
"Ceih.. rupanya kau sudah menyerah dan meminta kematian yang cepat ya " Gumam Mei Ling lalu melesat menghilang menyerang menggunakan Jurus Langkah Ruang.
" Mati .. " ucap Mei Ling menyerang Jendral dengan menyalurkan semua tenaga salamnya kedalam Pisau yang dipegangnya.
Bleezt.. Mei Ling yang secara tiba-tiba muncul di samping Jendral Song langsung menyayat kearah leher, tapi belum sempat menyentuh leher..
Boomm...
Gagang pedang dari jendral Song mengenai dada Mei Ling.
Okhouuekk...
Okhouuuekk...
Suara batuk Mei Ling yang dibarengi darah segar yang keluar dari mulutnya.
Senyum sinis terlihat jelas dari wajah Jendral Song. Betapa tidak, sebab usahanya untuk mengenai Mei Ling selalu gagal.
" Tidak sia-sia latihan berat yang telah kujalani selama ini " Ucap Jendral Song dalam hati. Sebenarnya Dia sudah hampir putus asa ketika semua serangannya selalu gagal untuk mengenai Mei Ling. Harapanya kini timbul kembali ketika Mei Ling terpancing untuk melakukan serangan penutup pada dirinya.
" Oegh.. sial, andai aku bisa bersabar lebih lama aku pasti tidak akan terluka seperti ini gumam Mei Ling yang tersadarkan setelah terkena serangan dari Jendral Song.
Ha.. ha.. ha...
" Bagaimana gadis cantik... apa kah kamu menginginkan lagi belaianku" ucap Jendral Song sombong.
" Apa kamu pikir kamu sudah merasa menang hanya dengan berhasil mengenai diriku satu kali ".
" Pukulanmu ini tidak lebih sakit dari gigitan semut "
Mei Ling yang sudah mengalami luka dalam berusaha tetap tenang dan mencoba mengulur waktu dengan mengajak Jendral Sing berbicara.
" Bagaimana kalau aku saja yang membelaimu, karena kulihat sepertinya dirimu kurang mendapat belaian kasih sayang dari seorang wanita ".
Bagus..
Bagus..
Bagus..
" Apakah sekarang kamu mau menjadi selirku " ucap Jendral Song bangga.
" Tidak usah sok jual mahal apalagi berlagak kuat . Aku tahu dirimu sedang terluka parah. Walaupun aku tidak menggunakan kekuatan penuh untuk memukulmu, tapi itu sudah cukup untuk membuatmu berbaring ditempat tidur selama beberapa hari".
Ha.. ha.. ha..
" Apakah kamu yakin?? " ucap Mei Ling sambil tersenyum sinis, walaupun kini wajahnya sudah terlihat pucat.
" Siapa yang kamu tunggu??" ucap Jendral Song karena sudah mulai kesal melihat kelakuan Mei Ling. Dia sebenarnya sudah tau dari awal kalu Mei Ling cuma mengulur waktu saja.
" Kamu jangan berharap terlalu banyak dari pangeran pengecut itu " lalu mengarahkan pedangnya kepada Mei Ling.
" Bunuh saja aku kalu kamu berani " ucap Mei Ling memprovokasi karena tidak ingin ditangkap dan dijadikan selir oleh Jendral Song.
__ADS_1
" Baiklah jika kamu menginginkan kematian daripada hidup enak disisi ku! ".
Tanpa menunggu lama lama Jendral Song langsung bergerak dan berada di depan Mei Ling yang sudah mulai berludut karena tidak bisa menahan rasa sakit di dadanya.
Jendral Song mulai mengangkat pedangnya keatas laksana seorang algojo yang hendak memancung seorang tahanan.
Seutas senyum manis tampak diwajah Mei Ling. Wajah tanpa penyesalan ketika akan menemui kematian.
Jendral Song sendiri cuman bisa mengerutkan keningnya meliat senyum manis di wajah gadis cantik didepannya.
" Heh.. munggkin inilah saatnya aku bertemu denganmu bibi! ".
" Matilah... ucap Jendral Song sambil mengayunkan pedangnya sekuat tenaga kearah leher Mei Ling dengan senyum kemenangan tampak terlihat diwajahnya.
...
...
...
Booomm....
Ledakan keras hampir mengenai pangeran Ve Pian jika saja dia tidak menghindar disaat yang tepat pasti dirinya sudah menjadi abu.
Agh....
Darah segar keluar dari sisi bibirnya ketika tubuhnya terhempat terkena gelombang dari serangan tersebut.
Leon yang Meliat ada orang asing yang mencoba memasuki Wilayah kekuasaanya mencoba untuk menyerang kembali.
Bola merah sebesar genggaman tangan orang dewasa muncul di depan mulut sampai tiba-tiba...
" Leon... jangan ... " teriak seorang gadis cantik dari dalam goa.
Leon yang sudah bersiap menyerang Pangeran Ve Pian menarik kembali kekuatanya.
" Mei Ling.. "
" Bukan.. siapa kamu? dan bagaimana kamu bisa kenal dengan kakaku ucapnya heran.
" Terima kasih sebelumnya karena kamu sudah menyelamatkanku dari singa... !?" mata matanya melirik kearah Leon lalu mata melotot menatap tak percaya karena dia baru sadar kalau yang baru saja menyerangnya " Singa Hitam Legendaris " lanjutnya.
" Ah itu bukan apa-apa, lalu bagai mana kamu bisa kenal dengan Mei Ling? "
" Agh... aku hampir lupa! " sambil berdiri lalu mengisap darah disudut bibirnya dengan tangan.
" Cepat kita selamatkan Mei Ling dia sedang bertarung dengan Jendral Song " sambik menarik tangan May Ling.
" Apa???..."
" Di...." belum sempat bicara May Ling tiba-menghilang dari pandangan Pangeran Ve Pian.
Kretaak.....
__ADS_1
Bunyi ukiran kayu segel jurus langkah ruang yang dibuat May Ling pecah. Mei Ling yang mendengar itu cuma tersenyum manis.
Booommmm....
May Ling yang menggunakan jurus langkah ruang tiba tepat saat pedang Jendral Song hanpir memotong leher Mei Ling dan menahan tebasan pedang itu sekuat tenaga.
Brak... bluk...blukkk.....
Kedua tubuh gadis kembar itu terpental beberapa meter akibat benturan dua tenaga dalam yang besar.
Walaupun tidak menyebabkan kematian tapi itu cukup untuk membuat May Ling luka dalam sedang untuk Mei Ling luka dalam semakin parah bahkan saat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.
" Supanya ada tikus lain yang yang berani ikut campur dan mencari mati denganku?! "
" Mei Ling .... " May Ling memanggil sambil berlari mendekatinya.
" Kamu harus mati hari ini! " ucap Mei Ling sambil menggenggam erat kedua pisau yang salah satunya baru diambinya dari tangan Mei Ling.
Niat membunuh yang sangat kuat keluar dari tubuhnya membuat Jendral Song dan para prajurit yang berada disekitar tempat itu merinding.
Jendral song cuma tersenyum penuh kesombongan lalu mengangkat pedangnya mengarahkan kearah May Ling.
" Ayo bunu aku jika kamu bisa! " sambil tangan satunya melambai menyuruh untuk May Ling Mendekat.
" Matilah... "
Trang...
Treng...
Trang...
Suara pedang dan pisau berbenturan. May Ling yang menyerang dengan ganas dan liar dengan pisau cukup membuat jendral sing kerepotan dan memberikan beberapa luka sayatan pada tubuh Jendral Song. Lalu pada ahirnya...
Bluuuokk....
Sebuah tendangan keras mendarat diperut May Ling membuatnya terpental beberapa meter dan dari muluatnya kluar darah segar.
Cuih...
" Jika dia sudahberlatih beberapa tahun lagi mungkin sekarang aku sudah terbujur kaku menjadi mayat " Jendral Song membathin.
" Baiklah... Ini saat kalian mati. Sebab jika dibiarkan kalian nantinya pasti akan sangat menyusahkan ".
Pedang Jendral diangkat keatas dan mengeluarkan cahaya lalu bayangan pedang muncul sepanjang bebemeter.
Matilah.....
Bayangan pedang itu bergerak menyerang Mai Ling yang belum sepenuhnya siap setelah sebuah tendangan mendarat diperutnya yang membuatnya hampir pingsan.
Meliat serangan datang May Ling mengumpulkan semua tenaganya untuk menghindari serangan itu.
Boooomm.....
__ADS_1
Tepat di tempat bekas May Ling berdiri kini tampak lubang dengan luas dua meter terbuka.
Sedangkan May Ling Terluka cukup parah walaupun berhasil menghindar dengan jurus langkah kilat pembunuh.