Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Tiba di Tanah Terlarang


__ADS_3

"Guru, teknik ini terlalu rumit. Bisa ajari aku satu kali lagi?" dengan wajah memelas Hua Xiang memohon.


"Aku hanya memberi siapa pun satu kali kesempatan. Apakah kau begitu istimewa, itu pendapatmu?" Xu Zhu menghela napas berat.


"Kau begitu bijak dalam menilai. Kau tahu jika kemampuan yang aku miliki sangatlah bagus, hanya sedikit yang aku lupa, kau yang berbudi luhur mana mungkin membiarkan muridmu ini tersesat." Hua Xiang mengangkat kedua alisnya, sedikit menggoda dan genit.


"Tidak terlampau sulit, hanya lebih detail. Bahkan kau melupakan tahap awal trik."


Hua Xiang menyeringai, kedua pipinya memerah menahan malu. Namun demikian dia tetap saja berlagak soi imut, memasang muka lucu agar Xu Zhu berbesar hati.


Meski tanpa bicara, Xu Zhu mengalah dan kembali mengajari teknik formasi pedang abadi. Teknik ilmu pedang tingkat tinggi, yang memadukan jiwa manusia serta jiwa pedang. Kemampuan teknik pedang ini, menyatukan energi pedang hanya di dalam pikiran sehingga tidak lagi memerlukan pedang secara fisik.


"Jangan sok imut. Fokus dan konsentrasi lah pada jiwa murni dan pikiranmu."


"Murid mengerti, guru. Dalam hal ini murid akan melewatkan waktu memasak untuk makan siang. Mohon guru berhati lapang," Hua Xiang membungkuk hormat, sebelum memulai latihannya.


"Aa ..." Xu Zhu menggertakkan gigi gerahamnya. Tanpa pilihan lain harus menggantikan posisi Hua Xiang. Menyiapkan sesuatu untuk pengganjal perut.


Xu Zhu mengeluarkan sekerat besar daging siluman abadi. Akan mengolah daging tersebut menjadi sate yang nikmat dan empuk.


Menunggu hingga Hua Xiang menyelesaikan latihannya, barulah Xu Zhu menyiapkan masakannya.


"Emmm, guru sungguh pandai mengolah makanan. Rasanya luar biasa ..." komentar Hua Xiang dengan lahapnya menyantap sate buatan Xu Zhu.


"Terima kasih atas sanjungannya. Setelah ini, kau harus bersiap untuk bisa selamat dari tiga serangan ku!" tegas Xu Zhu.


Hua Xiang menelan ludah. Jika tidak berhasil selamat dari tiga serangan tersebut, alamat hidupnya selesai. Tapi setidaknya biarkan dia makan enak sebelum mati.


"Biarkan dia hidup selamanya di dalam ingatanku, menemani setiap langkah hidupku, bersama ..." Xu Zhu menghela napas panjang.


Terbangun dari lamunannya, Xu Zhu telah kembali dari masa sepuluh ribu tahun lalu. Sekarang di hadapannya ada dua orang murid yang sedang berlatih.


Xu Zhu sadar kalau Huo Jia bukanlah Hua Xiang yang dia kenal. Gadis lugu itu hanya sedikit memiliki kemiripan rupa.


"Leluhur ... saya telah mencapai level puncak Golden Core. Setengah langkah lagi, maka saya akan melewatinya," dengan wajah sumringah Zhang Lian datang melapor.


"Aku senang mendengarnya. Maka kau bimbinglah Huo Jia untuk bisa sepertimu."


"Dengan senang hati, Leluhur."


Waktu di tanah aman kiranya berbeda dengan waktu di dunia. Setelah mengumpulkan cukup banyak tanaman berharga, Zhang Lian kembali saat hari telah berhanjak pagi.


"Kita tidak tidur semalaman? Mengapa aku tidak merasa ngantuk?" Huo Jia kaget pada kenyataan.

__ADS_1


"Sumberdaya yang kau konsumsi menjadikan demikian. Jangan khawatir, semua baik-baik saja," ujar Xu Zhu.


°°°


Sedikit rintangan yang menghadang telah diselesaikan. Xu Zhu dan murid-muridnya akan melanjutkan perjalanan mereka menuju Tanah Terlarang.


Seperti yang Xu Zhu jelaskan pada Zhang Lian sebelumnya, mereka akan melalui jalur khusus sehingga tidak perlu berjibaku, bertarung bertaruh, berebut dengan yang lain sekadar untuk bisa memasuki pintu pertama Tanah Larangan.


Tanah Larangan atau Tanah Terlarang merupakan tempat tinggalnya tumbuhan roh, hewan siluman, serta kekayaan sumberdaya tak terhingga. Dari waktu ke waktu, Tanah Larangan merupakan tujuan para Kultivator untuk bisa mendapatkan sumber kekuatan mereka.


"Ranah pemurnian energi membuat ku tidak bisa terbang, tapi aku bisa membawa mereka melompat bersama!"


Memasuki pintu rahasia ke tanah Terlarang, tubuh Xu Zhu dan yang lain lenyap bak ditelan alam. Saat membuka mata, mereka telah berada di dimensi yang berbeda.


Xu Zhu, Zhang Lian, Lin Fei, Gao Yin serta Hua Jia disambut oleh suara lolongan yang menyayat hati. Seekor siluman serigala melepaskan nyawa, menjadi mangsa kultivator yang datang.


"Wowww! Seperti mimpi. Tempat ini dipenuhi oleh energi siluman. Patriark, apakah kita datang untuk berburu? Mari kita mulai!" Lin Fei nampak begitu bersemangat, segera ia mengeluarkan tombak pusaka miliknya.


Plaakk! Zhang Lian menepuk pundak Lin Fei dengan keras.


"Pergilah kau sendiri! Tanpa Leluhur kau hanya akan menjadi santapan siluman roh!"


"Aku 'kan cuma bertanya, mengapa kau begitu galak?" Lin Fei mengelus-elus pundaknya yang terasa panas ditabok. Segera ia menyimpan tombak pusakanya.


Tidak terlalu menyeramkan seperti namanya. Suasana di Tanah Larangan tidak ubahnya di dunia biasa. Banyak energi siluman dan kekuatan supranatural, itu wajar karena memang binatang roh berkeliaran di mana-mana. Tapi selain itu, rasanya tidak ada yang aneh.


"Ayahku pernah hampir menghabiskan separuh hartanya untuk membeli beberapa kerat daging kelinci roh. Di sini, mereka berkeliaran seperti semut," komentar Huo Jia.


"Bagaimana dengan daging siluman sanca tingkat atas? Kau bisa bawa untuk oleh-oleh nanti," jawab Xu Zhu seraya melirik ke sebuah dahan pohon.


Wuusss!


Duuaarr !!!


Ledakan terdengar saat sudut mata Xu melepaskan energi yang berhasil memaksa siluman sanca bersisik besi menampakkan wujud.


"Hampir lima ratus kaki kau terus mengikuti kami. Kau mesti menerima nasib ketika salah satu dari kami merasa lapar!"


Hssttt! siluman sanca itu mendesis keras, merendahkan Xu Zhu yang diketahui hanya seorang Pemurnian Energi.


"Dari kalian, siapa yang berani ambil untuk bermain-main?" tanya Xu Zhu.


Gao Yin hendak bicara, menyanggupinya. Akan tetapi saat itu juga Zhang Lian telah melompat melakukan serangan. Sepertinya Zhang Lian ingin mencoba teknik pedang rembulan yang baru dia kuasai.

__ADS_1


"Zhang Lian telah mencapai puncak Golden Core, secepat itu? Setengah langkah lagi dia akan melewatinya," komentar Gao Yin menyaksikan pertarungan Zhang Lian dan siluman sanca sisik besi.


Tidak seperti yang lain, satu-satunya orang yang bergetar karena takut ialah Huo Jia. Gadis lugu itu bahkan baru saja berhasil menyelaraskan energi dan memasuki tahap pemurnian. Melihat siluman roh, karuan saja jadi semaput. Seandainya saja tidak ada Xu Zhu, mungkin Huo Jia sudah mati tertindas aura jahat.


"Ranah Zhang Lian berada di bawah siluman ular itu. Tapi kekuatannya satu tingkat berada di atas. Jika dia mampu mengaplikasikan jurus pedang rembulan dengan baik, kurang dari sepuluh jurus maka siluman itu telah menjadi bangkai," Xu Zhu mengomentari pertarungan.


Dengan kata lain, ranah siluman sanca sisik besi itu sangatlah tinggi untuk ukuran binatang roh bumi. Wajar saja kalau dagingnya begitu baik untuk konsumsi para kultivator bahkan untuk kelas Nascent Soul.


Zhang Lian melompat diantara lingkar tubuh siluman sanca yang coba untuk melilitnya. Dalam kesempatan itu pula Zhang Lian mendapatkan celah untuk melepaskan serangan balik, menusuk dagu bagian bawah sang ular yang menjadi titik paling lemah ular sisik besi.


"Gadis pintar!" gumam Xu Zhu.


Hanya dalam beberapa jurus, Zhang Lian berhasil menemukan titik lemah lawan. Tubuh sanca dipenuhi sisik besi di sekujur tubuhnya yang membuat dia kebal oleh berbagai jenis senjata pusaka. Namun celah kosong di dagu bagian bawahnya, merupakan satu-satunya titik tanpa pengaman. Zhang Lian berhasil menemukannya dan membuat siluman itu terkapar tak bernyawa.


"Leluhur, saya mendapatkan sanca sisik besi," ujar Zhang Lian dengan menggenggam batu mutiara energi yang keluar dari kepala ular, sebagai tanda telah dikalahkan.


"Ada seekor lagi di belakangmu!" Xu Zhu menunjuk.


Zhang Lian kaget, begitu juga dengan Gao Yin dan Lin Fei. Mereka baru bersiap melakukan antisipasi mendapati siluman sanca sisik besi jantan yang menyerang dengan kecepatan tinggi.


Cusss !!! Sebuah kilat cahaya menembus dan seketika menghancurkan kepala sang siluman ular.


Mereka menyadari jika saat itu Xu Zhu menunjuk ke arah kepala ular siluman. Hanya dengan jari telunjuk, siluman ular jantan menyusul betinanya menuju alam baka.


"Sepertinya aku tidak membutuhkan barang sekerat daging ular buruanmu," Xu Zhu mengangkat sebelah alisnya pada Zhang Lian. "Hao Jia, kau bisa bawa pulang daging ular jantan itu," lanjut Xu Zhu.


"Patriark sangat kereeennn !!!" Lin Fei berteriak sangat lantang. "Nona Huo, aku akan membantumu memilah dan mengemas daging terbaik!"


Lin Fei melangkah lebih cepat. Dari gaya bicara dan tatapan matanya, jelas dia sedang mengejek Zhang Lian yang coba pamer kemampuan baru. Tapi apa daya, Patriark mereka masih terlalu keren. Itu menurut Lin Fei.


"Bukan sekadar untuk berburu. Aku datang dengan kepentingan yang lebih besar. Meski aku belum tahu hal apa itu. Jika semua ada kaitannya dengan masa laluku, itu lebih baik. Ayo lanjutkan perjalanan."


Xu Zhu kembali memimpin jalan, mereka memasuki kawasan hutan lebih dalam lagi. Berjalan ke arah kaki melangkah, mengikuti insting dalam pikiran Xu Zhu.


Dari jarak yang cukup jauh, seekor siluman ular surgawi dengan tubuh berwarna hijau kelam nampak memperhatikan Xu Zhu dan rombongan. Ular dengan sekujur tubuh dipenuhi racun alami, racun yang mematikan bahkan sekadar dari aroma dalam hembusan angin.


Ssshhh ... ular surgawi itu mendesis, menjulurkan lidahnya, kemudian berhanjak pergi. Nampaknya dia akan menyampaikan laporan atas apa yang baru dia lihat pada sang majikan.


Kemampuan ular surgawi itu sangat luar biasa. Dia menghilang dari pandangan, ketika muncul telah berada di dekat sang majikan, melaporkan apa yang baru saja dia lihat.


"Hmmm, begitukah? Kiranya ada yang coba bermain. Mari kita mulai ..." desis sang pemilik ular.


Tidak ubah seperti ular peliharaannya, sosok itu pun diselimuti racun abadi yang amat ganas. Dia adalah sosok manusia racun paling mematikan.

__ADS_1


__ADS_2