Pendekar Harum

Pendekar Harum
Pembantaian


__ADS_3

Di Kerajaan Laut Timur tampak prajurit dari Kerajaan Langit Barat mondar mandir mengumpulkan rampasan perang. Para gadis cantik tidak lupa pula mereka kumpulkankan untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.


Hari sudah malam ketika para prajurit itu selesai melakukan ptugas mereka.


" Apa semuanya sudah selesai dikumpulkan?! " ucap sang komandan pasukan ketika melihat para prajurit mulai bekumpul dan duduk santai sambil minum-minum.


" Ooh.. iya semua sudah dikumpulkan " sambil menunjuk pada puluhan kereta barang.


" Bagus.. Malam ini kita beristirahat dan bersenang-senang dahulu sambil menunggu Jendral Song dan Petapa gelap kembali " sambil menatap kumpulan gadis cantik yang berada tidak jauh dari kereta barang.


" Baik komandan " ucap semua prajurit serempak. Diwajah mereka terukir tawa bahagia penuh nafsu. Bagaimana tidak dalam pikiran mereka malam ini mereka akan menikmati gadis-gadis perawan.


Sang komandan yang berlalu pergi menuju istana cuma bisa geleng-geleng kepala melihat wajah mesum anak buahnya.


Baru saja sang komandan duduk tiba-tiba seorang prajurit berlari mendekatinya. Napasnya yang ngos-ngosan membuatnya kesulitan untuk berbicara.


" Kom.. koman... " wajahnya terlihat pucat pasi.


" Tenang.. Ini minum dulu "


Sang komandan berusaha untuk membuat prajurit itu tenang dengan memberikan minumannya.


Setelah melihat bawahanya mulai tenang sang komandan mulai bertanya.


" Apa yang hendak kau laporkan? "


" Petapa gelap terkubu didalam jalan rahasia, komandan! ".


" Apa????! it..itu.. itu tidak mungkin.?


" Benar komandan, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri "


" Tapi bagaiman itu bisa???! "


" Saya juga tidak tahu. Yang saya lihat sesaat setelah petapa gelap memasuki jalan rahasia tiba-tiba saja jalan itu ambrok ".


" Lalu bagaimana kamu bisa selamat jika petapa gelap saja bisa terkubur " ucap sang komandan penuh selidik.


" Saat saya akan memasuki jalan rahasia itu saya disuruh petapa gelap untuk kembali memberitahu Jendral Song kalau dia mengejar rombongan Raja Ve Nous ".


" Baiklah kita tunggu Jendral... "


Booomm...


Booommm...


Booommmm...

__ADS_1


Agh....


" Lari... semuanya selamatkan diri kalian...".


Belum sempat sang komandal selesai dari arah luar terdengar suara ledakan diiringi teriakan ketakutan.


" Apa yang terjadi?! " ucao sang komandan panik lalu berlari menuju kearah sumber ledakan.


" Bangsat.... siapa yang berani melakukan semua ini "


" Jendral Ve Laen.. ini...? " sambil menatap ratusan mayat prajurit Kerajaan Langit Barat yang kebanyakan sudah tidak utuh lagi.


Plaaak...


Sebuah tamparan keras mendarat diwajah sang komandan. Darah keluar dari sudut bibirnya.


" Andai saja aku tau... pasti sudah kucincang orang yang melakukan ini " ucapnya geram sambil menatap tajam sang komandan.


" Dimana Jendral Song " ucap Jendral Ve Lain sambil memberi intruksi pada ratusan prajurit Langit Barat yang dipimpinnya.


" Jendra... " belum sempat menyelesaikan ucapanya nya tiba-tiba dari arah belakang, " Dia Sudah mati " ucap Pangeran Ve Pian memotong.


" Cueih cuma pangeran sampah " ucap Jendral Ve Lain.


Ha.. ha.. ha...


" Hari ini si Sampah akan membuat si penghianat keluarga Ve menjadi mayat " ucap Pangeran Ve Pian dari atas benteng disamping Istana.


Boooooom....


Jendral Ve Laen terpental belasan meter. Golok dan tangannya nya hancur terkena bola bola api yang memotong jalur seranganya.


Agh...


Cuma rintihan dan erangan kesakitan yang keluar dari mulut Jendral Ve Laen.


Komandan pasukan yang dipimpin Jendral Ve Laen slontan menyuruk pasukannya untuk menyerang Pangeran Ve Pian.


" Serang......" ratusan prajurit serempak maju menyerang Pangeran Ve Pian yang sudah berada dibawah benteng istana.


Booooomm..


Booooommm..


Boooooommm..


Puluhan prajurit yang menyerang terpental belasan meter. Mereka semua mati dengan bagian tubuh tercerai.

__ADS_1


" Si.. Si.. Si... Singaa Hitam Legendaris " ucap mereka serempak.


Didalam pikiran aemua orang cuma ada satu kata " L A R I " mereka semua berhamburan kesegala arah untuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Hanya dua orang yang berusaha membantu Jendral Ve Laen untuk melarikan diri. Mereka adalah komandan pasukan Jendral Ve Laen dan Komandan pasukan dibawah komando Jendral Sing.


" Tutup semua gerbang, dan bunuh semua penjajah yang berana ditanah bumi Kerajaan Laut Timur! " ucap pangeran Ve Puan pada prajurit yang sudah dilepaskannya.


" Para prajurit yang sudah kehilangan komando kepemimpina semua berkompul dalam kelompok-kelompok kecil berjumlah puluhan orang. Mencoba untuk bertahan hidup, walaupun mereka sadar ini inilah akhir dari hidupnya.


Sebagian kecil lagi melarikan diri bersembunyi didaerah perumahan penduduk yang berada didalam kawasan iatana.


" Bunuh .. bunuh... " cuma itu teriakan yang terdengar dari semua prajurit Kerajaan Laut Timur. Sebaliknya dari prajurit Kerajaan Langit barat cuma rintihan dan teriakan kesakitan yang terdengar.


Kejadian ini terjadi disemua sudut dan tempat di sekitar Istana Kerajaan Laut Timur.


Hari sudah pagi, ketika suara erangan dan rintihan pembantai sudah mulai mereda. Para prajurit Kerajaan Laut timur masuh melakukan penyisiran terhadap sisa-sisa prajurit Kerajaan Langit Barat yang masih bersembuni didalam kawasan istana dan juga yang masih bersembuni disekitat perumahan penduduk.


Mayat berhamburan dimana-mana. Para penduduk yang masih ketakutan cuma bisa mengintip para prajurit mengumpulkan mayat-mayat itu dari balik pintu rumahnya.


Didalam istana Pangeran Ve Pian duduk memperhatikan tabib Ve Juan mengobati kedua gadis kembar.


" Agh... akhirnya selesai juga " lalu berbalik kearah pangeran Ve Pian.


" Kedua Gadis ini sudah lewat masa kritisnya " ucap tabib Ve Juan.


" Terima kasih paman " lalu berjalan keluar kamar menghampiri Leon.


Ve Juan yang awalnya dilepaskan pangeran Ve Pian dari penjara tidak memperhatiakan leon tiba-tiba saja terperanjat begitu melihan Leon yang duduk diatas tubuh Jendral Ve Laen yang sudah tanpa kaki dan tangan akibat perbuat Pangeran Ve Pian.


" Singa Hitam Legendaris " ucapnya parau.


" Leon, itu namanya " ucap suara dari dalam kamar .


" Mei Ling kamu sudah sadar?! " ucap pangeran Ve Pian yang langsung berlari masuk kedalam dan langsung di ikuti pamanya Ve Juan.


" Terima kasih senior karena sudah menyelamatkan nyawa kami " ucap Mei Ling sambil berusaha untuk bangun.


" Ini bukan apa-apa, sebaik ya kamu tetap berbaring karna kondisi tubuhmu masih belum cukup stabil " ucap tabib Ve Juan.


" Iya, benar kata... "


Booooooooooommmmmm......


Ucapan Pangeran Ve Pian terhenti ketika mendengar suara ledakan dari dapur istana telatnya dari pintu rahasia.


Para prajurit dan Pangeran Ve Pian langsung berlarian menuju kedapur istana, sedangkan Leon yang masih berada tidak jauh dari kamar tempat kedua gadis kembar dirawat tidak memperdulikan apa yang sedang terjadi.


Dengan santai Leon berjalan mendekati kedua gadis kembar sampai tiba-tiba...

__ADS_1


Dooooouuuuaaaarrrr......


Sebuah ledakan keras mengguncak istana dan menerbangkan puluhan prajurit dan juga Pangeran Ve Pian. Saking kerasnya ledakan itu kini antara dapur dan ruang tidur istana itu sudah tidak ada lagi penghalang.


__ADS_2