Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Penghuni Baru


__ADS_3

Yu Yan dan Yu King duduk dengan gelisah. Matahari sudah sepenggalah tingginya, tapi Mahaguru mereka belum juga terlihat wajahnya.


"Kakak, Mahaguru Xu jelas seorang peri. Mana mungkin dia muncul di siang hari. Mengenai Sekte Jinlong, apa tidak sebaiknya kita berangkat ke Desa Long Haizi?" ucap Yu King mengejutkan.


Yu Yan memicingkan matanya, dia bahkan tidak terpikirkan sejauh itu. Untuk datang ke desa Long Haizi, menganggap jika pertemuan dengan Mahaguru Xu Zhu sebagai petunjuk untuk hidup mereka di masa depan, menuntut ilmu di Sekte Jinlong.


"Bagaimana caranya kita bisa masuk Sekte Jinlong? Siapa yang akan percaya pada cerita yang kita sampaikan?!"


Baik Yu Yan dan juga Yu King, mereka merasakan dilema yang besar. Sebelum kemudian Ibu Yu datang, menenangkan kedua anaknya.


"Mengapa kalian meragukan ucapan Mahaguru kalian? Jika dia berkata akan datang, maka dia pasti datang. Bagaimana kalian meremehkan janjinya?"


"Maafkan kami, Ibu ..." Yu Yan dan Yu King menundukkan wajah dalam.


Perkataan Ibu Yu sangat benar. Sedikit pun tidak dibenarkan untuk mereka menyepelekan ucapan Mahaguru.


"Apakah dosa kami terampuni? Tidak berani menentang menentang Mahaguru," desis Yu Yan penuh sesal.


Beberapa saat lamanya yang terdengar hanyalah suara deru napas. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, sampai kemudian terdengar suara langkah kaki menuju pondok.


Dengan segera Yu Yan berdiri. Seketika ekspresi wajah Yu Yan berubah kala yang dia lihat bukanlah orang yang dinanti.


"Hehehe, apa kabar kalian?" seorang kakek paruh baya tersenyum lembut menyapa mereka.


Dia adalah Xi Nan, kakek yang pernah Yu Yan ceritakan. Tabib yang mengajari mereka dasar-dasar ilmu pengobatan, orang yang memberitahu Yu Yan nama-nama dan juga khasiat tanaman obat.


"Kakek ... silakan datang ke pondok," sambut Yu Yan dengan ramah.


"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Tabib Xi Nan.


"Ibu ..." belum sempat Yu Yan melanjutkan kalimat, Tabib Xi Nan langsung memotong pembicaraan. Dia menyampaikan maksudnya datang ialah untuk mengangkat Yu Yan dan juga Yu King menjadi muridnya.


"Aku melihat bakat luar biasa yang kalian miliki. Jika diasah maka pastilah kalian akan jadi penyembuh hebat. Dengan begitu kalian bisa mengobati penyakit aneh ibu kalian. Percayalah padaku."


"Tidak bisa, Kek. Bagaimana mungkin aku jadi muridmu, hidupku sudah ku persembahkan pada Mahaguru Xu Zhu," jawab Yu King tegas.


"Benar, Kek. Aku dan Yu King telah menjadi murid orang lain. Terima kasih atas niat baik kakek," imbuh Yu Yan.


"Dengar dulu. Jika kalian menjadi muridku maka aku akan berusaha untuk mengobati ibu kalian. Aku janji!" Tabib Xi Nan terus berusaha meyakinkan kedua bocah di hadapannya.


Tidak perlu Yu Yan menjawab dan menjelaskan, karena saat itu Ibu Yu datang sendiri menghampiri Tabib Xi. Jelas terlihat jika kondisi Ibu Yu sehat wal afiat tak kurang suatu apa.


"Ah, bagaimana mungkin?" Tabib Xi Nan tercengang.


"Kemarin malam, muncul seorang peri yang datang mengobati ibu. Dengan sebutir pil, ibu langsung sehat dan bugar. Seperti yang kakek lihat!" jelas Yu King dengan penuh semangat.


"Peri? Ah, tidak mungkin. Ibu kalian terkena jenis racun yang menyerang jeroan. Bisa sembuh dengan sangat cepat, itu tidak masuk akal!"

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu jika ibu Yu terkena racun jeroan? Atau ... kau yang telah meracuninya?" terdengar suara Xu Zhu yang telah berada di dekat mereka.


"Mahaguru ... murid memberi hormat." Serentak Yu Yan dan Yu King menghaturkan hormat.


Xu Zhu mengangguk lemah, lalu melambaikan tangannya memerintahkan Yu Yan agar menjauh.


Tabib Xi Nan berbalik dan menatap Xu Zhu dengan dalam. Pemurni energi ini, yang mengobati Ibu Yu? Tidak masuk akal. Pandainya ia membual hingga minta dipanggil peri.


"Kau begitu paham mengenai sakit yang diderita ibu Yu, kau melakukan eksperimen tentang racun Anggur Ungu?" tanya Xu Zhu.


"Kau juga bukan seorang tabib. Melainkan praktisi ilegal yang memanfaatkan kemampuan dua bocah lugu untuk menemukan tanaman obat di hutan. Sekarang, mengapa kau tidak panggil teman-temanmu untuk datang?" sambung Xu Zhu.


Nampaknya tidak ada yang bisa disembunyikan lagi. Xi Nan hanya mendengkus penuh kebencian. Menepuk tangan tiga kali, memanggil dua orang temannya yang kesemuanya berada pada level kultivasi Pemurnian energi tingkat Jiwa Baru. Hanya kroco-kroco kecil.


"Tidak ada yang bisa menindas murid-murid ku. Dan kalian, sudah saatnya membayar jasa atas tenaga dua muridku selama ini melayani kalian."


Tidak menunggu reaksi Xi Nan dan yang lain, Xu Zhu menjentikkan satu jarinya. Dan seperti magnet besar, telapak tangan Xu Zhu menarik seluruh isi saku Xi Nan dan teman-temannya.


Beberapa tael emas dan perak, perbekalan, obat-obatan dan juga tanaman berkhasiat obat lainnya. Singkat kata, mereka telah dirampok.


"Kurang ajar!" dua orang rekan Xi Nan meradang, serentak mereka melompat dan melayangkan serangan ke arah Xu Zhu.


Plak! Plak!


Masing-masing mendapatkan hadiah satu tamparan di pipi. Tidak terlalu keras, akan tetapi lebih dari cukup untuk membuat gigi mereka terlepas meninggalkan mulut. Tidak sekadar itu, tamparan yang Xu Zhu lakukan pun menghapus seluruh kemampuan kultivasi yang telah mereka latih.


"Uhuukk ... uhuukk ... aakhhh! Apa yang berikan padaku?" Xi Nan menjerit kesakitan seraya memegangi dadanya.


"Tidak hafal pada kemampuan racun yang kau ciptakan? Tentunya dengan potensi yang telah aku tingkatkan!"


"Aaa ... aaa !!!" Xi Nan menjerit ketakutan.


Sementara seorang teman Xi Nan yang tersisa justru berniat untuk melarikan diri. Dia melompat dan meninggalkan temannya yang berjuang dalam maut.


"Ah? Mengapa aku tidak bisa bergerak?" Alih-alih lari menjauh justru tubuhnya tersedot mundur ke belakang.


"Bawa teman-temanmu! Dan ingat, jangan sesekali untuk mengusik keluarga dari murid-murid ku!" ancam Xu Zhu.


Dengan gemetaran saking takut, orang itu hanya bisa mengangguk dalam ancaman. Dia memapah Xi Nan untuk pergi dari sana.


"Murid-murid, kita berangkat sekarang!"


"Siap, Mahaguru!" Yu Yan dan Yu King menjawab dengan penuh semangat.


Xu Zhu menyerahkan seluruh uang hasil rampasan pada Ibu Yu. Untuk modal membeli lahan di desa dan hidup bersama masyarakat lain, sementara menunggu kedua anaknya menjadi orang sukses sebagai ahli obat ternama di Sekte Jinlong.


°°°

__ADS_1


"Gemoy sekali ... srruupp!" Lin Fei hanya bisa menelan ludah setiap kali melihat Gao Yin melakukan gerakan dalam latihan. Bukan karena jurus yang diperagakan Gao Yin adalah teknik terbaik yang membuat orang-orang terpana, melainkan pemandangan indah yang Gao Yin bawa.


Setiap kali Gao Yin melompat dan melakukan gerakan, maka goyangan di dadanya yang membawa aset besar akan membuat penonton menelan ludah. Terutama kaum pria.


Gao Yin terlalu seksi. Bagian atas tubuhnya yang berpakaian lebih terbuka dari gadis lain, menampilkan keindahan yang menggoda mata dan selera. Sukar diungkapkan tapi itulah kenyataannya.


"Patriark telah kembali! Senior, Patriark telah kembali!" seorang murid tergopoh-gopoh membawa kabar pada Zhang Lian.


Seketika, Zhang Lian, Lin Fei dan juga Gao Yin menghentikan latihan mereka. Sesegera mungkin mereka pergi untuk menyambut kepulangan sang patriark.


"Murid memberi hormat!" seluruh murid menjatuhkan lutut, menghaturkan sembah hormat pada Xu Zhu.


Xu Zhu melihat jika seorang wanita dengan penampilan menohok, yang jelas bukan murid sekte. Namun demikian Xu Zhu hanya bersikap acuh.


"Bangkitlah! Sekalian aku perkenalkan saudara kalian yang baru," ucap Xu Zhu seraya meminta Yu Yan dan Yu King memberi salam pada para senior yang ada.


"Zhang Lian, tempatkan mereka di pusat pengobatan dan medis. Mulai sekarang mereka akan membantu Yin Wei dalam hal obat-obatan."


"Baik, Leluhur." Zhang Lian menghaturkan hormat.


"Patriark ... aku punya seorang teman, datang dari jauh untuk mengikuti Anda," Lin Fei angkat bicara setelah Xu Zhu begitu acuh akan kehadiran wanita cantik di sana.


"Semuanya kembali pada aktivitas masing-masing. Lin Fei, lanjutkan latihanmu!"


"Menerima perintah!" seluruh murid menghaturkan hormat. Sebelum kemudian bergerak sesuai perintah.


Lin Fei kebingungan, tapi dia tidak berani banyak bertanya. Membiarkan Xu Zhu melewati mereka dan masuk ke dalam bangunan sekte.


"Gao Yin. Kau jangan khawatir, guru hanya lelah. Akan ku pastikan kau diterima di sini!" Lin Fei menenangkan Gao Yin.


"Aku berharap kau menepati ucapanmu!" jawab Gao Yin dengan mengulum senyuman manis.


Sementara dalam hati Gao Yin memuji betapa kepribadian Xu Zhu yang begitu menarik. Dia terpesona sejak pertama kali menatap Xu Zhu. Seperti ada suatu hal istimewa yang menjadi tantangan untuk Gao Yin bisa menundukkan pria spesial layaknya Patriark Sekte Jinlong ini.


Gao Yin sangat yakin jika dia akan berhasil. Mengandalkan kemolekan tubuhnya tidak mempan, masih begitu banyak cara yang bisa Gao Yin tempuh dalam urusan mengatasi laki-laki. Bukan sekadar bualan, Gao Yin bicara bukti. Keberhasilan yang terjadi setiap kali dia menjalankan misi.


"Jangan coba memaksa seorang ahli. Kau pasti akan menyesal. Jangan panggil aku Gao Yin jika tidak bisa membuat lelaki bertekuk lutut di kaki ku!"


°°°


"Leluhur ... apakah itu?" Zhang Lian sangat terkejut ketika Xu Zhu mengeluarkan sesuatu dari alam penyimpanannya. Aura yang terpencar membuatnya sesak napas dalam beberapa saat.


Ketika Xu Zhu membuka tangannya, hampir saja Zhang Lian pingsan saking kagetnya. Kiranya itu adalah seekor ular naga. Naga yang hanya ada di dalam legenda.


Ukuran naga yang bisa berubah sesuai keinginan, besar dan kecil sesuai dengan kebutuhan. Naga Dewa, naga berwarna kuning emas yang menjadi penghuni baru di Sekte Jinlong. Naga penunggu yang akan melindungi sekte dari serangan lawan.


"Ba-bagaimana Leluhur mendapatkan naga dewa?" Zhang Lian masih terperangah takjub setengah tidak percaya.

__ADS_1


Xu Zhu tidak segera menjawab. Dia duduk dengan napas yang berat. Hal yang membuat Xu Zhu linglung ialah karena Naga ini ada kaitannya dengan masa lalunya, terutama dengan Hua Xiang.


__ADS_2