
Tiba di ujung pantai, Xu Zhu menunjuk ke satu arah. Tempat yang "biasa saja", tidak mencolok dan istimewa. Hanya hamparan pasir putih dan barisan pohon cemara yang nampak oleh mata.
"Leluhur begitu rendah hati. Celakalah saya yang sama sekali tidak mengerti," Zhang Lian hanya bisa menghela napas.
"Dengan sendirinya, kau akan tahu. Sekarang kembalilah terlebih dahulu, temukan Lin Fei yang menyiapkan penginapan. Aku akan segera menyusul," ucap Xu Zhu, lalu dia melangkah berlalu.
"Baik, Leluhur." Zhang Lian memberi hormat, membiarkan Xu Zhu jauh barulah kemudian dia pun berhanjak dari pantai Baisha.
Xu Zhu mengerem mendadak. Dia tahu kalau muridnya sudah benar-benar pergi. Dari itu Xu Zhu kemudian berbalik badan, kembali ke tepi Pantai Baisha. Mencari seseorang.
Percaya atau tidak, Reinkarnasi itu ada. Xu Zhu yakin jika Hua Xiang masih menunggunya, seperti janjinya dahulu. Janji tulus gadis Hua yang pernah Xu Zhu dengar sepuluh ribu tahun yang lalu.
Reinkarnasi yang berarti lahir kembali atau kelahiran semula, atau bisa disebut titisan. Merupakan suatu kepercayaan bahwa seseorang akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik dan keadaan semula, melainkan jiwa atau ruh dari orang tersebut yang kemudian mengambil wujud identik meskipun tidak sama.
"Hua Xiang, akankah kau masih mengenali aku?" tanya Xu Zhu dalam hati.
Rasanya baru beberapa saat saja Xu Zhu dan Zhang Lian di sana. Akan tetapi pengunjung serta keberadaan orang-orang di Pantai Baisha tidak lagi seperti semula. Para pengunjung datang dan pergi, begitu banyak dengan berbagai tujuan.
Beruntung sekali karena Xu Zhu tadi telah mendeteksi aura serta energi yang dimiliki oleh wujud yang "diduga mirip" Hua Xiang, sehingga dengan mudah Xu Zhu bisa menyusul kemana pun Hua Xiang pergi. Xu Zhu bisa merasakan energi itu hingga bermil-mil jauhnya.
Dunia kultivasi benar-benar mengalami kemunduran. Apakah orang-orang zaman sekarang begitu sibuk? Hingga tidak punya cukup waktu untuk berlatih atau karena rasa malas yang telah membudaya? Xu Zhu tidak habis pikir.
Bagaimana tidak, dari ratusan orang yang Xu Zhu temui di sekitar kota Shanhu Jian ini, sangatlah sulit untuk sekadar menemukan seorang Kultivator yang berada pada puncak level Nascent Soul.
Xu Zhu memasuki sebuah restoran besar yang ramai pengunjung. Semakin dekat, energi yang Xu Zhu rasakan juga semakin kuat. Hua Xiang ada di sana.
"Tuan muda, selamat datang. Apakah kau sudah memesan tempat?" seorang pelayan datang menyambut dengan senyuman.
"Apakah sudah terlambat?" Xu Zhu balik bertanya seraya menyodorkan sekeping uang emas.
Pelayan itu terbelalak. Hampir dia tersedak oleh ludahnya sendiri. Pria di depannya terlalu sempurna. Sudah tampan, tajir melintir, pula tidak pelit.
"Aku masuk sekadar untuk melihat-lihat," ucap Xu Zhu.
"Si-silakan Tuan ... jika Anda butuhkan sesuatu jangan ragu untuk panggil aku."
Hanya satu anggukan lemah, Xu Zhu pun masuk ke dalam restoran dengan bebas.
Ketemu! Tidak sulit bagi Xu Zhu untuk menemukan meja tempat Hua Xiang di sana. Dan benar saja, gadis itu begitu mirip dengan Hua Xiang. Sayangnya, dia bukan praktisi beladiri. Hua Xiang "yang ini" bukan seorang Kultivator.
"Senyumnya tetap manis ..." batin Xu Zhu, yang kemudian mengambil posisi duduk yang mengarah tepat untuk bisa mengawasi Hua Xiang.
__ADS_1
"Nona Huo, kau begitu kuat minum arak. Hahaha!" seorang pengawal menggoda gadis yang mirip Hua Xiang.
"Uhuukk! Uhuukk!" Xu Zhu sampai tersedak dan terbatuk-batuk kala mendengar orang itu memanggil dengan sebutan Nona Hua.
"Tuan muda, kau baik-baik saja?" beberapa pelayan segera berlari mendekat. "Apakah ada yang salah dengan arak kami?"
Xu Zhu menggelengkan kepala berulang kali, kemudian mengibaskan tangannya untuk meminta para pelayan untuk segera pergi.
Saking kuatnya Xu Zhu batuk, bahkan orang-orang di meja sekitar sampai menoleh dan menatapnya. Termasuk Nona Huo itu. Keduanya saling bertatap dalam beberapa detik.
"Tidak, ini tidak ini tidak benar. Dia bukan Hua Xiang yang aku kenal. Dan andai pun jika benar Hua Xiang, aku tidak boleh seperti ini. Dasar gila!" di dalam hati Xu Zhu mengingatkan serta memaki dirinya sendiri. Bagaimana bisa, seorang Xu Zhu salah mendengar nama.
Layaknya orang yang tersesat ke lain dimensi, ketika hanya sendirian di muka bumi yang begitu ramai manusia tapi tidak seorang pun yang dikenali. Bisa dirasakan ketika bertemu dengan seseorang yang kita kenal. Mungkin kebahagiaan itulah yang Xu Zhu rasakan.
Dengan pengalaman serta kemampuannya yang begitu besar, tidak butuh waktu lama untuk Xu Zhu mengendalikan diri. Dia bukan orang yang bodoh, yang mudah terperangkap di dalam perasaan.
Huo Jia. Gadis itu bernama Huo Jia. Ingat! Dia bukan Hua Xiang, bahkan dia punya keluarga yang lengkap. Ayah, ibu dan seorang adik laki-laki. Tidak seperti Hua Xiang yang hanya sebatang kara.
Lantas, benarkah Huo Jia adalah titisan Hua Xiang yang telah bereinkarnasi ? Hua Xiang yang Xu Zhu kenal? Bagaimana latar belakang keluarga Huo Jia ini, Xu Zhu akan cari tahu semuanya. Rasanya tidak terlalu sulit.
°°°
Gao Yin mengurungkan niatnya untuk masuk, dia kembali menarik diri dan hendak melangkah pergi.
"Nona Gao, sebentar ..." Lin Fei menangkap lengan Gao Yin dan berusaha untuk memaksanya masuk ke dalam ruangan.
Tap! Wus! Secara spontan Gao Yin memutar pergelangan tangannya, melepaskan cengkraman Lin Fei yang mengejutkannya. Tanpa disengaja Gao Yin mengerahkan tenaga dalam untuk mendorong tubuh Lin Fei menjauh.
"Hup!" Lin Fei melakukan gerakan salto, sebelum kemudian mendarat sempurna di lantai.
"Aa, maaf!" Gao Yin kemudian masuk dan menutup pintu.
"Jangan terlalu dipikirkan. Huuhh, reaksimu sangat bagus," ucap Lin Fei seraya membersihkan pakaiannya dari sisa debu bekas pukulan Gao Yin.
"Setelah menelan Alkimia buatan Tuan Xu, aku merasakan kemampuan yang meningkat berkali lipat."
"Ya ... kau pun nampak lebih muda dan semakin cantik," puji Lin Fei tulus.
Gao Yin dan Lin Fei kemudian duduk berhadapan sambil menikmati kudapan yang telah disiapkan oleh pihak hotel.
"Belum pernah kita bicara sesantai dan sedekat ini. Aku rasa, Patriark memang sengaja memberikan kita waktu untuk saling mengenal lebih dekat." Lagi-lagi Lin Fei bicara dengan pedenya.
__ADS_1
Gao Yin tidak merespon. Jika dibandingkan dengan Xu Zhu tentu si Lin Fei ini tidak sampai seujung kuku hitamnya. Tapi kalau dilihat-lihat, sebenarnya pria ini cukup menarik.
"Harusnya aku ini sudah tiada. Saat itu aku mengakhiri hidup dan mengira aku berhasil. Sayangnya Tuan Xu menyelamatkan hidupku, bahkan memberikan aku obat Alkimia yang terbuat dari Teratai Emas. Kau bisa menebak, bagaimana kira-kira kualitas tubuhku saat ini." Ternyata, Gao Yin pun bisa menyombongkan diri.
"Patriark selalu adil pada setiap murid. Aku tidak heran," jawab Lin Fei santai tanpa beban. Merasa iri, tentu tidak terbersit dibenaknya.
Namun beberapa saat kemudian ekspresi Lin Fei berubah, dia menatap Gao Yin dengan dalam "bukannya kau ini seorang penyusup? Mengapa Patriark memberimu kepercayaan, ya? Heran. Hingga saat ini, statusmu juga tidak jelas. Kau belum resmi menjadi anggota sekte kami."
"Jaga bicaramu! Sejak di hutan kabut kala itu, aku sudah diakui menjadi salah seorang pengikutnya. Coba kau pikir, hingga sekarang bukankah aku lebih berguna dibandingkan dirimu?"
Lin Fei nyengir kuda. Tidak marah meski Gao Yin terang-terangan mengejeknya. Berbeda jika dengan Zhang Lian, di depan Gao Yin terlihat kalau Lin Fei begitu jaim.
"Saudara Lin, apa kau keberatan punya rekan seperti aku?" tanya Gao Yin.
"Aku seorang yang paling berlapang dada. Maafku bak samudera tanpa tepi, maklum ku layaknya butiran pasir di tepi pantai. Tak terhingga. Ya, meskipun kau pernah membuat aku begitu sakit hati, tapi aku anggap saja semua tidak pernah terjadi."
"Ah, benarkah?! Bisakah kau ingatkan aku? Aku akan coba untuk perbaiki di masa depan," kejar Gao Yin.
"Huuhhh, bahkan kau telah melupakannya," Lin Fei tertunduk.
Gao Yin berusaha mengingat, akan tetapi manalah bisa untuk menembus hati seseorang. Hingga yang bisa ia lakukan ialah mendesak dan merayu Lin Fei untuk memberi tahunya.
"Saat pertama kali kita bertemu!"
"Aahhh itu ..." Gao Yin tertawa kecil. Dia ingat sekarang, saat itu Gao Yin menggunakan trik penggoda untuk membuat Lin Fei takluk.
"Aku sama sekali tidak berniat menyakitimu saat itu. Apa aku salah?" tanya Gao Yin.
"Sama sekali tidak. Kau tidak salah, akulah yang salah. Harusnya aku tidak berharap bahwa semuanya adalah nyata."
Gao Yin menghela napas, tanpa komentar. Bagaimanapun juga hidupnya kali ini adalah pemberian Xu Zhu. Dari dasar hati yang paling dalam, Gao Yin akan bersumpah untuk mengabdi.
Bukan tidak tahu, begitu jelas terlihat kalau Lin Fei tertarik padanya. Namun Gao Yin terlalu takut untuk bicara jujur. Mengenai masa lalunya yang begitu kelam.
Gao Yin merupakan seorang janda. Tanpa anak juga tanpa mantan suami. Selain jadi simpanan ketua Sekte Mouyun, sebelumnya Gao Yin juga pernah menjadi wanita penghibur, primadona, mainannya bos-bos dan saudagar kaya.
Cepat atau lambat, status dan masa lalunya pasti akan terbongkar. Ada dia pilihan, Gao Yin yang bercerita atau menunggu orang lain yang membongkar.
Bukan sekadar namanya, juga nama Sekte yang akan ikut tercoreng bila borok masa lalu kehidupan Gao Yin dibongkar. Nama Sekte Jinlong yang sedang dibangun dengan susah payah, takutnya akan terkena imbas.
Pilihannya hanya satu, yakni Gao Yin harus membungkam mulut orang-orang yang menyimpan rahasia tentang dirinya. Melenyapkan mereka supaya tidak bisa bicara lagi.
__ADS_1