Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Terbangun dari Maut


__ADS_3

Set! Tep!


Xu Zhu melesat secepat kilat menyambar tubuh Gao Yin.


Sebelum Gao Yin berhasil membuat kekuatan tenaga dalamnya meledakkan diri, Xu Zhu telah lebih dulu tiba dan berhasil meredam semuanya dengan satu totokan di tengkuk.


Tubuh Gao Yin terkulai lemah tidak sadarkan diri. Dia kehilangan seluruh daya dan kekuatan setelah melakukan tindakan nekat. Bunuh diri. Beruntung Xu Zhu cepat tanggap, kalau saja Xu Zhu kurang sedikit saja terlambat, jelas Gao Yin sudah kehilangan nyawa bahkan seluruh tubuhnya pun hancur berkeping-keping.


"Huuuhhh ..." Xu Zhu menghela napas panjang. Menoleh pada kedua kultivator Nascent Soul yang menindas Gao Yin.


"Beraninya kalian melukai murid sekte ku. Kalian tidak pantas untuk berkata kasar, apalagi coba menindas kami!" desis Xu Zhu.


Setelah merebahkan tubuh Gao Yin dengan hati-hati, Xu Zhu bangkit seraya mengurut jari tangannya.


"Hahaha! Sudah mau mati, anjing itu masih bisa menggonggong!" tawa kembali meledak dari mulut keduanya.


Plaakk!


Satu tamparan keras mendarat di pipi orang yang baru saja bicara. Sontak, pria itu tersungkur keras menghantam akar pohon.


Hanya dengan satu pukulan, Pemurni energi bisa dengan mudah menjatuhkan Nascent Soul. Hal yang tidak masuk akal.


"Uhuukk! Uhuukk!" darah muncrat dari mulutnya ketika terbatuk. Pandangannya masih berkunang-kunang, ketika Xu Zhu datang dan meraih dagunya.


"Kau salah pilih orang. Tidak ada yang bisa mengambil semua yang menjadi milikku!" Xu Zhu kembali melayangkan tinjunya, kali ini menghantam perut lawan hingga terpental dan membentur batang pohon.


Layaknya secuil kapas yang dengan begitu mudahnya terbang dimainkan angin, seorang Nascent Soul hanyalah sampah tidak berharga di hadapan Xu Zhu.


Melihat rekannya jadi bulan-bulanan, seorang Nascent Soul yang tersisa bersiap untuk melakukan serangan. Membokong Xu Zhu dari belakang. Tapi sebelum dia sempat melakukan gerakan, sebuah akar pohon telah melilit kakinya.


"Ah, apa ini?!" belum reda rasa terkejutnya, beberapa akar pohon yang lain pun ikut membantu dan mengikat kedua tangannya, kedua kaki dan bahkan sejujurnya tubuh kultivator Nascent Soul itu terlilit oleh akar pohon yang tumbuh di sekitar telaga.


"Semua ada harganya. Tidak mungkin ada tanaman suci yang tidak memiliki penjaga. Dengan darahmu kali ini, percayalah akan membuat hasil panen selanjutnya lebih berkualitas." Xu Zhu melambaikan tangan pada pendekar tamak tersebut.


"Lepaskan aku, lepaskan. Aaa aaa !!!" dengan suara memelas, dia mengerang menahan sakit ketika akar-akar pohon menembus permukaan kulit dan melukai urat-urat di dalam tubuh.


Xu Zhu melambaikan tangannya ke arah Teratai Emas, mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.


Selesai memanen Teratai Emas, Xu Zhu meninggalkan kedua orang Nascent Soul yang masih berjuang di ambang maut. "Tanaman suci selalu ada yang menjaga. Terima kasih, sudah mengikhlaskan diri kalian sebagai umpan."


Xu Zhu menggendong Gao Yin menjauh dari sisi telaga, membawa janda tanpa anak itu menuju tempat yang nyaman untuk beristirahat. Kemudian membaringkan tubuh Gao Yin di akar kayu. Xu Zhu memulai metode penyembuhan, untuk memulihkan urat-urat nadi Gao Yin yang nyaris hancur.


Dengan bantuan pil energi super, Xu Zhu tidak menghabiskan terlalu banyak kekuatan energi tenaga dalamnya, serta tidak memerlukan waktu yang lama untuk membantu Gao Yin pulih dari kematian.

__ADS_1


"Aaahh ..." Gao Yin mende*sah perlahan, napasnya sudah teratur. Sedikit demi sedikit, kesadarannya mulai pulih.


Gao Yin membuka matanya, melirik ke kiri dan kanan. Dia melihat pepohonan yang indah penuh bunga, udara yang lembut dan juga harum. Jauh berbeda dari keadaan terakhir yang dia ingat.


"Apakah aku telah tiada? Lalu tempat apakah ini? Ini surga atau neraka?!" Gao Yin berusaha untuk bangun.


"Kau baru saja siuman. Jangan dulu banyak bergerak. Istirahat dan pulihkan dahulu energi hawa murnimu!" suara Xu Zhu mengejutkan Gao Yin.


Ada Xu Zhu di sana. Artinya Gao Yin belum mati. Bagaimana Gao Yin diselamatkan dari ledakan? Xu Zhu meredam seluruh kekuatan Gao Yin dalam hitungan sepersekian detik saja? Begitu sulit untuk dijelaskan oleh logika.


"Aku merasakan urat nadi di tubuhku yang melebar dan jalur meridian yang lebih baik dari sebelumnya. Selain menyelamatkan nyawaku, bahkan dia memberi wadah yang lebih sempurna untuk aku bisa melatih kemampuan lebih baik di masa depan."


Gao Yin duduk bersandar di akar pohon. Meskipun tempat itu miliki aura yang berbeda, tapi mereka masih di dalam hutan kabut. Pasti semua Xu Zhu yang melakukan.


"Tidak disangka, seorang wanita bodoh sepertimu miliki kemampuan penyembuh lebih baik dari yang aku duga. Hutan ini sangat luas, begitu banyak tanaman berharga yang bisa dibawa pulang. Setelah ini, kita harus temukan lebih banyak lagi."


Xu Zhu yang semula membelakangi Gao Yin segera berbalik badan, di tangannya melayang sebuah Alkimia yang baru Xu Zhu ciptakan.


"Aaa, Tuanku ... Anda begitu pandai dalam mengolah Alkimia?!" Gao Yin melongo, mulutnya sampai membentuk huruf O.


"Bukan yang terbaik, tapi salah satu bunga Teratai Emas yang baru saja dipetik. Selain kau harus kembalikan kemampuan, harus juga kau perbaiki cara kerja otakmu." Xu Zhu melepaskan Alkimia di tangannya, lalu obat itu melayang dengan sendirinya mendekat pada Gao Yin.


"Tuanku, aku hanya tidak rela melihat kau tunduk pada perintah orang lain. Aku lebih rela mati daripada menjadi beban bagimu," Gao Yin coba membela dirinya.


"Gao Yin berjanji, di masa depan akan melatih kemampuan hingga mampu untuk melindungi Tuan dan juga Sekte Jinlong," Gao Yin menghaturkan sembah baktinya.


"Semuanya tergantung ... kau layak atau tidak menjadi bagian dari Sekte Jinlong."


°°°


Taasshhh! Taasshhh!


"Aaa !!! Aaa !!!"


Suara lecutan cambuk yang kemudian diiringi jeritan pilu seorang wanita.


Di dalam bangunan tua di tepi hutan, seorang wanita terikat tidak berdaya. Sekujur tubuhnya penuh luka bekas siksaan. Wanita itu tidak lain adalah temannya Gao Yin, namanya Pengyou.


"Lon*te bang*sat! Tidak mungkin kau tidak tahu! Atau perlu aku tarik lidahmu?"


Taasshhh! Selesai membentak, orang itu kembali mencambuk punggung Pengyou dengan sekuat tenaga.


Pengyou hanya bisa menahan rasa sakit dan perih. Darah mengalir dari luka-luka di tubuhnya. Pakaiannya pun compang-camping, robek akibat terlalu sering menerima pukulan.

__ADS_1


Terdengar suara langkah beberapa orang yang datang. Mereka semua berasal dari pasukan rahasia Sekte Mouyun yang dipimpin langsung oleh Tetua Sekte, Bai Huzi.


Tetua Bai mencengkeram mulut Pengyou, membukanya dengan paksa. Lalu sebelah tangannya yang lain memperlihatkan ramuan racun yang kapan saja bisa dimasukkan ke dalam mulut Pengyou.


"Mengapa kau lebih memilih sengsara? Sebut satu tempat, di mana Gao Yin bersembunyi. Semua selesai ..." suara Tetua Bai lirih.


Pengyou menggelengkan kepalanya, "saya benar-benar tidak tahu. Saya berani bersumpah, saat ini saya bahkan tidak memiliki sedikit pun koneksi untuk bisa melacaknya."


Tetua Bai menatap dalam. Seolah berusaha untuk menyelam ke dalam pikiran Pengyou. Hingga dia pun sedikit yakin kalau Pengyou tidak bicara dusta. Tetua Bai pun mengurungkan niatnya untuk meracuni Pengyou. Percuma membuang ramuan secara sia-sia.


Gao Yin menghilang dari Sekte Mouyun. Dia juga tidak menetap di Sekte Jinlong. Akan tetapi, ada mata-mata yang menyebut jika Gao Yin memasuki Hutan Kabut Musim Semi bersama Patriark Sekte Jinlong. Dengan kata lain, Gao Yin telah berkhianat.


"Tetua, bagaimana dengan wanita ini?" tanya seorang murid.


"Kita habisi saja dia! Aku yakin, demi sahabatnya maka Gao Yin akan muncul!" usul yang lain.


"Pikirkan caranya oleh kalian. Jika sampai pekan depan belum juga ada kabar, maka kalian yang harus bertanggung jawab!" selesai bicara, Tetua Bai langsung pergi.


"Hahaha! Kita dapat mangsa empuk!" tawa riang langsung pecah setelah Tetua Bai tak terlihat.


Ada enam orang pria tinggi besar di sana, masing-masing inginkan "jatah". Dengan kondisi Pengyou yang lemah seperti sekarang, sudah pasti Pengyou akan tiada bahkan sebelum keenam binatang itu selesai menggilir.


"Supaya tebih berasa, baiknya kita bersihkan tubuhnya."


HAHA! HAHA!


Tubuh Pengyou yang lemah pun dibawa ke pinggir sungai untuk "dicuci", barulah setelah itu Pengyou dipaksa untuk melayani nafsu bejat keenam anak murid Tetua Bai.


Dengan kondisi tubuhnya yang lemah sehabis disiksa berhari-hari, Pengyou tidak punya kemampuan untuk menghindar. Dia hanya bisa pasrah, tak berdaya, tatkala tubuhnya dijamah, dibolak-balik, dan digaga*hi secara tidak manusiawi.


Dipaksa meladeni ledakan nafsu enam binatang sekaligus, disumpal oleh enam rudal tanpa jeda. Liang depan, liang belakang, bahkan mulut Pengyou tidak lagi mampu merasakan apa-apa. Tanpa ampun, hingga hembusan napas terakhir.


Pengyou digilir sampai tewas. Dan bahkan setelah Pengyou kehilangan nyawa sekalipun, para binatang itu masih menyetu*buhi jasad Pengyou.


"Ahhh, ternyata begini rasanya apem orang mati. Hahah! Lumayan!"


Tiga orang masih bergumul penuh semangat, menyantap tiga buah lubang milik Pengyou yang telah tiada.


Dengan mencengkeram pipi, seorang binatang berhasil membuka mulut Pengyou dan memasukkan batang miliknya, kemudian menggoyangkan pinggulnya. Sementara dua orang lain menikmati liang surgawi dan juga liang belakang Pengyou.


"Liang belakangnya juga masih seret. Hehe ... tembak di dalam pun aman sekarang!"


Miris dan sangat tragis nasib yang dialami Pengyou. Setelah direnggut segala yang dia miliki, tubuh sahabat dekat Gao Yin itu dicampakkan begitu saja, bagaikan sampah dibuang di pinggir jalan. Tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2