
Yaatt! Yaatt!
Ting! Tiing!
Suara dentingan pusaka yang beradu, sesekali diiringi hentakan tenaga dalam yang menggetarkan tanah.
Zhang Lian yang telah berhasil menembus Level Golden Core tingkat Calestial Immortal atau Tingkat Surga. Dia memamerkan kemampuan pedang yang tentu meningkat begitu pesat.
Sebagai lawan tanding, Lin Fei dibuat kerepotan kali ini. Dia sampai jatuh bangun dibuatnya. Bukan karena kemampuan Lin Fei tidak meningkat, akan tetapi bakat istimewa yang Zhang Lian miliki membuat jurang pembeda yang menganga.
"Pedang Suci Membelah Awan" Zhang Lian berseru lantang seraya melayang di udara, dia memberi kejutan baru yang membuat Lin Fei semakin kerepotan.
"Sial! Senior benar-benar ingin mengambil nyawaku!" Lin Fei mengangkat tombaknya, memblokade pedang Zhang Lian yang mengarak ke arah leher.
TRAANGG !!! Benturan keras terjadi.
Bruuukkk! Tubuh Lin Fei pun terhempas keras ke atas lantai.
"Argh! Punggungku ..." Lin Fei segera bangkit seraya mengurut punggungnya yang terasa remuk.
"Haahh ???" sakit di punggung Lin Fei tidak seberapa, dibandingkan dengan apa yang baru dia sadari.
Tombak pusaka kebanggaan Lin Fei patah menjadi dua bagian. Tombak yang baru saja dia beli seharga jutaan tael emas. Belum juga genap satu purnama tombak itu dia pakai, sekarang telah menjadi barang rongsokan.
"Akkhh! Aku hanya kalah senjata, jika saja aku punya yang lebih baik, maka aku tidak akan kalah darimu!" tidak ingin kalah pamor, Lin Fei masih bisa sesumbar di hadapan Zhang Lian.
Zhang Lian hanya tersenyum tipis. Dia sudah tahu siapa Lin Fei. Pria yang gemar nyerocos, pecicilan dan terkadang membuat malu di muka umum. Meskipun bicaranya ceplas-ceplos begitu, tapi Lin Fei adalah seorang yang baik.
Oh ya, Lin Fei merupakan murid yang memiliki latar belakang berbeda dari kebanyakan murid yang ada. Dia orang yang paling beruntung dibanding dengan yang lain. Lin Fei terlahir dari pasangan bangsawan kaya raya, baru brojol sudah kaya. Jadi wajar jika dia punya begitu banyak harta yang bisa dihambur-hamburkan dengan sesuka hati. Contohnya dengan membeli benda pusaka seharga jutaan tael dan segala hal yang dia suka. Bebas.
Jikalau ada Alkimia, obat-obatan dewa ataupun sumberdaya berharga yang menurutnya berguna tentu Lin Fei akan langsung untuk membelinya karena dia mampu. Hal itulah yang membantu Lin Fei meningkatkan kemampuan sebelum dia menjadi murid di Sekte Jinlong.
Kembali ke arena latihan di ruang rahasia Sekte Jinlong.
Lin Fei mencampakkan tombaknya yang tidak lagi berharga. Dia menunjuk dan memperingatkan Zhang Lian untuk jangan dulu merasa bangga, "bukan semata karena kemampuan yang meningkat. Pedang yang Patriark berikan padamu, itulah yang membuatmu unggul dariku."
"Diihh! Dasar muka tembok. Sudah jelas-jelas kau kalah, masih saja cari-cari alasan!" Gao Yin datang membela Zhang Lian.
__ADS_1
"Jika aku punya pusaka yang sepadan, pasti aku yang menang!" Lin Fei tidak mengakui kekalahannya.
Bukannya sok jago, dia juga tahu kalau dia tidak miliki bakat yang menonjol. Hanya mengandalkan sumberdaya dan bantuan senjata pusaka saja. Tapi dasar pembawaan Lin Fei yang hobi nyerocos, makanya dia berlagak sok keren.
Wus! Wus! Sebilah benda meluncur deras mengarah pada Lin Fei.
Tep! Lin Fei berhasil menangkap benda tersebut yang ternyata merupakan sebilah tombak pusaka bumi.
"Kepandaianmu menghancurkan barang berharga meningkat pesat. Meski kuno, teknik pertahanan yang kau tunjukkan nyatanya telah mampu selamatkan banyak tokoh dunia persilatan."
"Waaahhh Patriark ... tombak ini terlalu kereeennn !!!" Lin Fei melompat girang. Tombak pemberian Xu zhu itu diangkatnya tinggi-tinggi, seolah menjunjung hadiah spesial yang baru didapat.
"Selamat, kau punya andalan sekarang. Dengan bantuan kemampuan tombak pusaka pemberian Leluhur, harusnya kemampuan bertarungmu jauh meningkat. Sungguh, aku begitu penasaran!" tantang Zhang Lian. Dia ingin melanjutkan latihannya yang tertunda.
Plok! Plok! Plok!
"Yeee, Senior Zhang semangat!" Gao Yin yang menjadi penonton bertepuk tangan, mengadu domba mereka berdua. Tentu hal itu membuat Lin Fei semakin tertantang.
"Hah! Itu hal mudah. Sekarang kau begitu kecil di mataku!" jawab Lin Fei sombong.
"Kalian semua! Benahi penampilan kalian dengan cepat. Semuanya ikut aku pergi ke Tanah Terlarang, sekarang!" suara Xu Zhu berbicara yang kemudian menghentikan ocehan para muridnya.
Xu Zhu telah lebih dulu berjalan meninggalkan tempat latihan. Dia terlihat melemparkan sesuatu, beberapa butir pil ekstasi ke arah pohon di mana Naga Dewa berada.
Selama Xu Zhu dan murid utama sekte pergi, maka Naga Dewa lah yang bertanggung jawab penuh atas keamanan sekte. Dari itu Xu Zhu memberinya bekal.
Karena Xu Zhu tidak bisa terbang, maka dia membawa para muridnya pergi dengan menaiki 'perahu terbang'. Dengan demikian energi mereka tidak terkuras dalam melakukan perjalanan jauh.
"Patriark ... apakah Tanah Terlarang itu benar ada?" tanya Lin Fei yang tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.
"Apa yang kau tahu tentang Tanah Terlarang?" Xu Zhu balik bertanya.
"Belum pernah aku bertemu secara langsung dengan orang yang kembali dari Tanah Terlarang. Aku tidak yakin, tapi katanya ada begitu banyak pintu di Tanah Larangan. Yang mana, masing-masing pintu punya beberapa kombinasi kunci."
"Hmm, kunci ya? Itu berlaku bagi mereka yang tidak diakui, orang yang datang menyusup untuk masuk ke Tanah Terlarang."
"Rumah Lelang Lincun pernah melelang potongan kunci untuk membuka pintu pertama Tanah Terlarang. Patriark ... apakah kunci ini asli?" ujar Lin Fei seraya menyerahkan potongan kunci yang ia maksud.
__ADS_1
Xu Zhu mengerutkan dahi, menatap potongan kunci yang ada di tangan Lin Fei, lalu Xu Zhu menatap Lin Fei seraya menghela napas panjang.
"Patriark, jika kunci ini bisa digunakan maka aku merelakannya untuk Anda. Aku sangat senang bisa melayanimu." Lin Fei menambahkan jika di dalam lelang tersebut, mereka menyebut jika kunci terbagi menjadi empat bagian. Sayangnya bagian yang lain entah di mana keberadaannya.
"Dan kau terlalu pintar hingga membeli potongan besi tidak berguna itu. Apa yang bisa kau lakukan dengan seperempat bagian itu?"
"Xixixi!" Gao Yin menutup mulutnya, coba menahan tawa. Bukan apa, itu karena Gao Yin punya teman. Orang-orang bodoh yang berkumpul di belakang punggung Xu Zhu.
Lin Fei hanya bisa tertunduk. Alasannya menyimpan potongan kunci tentu untuk bisa dapatkan potongan lainnya suatu waktu nanti.
Perahu terbang yang mereka tumpangi terus bergerak, menyibak awan dan mega. Betapa indahnya pemandangan yang terlihat dari ketinggian.
Hari telah gelap ketika mereka tiba di tempat yang dituju. Sebuah kota kecil di pesisir pantai. Harus diakui, jika kecepatan perahu terbang yang Xu Zhu miliki sangatlah payah.
"Gao Yin, pergi untuk amati kota ini. Lihat saja dan jangan ambil tindakan!"
"Siap! Mematuhi perintah!" Gao Yin membungkuk hormat, lalu memisahkan diri.
"Sebagai seorang bangsawan, pastinya kau paling paham mengenai tempat istirahat dan juga restoran terbaik. Siapkan semuanya," Xu Zhu menepuk pundak Lin Fei.
"Pilihan yang tepat, Patriark paling bisa menilai seseorang. Serahkan padaku, seleraku paling bagus di sini. Tidak akan mengecewakan Patriark," Lin Fei pun memisahkan diri.
"Kadang-kadang si bodoh itu sangat menyebalkan!" gerutu Zhang Lian pelan.
Bukan tanpa sebab, Lin Fei selalu saja mengungkit kesalahan Zhang Lian yang pernah merekomendasikan tempat tidak layak dan makanan yang kurang enak.
"Leluhur, di tempat ini merupakan pintu untuk bisa masuk ke Tanah Terlarang?" tanya Zhang Lian.
"Tidak meyakinkan bukan berarti tidak mungkin, air yang tenang bisa menghanyutkan. Sebenarnya ada sembilan gerbang yang bisa dilewati untuk kita sampai ke Tanah Terlarang. Jika ada jalur khusus, mengapa harus berjibaku dengan banyak orang."
Zhang Lian baru tahu satu rahasia mengapa seorang dengan kemampuan tinggi bisa dengan mudah untuk memperoleh sumberdaya terbaik. Karena mereka lebih tepat dalam mengambil langkah hingga mendahului mereka yang bahkan tengah bertarung untuk sekadar bisa datang.
Menikmati pemandangan senja nan indah di tepi pantai, merupakan tujuan banyak orang yang berkunjung ke pantai Baisha di kota Shanhu Jian. Hembusan angin yang lembut membelai wajah dan rambut.
Konsentrasi Xu Zhu tiba-tiba buyar ketika tanpa sengaja perhatiannya tertuju pada sekelompok orang yang merupakan pengunjung pantai Baisha.
"Hua Xiang?!" Xu Zhu tersentak, darah dalam dadanya berdesir tidak karuan.
__ADS_1
Meskipun sudah berpisah selama sepuluh ribu tahun, tapi Xu Zhu yakin jika dia masih bisa mengenali Hua Xiang dengan baik.