
Cup! Sebuah kecv*pan tipis mendarat di pipi kiri Xu Zhu.
Xu Zhu kaget dan segera berbalik badan. Pada saat yang sama, suasana di sekitar pun berubah dalam sekejap mata. Sekujur tubuh Xu Zhu telah basah, karena dia sedang berada di dalam telaga dengan air yang jernih dan segar.
Byuurrr! Semburan air menyiram wajah Xu Zhu, membangunkannya dari lamunan.
"Malah bengong ... ayo kemari, kejar aku! Hehehe ..." Hua Xiang tertawa lepas, parasnya yang cantik kian menawan dalam balutan rasa bahagia.
Xu Zhu mencubit pipinya, dia merasakan sakit. Betapa ilusi ini terasa begitu nyata.
"Guru, apa yang kau pikirkan? Adakah yang bisa aku bantu?" Hua Xiang kembali mendekat setelah Xu Zhu tidak bereaksi mengejarnya.
"Ah, tidak. Lupakan! Aku baik-baik saja," Xu Zhu tersenyum, membelai wajah Hua Xiang dengan lembut.
Pakaian Hua Xiang yang basah kuyup membuat lekuk tubuhnya terlihat begitu nyata. Memaksa Xu Zhu harus menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
"Guru ... jika bisa, selamanya aku ingin kita seperti ini. Jauh dari pertumpahan darah, jauh dari iri dengki orang-orang yang tidak suka, jauh dari segala kemudaratan dunia. Tempat ini begitu tenang, nyaman, tidak menimbulkan stres di kepala."
Hua Xiang melingkarkan kedua tangannya ke leher Xu Zhu, merapatkan tubuh hangatnya. Menikmati kemesraan yang begitu dekat antara mereka.
Xu Zhu membalas pelukan Hua Xiang, lalu dengan lembut membelai rambut gadis Hua yang hitam, lurus dan panjang.
Angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan menggoyang dedaunan, pepohonan yang memalingkan wajah mereka, merasa iri kala menyaksikan sepasang sejoli yang berbagi kemesraan.
Dengan lembut Xu Zhu memagut bibir ranum nan seksi milik Hua Xiang. Melu*matnya perlahan, menikmati setiap rasa manis yang tercipta dalam setiap hisapan.
Kedua mata Hua Xiang terpejam rapat, membuka sedikit mulutnya untuk Xu Zhu bisa menikmati secara leluasa.
Hua Xiang menjulurkan lidahnya, yang pula langsung Xu Zhu sambut dengan hisapan. Membiarkan air liur mereka saling bertukar, menuju alunan gelora dalam bira*hi yang meningkat.
Penuh kasih sayang, Xu Zhu memperlakukan Hua Xiang bak ratu dalam istana cinta yang mereka bangun dengan gagah. Beratapkan rindu, bertiang kesetiaan, dan berdinding rasa saling percaya.
"Hua Xiang, apakah kau tetap menungguku selama ini?" bisik Xu Zhu di sela-sela cvm*buan mereka.
"Meski tiada ragaku, hancur diriku secara fisik. Namun selamanya aku berada di dalam ingatanmu. Semangatku akan menunggu hingga kita kembali bertemu," jawab Hua Xiang dengan sinar matanya yang teduh.
Xu Zhu mengedipkan matanya dengan lamban, menghela napas panjang lalu menghembuskan dengan cepat.
__ADS_1
"Selesai!"
Cletaakk! Xu Zhu memetikkan jari.
Wuusss !!! Seluruh keadaan berubah secara drastis.
Kali ini Xu Zhu berdiri di antara kobaran api dan puing-puing kehancuran. Pepohonan dan bangunan yang rata dengan tanah. Keadaan itu menunjukkan bahwa di sana baru saja terjadi peperangan yang begitu dahsyat. Semua kehidupan menjadi mati.
"Manusia !!! ini semua karena ulah manusia!" teriakan roh gentayangan menggaung di udara.
Bersama dengan hilangnya suara, muncul pusaran angin hitam di atas langit. Gelombang kebencian yang kian nyata, bersiap meluluhlantakkan Xu Zhu sebagai manusia yang tersisa di sana.
Xu Zhu mengangkat kedua tangannya, menyambut serangan dengan mengerahkan tenaga dalam. Bola energi yang tercipta dari kekuatan Xu Zhu meluncur deras, menghantam gelombang roh gentayangan lalu menghancurkannya.
"Arrgghhh! Arrgghhh! Manusia kepa*rat! Aaakkhhh ..." Singa kepala emas memegangi mata kirinya yang terluka dan mengucurkan darah segar.
Xu Zhu melayang turun, kembali menginjak tanah dengan penuh pesona. "Terima kasih, berkat dirimu aku mengingat beberapa hal dalam masa laluku."
Singa kepala emas menggertakkan kedua taringnya yang tajam. Dia menyadari jika kekuatannya telah dimanfaatkan oleh Xu Zhu. Sehingga Xu Zhu dapat mengulik masa lalu yang terlewatkan dalam ingatannya. Jawaban dari rasa penasaran yang menggelayut dalam hati Xu Zhu.
"Hanya tahu sedikit, kau tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tidak akan bisa merubah apa pun!"
Cras! Crass! Belum sempat mengedipkan mata, Xu Zhu telah kembali berdiri di tempat semula.
Bruuukkk !!! Suara benda besar terjatuh terdengar beberapa saat kemudian. Kepala siluman singa menggelinding berpisah dari tubuhnya.
Anehnya tiada darah yang tertumpah meskipun binatang sebesar itu dipenggal kepalanya. Darah justru berkumpul menjadi satu, membentuk sebuah kristal sebesar ibu jari. Dengan sendirinya, energi kehidupan siluman surgawi berubah menjadi pil sumberdaya.
Qin Tuo mengucek-ngucek matanya. Ledakan yang terjadi membuat tubuhnya berulang kali terhempas dengan keras. Hingga dia pun banyak melewatkan pemandangan keren, saat Xu Zhu mengalahkan singa kepala emas.
"Aahhh, jiwa darah itu ..." Qin Tuo hampir pingsan menyadari bahwa siluman singa telah berhasil dikalahkan.
"Apa yang kau sesalkan? Kau butuh pil jiwa darah untuk kepentingan pribadi?" tanya Xu Zhu menunjukkan pil jiwa darah di tangannya.
Qin Tuo menjatuhkan lututnya, merendahkan kepalanya hingga menyentuh tanah. Memohon Xu Zhu berbelas kasih agar sudi untuk menolongnya. Tak henti-hentinya Qin Tuo menyembah, sampai membuat hati Xu Zhu luluh.
"Terlahir dengan racun alami, berlatih ribuan tahun untuk ciptakan pil jiwa darah. Siapa dirimu?" tanya Xu Zhu.
__ADS_1
"Tuan, tubuh penuh racun saya sudah terbentuk sejak lahir. Agar bisa membuatnya kembali normal, saya membutuhkan pil jiwa darah untuk saya konsumsi. Tapi apa daya, pil yang dibuat leluhur saya justru dimakan oleh Singa Surgawi yang tidak mampu saya kalahkan."
"Melatih pil jiwa darah. Apakah kau seorang yang datang dari keluarga Qin di Sekte Qingshu? Kau kenal siapa Qin Yu?"
Qin Tuo terperanjat. Beberapa bulan yang lalu Qin Tuo baru berhasil keluar dari dalam belenggu kurungan. Qin Tuo sendiri sangat shock kala mengetahui jika dirinya telah terkurung selama sembilan ribu tahun lamanya. Artinya sudah beberapa generasi reinkarnasi terjadi. Bagaimana ada orang yang tahu nama Leluhurnya dengan jelas?
"Ba-bagaimana Tuan bisa tahu? Qin Yu adalah nama nenek moyang saya. Yang ada seribu tahun sebelum saya lahir. Saya hanya mendapat cerita mengenai nenek moyang dari kedua orang tua saya."
Qin Yu kemudian menjelaskan secara singkat akan kejadian tidak masuk akal yang terjadi pada dirinya.
Saat itu, peperangan tiba-tiba saja terjadi. Perang besar yang menghancurkan peradaban manusia. Mengetahui hal buruk akan terjadi, Ayah Qin Yu pun segera menyimpan Qin Yu ke dalam sebuah cangkang pelindung.
"Saya terbangun beberapa bulan yang lalu, di dalam hutan racun di Tanah Larangan ini. Saya menyadari jika masa telah berlalu begitu lama. Mendengar Tuan menyebut nama nenek moyang saya dengan jelas, apakah Tuan seorang yang tersesat sama seperti saya?"
"Leluhur adalah Patriark Sekte Jinlong kami. Pengetahuannya tanpa batas, kemampuannya tak terukur. Nona, jika Leluhur berbelas kasih apa imbalan yang akan kau berikan?" Zhang Lian adalah satu-satunya murid yang mengetahui latar belakang Xu Zhu. Hingga dia mencoba untuk menyembunyikan fakta dari murid Xu Zhu yang lain.
"Namaku Xu Zhu. Kitab praktik darah suci dan jiwa abadi merupakan hadiah yang aku berikan untuk Qin Yu. Saat itu, dia merupakan seorang remaja yang menderita seperti dirimu, teraniaya oleh racun yang terlahir di tubuh."
"Xu Zhu ???" Qin Tuo terbelalak. Seketika tubuhnya menggigil ketakutan. Menekan kepalanya kian rapat di atas tanah.
"Apa yang kau ketahui mengenai masa lalu? Apakah kau mendengar tentang sekteku? Apa yang terjadi sepuluh ribu tahun yang lalu?"
"AH, APAA ???" Lin Fei si mulut ember tidak bisa menahan dirinya. Menyembunyikan rasa terkejut bukanlah keahliannya.
Xu Zhu menoleh, menatap ketiga muridnya satu persatu. Kalau Huo Jia, itu hal wajar. Karena dia baru bergabung beberapa hari yang lalu. Tapi Lin Fei dan Gao Yin?
"Mereka tidak tahu?" tanya Xu Zhu pada Zhang Lian.
Zhang Lian menggelengkan kepalanya, kemudian berlutut memohon ampun. "Leluhur ... Zhang Lian mengaku bersalah."
"Patriark sangat keren! Pantas jika kemampuannya tak terbatas. Suatu keajaiban, anugerah dalam hidupku!" Lin Fei bersorak gembira.
Xu Zhu mengangkat tangannya, menghentikan ocehan para muridnya. Xu Zhu kembali fokus pada Qin Tuo.
Besar harapan Xu Zhu bisa mendapatkan tambahan informasi dari gadis racun ini. Kejadian yang terjadi di muka bumi tempo dulu, hal-hal yang Xu Zhu lewatkan selama dia melakukan meditasi.
Setelah tadi, Xu Zhu memperoleh petunjuk saat memasuki alam bawah sadar Singa kepala emas. Di sana Xu Zhu menemukan bahwa setelah perang besar terjadi dan hingga kini, Hua Xiang belum tiada. Semangat Hua Xiang masih bisa Xu Zhu rasakan, begitu nyata.
__ADS_1
Dari itu, Xu Zhu akan berupaya untuk bisa menemukan murid kesayangannya tersebut. Secepatnya.