Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Masa Lalu yang Malang II


__ADS_3

"Emm ... mengapa air di sini begitu aneh?" Gao Yin merasa heran. Baru saja dia selesai mandi, tapi tubuhnya malah terasa semakin gerah.


Detak jantung yang bertambah, membuat Gao Yin semakin tidak karuan. Napasnya naik turun, dengan pikiran yang melayang jauh. Belum pernah Gao Yin mengalami hal semacam ini mengingat dia hanya seorang anak yang baru tumbuh remaja. Bahkan dia pun belum dapat tamu bulanan.


Gao Yin mengganti pakaiannya dengan pakaian yang telah disiapkan. Pakaian dengan bahan yang bagus tapi terlalu pendek untuknya. Tidak ada pilihan lain, Gao Yin terpaksa memakainya.


Saat kembali ke tempat di mana Zao Ji Han menunggu, Gao Yin disambut dengan senyum hangat. Senyum penuh kasih sayang, senyum yang membuat Gao Yin tidak was-was lagi.


"Nikmati ini dulu, sabar saja ..." ucap Zao Ji Han.


Dengan malu-malu, Gao Yin mengangguk dan menerima pemberian Zao Ji Han. Entah makanan khas mana itu, rasanya sangat aneh. Air minumnya juga membuat kepala terasa berat.


Zao Ji Han tersenyum licik. Senyum penuh kemenangan, karena dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak ada yang bisa menolak kehendaknya, bahkan Gao Yin itu sendiri.


Tanpa ragu dan malu, Zao Ji Han bergeser mendekati Gao Yin. Nampak ada benda yang mengeras, meronta ingin keluar. Aroma tubuh Gao Yin membuatnya mabuk kepayang.


Gao Yin telah kehilangan kemampuan berpikir. Otaknya tidak lagi bekerja dengan sempurna, sehingga dia hanya diam dan pasrah saat telapak tangan Zao Ji Han menyentuh pundaknya.


"A, Tu-Tuan ..." ekspresi Gao Yin sedikit kebingungan, menyadari tangan Zao Ji Han bukan sekadar mengelus pundaknya, melainkan terus merambat turun menjelajah tidak tentu arah.


"Sssttt ... cuma pegang sedikit. Tidak apa-apa ..." bisik Zao Ji Han di telinga Gao Yin.


Gao Yin hanya menelan ludah. Namun tak kuasa untuk menolak perlakuan Zao Ji Han terhadapnya.


Zao Ji Han memeluk Gao Yin dari belakang. Sementara bibir tebal dan berkumis itu mencivm dan menjilat telinga Gao Yin, tangannya telah lebih dulu menyusup ke dalam baju yang Gao Yin kenakan.


"Uuuh, luar biasa! Halus dan sempurna ..." Zao Ji Han mendesis.


Perut Gao Yin yang rata disentuhnya secara perlahan, kemudian kedua tangan nakal itu terus bergerak naik ke atas. Tanpa butuh waktu yang lama, Zao Ji Han telah menemukan adanya daging padat di dada Gao Yin.


Belum pernah ada satu orang pun pria yang menyentuh tubuh Gao Yin. Hal ini membuat Zao Ji Han semakin hati-hati, tidak ingin melewatkan sedikit pun permukaan kulit halus Gao Yin. Menikmatinya dengan penuh perasaan.


Sudah puluhan bahkan ratusan tubuh wanita yang dia gagah*i, tapi tubuh Gao Yin sangatlah istimewa. Seperti ada candu tersendiri, yang membuat Zao Ji Han begitu mabuk kepayang.

__ADS_1


"Uuhhh, sangat alami ..." komentar Zao Ji Han mendapati benda-benda sen*sitif, perabotan milik Gao Yin yang masih ASLI.


Dada Gao Yin yang padat berisi, berdiri tegak dengan kenyal. Ujungnya yang sama sekali belum tersentuh, masih bersembunyi, malu-malu untuk menampakkan diri. Zao Ji Han meremasnya dengan perlahan, lalu menghisap ujung berwarna merah muda itu dengan penuh kelembutan.


"Aaa ... ehhh ..." mata Gao Yin terbelalak, merasakan sentuhan demi sentuhan yang membuatnya kejang.


Meskipun baru pertama kali, namun kepandaian Zao Ji Han dalam mengolah perasaan, membuat Gao Yin menjadi nyaman. Seiring waktu berjalan, Gao Yin menikmati sentuhan itu pula dengan gelora nafsu.


Cruupp! Sroottt!


Kepala Zao Ji Han terbenam di bawah selang*kangan Gao Yin. Lidah pria gemuk itu menggelitik biji kacang merah dengan gemas. Kumisnya yang tebal membuat Gao Yin semakin kelimpungan. Geli-geli nikmat yang ia rasakan.


Pengaruh obat ramuan yang diberikan Zao Ji Han benar-benar paten. Dengan ramuan itu, dia bisa dengan mudah mengendalikan pikiran seseorang. Sehingga saat itu, Gao Yin tidak sadar kalau sebentar lagi dunianya akan hancur.


"Aa, aauuu ... sakit Tuan. Sakit ... sshhh," Gao Yin mendesis, coba menahan perut Zao Ji Han yang menindihnya.


"Tahan ya ... cuma sebentar. Tidak lama juga akan terasa sangat enak. Percaya padaku," Zao Ji Han meyakinkan.


Kepala jamur milik Zao Ji Han yang mengembang besar dan juga keras, mengalami kesulitan untuk bisa menerobos sempitnya apem Gao Yin. Maklum, apem milik seorang bocah remaja yang baru pertama kali kedatangan tamu. Tidak tanggung, sekali datang tamunya pisang ambon.


"Kasih pelumas dulu, sayang. Biar lancar, ya ..." tanpa sedikit pun rasa iba, Zao Ji Han memaksa seorang bocah remaja berusia 13 tahun untuk memakan pisang ambon miliknya.


Benar-benar ... sensasi rasa yang membuat merem melek. Walau baru pertama kali, tapi Gao Yin cepat paham dalam menerima pelajaran.


"Uuhhh ..." Zao Ji Han menarik pisang ambon miliknya dari dalam mulut Gao Yin. Sudah tidak tahan lagi, dia pun kembali mengarahkan kepala pisang untuk mengoyak apem sempit milik Gao Yin.


"Aaa! Aaaa! Sakit ... auuu, aaa !!!" lengkingan teriakan Gao Yin tidak lagi dihiraukan. Zao Ji Han menekan amblas miliknya, mengoyak masa depan Gao Yin tanpa perasaan.


Gao Yin menangis, berteriak dan meng*erang kesakitan. Justru hal tersebut menjadikan Zao Ji Han semakin brutal. Ada sensasi tersendiri yang Zao Ji Han rasakan, fantasi gila dalam menggau*li pasangan di atas ranjang.


"Uuhhh, aahhh, uhhh ..." Zao Ji Han menceracau, hingga kemudian pinggulnya di sentak dan menekan sangat dalam. Ya, dia menumpahkan semuanya di dalam.


Gao Yin tidak merasakan apa pun lagi. Kesadarannya tinggal seujung kuku. Untung dia tidak pingsan atau bahkan celaka. Malam itu, dia kehilangan segalanya.

__ADS_1


Gao Yin yang pingsan dibiarkan sendiri. Zao Ji Han memerintahkan anak buahnya untuk terus berjaga. Kemudian esok hari Gao Yin pun dipindahkan ke kediaman para gundiknya Zao Ji Han.


Begitu banyak gadis yang mengalami nasib yang sama. Mereka semua tinggal di tempat mewah tapi terasa seperti di neraka.


Setiap malam, Gao Yin harus melayani Zao Ji Han. Menjadi anak emas ternyata sangat melelahkan. Persetan dengan kalimat sayang yang Zao Ji Han ucapkan. Meskipun Zao Ji Han telah jatuh cinta, tidak mungkin bagi Gao Yin akan menerima sosok iblis yang merusak hidupnya.


Singkat cerita, dua tahun telah berlalu. Gao Yin sekarang telah menjadi sosok gadis 15 tahun yang teramat sangat cantik. Dia hidup diurus oleh kaki tangan Zao Ji Han, yang memberikan pelayanan istimewa.


Diakhir usia 15 tahun, Gao Yin mendapati perutnya yang kian membesar. Ya, dia hamil. Hamil anak dari seorang baji*ngan kepa*rat!


Ada beberapa pasang mata yang sempat melihat kecantikan wajah Gao Yin. Mereka adalah utusan rumah bordil saingan usaha Zao Ji Han. Tubuh Gao Yin yang begitu indah, membuat mereka tergiur untuk menjadikan Gao Yin sebagai ratu, anak emas di rumah bordil milik mereka.


"Kabarnya Zao Ji Han tidak menjual gadis semlehoy itu. Bahkan dia mengha*milinya, dan inginkan keturunan dari gadis itu."


"Kita lapor bos! Biar ini menjadi urusan bos-bos. Dan aku berani jamin bos kita pasti akan tertarik!"


Gelombang bencana tak henti-hentinya menerpa. Gao Yin yang saat itu dijadikan gundik oleh Zao Ji Han harus dihadapkan pada musibah lain. Yakni ketika orang-orang bayaran dari rumah bor*dil menyerang kediaman Zao Ji Han.


Sedikitnya ada belasan pendekar yang datang. Membabat habis para penjaga, bahkan Zao Ji Han pun tewas di sana. Gao Yin kehilangan ayah kandung dari anak yang ada di rahimnya.


Siapa sangka, ternyata itu bukanlah akhir. Kiranya Gao Yin lah yang menjadi incaran dalam penyerangan tersebut. Gao Yin yang sedang hamil besar pun ditangkap dan dibawa secara paksa.


"Satu bulan waktunya, untuk membuat dia kembali seperti semula ..." seorang wanita tua bicara di samping Gao Yin yang terbaring lemah.


Untuk menjadikan Gao Yin sebagai primadona, mereka harus membuang janin dalam kandungan Gao Yin. Kemudian memaksa Gao Yin melakukan serangkaian diet dan olah raga. Hingga kembali memiliki tubuh yang sempurna.


Hanya air mata yang menyertai hari-hari Gao Yin. Dia yang sudah tidak lagi memiliki harapan untuk hidup, juga tidak punya keberanian untuk mati. Menjalani hari-hari sebagai wanita penghibur di rumah bordil.


Usia Gao Yin 20 tahun ketika pertama kali dia bertemu dengan Tetua Bai Huzi, Patriark Sekte Mouyun. Yang kemudian membebaskan Gao Yin dari rumah bordil.


Menjadi wanita simpanan Tetua Bai, Gao Yin miliki kesempatan untuk berlatih ilmu beladiri. Hingga keinginan balas dendam pun terwujud setelah Gao Yin berkultivasi, dengan bantuan sumberdaya yang diberikan oleh Tetua Bai.


Kemampuan Gao Yin meningkat pesat. Saat balas dendam pun akhirnya terwujud. Gao Yin membu*nuh semua orang yang terlibat dalam masa lalunya, orang-orang yang membuat dirinya jatuh dalam kubangan penuh kehinaan.

__ADS_1


Dengan catatan masa lalu tersebut, akankah Sekte Jinlong dan teman-temannya akan menerima kehadiran Gao Yin? Belum lagi, dalam menghadapi ancaman pembu*nuhan dari Bai Huzi dan Sekte Mouyun yang telah Gao Yin khianati. Entah sampai kapan Gao Yin mampu untuk bertahan.


__ADS_2