Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Civman Pertama


__ADS_3

"Saya bertahan hidup atas belas kasihan. Bagaimana tidak hingga di usia 18 tahun, saya hanya tergantung oleh kekuatan energi yang ditransfer oleh saudara-saudara serta para guru di sekte. Sampai kemudian Ayah saya pergi ke Dunia Jinji, bertaruh nyawa untuk dapatkan pil penawar yang konon dahulu kala telah berhasil dibuat oleh Leluhur Qin Yu."


"Melihat kondisimu saat ini ... lantas bagaimana Ayahmu bisa masuk ke Dunia Jinji?" tanya Xu Zhu.


"Meskipun pada akhirnya Ayah tidak tertolong, akan tetapi Ayah berhasil mendapatkan pil penawar tersebut, pil jiwa darah yang sekarang berada di tangan Leluhur," mata Qin Tuo mulai berkaca-kaca, setitik air bening menghias di sudut matanya.


Sialnya, harus ada batas level kemampuan untuk bisa mengkonsumsi pil jiwa darah. Sementara Qin Tuo bahkan belum membuka pintu kultivasi.


"Saya berlatih kultivasi untuk bisa sembuh. Namun perang besar kemudian terjadi. Saya tidak tahu apa-apa, saudari saya mengurung saya di salah cangkang telur abadi, dengan membawa serta pil jiwa darah." Qin Tuo melanjutkan bahwa selama di dalam cangkang dia terus berusaha untuk berlatih meningkatkan kemampuan. Tapi apa daya, pengaruh racun memaksanya untuk menyerah.


"Ketika terbangun, tepatnya satu tahun yang lalu, saya berada di sini. Pil jiwa darah direbut oleh singa jahat itu, sementara saya tidak punya kemampuan untuk mengambilnya kembali." Qin Tuo menyeka air matanya, menyesali nasibnya yang malang.


Xu Zhu terlihat murung. Hancur sudah harapannya untuk bisa peroleh petunjuk mengenai keberadaan Hua Xiang. Kecuali tentang nasibnya yang malang, Gadis Racun ini tidak tahu apa-apa.


"Sendirian, aku tahu bagaimana rasanya terbuang. Sepi, hanya menuntun pada jalan putus asa. Masih bisa kita bertemu, kau seorang yang kuat iman!" Xu Zhu menekan rasa perih yang menyayat hatinya. Berusaha untuk tegar dan terlihat baik-baik saja.


"Jika merindukan rumah, kau bisa pulang ke Sekte Jinlong." Xu Zhu berujar seraya memberikan pil jiwa darah pada Qin Tuo.


Suasana haru menyelimuti hati Xu Zhu. Bagaimanapun juga, dia hanyalah manusia biasa yang miliki hati serta kesedihan. Xu Zhu membayangkan bagaimana penderitaan yang lebih besar dialami Hua Xiang. Duka dan luka yang bermula dari keserakahan Xu Zhu.


Xu Zhu mengambil kepala serta daging Singa emas yang baru dia kalahkan. Sumber kekuatan yang terkandung dalam setiap serat dagingnya sangatlah luar biasa bagus untuk seorang kultivator.


Xu Zhu memotong beberapa kerat daging Singa kepala emas, lalu memasak dengan tangannya sendiri. Pedang Yongheng atau pedang abadi milik Xu Zhu yang digunakan untuk menggores potongan daging tersebut. Dipanggang dengan menggunakan teknik api surgawi, dengan bumbu-bumbu dari material masa lalu berkualitas tinggi. Tidak berlebihan jika hidangan itu adalah hidangan terbaik yang pernah ada.


Sementara itu, si gadis racun Qin Tuo sedang melakukan meditasi. Menyerap kekuatan pil jiwa darah ke dalam tubuhnya. Pil yang mampu untuk menekan dan menetralisir racun radikal bawaan lahir di dalam diri Qin Tuo. Sehingga kemudian, Qin Tuo bisa hidup normal layaknya orang biasa pada umumnya.


"Huuuhhh ..." Qin Tuo menghembuskan napas lega. Penantian ribuan tahun yang ia jalani sekarang membuahkan hasil. Dan yang lebih mencengangkan ialah Level Kultivasi Qin Tuo berada pada level Body Integration tahap atas.


"Nenek ... silakan dinikmati selagi masih hangat. Patriark memberi satu untukmu," Lin Fei datang membawa satu porsi daging yang lezat.


Qin Tuo melihat mereka semua sedang makan-makan. Sejenis pesta yang dilakukan saat mendapat tangkapan besar. Daging siluman roh surgawi ini ... sungguh menggugah selera.


"Terima kasih, pemuda tampan," Qin Tuo menerima pemberian Lin Fei dengan senyuman di bibirnya.


Lin Fei tertawa kecil, menggaruk kepalanya. Salah tingkah. Bagaimana bisa dia merasa begitu tersanjung saat dipuji oleh seorang gadis dengan usia nenek moyang.


Tanpa Lin Fei sadari dalam kejadian itu, ada sudut mata yang mengawasi keadaan. Gao Yin yang menangkap seluruh adegan serta pembicaraan.


"Terima kasih, pemuda tampan" nampaknya akan menjadi senjata mujarab yang menjadi inti kekuatan dalam menghancurkan muka dan rasa percaya diri Lin Fei di hadapan Gao Yin nanti.


"Sekte Qingshu merupakan salah satu gerbang Sekte Jinlong di masa lalu. Dimana saat itu, Anda termasuk Patriark dari leluhur kami. Bukankah itu berlaku untuk saya? Patriark ... mohon angkat saya sebagai murid." Qin Tuo datang dengan memberikan sujud di hadapan Xu Zhu.


"Baik, datang ke Sekte Jinlong adalah keputusan yang tepat. Akan tetapi ..." Xu Zhu mengelus dagu.


"Saya akan berani pertaruhkan apa pun untuk Patriark ..."

__ADS_1


"Akan tetapi ... senioritas tidak berlaku untukmu." Xu Zhu melirik pada Zhang Lian, yang merupakan murid Sekte Jinlong dari titik nol.


Zhang Lian membuka level kultivasi dengan titik dasar energi Sekte Jinlong. Zhang Lian bisa memetik buah apel dewa, dan juga dia bisa berlatih trik milik Sekte. Dia bahkan telah memegang panji Sekte Jinlong sebelum Xu Zhu kembali. Perjuangan dan pengorbanannya memang pantas diapresiasi.


"Memahami, Patriark."


"Bagus! Habiskan makanan kalian, setelah itu ... kecuali Huo Jia, kalian semua pergilah berburu. Temukan sebanyak mungkin tanaman berharga, ajimat, serta apa pun yang bisa kalian dapatkan. Ingat! Jangan sampai tersesat dan jangan sampai tidak selamat!"


°°°


"Kakak ... aku tahu, seharusnya aku tidak berada di tempat ini. Hanya mengandalkan energi darimu yang membuat aku bertahan," ucap Huo Jia lirih.


Melihat ke kiri dan kanan, membuat bulu kuduk Huo Jia berdiri. Beberapa kali dia hampir mati ketakutan saat melihat siluman roh penghuni Tanah Terlarang. Sebagai orang awam yang baru belajar kultivasi, Huo Jia sangat beruntung bisa melihat Tanah Terlarang.


"Bagaimana bisa orang mengidamkan untuk datang ke sini jika untuk menyabung nyawa? Tidak heran jika benda-benda Tanah Terlarang harganya begitu tinggi, karena sulit untuk bisa keluar hidup-hidup dari sini." Pikiran Huo Jia melayang ke mana-mana. Berharap semuanya hanyalah mimpi, hingga dia tidak perlu khawatir untuk hanya menunggu terbangun.


"Hati-hati! Belajarlah untuk fokus, siluman roh akan mengikat jiwamu jika pikiranmu kosong." Xu Zhu menepis sesuatu yang hampir hinggap di pundak Huo Jia.


Wuss! Xu Zhu menunjuk ke arah mahluk roh tersebut, yang tubuhnya langsung terbelah menjadi dua bagian diterobos oleh cahaya tajam yang keluar dari jari Xu Zhu.


"Maaf," Xu Zhu meraih tangan Huo Jia, kemudian menggenggamnya. Mereka bergandengan tangan melanjutkan perjalanan.


Deg-deg ser! Desir darah di dalam dada Huo Jia mengalir deras, membuat dadanya berdebar kencang merasakan jemarinya digenggam Xu Zhu dengan erat.


"Aiiss, dasar gila. Tidak tahu diri!" Huo Jia memaki dirinya sendiri.


"Kupu-kupu hantu?! Apakah dia menuntunku untuk datang ke suatu tempat?" batik Xu Zhu.


Seekor kupu-kupu berwarna merah dengan sayap hitam legam terbang rendah dengan kecepatan rendah. Binatang hantu itu nampaknya terlalu meremehkan kemampuan Xu Zhu. Mengingat hanya pendekar Nascent Soul ke atas yang bisa merasakan kehadirannya.


Xu Zhu tersenyum sinis. Dia tahu caranya untuk memancing penguasa lembah keluar. Sebuah trik licik yang pernah Hua Xiang ajarkan.


Binatang hantu merupakan peliharaan Iblis Besar. Siluman tingkat abadi yang menguasai suatu kawasan tertentu. Setelah melihat adanya kupu-kupu hantu, artinya ada sosok Iblis Besar sebagai penguasa di lembah tersebut.


Bertemu dengan Iblis Besar adalah hal yang susah-susah gampang. Kadang Iblis Besar muncul untuk memangsa manusia yang datang. Akan tetapi sering juga dia menghilang, bersembunyi dan tidak terendus keberadaannya.


Xu Zhu tidak bisa terbang, hingga dia tidak bisa untuk mengawasi situasi sekitar dari ketinggian. Menemukan Iblis Besar tentu suatu hal yang mustahil.


Sepuluh ribu tahun yang lalu, Xu Zhu memang pernah mengalahkan Iblis Besar di Tanah Terlarang ini. Akan tetapi itu dikarenakan Hua Xiang yang menemukan keberadaannya. Untuk kali ini, nampaknya Xu Zhu harus berusaha sendiri.


"Iblis Besar sangat tidak suka pada hubungan baik antar lawan jenis. Dia murka bila ada manusia yang berpasangan datang ke tempatnya. Sebenarnya begitu mudah untuk membuatnya muncul. Tapi kali ini, rasanya aku perlu menempuh cara yang sulit!" ucap Hua Xiang sebelum pergi memancing Iblis Besar muncul.


Xu Zhu manggut-manggut. Bukannya tidak paham, hanya saja kala itu dia mengira kalau Hua Xiang hanya menggodanya.


"Sepertinya sekarang aku harus mencoba trik licik yang Hua Xiang ajarkan kala itu. Hmm ..." Xu Zhu melirik pada Huo Jia di sampingnya.

__ADS_1


"Apa kau sudah punya kekasih?" tanya Xu Zhu tiba-tiba, membuat Huo Jia tergagap.


"Ah?! Apakah aku begitu menakutkan? Sampai-sampai kau terlihat jijik," Xu Zhu memulai drama. Melepaskan tangan Huo Jia dari genggamannya, kemudian mundur beberapa langkah dan duduk di batu besar.


Huo Jia semakin kebingungan dibuatnya. Dia hanya menduga jika telah melakukan kesalahan yang menyinggung Xu Zhu, Huo Jia sama sekali tidak tahu kalau dia sedang dimanfaatkan dalam skenario untuk bisa memancing Iblis Besar menampakkan diri.


"Kakak ... jangan salah paham. Aku ... aku begitu kaget karena kau bertanya seperti itu."


"Wanita. Diam berarti iya, tidak menjawab berarti punya. Tidak peduli berapa orang kau telah memiliki kekasih. Aku hanya penasaran, apakah para kekasihmu pernah membawamu ke tepi neraka seperti aku sekarang?" tanya Xu Zhu lagi.


Huo Jia mengerutkan dahi, kemudian dia tersenyum dan melangkah mendekati Xu Zhu. "Aku belum pernah pacaran, jadi mana tahu bagaimana aku diperlakukan. Dan satu hal lagi ... apakah kita sedang berkencan?"


"Sepertinya kau yang terlalu pemilih. Terlalu perfeksionis, wajar jika pria takut mendekatimu," celetuk Xu Zhu.


"Sembarangan bicara. Aku tidak pernah memilah-milah seseorang untuk dijadikan teman. Jangan salah, teman priaku juga banyak."


Huo Jia hendak duduk di samping Xu Zhu, akan tetapi Xu Zhu telah lebih dulu meraih lengan Huo Jia dan menariknya, hingga Huo Jia pun setengah limbung lalu kemudian duduk di pangkuan Xu Zhu.


DEG!


Jantung Huo Jia berhenti berdetak dalam beberapa saat. Wajah Xu Zhu begitu dekat, hanya beberapa senti dari wajahnya. Bahkan deru napasnya yang hangat membelai wajah Huo Jia hingga menariknya dari alam sadar.


Tidak jauh berbeda, Xu Zhu tidak memungkiri bahwa wajah Huo Jia begitu mirip dengan Hua Xiang. Matanya, bibirnya, hingga bentuk hidungnya pun identik. Tidak salah jika Xu Zhu pernah menduga kalau Huo Jia adalah bentuk reinkarnasi dari kekasihnya, Hua Xiang.


Hingga keduanya pun hanya saling diam, saling tatap, tanpa ada sepatah kata pun yang terucap.


Xu Zhu lebih dulu berhasil menguasai diri. Sehingga dia tidak larut dalam perasaanya, kembali pada rencana dan tujuan awalnya.


Glek! Sekali lagi Huo Jia menelan ludah. Dia seperti terhipnotis oleh pesona sesosok peri yang nyata.


Secara spontan, Huo Jia memejamkan matanya ketika Xu Zhu mendekatkan wajah. Bibir manisnya sedikit dibuka, hingga merekah bak kuntum bunga yang mekar di pagi hari.


Cup! Tak ayal lagi, dengan jalan yang terbuka lapang membuat Xu Zhu dengan mudahnya sukses mendaratkan kecv*pan di bibir ranum milik Huo Jia.


Mata Huo Jia kian terpejam rapat merasakan Xu Zhu mulai menghisap bibirnya dengan lembut. Mereka berpagutan cukup lama, saling berbagi rasa dalam kemesraan yang intim.


"Emmhhh ..." Huo Jia benar-benar telah lupa diri. Begitu tinggi terbang sehingga lupa akan bumi.


Menikmati setiap detik cvm*buan yang terjadi, setiap inci permainan lidah yang Xu Zhu peragakan. Untuk pertama kalinya, Huo Jia memasrahkan bibirnya untuk dinikmati sosok pria.


Ya, ini adalah civman pertama Huo Jia. Perbuatan tidak terpuji yang sangat nikmat dan menyenangkan. Menyerahkan bibir seksinya pada sosok nenek moyang yang mana usia mereka terpaut ribuan tahun.


Dibimbing oleh seorang proplayer, hingga Huo Jia sukses menyelesaikan studi singkat tentang tatacara permainan lidah. Membuat dia telah pandai dalam hal menghisap lidah Xu Zhu yang terjulur masuk ke dalam rongga mulutnya.


"Benarkah ini civman pertamamu?" bisik Xu Zhu.

__ADS_1


Kedua pipi Huo Jia memerah, menahan malu untuk menjawab pertanyaan Xu Zhu. Hingga dia hanya bisa mengangguk lemah, serta menyembunyikan wajahnya dengan memeluk erat tubuh Xu Zhu.


Kekarnya otot-otot tubuh Xu Zhu, membuat Huo Jia semakin panas dingin. Begitu ingin dia untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, melanjutkan permainan nakal tersebut hingga akhir. Saling membuka pakaian misalnya, terus bisa saling melihat tubuh polos satu sama lain. Dan terus berlanjut lagi dan lagi.


__ADS_2