Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Keluar dari Tanah Terlarang


__ADS_3

Setelah kembali dari Lembah Huang Quan, Xu Zhu terlihat banyak melamun. Wajahnya terkadang indah berseri, tapi kadang kala muram penuh beban pikiran.


Hembusan angin yang membelai serta dedaunan yang jatuh, tiada mampu mengusik dan memancing perhatian Xu Zhu.


"Tuan guru, kirim bentuk wajah serta ciri energi murid-murid mu ke dalam pikiranku. Biar aku yang pergi menemukan keberadaan mereka," Pancawarna mengusulkan.


Dengan kata lain, Pancawarna menginginkan Xu Zhu untuk berhenti dan istirahat. Sebagai mahluk roh istimewa, tentu saja Pancawarna tahu kalau saat ini kondisi fisik Xu Zhu sedang tidak memungkinkan.


Ya, Xu Zhu kehilangan begitu banyak energi spirit di dalam tubuhnya. Saat bertarung melawan Iblis Besar, kekuatan inti jiwa Xu Zhu sempat tersegel. Hingga dia harus mengorbankan hawa murninya. Energi spirit atau hawa murni memiliki batas maksimal, jika terus dipaksakan akan sangat berbahaya bahkan menyebabkan kematian.


"Dia tahu bahwa kondisiku sangat lemah. Aku kehilangan banyak kekuatan setiap kali menghadapi trik sihir. Apakah kemampuanku akan lenyap dan harus mengulang dari awal?" Xu Zhu membatin.


"Bagaimana Nona mu dalam menghargai bantuan? Ah, baiklah. Singkatnya, apa kau makan untuk menambah energi?" tanya Xu Zhu pada Panca warna "jangan sungkan padaku. Aku adalah seorang Alkemis, menciptakan Alkimia merupakan keahlian ku."


"Woowww ... Tuan guru memang sangat hebat. Tidak heran, tidak heran. Aku begitu banyak mendengar tentangmu dari cerita Nona. Kau tahu, bagaimana Nona selalu memujimu setiap saat?" Pancawarna bersorak penuh semangat.


Xu Zhu menghela napas, dia melemparkan ampedu beruang emas sebagai hadiah untuk Pancawarna.


"Terima kasih, Tuan guru!" seru Pancawarna lalu kemudian mahluk roh berwujud seekor burung itu pun lenyap.


Meski sudah beberapa hari berlalu. Xu Zhu yakin jika murid-muridnya dalam keadaan selamat dan baik-baik saja berada di tempat berbahaya Tanah Terlarang ini. Sekalian melatih mental mereka, cara bertahan hidup di tempat yang begitu kejam.


Setelah Pancawarna pergi, Xu Zhu mengeluarkan Huo Jia dari dalam cincin halimun. Xu Zhu pun menemukan jika gadis itu mendengarkan perkataannya. Huo Jia berlatih dengan giat di dalam cincin halimun, memanfaatkan begitu banyak sumberdaya dan Alkimia yang Xu Zhu simpan di sana.


"Suasana hatimu sudah baik sekarang?" tanya Xu Zhu sebelum Huo Jia sempat memberi salam hormat.


"Aku, aku memang baik-baik saja," Huo Jia mengerutkan dahi.


"Jujur, aku paling tidak bisa berbasa-basi. Terlebih lagi menyusun kalimat terbaik untuk memohon maaf. Tapi yang jelas, aku minta kau maafkan aku karena telah memanfaatkan dirimu."


"Aku tahu, harusnya lebih dulu aku bicarakan strategi itu padamu. Hanya saja, tidak cukup waktu untuk bisa menghindar dan mengelabui Iblis Besar dan antek-anteknya. Yang ada rencana ku yang gagal total, strategi apa namanya jika diumbar di muka lawan," sambung Xu Zhu.


"Kakak guru sudah aku maafkan bahkan sebelum kau meminta maaf. Hanya saja, aku mohon untuk tidak mengungkitnya lagi."


"Bagaimana dengan kisah civman pertamamu? Kau menyesal?!" Xu Zhu mengangkat sebelah alisnya.


Glek!


Huo Jia menelan ludah. Apa yang harus dia katakan? Pertanyaan Xu Zhu terlalu sulit untuk bisa dijawab dengan jujur.


"Aku meminta kompensasi!" ucap Huo Jia tiba-tiba.


Terlanjur basah ya sudah mandi sekalian. Huo Jia tidak hirau meskipun dikatakan sebagai wanita murahan yang tidak punya harga diri, tidak peduli.


"Kau sedang coba untuk berbisnis dengan ku? Jangan katakan bahwa kau berniat menindas ku," jawab Xu Zhu santai.


"Apakah kompensasi yang aku minta akan sebanding dengan energi kehidupan Iblis Besar? Atau semuanya lebih berharga dari nama baikmu? Bagaimana jika aku bicara jujur di luar sana, tentang apa yang kau lakukan padaku?"


"Aku ingin tahu, siapa orang pertama yang akan percaya pada ceritamu? Zhang Lian, Lin Fei, atau Gao Yin? Bukankah sedikitnya sekarang kau tahu apa itu trik ilusi?"


"Iblis Besar itu benar. Kau tidak pernah peduli pada perasaan orang lain. Tidakkah kau bisa sedikit saja hargai perasaanku?"


"Kau sudah mulai memahami sifatku. Akan tetapi perihal kompensasi yang kau minta, katakan saja apa itu. Jika bisa aku akan memenuhinya," tegas Xu Zhu.


"Aku harap, di masa depan kau tidak akan mengambil bibir seorang gadis tanpa perasaan. Setidaknya, kau perlu izin terlebih dahulu. Aku tidak menyesal civman pertamaku diambil olehmu. Hanya saja, aku merasa kau tidak menghargainya sama sekali."


"Aku tidak paham maksud ucapanmu."


Huo Jia mendengkus. Pikirannya yang semakin buntu membuat dia jadi gelap mata. Akan sulit untuk didapat kesempatan kedua, itulah yang tertanam di dalam benak Huo Jia.


"Kakak guru, mengapa ... mengapa wajahmu begitu pucat? Kau terluka parah dalam pertarungan itu?"


Xu Zhu meraba pipinya. Benarkah sekelas Huo Jia saja bisa melihat penurunan energi spirit di dalam dirinya? Gawat.


Huo Jia datang, mendekat dengan ekspresi wajah yang tidak tertebak oleh Xu Zhu. Siapa yang menduga jika gadis yang terlihat lugu itu mendadak jadi agresif. Huo Jia meraih pipi Xu Zhu, lalu dengan nekat dia mencivm Xu Zhu tanpa ampun.


Mata Xu Zhu terbelalak lebar. Mau tidak percaya tapi semua benar terjadi. Apa yang Huo Jia lakukan sama persis seperti yang pernah terjadi sepuluh ribu tahun yang lalu. Mengapa tindakan Huo Jia sama persis seperti yang dilakukan Hua Xiang?!


Huo Jia menjadi semakin brutal mendapati Xu Zhu hanya diam. Dia memaksa untuk menerobos rongga mulut Xu Zhu guna menautkan lidah mereka. Entah apa alasannya, yang jelas air liur Xu Zhu membuatnya kecanduan.

__ADS_1


Kesadaran Huo Jia yang berangsur pulih, membuatnya kembali menggunakan akal sehat. Saat itu mental Huo Jia hancur sehancur - hancurnya. Tubuhnya sampai gemetar takut akan kutukan yang terjadi.


"Sudah lunas?" tanya Xu Zhu.


"Sudah. Sekarang kita seri. Anggap semuanya tidak pernah terjadi!" Huo Jia berlari menjauh. Entah perasaan apa yang dia rasakan.


Sementara itu, Xu Zhu malah menganggap jika yang terjadi pada Huo Jia ada kaitannya dengan kedatangan Hua Xiang. Semangat Hua Xiang yang telah ditemukan membuat Xu Zhu jadi linglung.


°°°


Sementara itu, Pancawarna telah berhasil menemukan Gao Yin yang sedang mengemas buruannya. Wanita seksi itu nampak lebih kuat dalam beberapa hari terakhir.


Gao Yin menerima pesan yang disampaikan oleh Panca warna. Dia bergegas membantu Panca warna untuk menemukan murid Sekte Jinlong yang lain.


Zhang Lian dan Qin Tuo sedang berada di tempat yang sama. Ah, tidak. Sebenarnya Lin Fei juga ada di sana. Justru Zhang Lian dan Qin Tuo sedang bahu membahu membantu Lin Fei untuk lepas dari cengkraman kekuatan siluman roh.


"Aaa! Jangan, jangan! Senior, apa yang kau lakukan? Kau ingin mencelakai aku?" Lin Fei berteriak histeris kala Zhang Lian hendak melemparkan bahan peledak ke dalam formasi yang mengurungnya.


"Mulutnya melebihi mulut seorang perempuan. Apakah ada jiwa kalian yang tertukar?" Qin Tuo mendengkus kesal. Suara teriakan Lin Fei benar-benar mengganggu konsentrasi.


"Dasar siluman sialan! Keluar dan perlihatkan wajahmu, biar aku tunjukkan cara seorang ksatria bertarung!" teriak Lin Fei.


BAMM! BAAMM!


Pukulan demi pukulan yang Zhang Lian lepaskan tak kunjung membuahkan hasil. Dinding formasi yang mengurung Lin Fei tidak terpengaruh.


"Asshh! Sshhh!" Lin Fei mendesis seperti ular cobra. Dinginnya salju yang membungkus tubuhnya sampai membuat jemarinya membeku.


Panas yang begitu menyengat, kemudian tidak lama berubah menjadi dingin membeku. Cuaca yang terus berubah-ubah begitu menyiksa Lin Fei. Formasi sialan itu benar-benar membuat Lin Fei menderita.


"Ah, itu mereka!" Gao Yin mengenali getar energi dari kekuatan yang Zhang Lian lepaskan.


Dengan cepat, Gao Yin dan Panca warna pun tiba di lokasi Lin Fei terkurung.


"Hmmm, formasi yang rumit. Kalian tidak bisa menghancurkan formasi ini. Semakin coba dihancurkan maka akan semakin kuat dinding pelindungnya. Biar ku coba memeriksa," ucap Pancawarna.


"APA ???" Lin Fei sampai berteriak histeris.


"Hmmm, butuh puluhan tahun untuk menyusun sumberdaya langka hingga membentuk formasi rumit. Kau cukup tekan kuncinya, maka formasi ciptaan ini akan terbuka," komentar Pancawarna.


"Tekan?! Apanya yang harus ditekan? Aku sudah seharian terkurung di sini, segala cara telah aku coba tapi hasilnya nihil!"


"Lain kali kau harus sertakan otakmu sebelum menggunakan tenaga. Sekarang ayo ikuti aku!"


Pancawarna melakukan gerakan ringan, yang kemudian ditiru oleh Lin Fei. Gerakan-gerakan sederhana itu menyentuh dinding formasi yang kemudian membentuk sebuah pola, semakin cepat dilakukan maka bentuk pola pun semakin nyata. Hingga putaran pola tersebut membuka kunci formasi yang terletak pada titik atas perangkap.


"Hancurkan atapnya!" teriak Pancawarna.


Lin Fei melompat dan menggunakan tombak pusakanya untuk merusak formasi sihir tersebut.


Gedebuuk!


Tubuh Lin Fei terjatuh dengan keras. Napasnya ngos-ngosan setelah menjalani siksaan selama sehari penuh.


Plukk!


Material formasi jatuh ke atas tanah, tepat di hadapan wajah Lin Fei.


"Ternyata ini wujudmu! Kurang ajar!"


"Heii, manusia berotak kosong! Apa yang akan kau lakukan, menghancurkannya?!" Pancawarna berteriak menghentikan.


Lin Fei tertegun. Karena benda ini tubuhnya kepanasan seperti dipanggang, kedinginan seperti di salju. Menghancurkan bukankah suatu bentuk balas dendam?


"Aduuhhh! Aku melihat ukuran kepalamu normal, lantas mengapa otakmu kecil? Material berharga ini, apakah kau tidak berniat memilikinya? Jika tidak, biarkan aku berbisnis!" Pancawarna merebut material formasi dari tangan Lin Fei.


Gao Yin, Zhang Lian, dan Qin Tuo saling bertukar pandang. Mahluk roh itu benar, bukankah tujuan mereka datang untuk berburu? Jelas formasi itu adalah formasi langka yang diburu dunia persilatan. Mengapa menyia-nyiakannya?!


"Aah burung cantik ... siapa bilang aku hendak menghancurkannya. Dia tidak mencelakai aku, artinya dia berjodoh denganku. Dari itu aku mohon kerendahan hatimu," ucap Lin Fei menghiba.

__ADS_1


"Huuhh! Di muka bumi ini, mana ada yang gratis anak muda! Sudah aku katakan aku akan berbisnis dengan ini."


"APA ???" Lin Fei menelan ludah. Penampilannya yang kusut semakin amburadul dibuatnya.


"Gao Yin, teman barumu ini ... apa yang sedang dia lakukan?" Lin Fei meminta bantuan pada Gao Yin.


"Pancawarna diutus Tuan Xu untuk menjemput kita. Baiknya kita bergegas," ucap Gao Yin.


"HAH?! Utusan Patriark?! Lantas bagaimana denganku?" Lin Fei makin kelimpungan.


"Kau tidak coba untuk berbisnis?" bisik Gao Yin pelan di telinga Lin Fei.


Nampaknya tidak ada pilihan lain. Lin Fei setuju untuk berbisnis. Apa yang diinginkan mahluk roh Panca warna?


"Meskipun aku mahluk roh langit yang istimewa, tetap saja aku seekor burung. Aku harus memiliki kandang yang layak, diberi makan, dimandikan dan diurus. Jika kau sepakat, maka bisa ambil formasi ini."


"Begitu mudah? Mengapa tidak kau katakan sejak tadi. Kau membuat jantungku hampir copot. Baiklah, aku setuju. Itu hal mudah!" jawab Lin Fei menerima kesepakatan.


"Ada satu lagi. Sayapku mudah lelah, jadi aku butuh pundak mu untuk bertengger jika menempuh perjalanan jauh!" Panca warna menambah kesepakatan.


"Banyak bicara! Ayo naik, bawa kami menemui Patriark sekarang juga!" Lin Fei memberikan pundaknya.


"Sepakat!" Pancawarna naik ke pundak Lin Fei setelah memberikan Formasi kurung. Mereka pun bergegas menuju tempat Xu Zhu menunggu.


Hari mulai gelap ketika mereka tiba. Terlihat Huo Jia yang sedang memasak air dan menyiapkan tempat istirahat. Sementara itu, mereka tidak melihat Patriark mereka di sana.


"Haahhh? Nona ... benarkah itu dirimu? Kau sudah kembali??" Pancawarna berteriak histeris.


Dengan kegembiraan tak terbendung, Pancawarna melompat dari pundak Lin Fei. Dia menjejak dengan penuh kekuatan sampai-sampai tubuh Lin Fei limbung dan terdorong ke belakang.


"Burung roh sialan!" umpat Lin Fei pelan.


"Nonaa! Nonaaa !!!" Pancawarna berteriak menghampiri Huo Jia.


Namun kemunculan seekor burung secara tiba-tiba membuat Huo Jia kaget sampai berteriak histeris. Napasnya naik turun akibat energi yang terpancar dari Pancawarna yang merupakan mahluk roh tingkat istimewa.


"Adik Huo, kau tidak apa-apa?" Zhang Lian melompat dan menangkap pundak Huo Jia dengan sigap.


"Senior ... aku, aku baik-baik saja. Burung itu muncul dan mengagetkan aku," Huo Jia coba mengatur napasnya yang tersengal.


Pancawarna terdiam, bisu membeku. Bahkan gadis itu tidak bisa mendengar suaranya, apalagi mengenali dirinya. Sedih dalam hati Pancawarna, ketika dia menyadari bahwa gadis itu bukanlah pemilik lamanya, Hua Xiang yang dia panggil Nona.


"Kalian sudah datang. Mengapa mengejutkan?" suara Xu Zhu mengalihkan perhatian semuanya.


"Hormat kami, Patriark ..." serentak mereka memberi salam.


Xu Zhu mengangguk, matanya menatap pada Huo Jia.


"Salah kami yang terlalu bersemangat untuk segera tiba, hingga membuat Adik Huo terkejut. Kami pantas menerima hukuman karena telah mengganggu istirahat Patriark," Gao Yin segera angkat bicara.


Ketiga murid yang lain pun menyuarakan hal senada. Hingga membuat Pancawarna merasa tidak enak. Mahluk roh yang baru bergabung dalam rombongan merasakan solidaritas yang begitu tinggi antar para murid.


Xu Zhu menatap ke arah Pancawarna. Meskipun curiga, tapi Xu Zhu tidak membahas apapun.


°°°


Kembali dari Tanah Terlarang, Sekte Jinlong menambah kekuatan inti mereka. Ada Qin Tuo si gadis racun dan Panca warna si mahluk roh yang akan menjadi pondasi dan tiang kuat panji-panji Sekte Jinlong.


"Kalian kembali terlebih dahulu. Aku masih ada kepentingan pribadi. Pastikan semuanya baik-baik saja saat aku kembali."


Xu Zhu memutuskan untuk memisahkan diri saat dalam perjalanan. Jelas keputusan yang Xu Zhu ambil berkaitan dengan Semangat Hua Xiang yang telah berhasil ditemukan.


"Tapi, kondisi Tuanku saat ini ..."


"Aku baik-baik saja!" Xu Zhu memotong perkataan Gao Yin.


Pancawarna melompat dari pundak Lin Fei. Hanya dia yang diizinkan untuk menyertai Xu Zhu.


Zhang Lian, Gao Yin, Lin Fei dan Qin Tuo pulang dengan menaiki perahu terbang milik Qin Tuo menuju Sekte Jinlong. Sementara Xu Zhu dan Pancawarna mengambil arah berbeda, dengan tujuan lain.

__ADS_1


"Hahaha! Inilah saatnya!" beberapa sosok pendekar dengan seragam yang sama tertawa. Mereka pun bersiap dengan rencana mereka.


__ADS_2