
Tidak terasa sudah hampir setengah hari Su Kha berjalan meninggalkan Kerajaan Laut Timur.
Angin berhembus kencang, langitpun mulai terliat gelap menandakan hujan lebat akan segera turun.
"Kenapa aku bisa begitu bodoh, seharusnya tadi aku membeli kuda... " gumam Su Kha pelan.
"Sebentar lagi hujan, aku harus segera menemukan tempat berteduh" sambil berlari Su Kha sesekali mlihat kelangit.
Tidak beberapa lama akhirnya terliat sebuah bangunan tua yang lumayan besar. Walaupun sudah lama ditinggalkan tapi bagunan bekas penginapan tersebut masih terliat kokoh.
"Akhirnya...! berbarengan dengan suara Su Kha hujan deras pun turun dengan begitu deras dan diiringi suara petir.
Baru saja Su Kha duduk tiba-tiba dari arah dalam ruangan terdengar langkah kaki.
" tidak perlu berdiri saudara! " tegur pria dari dalam ruangan saat Su Kha hendak berdiri berniat menyapa orang yang berada dalam bangunan kosong itu.
Senyum ramah Su Kha menyambut pria paruh baya yang baru saja berada didepan pintu.
"maaf kan saya jika kedatangan saya mengganggu anda".
" Ha.. ha... ha.... kamu anak muda yang ramah dan baik hati " balas pria itu.
" Saya Su Kha " sambil membungkukan badan memberikan hormat.
"Aku .... aku.. aku lapar " jawab pria itu tanpa eksprisi sambil menatap Su Kha. Su Kha cuma bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini makanlah.. " sambil menyerahkan bungkusan makanan yang dibelinya di Kedai Arak waktu masih berada di Kerajaan Laut Timur.
Sambil menyambut bungkusan " Terima kasih, anak muda" ucap pria paruh baya itu sambil berjalan menuju ke sudut tempat sebuah meja berada.
Duuuaaarrr... bunyi petir dibarengi kilat yang menyebabkan ruangan ditempat itu terlihat jelas.
Su Kha baru menyadari bahwa ruangan itu ternyata terlihat bersih.
..
..
..
"Ayu cepat.. lebih cepat lagi.. " sambil memacu kudanya lebih cepat lagi.
Tampak tiga orang lelaki gagah menaiki kuda dengan pedang tergantung dipinggang masing-masing.
__ADS_1
"Kita sudah hampir sampai" ucap salah seorang pendekar berkuda kepada pemimpinnya.
"Ingat rencana kita, jangan sampai kita gagal" ucapan sang pemimpin. Bagaimana tidak! jika mereka gagal maka kepala mereka yang akan jadi gantinya.
Setelah beberapa saat, "pemimpin, didepan tampaknya hujan lebat" kata salah satu pria terlihat bersemangat.
"Maksudmu apa?! aku juga meliat itu! Apa kamu mau kepalamu melayang" ucap pemimpin kesal. Walaupun ia tahu klu kedua bawahannya kelelahan.
Mereka terus memacu kuda dengan kencan.
Tok.. tik.. tak... tik.. tok.. tik.. tak.. tik.. tok... suara sepatu kuda....
Hujan sudah reda ketika ketiga orang pria itu sudah mendekati bangunan tua tempat Su Kha beristirahat.
Hari sdh mulai gelap ketika mereka sampai dibangunan bekas penginapan itu.
Dengan sikap santai dan senyum Ramah ketiga pria itu memasuki bangunan tua itu.
Su Kha yang baru saja berjalan masuk kedalam bangunan langsung kembali berjalan kluar.
"Siapa yang datang " Su Kha bertanya
.
Belum sempat menyapa, para pendekar tersebut membungkukan diri memberi hormat. " maaf jika kedatangan kami menggangu tuan-tuan" ucapnya ramah.
"Tidak apa-apa, malahan aku senang jika ada orang yang mau mampir dan beristirahat disini". menarik napas dalam sambil melambaikan tangan menyuruh ketiga pendekar itu untuk masuk kedalam bangunan bekas penginapan tersebut.
" Aku senang setidak nya aku punya teman bicara walaupun hanya sebentar" sambung pria paruh baya.
Ketiga pendekar Tersebut berjalan perlahan dan melirik ke kiri dan kekanan untuk mencari tempat duduk.
"Kalian bisa duduk dimana saja, bebas. karena disini cuma ada kami berdua" lalu menatap Su Kha serius.
Su Kha yang dipandang begitu serius cuma membalas dengan senyuman canggung, karna ia bingung dengan maksud dari tatapan pria paru baya tersebut.
Salah satu pendekar berjalan mendekati Su Kha bermaksud duduk dikursi yang dekat denganya, sedangkan Sang pemimpin dan bawahan yang satu
nya lagi mengambil sisi yang berlawanan tepat di samping pria paruh baya.
"Kami akan bermalam disini" kata pemimpin pendekar sambil duduk.
Pria paruh baya itu berbalik berencana masuk kedalam bangunan tua bekas penginapan itu.
__ADS_1
Tepat didepan pintu, Su Kha menatap pria paruh baya dengan sorot mata penuh tanya.
" Sebaiknya kamu istirahat duluan " sorot matanya tajam seperti memaksa Su Kha untuk menuruti kata-katanya.
" Baiklah " jawab Su Kha dengan sedikit rasa kesal dan bigung yang masih belum hilang dari pikiranya atas sikap pria paruh baya itu.
Saat Su Kha hendak berbalik masuk, tiba-tiba pria paruh baya batuk-batuk. tidak berselang lama Su Kha juga batuk-batuk dan ia merasa tubuhnya mulai melemah
Tepat bersamaan dengan batuknya Su Kha ketiga Pendekar yang sedang duduk secara serentak berdiri menggenggam pedangnya, berniat hendak menyerang pria paruh baya didepan Su Kha.
Belum sempat mencabut pedang dari sarungnya priA paruh baya dalam sekejap mata menghilang dari pandangan Su Kha.
Kurang dari lima detik pria paru baya itu muncul kembali didepan mata Su Kha. Berbarengan dengan itu, ketiga pendekar yang masih berdiri tegak telah kehilangan kepalanya masing-masing.
Salah satu kepala menggelinding telan didepan Su Kha yang berlutut lemas sambil batuk. "LANGKAH KILAT PEMBUNUH" ucap Su Kha dengan suara berat dan parau.
" Yu Liong " tiba-tiba teriakan keras membahana dibarengi niat membunuh yang kuat.
" Iya, itu namaku" ucap Yu Liong menjawab tatapan Su Kha sebelum dia jatuh pingsan akibat tekanan dari seorang pendekar sakti tingkat petapa.
Aura yang timbul dari niat membunuh ini sangat dikenal Yu Liong. Dengan santai tubuh suka yang sedang pingsan didudukan lalu disandarkan di dinding.
Yu Liong melompat keluar lalu membuat segel mantra untuk melindungi bangunan tempat Su Kha berada.
" Tempat ini akan menjadi kuburanmu " mendengar ini Yu Liong hanya tersenyum sinis.
" Yu Han keluarlah...! lalu buktikan kebenaran dari ucapanmu ini" kata Yu Liong.
Dari atas langit tiba tiba muncul bayangan peda.ng sepanjang belasan meter, mengarah ke kepala Yu Liong. Tanpa ekspresi Yu Liong hanya diam membiarkan bayangan pedang menebasnya.
Dooouuaaaaarrr......
Bunyi ledakan dasyat diiringi debu yang beterbangan keudara. Beberapa pohon besar yang berada di dekat Yu Liong tumbang terkena imbas dari serangan Yu Han.
Ha.. ha... ha....
Yu Han tertawa lantang.
Debu akibat serangan Yu Han sudah menghilang. Kini yang terlihat sosok Yu Liong berdiri tegak tanpa bergeser sedikitpun dari awal dia berdiri.
Didepan Yu Liong, diantara dua kakinya ada retakan tanah sedalam beberapa meter akibat dari serangan Yu Han.
"Yu Han kau tetep seperti dulu, tidak berubah" kata Yu Liong.
__ADS_1
"Dan kau pun sama, Yu Liong " ucap Yu Han. Sambil melompat dari pohon dan mendarat beberapa meter dari Yu Liong.