Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Teman Baru


__ADS_3

Lin Fei menyentuh lengan Gao Yin yang terlihat sedang melamun. Entah apa yang membuat Gao Yin tiba-tiba seperti orang linglung.


"Apakah ada dari perkataan ku yang menyinggung perasaan mu? Aku minta maaf seandainya ..." Lin Fei merasa tidak enak sendiri dibuatnya.


"Tidak perlu minta maaf, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya ... ah, sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya."


Lin Fei hanya manggut-manggut, tidak pula dia miliki kuasa untuk memaksa Gao Yin bercerita.


"Selain Tuanku Xu Zhu, kau salah satu yang lain. Mengapa kau begitu peduli padaku?" tanya Gao Yin kemudian.


"Aku, aku tidak tahu jika kau tanya mengapa. Bahkan aku sendiri pun tidak miliki jawaban atas itu."


"Kau menyukaiku?" kejar Gao Yin yang membuat Lin Fei jadi salah tingkah. Mengapa ada wanita seagresif ini?


"Hanya ada dua orang yang tidak memuji kecantikanmu. Pertama orang gila, kedua orang buta. Sebagai mahluk fisual tentunya semua pria akan mengatakan hal yang sama. Pesona yang kau miliki mengundang hasrat untuk memiliki dari semua pria. Munafik jika aku berkata tidak." Lin Fei menggaruk kepalanya yang mendadak jadi begitu gatal.


"Kau bahkan tidak tahu siapa aku. Latar belakang kehidupanku, masa laluku, semuanya, kau tidak tahu apa-apa."


"Siapa yang peduli. Patriark mengajariku untuk menjadikan masa lalu sebagai kenangan. Karena kita, semua yang hidup hanya punya hari ini, sekarang. Hari esok bukanlah milik kita, hanya harapan. Karena itu, aku akan menikmati setiap saat aku menghela napas."


Gao Yin mengerutkan dahi. Di balik tingkah blo'on dan konyolnya, ternyata Lin Fei termasuk anak baik.


"Jika sekarang aku bersuami, bagaimana?" tanya Gao Yin lagi.


"Apakah salah menaruh kagum pada istri orang? Aku hanya cukup berhenti berharap, berhenti mencoba untuk memiliki. Sambil menunggu kau jadi janda. Haha! Maksudku, aku tidak akan mengganggu istri orang."


Gao Yin tertawa kecil, Lin Fei selalu pandai mencairkan suasana. Ada-ada saja tingkah konyol Lin Fei yang bikin menghela napas.


"Terima kasih ... aku harap kau tetap seperti sekarang." Gao Yin menggenggam tangan Lin Fei dengan tulus.


"Kau tidak sedang menggodaku, 'kan? Aku kapok, jika harus seperti dulu. Saat di kuil pertama kita bertemu," celetuk Lin Fei.


"Ihhh, kau selalu saja mengungkitnya. Bukankah berulang kali aku sudah meminta maaf? Kau masih tidak percaya? Baiklah! Untuk menebus itu, aku beri kau satu kesempatan."


"???" Lin Fei malah planga-plongo tidak menangkap maksud perkataan Gao Yin.


Gao Yin memejamkan matanya, menengadah menunggu hingga Lin Fei tiba. Dasar gob*lok! Barulah Lin Fei sadar, jika kesempatan tidak akan datang dua kali.


Seraya mendekatkan wajahnya, Lin Fei menghirup aroma harum yang terpancar alami dari tubuh Gao Yin. Sosok yang begitu dia kagumi.


Cup! Dengan lembut Lin Fei menyambar bibir seksi milik Gao Yin. Menikmati setiap sensasi rasa yang berubah dalam hisapan yang ia lakukan.

__ADS_1


Gao Yin adalah seorang pro player. Tapi untuk kali ini, dia tidak mengambil alih permainan dan membiarkan Lin Fei menuntaskan rasa penasarannya, mengisi setiap celah otak dengan kenangan yang indah.


Perlahan Gao Yin membuka mulutnya, menyambut lembut dan hangatnya lidah Lin Fei yang perlahan mulai menjelajah rongga mulutnya.


"Emmhhh ..." Gao Yin melenguh pelan, matanya kian erat terpejam. Mengimbangi permainan lidah Lin Fei yang telah mengekspos setiap celah.


Tangan Gao Yin melingkar di leher Lin Fei. Menahan kepala pemuda yang usianya terpaut tiga tahun di bawahnya. Sangat jarang hal ini terjadi, biasanya "lawan main" Gao Yin adalah om-om bahkan tetua sekte.


"Lin, jangan ... ishh, dasar!" Gao Yin memberontak, mencoba singkirkan tangan Lin Fei yang mulai nakal.


"Sssttt! Cuma sebentar. Sekali saja, ya ..." rayu Lin Fei kembali memaksakan kedua tangannya untuk menerobos masuk ke dalam baju yang Gao Yin pakai.


Cup! Lin Fei membungkam mulut Gao Yin dengan bibir saat Gao Yin hendak bicara lebih jauh.


Lin Fei terlihat sangat bersemangat. Kedua tangan Gao Yin ditarik ke belakang, hingga dia bisa lebih leluasa untuk menyentuh kedua benda kenyal padat dan besar yang menempel di dada Gao Yin.


"Ssshhh ..." Gao Yin tidak bisa berbuat banyak, kemudian mende*sah menikmati sensasi yang menjalar ke sekujur tubuhnya.


Berkat bantuan sumberdaya serta pil surgawi yang Xu Zhu berikan, Gao Yin saat ini telah berada pada level Nascent Soul tingkat abadi, sementara Lin Fei hanyalah seorang Golden Core. Bukan tidak bisa, tapi hanya saja Gao Yin tidak melawan. Hingga membuat Lin Fei seolah memaksakan kehendak, membuka baju lalu menyentuh bulatan sensitif milik Gao Yin.


Dengan kasar, Lin Fei menarik baju yang dia anggap menjadi penghalang gerakannya. Membuat dua benda kenyal nan mulus itu menyembul sempurna, tak terhalang oleh.


"Ohhh, Nona Gao ..." suara Lin Fei terdengar berat dan parau.


Ujung berwarna merah muda yang mengeras dengan sempurna. Semakin Lin Fei menyentuh, semakin dia terpesona. Rasanya tidak rela untuk melepaskan.


Lin Fei memasukkan ujung keras itu ke dalam mulutnya. Lidahnya menggelitik pelan, diiringi dengan hisapan teratur yang membuat Gao Yin semakin menggeli*njang penuh sensasi.


Sebelah kiri, pula pada ujung yang mengeras, jari Lin Fei memelintir dengan gemas. Memainkan tonjolan merah muda itu ke kiri dan kanan. Rasanya sungguh tidak dapat digambarkan dalam kalimat.


Permainan panas dua insan itu semakin naik pada tensi yang tinggi. Jika saja, saat itu tidak muncul seekor kupu-kupu berwarna kuning emas yang datang, mungkin mereka bisa kebablasan.


Kupu-kupu emas yang datang, adalah kupu-kupu ilusi yang ditugaskan Xu Zhu untuk menyampaikan pesan.


°°°


Kring! kring! kring! Suara nyaring lonceng di sebuah wahana permainan.


Seperti biasa, sore yang serupa di Pantai Baisha. Hanya saja, yang berbeda ialah cara seorang pria memandang. Dia adalah Xu Zhu, yang terus mengikuti gerak-gerik Hua Xiang kw.


Huo Jia memisahkan diri dari rombongan. Bisa-bisanya para pengawal yang begitu banyak tidak sadar akan hal itu. Rasa ketertarikan Huo Jia pada seekor kupu-kupu yang amat lucu, membuatnya tanpa sengaja harus bertabrakan dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal.

__ADS_1


"Ah, maaf ... maaf ..." Huo Jia membungkuk meminta maaf. Untung saja wajah laki-laki itu tampan dan mempesona, sehingga Huo Jia tidak merasa risih kendati harus bersentuhan. Malah sebaliknya, dada Huo Jia jadi deg-deg ser karenanya.


"Kau baik-baik saja?" tanya laki-laki macho yang membuat Huo Jia kesengsem.


Huo Jia malah semakin salah tingkah. Dia tidak begitu terbiasa berhadapan dengan pria mempesona.


"Kakak, sekali lagi maafkan kecerobohan ku. Makananmu sampai tumpah. Aku akan menggantinya ..." ujar Huo Jia menatap malu pada lawan bicara.


"Tidak perlu. Lagi pula, semua bukan karena salahmu. Harusnya aku lebih fokus saat berjalan. Oh, iya. Perkenalkan namaku Xu Zhu."


Huo Jia terlihat kaget saat Xu Zhu mengulurkan tangan meminta berkenalan. Meskipun pada akhirnya dia menerima jabat tangan tersebut seraya menyebut namanya.


"Merupakan suatu keberuntungan, karena tidak semua orang miliki kesempatan untuk menyambut senja di Pantai Baisha dengan seorang bidadari," ucap Xu Zhu seraya menatap ke arah lepas pantai.


"Kabupaten Long Dao sangat jauh dari sini. Apakah Kakak sering ke sini?" tanya Huo Jia dengan wajah merah menahan malu.


Xu Zhu menggelengkan kepalanya. "Hanya dalam beberapa kesempatan di masa lalu."


Nampak dari raut muka kedua insan itu saling senang. Satu sama lain begitu cepat menjadi dekat. Menjadikan keyakinan Xu Zhu kian kuat, kalau Huo Jia adalah benar titisan Hua Xiang. Setidaknya Xu Zhu berharap demikian.


"Kami menamainya Buah Apel Dewa. Selain khasiatnya bagus, rasanya juga sangat enak. Ini adalah sumberdaya yang dihasilkan oleh sekte kami sendiri. Kau pasti suka." Xu Zhu memberi Huo Jia beberapa buah Apel Dewa.


Dalam hati benar Xu Zhu berharap Hua Xiang lekas menikmati hasil dari bibit yang pernah ia tanam sepuluh ribu tahun yang lalu. Xu Zhu yang memetik, seperti yang pernah mereka khayalkan.


"Terima kasih, Kak ... emmm, rasanya enak sekali!" seru Huo Jia sambil melotot. Semua di luar ekspektasinya. Buah Apel Dewa ini benar-benar enak dan memanjakan lidah.


"Aku masih ada beberapa. Kau bisa membawanya untuk nanti." Xu Zhu membungkus beberapa apel lain. Memberinya sebagai oleh-oleh.


"Aku akan mengantarmu kembali pada rombongan. Takutnya nanti Ayahmu kebingungan mencarimu," sambung Xu Zhu.


Huo Jia baru tersadar pada kenyataan. Dia merasa beruntung karena bersama laki-laki yang baik. "Ah, em ... apa mereka sudah pulang ke penginapan, ya?"


"Terlalu sayang untuk melewatkan pemandangan nan indah ini. Mereka pasti berada di suatu tempat yang tidak jauh dari sini," jawab Xu Zhu yakin.


"Aku jadi tidak enak, jadi merepotkan Kakak."


"Tidak masalah, justru aku suka. Mari ..." Xu Zhu mempersilahkan Huo Jia untuk berjalan lebih dulu.


"Oh, iya. Jika kau berkenan, aku punya kenang-kenangan untukmu." Xu Zhu menunjukkan kalung yang indah.


Tidak sekadar indah, kalung itu merupakan material surgawi. Kemampuannya yakni mampu menangkal segala jenis pengaruh sihir. Sangat menarik, tentu saja Huo Jia tidak sanggup untuk menolak.

__ADS_1


Huo Jia tersenyum lebar. Senyum penuh arti. Senyum manis yang Xu Zhu rindukan dari sosok lain, sosok di masa lalunya.


__ADS_2