Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Perampok Hei Wugong


__ADS_3

Huo Nan, Ayahnya Huo Jia merupakan seorang saudagar yang punya banyak harta. Hingga dalam perjalanan kali ini mereka mendapat pengawalan yang ketat.


Senja itu, mereka sekeluarga sedang berjalan-jalan sambil menikmati indahnya berkas cahaya jingga yang memudar seiring jatuhnya matahari ke dalam lautan.


Tok! Tok! Tok!


Seorang peramal tunanetra menepuk alat musik yang terbuat dari bambu bulat. Seperti kentongan tapi ukurannya kecil dan panjang. Entah apa itu.


"Berita besar! Berita besar! Naga emas akan muncul, langit bertabur intan permata, curah kasih akan menjaga. Tapi saat kehadirannya, ekor naga membuat pepohonan tumbang," Tunanetra itu berulang kali mengatakan hal yang serupa.


"Ayah, apa yang dikatakan kakek buta itu?" tanya Huo Jia.


Huo Nan hanya tersenyum, mengangkat bahu karena memang dia tidak mengerti.


Huo Jia merogoh kantongnya, dia melangkah mendekati si peramal untuk memberinya beberapa tael uang.


Tep! Peramal tua itu menangkap tangan Huo Jia. Mulutnya nampak seperti merapalkan mantra sebelum kemudian mengungkapkan ramalannya.


"Gadis cantik, hidupmu akan dipenuhi keberuntungan. Kau akan bertemu dengan seseorang yang mencari mu dari jauh. Sungguh, kau wanita yang terpilih," perlahan peramal itu mengelus telapak tangan Huo Jia.


"Aku sangat senang jika hidupku begitu sempurna. Apakah aku akan segera mendapatkan jodoh?" pertanyaan Huo Jia itu membuat ayah dan ibunya hampir mati tersedak. Saking kagetnya.


"Tapi sayangnya, indahmu layaknya rembulan purnama. Terlihat jelas, sangat dekat, tapi tidak bisa diraih. Kehidupan asmaramu tidak baik-baik saja."


"Ah, mengapa begitu jelek?! Kakek, aku minta bantuan doamu supaya hidupku jauh lebih baik," tukas Huo Jia dengan sedikit senyum getir.


Menyaksikan kejadian itu, para pengawal bayaran Huo Nan hanya tersenyum mencibir. Seorang pengemis tunanetra dengan lantang bicara sampah, yang semua hanyalah bualan semata.


Ketika Huo Jia dan keluarga hendak melanjutkan perjalanan mereka, mendadak terjadi kehebohan. Orang-orang berteriak histeris dan lari ketakutan.


Belum sempat menyelamatkan diri, kelompok perampok Hei Wugong telah muncul dan mengepung mereka. Dengan berpakaian serba hitam dan memakai pelindung wajah, mereka merupakan kelompok perampok paling ditakuti di seantero kota Shanhu dan sekitarnya.


"Huo Nan, tidak perlu aku membuang tenaga untuk bisa temukan anak gadismu, kau sendiri yang datang mengantarkan," seorang pria tinggi gemuk maju memberikan salam sapa pada Huo Nan.


"Fuiihh! Kalian perampok tidak tahu norma, beraninya menampakkan batang hidung di sini. Kalian tahu, jika kepala kalian seharga puluhan tael emas?" seorang pengawal Huo Nan pasang badan.


Hari belum malam, tapi para perampok keji itu sudah menampakkan diri. Jumlah mereka belasan orang, yang kesemuanya berdarah dingin.


"Percuma mengirim utusan untuk panggil aparat. Takutnya kalian tidak sempat lagi melihat mereka datang!"


"Huo Nan! Aku tawarkan dua pilihan. Pertama biarkan kami membawa anak gadismu dan kami biarkan kalian semua selamat. Atau pilihan kedua, kalian semua kami bantai dan anak gadismu tetap kami bawa!" pimpinan pasukan rampok mengajukan pilihan sulit.


"Tutup mulutmu! Yaaattt !!!" seorang pengawal dengan cepat menghunus pedang kemudian menyerang pimpinan perampok tersebut.


Craasss! suara tajamnya pedang dengan mudah membungkam laju pengawal Huo Nan. Tubuhnya ambruk ke tanah, kelojotan lalu meregang nyawa.

__ADS_1


Hei Wugong, mendengar nama kelompok itu saja sudah cukup membuat bulu kuduk berdiri. Kemampuan para anggota rampok rata-rata telah membuka level Fondation Establishment.


"Hahaha!" para perampok serentak tertawa.


Terlihat tekanan dirasakan oleh para pengawal Huo Nan. Jelas mereka tidak akan mampu untuk menghadapi kehebatan para perampok Hei Wugong.


"Bawa saja aku! Tolong jangan sakiti ayah dan keluarga ku!" Huo Jia bangkit dan berseru lantang.


Tentu saja ayah ibu dan yang lainnya tidak mengizinkan Huo Jia untuk pergi. Namun tidak ada pilihan lain, Huo Jia tidak ingin melihat darah jatuh tertumpah.


Saat itu, pihak keamanan datang. Mereka segera berupaya untuk melumpuhkan anggota rampok Hei Wugong. Pertarungan pun segera terjadi.


"Mengapa buru-buru?"


Huo Nan, Huo Jia dan beberapa orang pengawalnya tersentak.


Dikala mereka mengambil kesempatan untuk lari, tiba-tiba muncul tiga orang lain yang menghadang. Tiga orang ini miliki kemampuan yang berada di puncak Fondation Establishment. Mereka jauh lebih kuat.


Belum sempat berbuat banyak, seorang dari mereka telah menangkap dan menyandera Huo Jia. Pedang nan tajam menempel di leher Huo Jia.


"Anakmu adalah milik kami. Nyawa kalian tidak akan cukup sebagai penghalang untuk kami tetap pergi!" desis suara dengan tekanan tenaga dalam.


Pengawal Huo Nan dengan kemampuan paling kuat pun sampai bergetar dibuatnya.


"Tidak ada hak milik, dan tidak akan ada yang bisa pergi!" terdengar suara lain, diiringi hembusan angin nan lembut yang dengan itu serta merta melenyapkan pengaruh energi kekuatan yang dilepaskan si penyandera.


"Pemurnian energi ini ... berada di ranah apakah dia?" ketiga perampok itu sampai terheran.


Belum reda rasa terkejutnya, Xu Zhu telah datang dan menjauhkan pedang yang menempel di leher Huo Jia "hati-hati, pedang ini sangat tajam."


"Gadis Huo, kau akan aman bersamaku," Xu Zhu menarik Huo Jia untuk berlindung di belakang punggungnya.


"Fuiihh! Sekelas pemurni energi sok jadi pahlawan kesiangan. Mau unjuk kemampuan? Takutnya kau gemetaran ketika melihat kekuatan sejati level puncak Fondation Establishment!" seraya meludah, seorang dari mereka menyombongkan kemampuannya.


"Aku tidak suka ketika orang yang aku suka ditindas. Apa pun ranah dari kemampuanku, kalian harus tahu jika pedang ini sangat tajam. Dan satu hal lagi, aku begitu mahir menggunakan trik pedang rahasia!"


"Apa aku tidak salah dengar?! Hahaha !!!" ketiganya tertawa terpingkal-pingkal.


Xu Zhu memutar bilah pedang di tangannya, kemudian memutar kaki dan melakukan gerakan ringan.


"Apa sekarang dari kalian masih ada bisa tertawa?" tanya Xu Zhu.


Salah satu dari mereka hendak menjawab. Akan tetapi dia begitu kaget menyadari sesuatu membasahi lehernya.


"Aaa ... aaa ..." serentak ketiga perampok itu memegang leher mereka, kiranya sebilah pedang telah menebas putus urat nadi di leher mereka.

__ADS_1


"Apakah pedangku tajam? Sayang sekali, kalian tidak bisa menjawab," Xu Zhu menggelengkan kepalanya.


"Teknik rahasia pedang bulan purnama?" mereka terperanjat.


Sekte pemilik trik pedang tersebut konon beranggotakan hanya beberapa orang yang kesemuanya adalah wanita. Tapi jelas jika Xu Zhu adalah seorang laki-laki.


Seketika itu juga, pertarungan berhenti. Kelompok rampok Hei Wugong tidak lagi nampak beringas. Bahkan mereka tidak tahu bagaimana dan kapan ketiga petarung andalan mereka dibu*nuh.


"Hmm ... puluhan tael emas? Harga kepala kalian mahal juga," ucap Xu Zhu.


Semua orang melangkah mundur. Kecuali Huo Jia yang masih berlindung di belakang Xu Zhu.


"Si, siapa kau? Mengapa ikut campur urusan kami!" pimpinan rampok yang tadi beringas dan seram, sekarang suaranya terdengar bergetar.


"Namaku Xu Zhu. Aku datang dari kabupaten Long Dao. Sekteku bernama Jinlong. Sudah jelas?" suara Xu Zhu mendominasi.


"Sayang sekali, seorang Qi Refining coba untuk menggertak kami. Katakan, jimat dewa semacam apa yang kau miliki hingga kau terlihat hebat!" pimpinan rampok Hei Wugong telah berhasil menguasai dirinya, dia coba untuk memprovokasi anak buahnya, supaya tidak gentar berhadapan dengan Xu Zhu.


Umumnya jimat dewa, material surgawi, pil kuno, dan segala jenis benda yang miliki kemampuan meningkatkan trik membunuh, hanya bertahan satu atau dua kali pemakaian. Selanjutnya akan kembali pada kemampuan normal.


"Kenapa diam? Kau takut sekarang?! Hahaha! Tidak akan ada yang bisa kau lakukan lagi untuk selamatkan gadis yang kau suka. Dia adalah milik kami!"


"Hmm, benarkah? Akan tetapi, aku rasa kalian akan lebih terhormat untuk mati di tangan kultivator ranah abadi Nascent Soul. Hingga aku tidak perlu mengotori tangan!"


Belum semua orang mengerti akan ucapan Xu Zhu, saat mendadak muncul seorang wanita cantik seksi nan menggoda, dengan aura membu*nuh kekuatan ranah abadi Nascent Soul. Siapa lagi, dia adalah murid Xu Zhu. Gao Yin.


"Hujan bunga kematian!" Gao Yin mengibaskan kipas di tangannya.


Seketika itu juga, puluhan kelopak bunga berwarna ungu menyala bermekaran di udara. Kelopak bunga nan indah yang kemudian meluncur jatuh bak pisau pembunuh.


Dalam sekejap mata, Gao Yin berhasil mencelakai seluruh perampok. Kecuali seorang rampok yang tubuhnya terlindungi oleh lapisan energi pelindung. Sengaja Xu Zhu menyisakan satu orang itu, sebagai petunjuk jalan untuk menuju markas para perampok.


"Hah?! Sudah berakhir ??? Patriark, apakah aku hanya untuk berolahraga lari sore?" Lin Fei yang baru muncul langsung bersuara lantang.


Gao Yin datang lebih cepat karena dia miliki ranah kemampuan yang lebih tinggi. Hingga bisa melayang dari pohon ke pohon.


Xu Zhu menatap pada seorang rampok yang tersisa, dengan sudut matanya memberikan isyarat pada Lin Fei.


"Kepala mereka punya harga. Temukan harga dan penawaran yang bagus! Lakukan dengan cepat, jangan tunjukkan rasa belas kasih!"


"Tuan pendekar ... aku tahu di mana markas mereka!" seorang prajurit angkat bicara.


"Kalau begitu, artinya aku tidak membutuhkan orang ini!" jawab Lin Fei bersiap mengangkat tangan.


"Ampun, ampun, ampuunnn ... aku lebih tahu mengenai seluk beluk persembunyian kami. Mohon jangan bunuh aku ..." rampok itu memohon.

__ADS_1


Nampaknya jalan Lin Fei kali ini tidak begitu sulit. Tanpa banyak bicara mereka segera bergegas. Para perampok kejam yang meresahkan itu akan menerima balasan.


__ADS_2