Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Trik Penggoda


__ADS_3

"Aku punya sesuatu untuk kalian berdua ..." Xu Zhu mengeluarkan sebuah kitab pengobatan, menunjukkan pada Yu Yan dan juga adiknya.


"Aaa ??? Apakah ini nyata?!" Yu Yan terbelalak kaget. Begitu juga dengan yang lain.


Kemudian Xu Zhu mengalihkan pandangan pada Ibu Yu, "jika diperkenankan maka aku akan membawa serta mereka berdua bersamaku. Di sekte Jinlong, mereka akan menjelma menjadi ahli pengobatan di masa mendatang."


Ibu Yu menatap putra-putrinya, "kesempatan yang begitu baik, kalian jangan menyia-nyiakan ini."


"Baik, Ibu. Dengan senang hati ..."


Yu Yan diikuti Yu King lekas menghaturkan sembah, "Maha guru, mohon terima kami sebagai murid."


"Baik. Sekarang bangkitlah. Segera berbenah, besok pagi kita berangkat. Jangan khawatir tentang ibu kalian. Setelah menelan Alkimia buatanku, akan menambah puluhan tahun kehidupan."


"Terima kasih, Maha guru." Ibu Yu turut menghaturkan sembah.


Xu Zhu melangkah ke luar pondok. Dengan berbekal sedikit cerita dari ibu Yu, rasa penasaran di dalam dadanya kian membuncah. Xu Zhu ingin segera untuk bisa bertemu dengan siluman naga dewa yang konon berdiam di dalam hutan.


"Semoga saja benar naga, bukan hanya seekor cacing bermata merah dan punya kumis." Langkah Xu Zhu semakin jauh, membelah hutan yang pekat.


Hutan perawan yang belum terjamah tangan manusia, dengan aura siluman yang menyelimuti di setiap celah pepohonan.


"Hmmm ... aura yang lemah. Bukan sosok yang aku rasakan tadi siang," gumam Xu Zhu seraya menghela napas panjang.


Ya! Ada sosok lain yang pula berada di dalam hutan yang sama. Naga penjaga, kemungkinan adalah pengawal si naga dewa.


"Perlihatkan wujudmu! Jangan coba bersembunyi, karena tiada tempat yang tak terlihat olehku!" selepas bicara, Xu Zhu melirik ke sebuah dahan pohon.


Wuusss! Kekuatan energi yang Xu Zhu lepaskan menarik sosok tak kasat mata yang bersembunyi di pohon tersebut.


Hssttt! Sosok ular naga yang terbanting keras ke atas tanah itu mendesis keras.


Seekor naga penunggu dengan sisik berwarna merah menyala. Siluman tingkat menengah yang baru mencapai level kemampuan pada tahap Jiwa yang baru lahir. Di mata Xu Zhu, siluman sejenis itu tidak ubahnya hanyalah seekor cacing.


"Aku tidak punya urusan dengan cacing kecil seperti mu. Di mana keberadaan Tuanmu, mungkin aku akan berubah pikiran dan membiarkan kau hidup lebih lama!"


Mendengar ucapan Xu Zhu yang begitu sombong, kemarahan jelas terpancar dari sorot mata sang naga.


WUUUHH !!! Tanpa berbasa-basi naga penunggu itu langsung menghembuskan kobaran api dari dalam mulutnya.


Dengan kecepatan tinggi, api menyala tumpah ke tempat Xu Zhu berdiri. Tidak terlihat adanya upaya yang Xu Zhu lakukan, belum sempat berbuat apa pun kala kobaran api tersebut melvmatnya hidup-hidup.


Merasa telah berhasil, sang naga kemudian menghentikan serangannya. Api yang dia semburkan ialah panasnya api pada tingkat kemampuan paling tinggi yang dia miliki. Kiranya kekesalan sang naga disebut cacing kecil, membuat dia tidak bisa mengampuni meski dia tahu Xu Zhu hanya seorang Qi Refining.


"Apakah itu tadi api? Hmm, mengapa aku malah kedinginan?!" Xu Zhu mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


Hssttt !!! Naga merah mendengus kaget. Seperti ada yang salah dari pandangan matanya, mengapa pemurni energi itu bahkan tak goyah?


Melihat reaksi naga yang bersiap untuk kembali melakukan serangan, Xu Zhu yang hanya pada punya sedikit waktu lekas mengeluarkan sebilah pedang di tangannya.


Dengan aura memancar berwarna kuning emas, pedang di tangan Xu Zhu terlihat sangat kuat dan tajam. Pedang yang mampu untuk membelah apa saja.


Kekuatan yang terpancar dari bilah pedang di tangan Xu Zhu sempat membuat siluman naga merah merasa gentar, meski pada akhirnya naga itu kembali melanjutkan niatnya untuk menyerang dan menghabisi Xu Zhu.


Set! Set! Xu Zhu menggerakkan bilah pedang dengan sangat cepat.


Tanpa harus bergerak apalagi melayang terbang, beberapa detik kemudian suara benda terjatuh jelas terdengar menghantam tanah.


Tubuh siluman naga tingkat menengah telah terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Seketika, cahaya kehidupan pula memudar dari dalam dirinya. Naga itu tewas hanya dengan satu serangan.


"Hmm, lumayan. Daging naga ini bisa dimanfaatkan." Xu Zhu mengibaskan tangannya, seketika potongan-potongan tubuh naga menghilang, Xu Zhu telah menyimpannya.


Untuk ukuran para pendekar yang sedang berlatih dan meningkatkan kemampuan kultivasi, daging siluman naga merupakan salah satu sumberdaya yang diburu. Selain harganya yang mahal, butuh keberuntungan agar bisa mendapatkannya.


Selesai mengemas tangkapan besar, Xu Zhu kembali melanjutkan perjalanan menuju gua angker di dalam hutan.


°°°


Di perbatasan desa Long Haizi.


Sekelebat bayangan hinggap di atas batu. Beberapa saat lamanya mengamati daerah sekitar. Bayangan tersebut ialah sesosok wanita muda yang cantik jelita. Pakaian yang serasi dengan tubuhnya yang ideal dan proporsional, singkatnya dia seorang wanita cantik nan menggoda.


Gao Yin. Utusan Sekte Mouyun yang datang untuk mencari tahu tentang Xu Zhu, Patriark Sekte Jinlong.


"Tidak menyangka, desa kecil seperti ini bisa menarik perhatian Sekte Mouyun yang begitu besar. Hmmm, baiklah ... saatnya kita mulai." Gao Yin melompat turun dari tempatnya. Melanjutkan perjalanan dengan langkah normal tanpa tenaga dalam.


DUUAARRR!


Suara guntur di langit Long Haizi, menggiring nuansa malam yang kian dingin tatkala titik air disebut gerimis mulai menyiram mayapada.


"Huhh, huuhhh, huuuhh ..." dengan napas ngos-ngosan, Gao Yin berlari mencari tempat berteduh.


Hujan kian lebat, beruntung ada sebuah kuil tua yang kemudian menjadi pilihan untuk berlindung dari kebasahan.


"Ah, Nona ... silahkan kau masuk ke dalam. Biar aku yang di dekat pintu," seorang pemuda yang telah lebih dulu datang berteduh menyapa Gao Yin dengan sopan.


"Hmm ... lumayan juga," batin Gao Yin dengan mengulum senyum kala bertatapan dengan pemuda tersebut.


"Seorang Pendiri Pondasi tingkat emas. Jelas dia bukan orang yang aku cari. Atau mungkin laki-laki ini adalah murid Sekte Jinlong? Ah, itu berita baik."


"Maaf, Nona. Jika aku boleh tahu, ke manakah tujuan Nona malam-malam sendirian?" belum sempat Gao Yin memulai percakapan, laki-laki itu telah lebih dulu bertanya.

__ADS_1


"Perkenalkan namaku Gao Yin. Jauh aku datang untuk mencari keberadaan Sekte Jinlong," jawab Gao Yin.


"AAA! Kau bertemu orang yang tepat, aku adalah murid sekte Jinlong. Namaku Lin Fei," seraya memperkenalkan diri, Lin Fei mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


Gao Yin mengurai senyum, mengerahkan trik penggoda yang menjadi salah satu kemampuan andalan yang dia miliki.


"Si bodoh ini ... kemampuannya tidak sebanding dengan gaya. Dasar besar mulut!"


"Besar harapanku kau bersedia membantu. Aku ingin menjadi bagian dari Sekte Jinlong." karuan saja, pesona yang terpancar dari sorot wajah Gao Yin membuat hati Lin Fei klepek-klepek.


Halusnya kulit Gao Yin terasa membelai seluruh tubuh ketika mereka berjabat tangan. Lin Fei hampir kehabisan napas, hanya bisa menelan liur untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


"Lin ... tolong bantu aku, ku mohon ..." Gao Yin mengedipkan matanya, menghiba untuk memelas belas kasih Lin Fei.


"A a ah, kau jangan khawatir. Bagaimana pun caranya, aku pasti akan membantu. Kau jangan khawatir!"


"Janji, ya ..." Gao Yin mengangkat jari kelingkingnya, meminta Lin Fei berjanji.


"Ya, janji!" dengan tegas dan tanpa pertimbangan apa pun, Lin Fei langsung menyanggupi permintaan Gao Yin.


"Wanita ini sangat mempesona ... aku, sepertinya aku telah jatuh cinta ..." pipi Lin Fei memerah, dia benar-benar terpesona.


Trik penggoda yang Gao Yin lepaskan telah bekerja. Hingga Lin Fei pun larut dalam dunia ilusi yang dia ciptakan sendiri. Tubuh Gao Yin yang semok dan indah menggoda harusnya sudah lebih dari cukup untuk siapa pun jatuh cinta.


Dalam khayal, Lin Fei merasakan jika Gao Yin datang dan memeluknya. Mengucapkan terima kasih yang teramat sangat atas bantuan yang Lin Fei berikan.


Dada Gao Yin yang padat dan besar menempel lekat di kulit Lin Fei. Sensasi halus dan kenyal itu semakin membuat Lin Fei susah bernapas. Belum lagi deru napas Gao Yin yang hangat membelai tengkuk Lin Fei dalam rengkuhan hangat menyertai hujan yang terus mengguyur.


"Uuuhhh ... Nona Yin. Ada aku, kau jangan berpikir macam-macam. Aku akan melindungi mu!" sambil bicara, Lin Fei memberanikan diri untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan.


Kesempatan hanya datang satu kali, jika tidak dimaksimalkan pasti menyesal seumur hidup.


Tep! Kedua tangan Lin Fei meremas bongkahan bokong semok Gao Yin yang begitu menggoda. Semakin tangan Lin Fei bermain, terlihat Gao Yin yang semakin pasrah.


"Gao Yin kedinginan ... Gao Yin kesepian ... ayo ciptakan kehangatan membara di bawah guyuran hujan malam ini ..." bisik Gao Yin.


Tidak berniat membuang kesempatan emas, Lin Fei langsung menyambar bibir seksi milik Gao Yin. Memakan dan melv*matnya dengan rakus. Semakin Lin Fei menghisap, terasa semakin manis rasa bibir Gao Yin yang sensual itu.


Layaknya musafir padang tandus yang menemukan telaga, Lin Fei tidak memberi kesempatan kepada Gao Yin meski hanya sekadar untuk menarik napas. Tidak melewatkan sedikit pun rongga di dalam mulut Gao Yin kecuali oleh sapuan lidahnya. Lin Fei begitu agresif dalam permainan lidah yang panas tersebut.


Tangan Lin Fei yang semula hanya meremas dan memainkan bokong semok Gao Yin, kini telah mengalami kemajuan besar yakni begitu berani untuk mengambil inisiatif bergerak masuk dan menyibak pakaian bawah Gao Yin.


Di sana, telapak tangan Lin Fei disambut oleh kelembutan dan halus yang melebihi sutra. Permukaan kulit putih mulus tak tergambar oleh kata.


"Uuuhhh ..." Gao Yin mendorong tubuh Lin Fei hingga berbaring terlentang di atas lantai.

__ADS_1


"Kita lewati malam ini bersama ..." Gao Yin tersenyum manis, bergerak naik ke atas tubuh Lin Fei. Memegang penuh kendali.


__ADS_2