Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Segel Pelindung Langit


__ADS_3

"Senior Zhang, Senior Zhang!" Lin Fei berteriak kencang, setengah berlari memasuki pelataran Sekte.


"Hmm ... tidak ada yang istimewa," ucap Gao Yin lirih.


Setibanya di Sekte Jinlong, hal pertama yang Gao Yin lakukan ialah menelusuri dan menilai sekte secara keseluruhan.


Bangunan sekte yang sebagian baru sedang diperbaiki, terlihat jelas jika Sekte Jinlong adalah sekte kecil yang miskin. Semenjak Xu Zhu datang, barulah pembangunan dimulai. Sama sekali, tidak ada yang istimewa.


"Sebuah trik! Menyerang Sekte Tailin adalah salah satu langkah yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian. Tidak disangka, pemurnian energi itu punya otak yang brilian."


Sambil menunggu Lin Fei kembali, Gao Yin tidak melakukan apa pun. Karena memang tiada hal yang bisa dia lakukan di sana. Terasa membosankan, apa gunanya memata-matai sekte kampungan ini. Lebih baik pulang dan tidur di wisma.


Gao Yin tidak pergi hanya karena dia belum bertemu dengan Xu Zhu, Patriark Sekte Jinlong yang dia cari. Dia hanya butuh untuk mencari tahu tentang kemampuan Xu Zhu yang konon katanya luar biasa. Tapi jika memungkinkan, bukan tidak mungkin Gao Yin akan membawa kepala Xu Zhu sebagai hadiah kepada Tuannya di Sekte Mouyun.


Setelah beberapa saat lamanya menunggu, Gao Yin melihat Lin Fei datang bersama seorang perempuan muda yang cantik. Usianya lebih muda dari Lin Fei. Mungkin karena dia adalah murid tertua di sekte hingga Lin Fei memanggilnya senior. Artinya gadis itu adalah Zhang Lian.


Ekspresi wajah Gao Yin segera berubah menjadi ramah dan manis manakala Zhang Lian datang kepadanya.


Tipu daya wanita adalah alat pembu*nuh paling mematikan. Tidak ada yang salah dari kalimat tersebut. Ketika Gao Yin menjadi dua sosok pada waktu yang bersamaan.


Tempat paling aman untuk bersembunyi ialah di dalam sarang lawan. Terlihat baik untuk mengambil kesempatan menusuk dari belakang, menggunting dalam lipatan. Jelas, itu adalah tujuan Gao Yin. Misi paling jahat yang tersembunyi dalam balutan senyum yang paling manis.


"Jangan panggil aku senior. Aku tidak bisa membuat keputusan di sini. Tunggu sampai Leluhur kembali, beliau yang akan memutuskan bagaimana dirimu," Zhang Lian menolak saat Gao Yin memanggilnya senior. Ya, karena Gao Yin belum resmi menjadi anggota sekte.


"Senior Zhang, aku yakin Patriark akan menerima Nona Gao Yin di tengah-tengah kita. Kasihan dia, dengan seorang diri sudah begitu jauh datang ke sini. Bantu aku yakinkan Patriark untuk menerimanya ..." bisik Lin Fei mempengaruhi.


Zhang Lian melirik Lin Fei dan tersenyum penuh arti. Ya, sebagai pria normal wajar bagi Lin Fei menaruh hati pada wanita semok layaknya Gao Yin. Jika harus jujur, Zhang Lian sendiri insecure bila membandingkan ukuran dada mereka. Sepertinya Gao Yin diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.


"Nona Gao, mari saya antarkan ke wisma tamu. Anda bisa menunggu di sana sampai Leluhur kami kembali."


"Terima kasih," Gao Yin membungkuk sopan, sebelum kemudian mengikuti langkah Zhang Lian.


"Mari Tuan Lin ..." dengan melempar senyum, Gao Yin meninggalkan Lin Fei.


"Aaa ... gadis ini cantik sekali. Tidak akan mampu tujuh samudera untuk bisa mengabaikannya. Aku harus menikahinya! Ah, mungkinkah?! Aku harus berjuang!" Lin Fei mengepalkan tangannya penuh semangat membara.


°°°

__ADS_1


Kembali ke tengah hutan, di mana saat pagi yang sama ketika Xu Zhu tiba di wilayah kekuasaan Dewa Naga.


"Aura siluman yang mendominasi hingga puluhan mil jauhnya. Tidak heran jika kekuatan siluman ini ditakuti."


Xu Zhu menghentikan langkah ketika kakinya merasakan ada sesuatu di bawah tanah. Baru Xu Zhu melirik, saat itu juga sebuah formasi muncul dan mengurung Xu Zhu.


Sudah diduga, akan banyak jebakan yang diletakkan di seantero mulut gua. Dan formasi ini ... kekuatan formasi rahasia yang mampu untuk mematahkan jiwa kultivator tahap Golden Core yang terperangkap.


"Hmmm ..." seperti tidak ada hambatan apa pun, Xu Zhu kembali mengayunkan langkah. Tapi baru beberapa langkah saja, sebuah rantai baja muncul dan mengikat tubuh Xu Zhu dengan erat. Rantai yang begitu kuat, yang bahkan butuh pusaka bumi untuk bisa memotongnya.


"Formasi belenggu jiwa. Aku ingat hanya mengajari gadis Hua ..." Xu Zhu memejamkan matanya, saat kembali membuka mata formasi pun lenyap tak berbekas.


"Haarrrggghhh !!!" auman dahsyat yang mengirimkan tekanan suara berisi gelombang elektromagnetik yang mampu untuk memecahkan gendang telinga.


Energi pelindung berwarna kuning emas muncul dan mengelilingi tubuh Xu Zhu. Perisai yang begitu kuat, hingga tidak bisa ditembus oleh kekuatan yang mengncam.


"Naga Dewa? Benar Siluman ini berusia ribuan tahun. Kekuatannya sangat besar, Mencapai tahap Soul Formasion tingkat Golden God. Hmmm ... Dewa emas yang sangat baik," Xu Zhu bisa mendeteksi tingkat kemampuan lawan dengan baik dan akurat.


Semakin Xu Zhu mendekati pintu gua, aura kental yang menekan pun semakin kuat. Dominasi aura siluman yang mampu menghilangkan kemampuan bernapas manusia biasa.


Formasi pelindung langit. Formasi terkuat di muka bumi, formasi yang telah dimodifikasi oleh dirinya. Bagaimana tidak, kenyataan itu membuat Xu Zhu tertampar.


Sekuat dan sebesar apa pun kunci, tentu akan mudah dibuka dengan kunci yang tepat. Hingga cukup dengan mengibaskan tangan, formasi terkuat di muka bumi itu pun lenyap. Karena semua kekuatan adalah miliknya, sangat mudah bagi Xu Zhu.


HUUSSTTT !!!


Bertepatan setelah Xu Zhu menyingkirkan segel formasi, seekor ular naga besar muncul dan langsung menyerang.


Dengan sigap Xu Zhu segera menghindari serangan berbahaya naga besar berwarna kuning itu.


"Kekuatannya sangat luar biasa! Dia bersembunyi seraya bertapa, mengumpulkan energi selama ribuan tahun," Xu Zhu meladeni beberapa serangan berbahaya yang dilepaskan oleh naga dewa.


"Manusia, kau adalah lawan yang paling kuat. Sangat menarik!" Naga Dewa menyeringai, memamerkan taringnya yang besar dan tajam.


"Darimana datangnya Formasi pelindung langit di gua ini? Siapa yang menciptakan segelnya?" tanya Xu Zhu.


Naga Dewa terlihat sedikit kaget. Dia terheran pada kemampuan yang dimiliki manusia pemurnian energi di depannya.

__ADS_1


"Tidak perduli. Bahkan jika kau mati, aku tidak akan memberi tahu!" jawab Naga Dewa yang langsung menyiapkan serangan yang lebih brutal.


Xu Zhu menakut-nakuti Naga Dewa dengan memunculkan pusaka Pedang Surgawi Abadi miliknya. Pedang Yongheng. Pedang berwarna kuning emas bercahaya itu diarahkan pada Naga Dewa.


"Pedang ini sangat tajam dan kuat. Dengan mudah memenggal kepalamu yang keras itu!" gertak Xu Zhu.


Naga Dewa tidak peduli. Dia terlihat lebih rela mati daripada menuruti kemauan lawan.


"Sial! Naga ini tidak takut mati!" umpat Xu Zhu.


Karena tidak berniat untuk mencelakai, Xu Zhu melepas Pedang pusaka miliknya yang langsung hilang dari genggaman tangannya.


"Baiklah, aku temani kau bermain-main." Xu Zhu melompat terlebih dahulu, menggunakan kemampuannya untuk melawan Naga Dewa dengan tangan kosong.


Pertarungan kembali terjadi. Dentuman keras terdengar seiring pepohonan besar yang tumbang tatkala tubuh Naga Dewa terhempas keras ke tanah.


Kemampuan tenaga dalam yang Xu Zhu miliki berada di atas sang naga, hingga dia pun menjadi bulan-bulanan. Percaya atau tidak, sekelas Siluman abadi seperti dirinya pun harus takluk di tangan Pemurnian energi.


Tep! Tangan Xu Zhu memukul kepala Naga Dewa, lalu menekannya keras hingga terhempas ke dalam tanah.


Tubuh naga dewa bahkan tidak sanggup untuk menggeliat, meski hanya kepalanya yang Xu Zhu tangkap.


"Bersedia untuk bicara?" tanya Xu Zhu kemudian.


Braakkk! Karena tidak ada jawaban, Xu Zhu kembali menekan kepala naga dewa hingga semakin dalam tertanam ke tanah.


"Kau mengenal Hua Xiang?" tanya Xu Zhu kemudian.


Naga Dewa terbelalak kaget. Menatap Xu Zhu penuh tanda tanya.


Xu Zhu segera menarik serangannya, melepaskan naga dewa dari belenggu kekuatan. Kemudian menyodorkan telapak tangannya yang menggenggam sebuah tusuk konde.


Satu-satunya barang milik Hua Xiang yang selalu menemani Xu Zhu. Tusuk konde yang Hua Xiang tinggalkan ketika dia pergi meninggalkan sekte secara diam-diam.


Dalam perasaan bersalah dan kehilangan, Xu Zhu selalu membawa tusuk konde milik Hua Xiang kemana pun dia pergi. Siang dan malam, saat tidur dan terjaga. Bahkan hingga sekarang, setelah sepuluh ribu tahun berlalu.


"Kau pasti tahu sesuatu!"

__ADS_1


__ADS_2