
Braa...kk..
Bunyi meja dipukul hancur. Makanan dan minuman terpental kesemua arah.
" Bajingan.. akan kuhanurkan kalian semua! "
Wajah tua dengan janggut putih menghiasi dagunya tidak membuat wajah tampannya memudar. Wajahnya yang memerah karna marah tampak terlihat jelas.
" Petapa Tua.. apa saja yang kamu lakukan?! teriakannya membahana membuat dinding goa bergetar. Kelelawar yang biasanya tidur di goa itu pun berhamburan terbah keluar.
Wajah Petapa Tua suram, aura membunuh kental menyelimuti seluruh goa. Bagaiman bisa bisa dia tenang ketika meliat slip giok kehidupan Petapa arogan mulai redup dan perlahan mengilang.
Kejadian ini memngisaratkan bahwa kini kehidupan murid yang disayanginya sudah bisa dikatakan telah tiada.
" Sungguh berani.. berani sekali.. " matanya merah tajam menatap kearah utara "
...
.....
Jauh dikedalaman hutan terlarang, diwilayah Kerajaan Utara.
Tubuh seorang pemuda terbating ditangah dengan tubuh penuh luka, diwajah tampannya kini hanya menyisakan sikap angkuh dan arogan. Mungkin kearoganan ini telah mendarah daging pada dirinya sehingga samapi akhir hidupnya wajahnya tetap menampilkan sikap tersebut.
Wajah Petapa Gunung dan Petapa Chuan kini mulai terlihat tenang, walaupun wajah Petapa Gunung terlihat pujat. Tapi jejak kebijaksaan tetap kental terlihat.
Tapi situasi ini tidak berlangsung lama, karna tiba-tiba semua orang yang berada disana merasakan tekanan pada dirinya.
Khusus bagi para pelayan mereka semua hampir pingsan karena tidak bisa menahan tekanan dari niat membunuh.
" Yah... ini mungkin ahir dari kisah perjalanan hidup kita " sambil melihat petapa chuan.
" Ha... ha... ha... "
Kini mereka cuma bisa tertawa lepas.. tawa yang bukan datang dari kebahagiaan, bukan juga dari rasa takut.
" Tawa ini adalah tawa akan akhir dari kesenangan petualangan mereka selama ini "...
" Yaa sudah saatnya " mereka serempak bergumam. Percakapan mereka tidak bisa didengar oleh yang lain.
Hanya Petapa Chuan yang menatap lurus kearah barat tampa menoleh. Sesangkan Petapa Gunung menantap sedih kepada rombongan .
Dua petapa ini sudah hampir tidak ada lagi tenaga atau energi yang tersisa pada diri masing-masing. Mata mereka menatap tanpa rasa takut.
" Yach... mungkin ini akhir perjalananku " Petapa Chuan tersenyum melirik.
Suara keras yang dikeluarkan dsertai tenaga dalam membuat hampi semua pelayan mati serempak.
Kedua petapa lamgsung memuntahkan darah segar, dengan kondisi yang hampir menyerupai mausia biasa , kedua petapa hanya mengandalkan kekuatan pisiknya.
__ADS_1
" Mati.. Mati... mati kalian semua " ratusan seluit pedang beterbangan menghandap semua orang yang berada ditempat itu...
Boom..
Booomm...
Boooomm....
Suara ledakan yang memekakan telinga ketika setip bayangan pedang itu mengenai sarannya.
Tidak lama kemudian hanya dalam beberapa napas waktu saja semua orang hampir terbunuh semua.
Petapa Chuan kini berdiri dengan lutut, hampir tidak ada lg napas kehidupan pada dirinya.
Sedangkan Petapa Gunung berdiri tegak dengan pedang sebagai tongkatnya. Sama seperti petapa Chuan, kini hanya ada sedikit napas kehidupan.
Jika karna bukan karna sudah mencapai tahap petapa mereka berdua bisa dikatan sudah mati. Tidak jauh dari mereka Raja dan Pangeran yang dilindungi para Jendal malah jauh lebih buruk.
Setiap mayat pasti mengalami kerusakan yang parah. Selalu ada bagian tubuhnya yang hilang, terpisah dari tubuhnya.
Tidak terkecuali Jenderal yang melindungi May Ling.
Kini bisa dibilang kematian yang terburuk. Seluruh daging tubuh bagian belakang sudah habis menghilang. Tulang-tulang putih bernoda merah darah jelas terliat.
Didalam pelukannya May Ling yang msh belum sadarkan diri merintih kesakitan. Walau dilindungi sepenuhnya efek kejutan masih menghantam tubuhnya.
" Hugh... "
" Matilah kalian semua..... "
Lelaki tua dengan tubuh kekar dan wajah yang garang disertai niat membunuh yang kuat mengangkat pedangnya keatas, siluit pedang yang sangat besar menjulang tinggi puluhan meter kelangit.
Bermaksud mengakhiri semua dengan membumi hanguskan semua yang ada dihadapannya.
Tepat ketika bayangan pedang itu akan dihempaskan, dari ataslangit " Lakukanlah... dan kujamin kau akan lebih meminta kematian dari pada kehidupan ".
" Siapa kamu ?"
Petapa Tua yang sdh berada dipucak tingkat petapapun merasakan dingin dikulitnya, ketika suara yang diiringi sedikit hembusan energi menerpa kulinya.
" Aku tidak perduli dengan omong kosongmu, mereka telah membunuh anakku. maka hari ini mereka harus mati. Apapun bayarannya "
Petapa Tua langsung mengeluarkan pil biru tua dan menelanya. Seketika energi ditubuhnya meningkat menjadi beberapa kali lipat.
Merasa tidak mungkin untuk menang melawan sosok tersembunyi tersebut Petapa tua hanya bertaruh dengan serangan ini.
" Oh.. jd keberanianmu sungguh besar? tepat ketika serangan petapa tua hampir mengenai sikembar dan dua petapa sosok pemudah muncul dan menahan serangan tersebut dengan telapak tangan terbuka.
Booom...
__ADS_1
Boooom....
Booooom.....
" Tidak mungkin... " melihat kejadian yang mustahil didepan matanya , petapa tua secepat kilat menghilang kembali kekerajaan Langit Barat.
" Kecepatan larinya boleh juga " ....
Debu yang yang menyelimuti seketika menghilang terempas angin ketika sosok pemuda itu menhempasjan sdikit energinya.
" Kakak... May Ling berteriak. Kakak selamatkanMei Ling. Jangan kawatir dia akan baik-baik saja.
Pemuda yang tak lain adalah Yu Su Ka mendekati Mei Ling yang masih belum sadar lalu memasukan sebuah pil kedalam mulutnya. Dengan sedikitbmenyalurkan energinya pil tersebut segera larut dan dserap oleh tubuh.
Dengan tampak terlihat kecepat pemulihan Mei Ling semakin membaik. wajahnya tidak lg terlihat pucat.
" Ini,, cepat kamu makan sambil menyerahkan dua pil lagi kepada May Ling" .
" Terima kasih Kakak " ucapanya lalu memasukan satu pil kemulut leon.
" Kamu melakukanya dengan baik! " sambil mengusap kepala Leon si Singa Hitam Legendaris.
Ouhouuuk...
Ouhouuukk...
Petapa Gunung dan Petapa Chuan batuk. Darah segar keluar dari mulut mereka.
"Kakak...?"
Yu Su Ka tersenyum, " Kamu tidak usah kawatir ". Mendekati Kedua petapa yang duduk tidak jauh dari mereka Yu Su Ka memberikan masing- masing dua pil.
" Terima kasih anak muda " lalu menelan kedua pil tersebut.
Mei Ling yang sudahbmembaik keadaan kini mulai sadar, tapapak bayangan yang dikenalnya terlihat samar dimatanya.
" Apakah kamu kakak ".. ucapanya lemah.
Yu Su Ka yang mendengar suara Mei Ling sekejap kilat mendekat kearahnya.
" Iya .. ini kakak !"
" Kemana saja kaka selama ini. Kami Rindu dengan kakak "
Air matanya mengalir membasahi pipinya yang putih mulus.
" Jangan menangis lagi.. kakak sudah ada disini, mulai sekarang tidak akan ada lagi yang berani menggaggumu " tanganya lembut membelai rambut Mei Ling.
Kedua Gadis kembar itu memeluk Yu Su Ka dengan erat.
__ADS_1
Setelah beberapa napas waktu kedua petapa yang kini sudah mulai pulih bejalan mendekati Yu Su Ka dan si kembar. Merasa ada yang mendekat kedua anak kembar yang kini sudah menjadi gadis dewasa melepaskan pelukannya.