Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Pohon Misterius di Tengah Pasar


__ADS_3

"Tipu daya semacam apa yang dia pergunakan hingga bisa memanfaatkan Nascent Soul tingkat abadi? Aku tidak habis pikir ..."


"Justru aku berpikir, jika pemurnian energi itu menyembunyikan kemampuannya. Meskipun rasanya sedikit aneh."


"Fuiihh! Sudah jelas-jelas kalau dia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai pemikat. Ditambah dengan rayuan berbisa, dengan mudah menaklukkan hati wanita. Aku sangat yakin!"


Tiga orang terlihat sedang asik mengobrol. Tentu Xu Zhu yang mereka perbincangkan. Mengetahui kalau Gao Yin telah pergi, orang-orang itu kembali meremehkan Xu Zhu yang hanya seorang Pemurnian Energi.


Li Cou, Li Yun dan Li Ah. Mereka adalah Li Bersaudara yang merupakan pendekar kepercayaan keluarga saudagar Yan. Kedatangan mereka ke Pantai Baisha tentu atas perintah Tuan muda Yan Tsu, pewaris keluarga Yan.


Huo Jia merupakan alasan kuat mengapa Yan Tsu sampai mengirim ketiga pendekar andalan keluarga mereka. Ya, meskipun kemampuan Li Bersaudara hanya level Golden Core tahap menengah, tapi di tempat mereka tentunya adalah level tinggi yang sulit dicapai.


Harusnya Li Bersaudara muncul sebagai pahlawan dalam pertarungan yang baru saja terjadi. Semua adalah rencana mereka, untuk membuat Keluarga Huo merasa berhutang budi.


Kemunculan perampok Hei Wugong bukanlah tanpa sebab. Ada campur tangan orang ketiga, dalam hal ini adalah Li Bersaudara.


Li Bersaudara yang mengirim surat kaleng pada pimpinan rampok Hei Wugong, menginformasikan tentang Huo Jia yang juga menjadi incaran si bos rampok. Sudah mereka perhitungkan prakiraan kekuatan para perampok, pasukan keamanan, dan juga pengawal Keluarga Huo. Jelas akan sulit untuk bisa mengatasi brutalnya para perampok itu. Nah, saat itulah Li Bersaudara muncul mengatas namakan utusan Keluarga Yan.


Skenario yang dirancang sempurna, kiranya tidak berjalan sesuai rencana. Hanya satu orang Pemurnian Energi yang membuat semuanya hancur berantakan.


"Kita pancing pemurni energi itu supaya menjauh dari Keluarga Huo. Barulah kita habisi dia!" tukas Li Cou.


"Ini terlalu mudah. Takutnya dia tidak punya cukup nyali!" Li Yun menanggapi dengan sombong.


Seseorang akan menilai orang lain sebagai mana dirinya sendiri. Dari itu Li Bersaudara menyimpulkan bahwa skenario mereka telah diketahui oleh Xu Zhu, lalu mengambil keuntungan. Sehingga Xu Zhu yang muncul sebagai pahlawan di mata Keluarga Huo.


Benar saja, saat itu Xu Zhu telah menjadi tamu istimewa Keluarga Huo. Huo Nan mengucapkan banyak terima kasih, meski sempat heran kala mengetahui Huo Jia dan Xu Zhu sudah saling mengenal.


"Tuan Xu, kami sebagai orang yang bertanggung jawab atas keselamatan Tuan Huo dan keluarga juga berhutang pada Anda." Chi Lin, kepala pengawal membungkukkan badannya berucap terima kasih.


"Semua sudah terjadi dan sudah selesai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," jawab Xu Zhu.


"Kakak Xu, kau tahu bahwa pedang tadi terasa begitu dingin di leherku? Aku sangat ketakutan," Huo Jia pun menceritakan bagaimana perasaannya saat menjadi tawanan.


"Mengapa kau tidak coba belajar beladiri?"


"Aku akan belajar padamu. Kakak, aku ingin meminta kau ajari aku teknik pedang yang hebat tadi. Setidaknya biarkan aku melindungi leherku," pinta Huo Jia.


"Begitukah caranya memohon? Bagaimana kau diajari sopan santun!" potong Huo Nan.


"Tidak masalah. Aku punya banyak waktu untuk mengajarimu," Xu Zhu mengangguk. Yang tentunya disambut ekspresi sumringah di wajah Huo Jia.


Huo Jia baru teringat pada oleh-oleh yang Xu Zhu berikan tadi. Dia kemudian mohon diri untuk menghidangkan buah apel sebagai pelengkap jamuan malam.

__ADS_1


Tidak terbayangkan reaksi orang-orang yang ada. Huo Nan, Chi Lin, juga kultivator yang lain. Melihat Buah Apel Dewa disuguhkan layaknya makanan biasa.


Terutama Huo Nan. Dia tidak bisa membayangkan jika putrinya menyimpan sumberdaya berharga ini.


"Ada yang salah? Tadinya Kak Xu Zhu buru-buru, menitip buah tangan ini padaku." Huo Jia planga-plongo.


"Tuan Xu, emm boleh aku bertanya sesuatu?" Huo Nan menatap Xu Zhu dengan serius.


Xu Zhu mengangguk, mempersilahkan Huo Nan melanjutkan perkataannya.


"Kau tahu kalau putriku terlalu lugu. Mengapa kau berikan begitu banyak sumberdaya tak terhingga padanya? Apakah tidak berbahaya untuknya?"


Xu Zhu memandangi Huo Jia dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Adakah kau rasakan sesuatu setelah menghabiskan beberapa buah apel itu?"


Si bocah kosong merentangkan kedua tangannya, menggelengkan kepalanya berulang kali. Huo Jia sungguh tidak tahu apa-apa. Setelah itu kembali mempersilakan mereka untuk menikmati apel yang dia suguhkan.


Chi Lin lebih dulu mengambil satu potongan kecil apel dewa. Kemudian menikmati hidangan istimewa itu dengan penuh konsentrasi. Ya, dia harus memusatkan tenaga sekaligus pikirannya untuk bisa menyerap kekuatan besar yang terkandung dalam apel dewa.


Huo Nan juga seorang yang belajar kultivasi. Hanya saja, dia tidak memiliki bakat dan dipaksa menyerah oleh keadaan. Sampai kemudian dia berhasil sukses dalam usaha lalu mampu membeli sumberdaya untuk dikonsumsi.


"Ayah, bolehkah aku dan Kak Xu pergi ke wahana bermain malam ini?" tanya Huo Jia.


"Mengapa tanya Ayah, harusnya kau tanya apakah Tuan Xu bersedia atau tidak."


"Gratis apanya? Apa kau pemilik wahana bermain itu?" celetuk ibunya.


"Gratis bagi Kakak Xu. Aku yang akan bayar. Kak, ayo kita pergi!" tanpa sungkan lagi, bahkan di depan kedua orang tuanya Huo Jia begitu berani memegang tangan Xu Zhu. Menarik paksa untuk pergi.


"Anak kita sudah besar," komentar Nyonya Huo seraya menatap punggung anaknya yang kian menjauh.


"Ya, nampaknya dia mulai mengenal lawan jenis," jawab Huo Nan dengan harap-harap cemas.


Selalu ada resiko dalam setiap langkah kehidupan. Semua akan semakin rumit jika berkaitan dengan yang namanya cinta. Terlebih lagi, ada ramalan yang didengar bahwa Huo Jia tidak beruntung dalam kisah asmara. Sebagai orang tua, tentu Huo Nan begitu risau.


°°°


"Hahaha! Kita tidak perlu repot-repot untuk memancingnya. Bocah sialan itu dengan sendirinya menyerahkan kepala!" tawa Li Cou melihat Xu Zhu dan Huo Jia berjalan meninggalkan penginapan.


"Sudah. Kita sikat saja sekarang, Kakak."


"Huuss! Jangan terburu-buru. Kita lihat dulu, apa yang sedang dia rencanakan."


Meskipun berat hati, Li Yun dan Li Ah terpaksa mengikuti ucapan kakak tertua mereka. Siapa tahu mereka bisa meraih dua keuntungan sekaligus. Mencelakai Xu Zhu, sekaligus cari muka di depan Keluarga Huo jika menemukan tindak tidak senonoh yang Xu Zhu lakukan terhadap Huo Jia.

__ADS_1


Dari jarak yang aman, Li Bersaudara mengikuti langkah Xu Zhu dan Huo Jia.


"Ketika aku seusiamu, tidak tahu apa itu menyenangkan diri. Terlalu sibuk pada hal-hal yang tidak dilakukan oleh banyak orang."


"Wajar karena Kakak Xu adalah seorang praktisi beladiri. Berbeda denganku yang hanya pengangguran. Kak, Kakak harus coba ini. Enak ..." Huo Jia menyodorkan makanan di tangannya.


"Banyak wanita yang takut gemuk. Ku lihat kau bukan tipe demikian."


Huo Jia tersenyum malu. Dia tahu kalau Xu Zhu menyindirnya yang begitu banyak jajan. "kan aku cuma beli makanan yang baik untuk tubuh dan pencernaan. Tidak sembarangan hantam saja."


Sepasang sejoli yang sejatinya baru saling mengenal itu melanjutkan petualangan mereka di tengah ramainya pasar malam. Menikmati momen kebersamaan untuk saling mendekatkan diri satu sama lain.


Terlihat ekspresi bahagia di wajah Huo Jia. Begitu pula dengan Xu Zhu. Keduanya seperti teman yang telah berpisah begitu lama.


Xu Zhu memicingkan matanya. Dia melihat ke satu pohon rindang yang tumbuh di area pasar malam itu. Xu Zhu mengenali pohon tersebut, kiranya mereka berjodoh hingga bertemu tanpa harus dicari.


"Hah, makanan lagi?!" Xu Zhu melotot.


"Eh, ini enak. Kakak Xu pasti suka." Huo Jia keukeuh membelinya. Dia mengajak Xu Zhu untuk duduk di akar pohon sambil menunggu pesanan.


Xu Zhu menyentuh akar pohon besar itu. Benar saja, pohon itu memancarkan sinar dalam merespon sapaan Xu Zhu.


Ketika itulah seorang gadis muda cantik datang menghampiri mereka. Sontak Huo Jia langsung berdiri.


"Leluhur, maaf ..." gadis cantik yang datang tidak lain adalah Zhang Lian.


Zhang Lian menemukan penginapan yang telah Lin Fei pesan. Akan tetapi dia kehilangan Lin Fei dan juga Gao Yin. Dari itu Zhang Lian memutuskan untuk mencari Xu Zhu. Tidak disangka Xu Zhu sedang bersama seorang gadis.


Huo Jia langsung mengenali Zhang Lian sebagai murid Xu Zhu. Pasti ini seorang lagi murid, karena dua orang murid Xu Zhu yang lain (Gao Yin dan Lin Fei) sore tadi sudah bertemu dengannya.


"Leluhur, mengapa selalu tidak ada tugas untukku?" tanya Zhang Lian dengan nada kecewa.


Kebetulan sekali, pesanan Huo Jia datang. Xu Zhu menatap Zhang Lian, "tugasmu sekarang mewakili aku, bantu Huo Jia menghabiskan itu."


"Baik, Leluhur ..." jawab Zhang Lian tanpa protes. Walaupun ekspresi wajahnya terlihat begitu terkejut. Bukan tugas semacam ini yang dia maksud.


"Ada tiga orang di ambang Golden Core yang terus mengikuti. Tidakkah itu menjadi tugasku, Leluhur?" tanya Zhang Lian lagi.


"Kau yakin menyelesaikan tiga Golden Core lebih mudah dari tugas pertama?" jawab Xu Zhu yang membuat Zhang Lian terdiam.


"Ada hal lain yang lebih penting," Xu Zhu melirik pada batang pohon yang mereka duduki akarnya.


Zhang Lian coba menangkap maksud ucapan Xu Zhu. Kendati dia merasa ada sesuatu, tapi ranah kekuatan Zhang Lian tidak sampai ke sana.

__ADS_1


"Mungkinkah pohon ini merupakan salah satu pintu ghaib yang pernah Leluhur katakan? Aish, sungguh aku tidak berguna" batin Zhang Lian.


__ADS_2