
Semakin malam, pengunjung pun semakin ramai. Wahana bermain serta pasar kian diserbu para pengunjung. Semua itu terjadi karena sekarang tidak lagi ada rasa ketakutan di dalam hati penduduk setelah tersiar kabar bahwa kelompok perampok Hei Wugong berhasil dikalahkan. Semua itu terlihat jelas dari keceriaan yang semakin lengkap di wajah mereka.
Xu Zhu memegang pundak Zhang Lian dan Huo Jia secara bersamaan. Membawa kedua gadis itu menembus batas dimensi yang terselubung dalam pohon misterius di tengah-tengah pasar.
"Sekarang kalian bisa membuka mata. Kita sudah sampai," ucap Xu Zhu seraya melepaskan keduanya.
"Aaa ???" kedua gadis itu dibuat takjub pada pemandangan yang mereka temukan.
Tempat yang sangat indah dan asri. Udara pun terasa begitu segar. Sejauh mata memandang, hanya hamparan hijau dedaunan yang terlihat.
"Leluhur, tempat apakah ini?" tanya Zhang Lian.
Jelas-jelas baru saja mereka pergi di malam hari, mengapa di tempat ini begitu terang? Apakah di sini masih siang atau memang tidak ada malam?
"Huo Jia datang padaku untuk meminta diajarkan beberapa teknik beladiri supaya bisa membela diri di saat genting. Aku membawa kalian berdua ke sini, supaya bisa dengan tenang berlatih. Sebut saja ini tanah aman. Tidak akan ada yang menggangu kalian."
"Zhang Lian adalah senior tertua di Sekte Jinlong, seorang ahli pedang terbaik di Sekte Jinlong. Juga salah satu ahli pedang terbaik di masa depan. Kau bisa belajar banyak darinya," Xu Zhu menepuk pundak Huo Jia.
"Senior, terima salam hormat saya ..." ucap Huo Jia menyapa Zhang Lian dengan membungkuk hormat.
Zhang Lian sampai kaget dibuatnya. Gadis kecil ini ... bahkan dia bersikap biasa-biasa saja terhadap Xu Zhu, bagaimana Zhang Lian bisa menerima salam hormat dari "teman" pimpinan sekte.
Xu Zhu melambaikan tangannya, seketika itu berterbangan begitu banyak material berharga yang tak ternilai.
"Sebagai pemula, aku akan membantumu membuka pintu Qi di dalam tubuhmu. Masuklah ke dalam pintu itu, ambil apa yang bisa kau raih, gunakan apa yang semestinya kau mampu."
Xu Zhu memberi Huo Jia pil pembuka cakra tingkat tinggi. Selain itu, beberapa kitab dasar yang harus Huo Jia pelajari juga Xu Zhu berikan. Dengan begitu, Huo Jia tidak perlu berlama-lama berada pada tahap awal pembentukan Qi.
Untuk Zhang Lian, Xu Zhu memberikan dia kitab tahap tertinggi teknik pedang rembulan. Teknik pedang langka, yang hanya dikuasai oleh Hua Xiang. Dengan menguasai teknik pedang tersebut, maka Zhang Lian akan dipastikan untuk bisa mengalahkan seorang Kultivator yang miliki level di atasnya.
Selain kaya oleh sumberdaya, di tanah aman itu pula terdapat banyak sekali tanaman berkhasiat obat. Jadi wajar jika kemampuan Xu Zhu tidak terbatas. Dengan bebasnya dia bisa meningkatkan ranah kekuatan, memetik sumberdaya dengan sesuka hati.
Sementara itu, hilangnya Xu Zhu dan dua orang gadis yang bersamanya menyisakan tanda tanya besar untuk Li Bersaudara. Ketiga pendekar andalan keluarga Yan tersebut dibuat seperti orang tidak berguna.
Mereka meyakini jika telah terpedaya oleh trik ilusi yang Xu Zhu ciptakan. Tidak jelas di mana sosok yang asli, sementara yang mereka buntuti hanyalah bayangan halusinasi mereka sendiri.
Puas mencari hingga putus asa, pada akhirnya Li Bersaudara memutuskan untuk pulang menuju penginapan Keluarga Huo.
"Akankah kita berpura berkunjung? Jika sampai Tuan Yan Tsu mendengar, maka akan ditaruh di mana wajah kita?"
Li Bersaudara ragu-ragu. Mereka tidak mungkin merendahkan diri, menundukkan kepala mereka di hadapan Keluarga Huo. Tentu tidak ingin derajat keluarga juragan mereka jadi jatuh karenanya.
Tidak berani mengambil resiko untuk membuat keputusan, pada akhirnya Li Bersaudara hanya bisa duduk lesu. Seraya mengamati penginapan keluarga Huo dari kejauhan. Rasanya inilah titik terendah dari hidup mereka, ketika harus dipermainkan oleh seorang pemurnian energi.
__ADS_1
Beralih pada Lin Fei yang sedang bersenang-senang malam itu.
Tidak seperti yang diduga sebelumnya. Ternyata markas perampok Hei Wugong tidaklah berupa gua batu ataupun berada di balik gundukan pasir sebagai pertahanan. Justru tempat yang mereka sebut markas tidak ubahnya merupakan sebuah desa.
Lin Fei sampai mengucek matanya berulang kali. Bagaimana mungkin untuk bisa mengatakan kalau keberadaan markas para perampok ini sulit ditemukan? Atau dasar pemerintah pertahanan kota yang menutup mata dan hanya berpangku tangan saja.
"Mengapa kalian tidak datang dengan kekuatan penuh, lalu menumpas mereka semua?" tanya Lin Fei pada prajurit yang mengantarnya.
"Semuanya tidak semudah yang dikatakan. Beberapa kali hal itu dilakukan, tapi yang ada justru membuka lowongan pendaftaran untuk prajurit baru. Tidak ada prajurit yang bisa keluar hidup-hidup dari desa itu," jelas si prajurit.
Lin Fei terus mengamati suasana desa yang lengang di bawah tebing sana. Akses menuju desa itu memang sulit, tapi puluhan perampok bahkan keluar masuk hampir setiap malam. Artinya aman untuk dilewati manusia.
Perampok yang menyerah dijadikan petunjuk jalan. Di bawah tekanan, dia berjalan di depan, membawa Lin Fei memasuki kawasan desa.
"Kau terus ikut atau berhenti sampai di sini?" tanya Lin Fei pada prajurit yang telah pucat pasi.
"Apa pun yang terjadi, saya akan menyertai Tuan Pendekar masuk!" tegasnya.
"Bagus! Itu adalah sikap seorang pria sejati. Kau lihat dan contohlah aku. Pantang menyerah dan tidak kenal rasa takut!" Lin Fei menepuk dada, menyombongkan diri.
Saat keduanya asik mengobrol, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh si perampok. Merasa kalau dia telah punya bala bantuan, maka dia langsung berlari kencang seraya berteriak memanggil kawanannya.
"Semakin mempermudah langkahku. Kau tunggu di sini, lihat bagaimana tombak saktiku meratakan markas para perampok sialan ini!" Lin Fei melompat dan segera mengejar ke arah si perampok yang kabur.
Kemampuan Lin Fei telah meningkat pesat sejak dia datang ke Sekte Jinlong. Ditambah lagi magic tombak pusaka di tangannya, semakin menambah kesan malaikat pembunuh di mata lawan.
Satu persatu rampok ditumbangkan, seperti pesan sang Patriark untuk tidak berbelas kasih. Lin Fei membabat habis siapa pun yang dia temui di sana.
Aneh! Karena kesemua penduduk di markas rampok Hei Wugong merupakan laki-laki. Ada diantara mereka yang masih remaja bahkan anak-anak, tapi sekali lagi bahwa semuanya laki-laki. Yang akan digembleng menjadi perampok berdarah dingin.
"Huuuhhh, mereka cukup banyak juga. Sengaja datang satu persatu untuk memancing batas tenagaku. Memangnya mereka pikir aku datang dari sekte miskin?" gumam Lin Fei dalam hati.
Craasss! Lin Fei menebas putus pinggang seorang perampok yang coba menyerangnya dari belakang. Setelah itu Lin Fei menelan sebuah pil energi, biarkan tenaganya kembali pulih sempurna.
"Kurang ajar! Dari mana datangnya orang ini, mengapa dia begitu kaya?" seorang bos pasukan Hei Wugong terpaksa menyimpan senyuman karena Lin Fei tak kunjung mencapai batas maksimal kekuatan seperti yang mereka harapkan.
Tidak ada cara lain, para petinggi Hei Wugong harus segera turun ke gelanggang. Mereka tidak ingin menumbalkan satu demi satu anak buah mereka.
"Hahaha! Aku kira kalian sudah lari terbirit-birit, terlalu takut melihat kemampuan nenek moyang kalian yang begitu kuat!" Lin Fei berkacak pinggang menatap satu persatu petinggi rampok Hei Wugong.
"Majulah kalian semua! Semakin cepat semakin baik!" tantang Lin Fei.
Lin Fei memutar tombak di tangannya, mengalirkan energi tenaga dalam hingga ke ujung tombak. Inilah kemampuan Lin Fei yang sebenarnya.
__ADS_1
Tidak menunggu lagi, Lin Fei aktif menyerang. Tombak pusaka langit di tangannya bergerak liar ke segala arah. Menutup setiap gerakan yang dilakukan lawan.
"Kepa*rat! Anak ini menyimpan kekuatan yang jauh lebih tinggi dari ranah kultivasi yang ia miliki!" pimpinan tertinggi Hei Wugong tergagap.
Terlambat bagi mereka untuk menyadari hal itu. Lin Fei yang mengamuk tidak lagi bisa dihentikan. Tanpa bekas kasih membantai seluruh penghuni desa Hei Wugong.
"Kau ... ba-bagaimana bisaa ..." di ujung napasnya, bos besar Hei Wugong menunjuk Lin Fei.
"Namaku Lin Fei dari Sekte Jinlong. Kabarkan pada seluruh penghuni neraka, jangan pernah bereinkarnasi menjadi jahat. Kecuali untuk mati dua kali di tanganku!"
Crashh! Lin Fei menekan tombaknya lebih kuat. Hingga ujung tombak yang tajam menembus dada kepala rampok.
Suasana berubah menjadi sunyi senyap. Tiada lagi jerit kesakitan yang terdengar. Yang tersisa hanyalah deru napas Lin Fei yang ngos-ngosan.
"Huhh, huuhh ... Luar biasa, aku sangat hebat! Dengan seorang diri membantai mereka semua. Akkhh ..." Lin Fei menyeka titik darah yang mengalir dari luka halus di lengannya.
Saatnya untuk berpesta. Sebelum membumi hanguskan desa itu, lebih dulu Lin Fei menemukan seluruh harta. Harta hasil jarahan selama ini.
"Wow ... ini luar biasa!" Lin Fei berhasil menemukan sebuah gudang rahasia yang tersembunyi di bukit bebatuan. Selain emas dan batu mulia, sumberdaya serta herbal berharga bertumpuk di dalam gudang.
Tidak mungkin bisa membawa itu semua. Hingga Lin Fei memutuskan untuk menggunakan kemampuan material surgawi yang Xu Zhu berikan padanya untuk mengambil gudang berikut isinya tersebut. Aman! Lin Fei merasa sangat diberkati karena memiliki seorang guru yang begitu luar biasa.
Lin Fei ditemani oleh seorang prajurit pulang dengan hanya membawa beberapa kotak harta yang mereka temukan di dalam kediaman pimpinan rampok.
Kedatangan Lin Fei telah ditunggu oleh walikota serta hampir seluruh petinggi kota Shanhu Jian. Mereka mengelu-elukan kehebatan Lin Fei yang berhasil membawa pulang puluhan kepala rampok Hei Wugong.
"Aku berasal dari Sekte Jinlong di Long Haizi, kabupaten Dao Long. Ingatlah nama sekteku, karena di manapun kalian berada nanti, nama sekteku akan bergaung!"
Untuk sejenak Lin Fei sibuk dengan ucapan selamat dalam penghargaan yang dia terima.
Huo Nan pun terlihat ada di sana. Menghampiri Lin Fei dan memberi selamat.
"Tuan, apakah Patriark ada di tempatmu?" tanya Lin Fei pada Hao Nan.
"Mohon maaf, Tuan pendekar. Putriku terlalu lancang, mengajak Tuan Xu untuk pergi ke wahana bermain."
"Jangan bilang Patriark mengabulkan permintaan putrimu?" kejar Lin Fei melotot kaget, hampir tidak percaya ketika dia mendapati Hao Nan menganggukkan kepalanya.
"Waaahhh ... putrimu begitu diberkati oleh langit dan bumi. Kau dan keluarga jangan berpikir apa pun lagi. Putri kalian sedang menjemput imbalan terbaik dalam hidupnya."
Terus terang saja, Lin Fei sangat kaget. Bahkan begitu kaget ketika mendengar berita tersebut. Sudah begitu lama dia mengikuti Xu Zhu. Dan selama itu, belum pernah ada Lin Fei melihat Xu Zhu mengikuti keinginan seseorang perempuan.
Lantas pertanda apakah ini? Atau ada hal lain yang tersembunyi dalam diri Huo Jia sehingga Xu Zhu tertarik? Lin Fei tidak berani menduga.
__ADS_1