
" Sialan... ".
Cuma kata sumpah serapah yang keluar dari mulut Petapa Arogan. Rencana untuk membunuh semua orang yang berada dalam istana itu gagal.
Tidak ingin mangsanya lepas Petapa Arogan kini mengibaskan kembali Kipas Pusakanya, sebuah pisau angin kecil berwarna merah melesat sangat cepat kearah angin tornado.
Kini Istana yang tanpa atap itu terasa sangat panas. Bahakan Leon sendiri pun mundur beberapa langkah setelah melihat perubahan ini.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat sampai tiba-tiba..
Dooooouuaaaaaaarrrr...
Angin tornado itu pecah dan memghamburkan ratusan bahkan ribuan pisau angin kecil kesegala arah.
Semua prajurit yang terkena pisau angin itu seketika mati terpotong-potong dan tebakar.
Pangeran Ve Pian yang menggendong Mei Ling selamat karena Leon memasang tubuhnya sebagai perisai. Tapi lain cerita dengan Jendral yang mengangkat May Ling.
Luka menganga dan terbakar tampak terlihat jelas dibelakangnya. Untuk menyelamatkan May Ling Jendral itu berbalik dan memasang punggungnya sebangai tameng saat sebuah pisau angin yang berukuran cukup besar mengarah kepada mereka.
Oughkkhuuukk...
Dia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Wajahnya pucat pasi.
Seluruh tubuhnya gemetaran menahan sakit dan tetap berusaha untuk tidak melepaskan tubuh May Ling yang kini berada dalam pangkuannya. Lututnya yang menyentuh tanah bergetar hebat.
Andai dua tidak memakai Armor pastinya dia dan May Ling akan tepotong-potong, sama seperti yang lainya.
Setelah benberapa tarikan napas kini tubuhnya tidak lagi bergetar, Jendral yang sudah puluhan tahun melindungi Pangeran Ve Pian akhirnya tewas .
Tidaaaaaaa...kk!
Rasa sedih... marah ... benci .. dendam menjadi satu, sampai akhirnya rasa penyesalan menyadarkan Pangeran Ve Pian dari keterpurukan mentalnya.
Rasa penyesalan karena selama ini tidak pernah benar-benar mempelajari ilmu bela diri, dan kini hanya isak tangis dan sedih yang menghiasi wajahnya meratapi tubuh tanpa nyawa sang Jendral yang selalu melindungi dan menyayanginya.
Haih..
" Ternyata cukup sulit juga " sambil menatap tajam ke arah Leon. " Aku harus menyingkirkan singa sialan ini dulu " pikir Petapa Arogan .
Leon yang yang sekarang tampak lebih waspada. Matanya selalu menatap tajam pada Petama Muda Arogan itu.
" Leon jika terus-terusan seperti ini maka kita semua akan mati " Pangeran Ve Pian berbisik pada Leon tetapi tetap bisa didengar oleh Petapa Arogan.
Ha.. ha.. ha...
" Lalu apa yang akan kalian lakukan?! " balasnya begitu pangeran Ve Pian selesai berbisik.
" Hari ini di tempat ini lah kalian semua akan mati. Kecuali.... " sambil melirik kearah kedua gadis kembar.
Ha.. ha.. ha..
__ADS_1
Cueih..
" Jangan harap... " balas Pangeran Ve Pian yang menangkap maksud dari Petapa Arogan.
Heih...
" Lebih bai.. "
" Aku sudah tau jawabanmu " Petapa Arogan memotong. " Aku cuma lebih senang mendengar ucapan kesombongan, penyesalan atau kata-kata sok kuat dari orang yang akan segera menemui kematianya".
" Aku sudah mulai bosan bermain dengan kalian " selesai berkata niat membunuh yang kuat memancar keluar dari tubuh Petapa Arogan dan langsung menerpa Pangetan Ve Pian.
Niat membunuh itu cuma berlangsung selama satu tarikan napas tapi itu sudah cukup untuk membuat Pangeran Ve Pian kehilangan kesadaran untuk sesaat. Untungnya Leon segera menetralkannya dengan melepaskan niat membunuh yang juga sangat besar.
Leon yang selalu menatap tajam pada Petapa Arogan mendadak bergerak mundur selangkah mendekati Tubuh May Ling saat meliat tangan Petapa Arogan masuk kedalam baju seperti mengambil sesuatu.
Rasa tidak nyaman timbul dalam benak Leon. Bagaimana hampir sepuluh tahun yang lalu kejadian seperti ini pernah dialaminya dan berujung dengan dirinya terluka cukup parah.
Boooom
Boooom
Boooom
Boooom
Boooom
Leon yang secara tiba-tiba langsung memboombardir Petapa Arogan dengan bola energi.
Kabut asap sudah menghilang begitu juga dengan Leon dan yang lain.
" Bangssssaaaaaaat... kalian semua! "
Cuma itu kalimat yang keluar dari mulutnya karena kali ini dia merasa telah dibodohi. Wajahnya memerah, niat membunuh meledak menyapu seluruh istana. Andaikan ada orang disana pasti langsung pingsan karena kuatnya tekanan itu.
Petapa Arogan mengambil Kipas Pusaka yang lain karna sempat tertunda akibat serangan Leon tadi.
Petapa Arogan langsung tebang keatas Istana Kerajaan Laut Timur lalu mengibaskan senjata andalannya Kipas Sakti sekuat tenanga.
" Hancurlah... "
Dua bola angin sebesar kepala manusia melesat sangar cepat menghantam bangunan istana. Bola itu langsung pecah dan menciptakan jutaan pisau angin yang terus menggulung bangunan istana itu. Setiapa benda yang dilewatinya hancung menjadi debu.
Proses ini berlangsung sangat cepat. Hampir semua rumah penduduk ikut hancur terkena imbasnya. Banyak dari warga yang tidak bersalah mati.
Kini Kerajaan Laut Timur sudah musnah oleh Petapa Arogan.
...
...
__ADS_1
...
Keesokan harinya ...
" Petapa Chuan apa yang kamu pikirkan??? "
" Menurutmu apa??? " balasnya bertanya.
Ha.. ha.. ha...
" Andainya aku tahu apa yang kamu pikirkan pasti aku tidak akan berada dihutan ini " sambil tersenyum lalu menyerahkan salah satu gelas kopi yang dipegangnya.
" Terima kasih "
" Untuk apa? "
" Ya untuk kopi ini! " sambil menyudurkan kopi ditangannya. Mereka pun lalu tertawa bersama.
" ini.....
" Energi ini..? " ucap petapa Gunung yang hanya dibalas dengan tatapan oleh Petapa Chuan.
lalu mereka terbang melayang kearah sumber energi itu.
Didalam hutan yang gelap Leon yang dari semalam terus berlari dengan membawa si kembar dan pangeran Ve Pian sebagai petunjuk jalan agar bisa sampai dengan cepat ke Kerajaan Bumi Utara.
Leon sendiri sudah terlihat kelelahan karena sambil berlari dia juga membuat perisai energi agar kedua gadis kembar aman dari ranting dan akar pohon yang mereka lewati.
Leon tiba-tiba berhenti ketika merasakan dua orang yang sangat kuat mengarah kepadanya.
" Apa yang akan terjadi? " pikir Pangeran Ve Pian.
Leon yang merasa dua orang yang mendekatinya sangat kuat tanpa pikir langsung menyerang...
Tiga bola api melesat kearah dua orang itu dan meledak.
Booooooom
Booooooom
Booooooom
Leon mengumpulkan energinya untuk melakukan serangan yang sangat kuat.
Asap mulai menghilang sampai tiba-tiba..
" Berhenti " ucap Pangeran Ve Pian dan kedua orang itu yang tak lain adalah Petapa Chuan dan Petapa Gunung.
" Pangeran...! Apakah benar itu anda?! " ucap Petapa Chuan begitu mendengar suara pangeran Ve Pian.
" Pangeran Ve Pian memberi hormat pada kedua Petapa " sambil menyatukan tangan memberi hormat.
__ADS_1
" Anakku.... " sambil berlari lalu memeluk pangeran Ve Pian. " Apa yang sudah terjadi, lalu bagaimana kradaan diistana?" tanya Raja Ve Nous.
Tanpa memperdulikan pertanyaan ayahnya Pangeran Ve Pian yang telah terlepas dari pelukan ayahnya langsung menurunkan kedua gadis kembar yang berada di atas punggung Leon.