap keatas pohon.


" Itu buah dari Pohon Kehidupan " suara yang terdengar penuh karisma.


" Apa... !? sambil melompat kedepan lalu berbalik kebelakang melihat kearah datangnya suara itu.

__ADS_1


Kini dihadapan Su Kha tampak sosok kakek tua dengan jenggot putih panjang berdiri tegak penuh wibawa dan keagungan menatap Su Kha sambil tersenyum ramah.


Dengan wajah kebingunggan dan pucat karena terkejut Su Kha cuma bisa membuka mulut nya membalas senyum ramah kakek didepannya.


" Ma.. ma..maafkan aku senior" dengan suara terbata-bata karena gugup.


" Kalau junior ini beh tau siapa kha sebenarnya senior ini? lanjutnya dengan senyum ramah yang dipaksakan.


" Hahaha... "


" Kamu ini lucu juga rupanya.. " sambil menarik jatuh buah Pohon Kehidupan dengan santai.


Kini Su Kha yakin kalau kakek didepannya bukan orang sembarangan. Bagaimana tidak, bahkan seorang petapa pun harus menyalurkan tenaga dalamnya ketangan untuk bisa menarik suatu benda mendekat.


" Kalau kamu mau tahu namaku bagaimana seharusnya kamu bersikap...? dengan senyum ramah diakhiri tatapan tajam.


" Oh maafkan junior yang tidak sopan ini " sambil meberi hormat dengan menangkup kan kedua tangan.


" Nama junior ini Su Kha " kalau boleh tau Dengan siapa junior ini berhadapan " masih dengan wajah menunduk memberi hormat.


" Je Wei, ya namaku Je Wei " dengan wajah sedih tampak diwajahnya tapi tidak sempat diliat Su Kha karna langsung memalingkan wajah menatap kosong jauh kedepan.


" Senior Je Wei bolehkah saya tahu dimana saat ini berada ".


" Saat ini kamu berada di dimensi ruang waktu "sambil menarik napas dalam lalu berbalik menatap wajah Su Kha yang tampak kebingungan. " Ya dimensi ruang dan waktu ".


" Bisakah senior Je Wei jelaskan lebih jelas?! karena junior kurang paham"


" Sebelum menjelaskan, bisakah kamu jangan bersikap terlalu formal. Cukup panggil aku senior atau Wei saja"


" Baik senior Wei " sambil berbalik mengikuti Je Wei yang mengarah kembali ke pohon kehidupan.


" Yu Su Kha..! kenapa kamu tidak makai nama itu? "


" it.. itu.... itu karena aku belum bisa menjadi orang terkuat di daratan tempat aku tinggal " wajah terkejut tampak geliat jelas diwajahnya.


Ha... ha.. ha...


" Dendam bisa membuatmu kuat, tapi itu juga bisa membuat iblis hatimu menjadi lebih kuat dan kau tidak perlu bingung atau pun terkejut karena aku bisa melihat apa yang ada dipikirkanmu " lalu berjalan menjauh dari pohon kehidupan.


" Iya senior " sambil berjalan mengikuti Je Wei.

__ADS_1


" Dimensi ruang dan waktu adalah sebuah ruang yang dibuat oleh dewa yang memiliki hukum ruang dan waktu, dan ini sangat langka. Kalau dihitung dengan angka mungkin satu banding satu milyar " sambil berjalan. semakin jauh dari pohon kehidupan tanpa sekalipun melihat kearah Su Kha.


__ADS_2