Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Masa Lalu yang Malang


__ADS_3

Semakin Xu Zhu menyelam, semakin dalam dia tenggelam. Bukan ranah kemampuan dalam dirinya, melainkan titik lain yang lebih dalam lagi. Menghisap begitu banyak kekuatan sihir dan energi spirit milik Xu Zhu.


"Sejauh aku baik-baik saja, maka bukan menjadi masalah. Mungkin dalam kehidupan baruku sekarang, diperuntukkan untuk melatih otot dan sendi."


Xu Zhu meraih sebuah kitab pukulan surgawi, membaca dan mengulang ingatannya tentang jurus tinju tangan kosong yang lama dia tinggalkan. Selain itu, Xu Zhu pula memperkuat kemampuan tendangan. Dia muncul sebagai petarung tangan kosong yang mematikan.


Pedang Yongheng, Pedang Shuang yue, Pedang Taiyang, dan banyak pedang pusaka surgawi lainnya yang berhasil Xu Zhu dapatkan sepuluh ribu tahun yang lalu. Semua tertata rapi dalam dunia penyimpanan Xu Zhu. Sepertinya, untuk kedepannya pedang-pedang ini akan lebih sering Xu Zhu gunakan.


Demi Hua Xiang, bahkan Xu Zhu rela merubah latar belakang kemampuan serta kehidupannya. Begitu berartinya sosok Hua Xiang dalam hidup Xu Zhu. Memang, cinta itu buta.


"Tuanku ... Tuanku ..." Youqu terburu-buru datang. Sepertinya dia peroleh berita penting.


"Sudah kau temukan?" tanya Xu Zhu.


"Ada hal lain, Tuan ..." kiranya Youqu mendengar sesuatu yang lain dalam perjalanannya, hingga dia lebih dulu mencari tahu kebenaran berita.


"Aku memintamu untuk menemukan jalan ke dunia Jinji. Apa menurutmu ada hal lain yang lebih penting dari pada Hua Xiang?!" Xu Zhu menahan amarahnya.


"Tuanku, Alam Sihir Laut Dalam muncul ke permukaan. Apakah ini berkaitan dengan hilangnya kekuatan sihir dalam diri Anda?!"


Alam sihir laut dalam?! Xu Zhu mengerutkan dahi. Ingatannya kembali terlempar, Hua Xiang pernah membicarakan tentang itu. Rasanya semua ini bukanlah sebuah kebetulan.


°°°


"Ibu ... ibu ... huuhuu ... jangan tinggalkan aku! Huuu, ibu !!!"


"Yin'er ... maafkan ayah, nak ... maaf ..." sepatah kata terakhir yang terucap dari mulut seorang pria gagah.


Ayah. Pria penuh tanggung jawab yang rela bertaruh apa pun demi keluarganya. Bahkan selembar nyawa pun harus melayang untuk pertahankan kehormatan keluarganya.


Gao Liyue. Dia adalah ayah Gao Yin. Seorang pria sederhana yang harus hadapi kenyataan pahit. Dia dijebak, dituduh melindungi perampok. Sampai-sampai keluarganya pun harus menerima konsekuensi atas apa yang tidak Gao Liyue lakukan.


Gao Yin adalah satu-satunya anak Gao Liyue. Ketika itu, usia Gao Yin masih 13 tahun. Saat dia menyaksikan sekelompok orang datang dan mengacak-acak rumahnya. Ayahnya dipukuli, ditusuk dan diperlakukan layaknya hewan.


Tangis Gao Yin pun pecah ketika dia menyaksikan bagaimana orang-orang jahat itu menggorok leher ibunya hingga nyaris putus. Sang Ayah yang coba melindungi, mengalami nasib serupa. Dada Gao Liyue ditusuk sebilah pedang hingga tembus ke punggung.


Awalnya Gao Yin telah berada di tempat yang aman, bersembunyi di balik tanaman perdu yang sengaja didesain oleh sang ayah sebagai tempat berlindung. Akan tetapi saat menyaksikan kedua orang tuanya dihabisi dengan cara yang begitu keji, jerit tangis Gao Yin tidak lagi tertahan.

__ADS_1


Berusaha untuk mendekat dan menyentuh jasad kedua orang tuanya, tapi sia-sia. Tangan kekar telah lebih dulu menangkap dan menyeretnya.


"Bina*tang! Kepa*rat kalian! Dasar iblis!" Gao Yin coba berontak dengan sekuat tenaga.


Mulut Gao Yin tak berhenti memaki dan mengumpat para penjahat itu, meluapkan rasa kebencian dalam hatinya. Seandainya mampu, saat itu juga Gao Yin telah membalas mereka semua yang menghabisi ayah dan ibunya.


Plaakk!


Pukulan keras mendarat di tengkuk Gao Yin, membuatnya kehilangan kesadaran.


Sebelum Gao Yin benar-benar menutup matanya dan pingsan, untuk terakhir kalinya dia menyaksikan rumahnya dilahap si jago merah. Tempat yang telah dia tempati selama ini, tempat dia dilahirkan dan menjalani masa kecil penuh tawa.


Air mata Gao Yin tidak sempat keluar, dia keburu pingsan dan harus merelakan tempat tinggalnya berikut kedua orang tuanya lenyap menjadi abu dilahap api yang membumbung tinggi.


Ketika membuka mata, Gao Yin telah berada di tempat yang tidak dia kenal. Dengan pakaian bagus serta perhiasan yang melekat di tubuhnya.


"Aaa !!! Di-di mana aku?? Ayah ... ibu !!!" Gao Yin menjerit histeris.


Brak! Brak! Brakkk!


Gao Yin coba mendobrak pintu dan jendela. Tapi semuanya terkunci dengan rapat. Sekuat apa pun Gao Yin berusaha, hasilnya tetap sama. Hingga pada akhirnya Gao Yin hanya bisa menangis sesenggukan, meratapi nasibnya yang malang.


Gao Yin mengangkat kepalanya, dengan tatap penuh harapan dia bangkit untuk coba cari perlindungan.


"..." Gao Yin terdiam, kehabisan kata-kata saat kemudian dia melihat wajah orang-orang yang datang.


Langit menjadi semakin suram. Awan hitam disertai petir menyambar di atas kepala. Tiada lagi harapan yang bisa Gao Yin harapkan. Salah satu dari mereka, adalah orang yang menyeretnya keluar paksa dari rumah. Iblis berwujud manusia yang menyebabkan dia menderita.


"Hehehe, bagus, bagus ... aku suka. Kalian memang bisa diandalkan." Seorang pria setengah baya berjalan di antara kelompok orang itu. Perutnya yang buncit dan kumisnya yang tebal semakin memperkuat auranya sebagai sosok bangsawan.


"Cup, cup, cup ... manis jangan menangis. Jangan takut, pantang bagi Zao Ji Han menyakiti seorang gadis manis ..." pria menyeramkan tersebut berjalan menghampiri Gao Yin yang semakin ketakutan.


Zao Ji Han adalah saudagar kaya, termasuk dalam jajaran lima orang terkaya di kabupaten Linju. Salah satu kegemarannya ialah mengoleksi daun muda. Gadis-gadis cantik dari berbagai pelosok desa dia kumpulkan untuk dijadikan boneka pemuas nafsunya.


Bisnis keluarga Zao Ji Han mencakup seluruh aspek. Salah satunya, dan yang paling menjanjikan yakni prostitusi.


Gadis-gadis muda atau lebih tepatnya remaja, akan mereka culik dan terlebih dahulu disekap dan dipaksa melayani Zao Ji Han dalam beberapa waktu. Bahkan ada yang sampai bertahun-tahun. Tergantung selera Zao Ji Han itu sendiri.

__ADS_1


Ketika itu, usia Gao Yin baru 13 tahun. Jadi dia belum begitu memahami akan nasib buruk yang menghampiri. Ketika tangan Zao Ji Han membelai rambutnya dan mengucapkan kata-kata manis, Gao Yin dengan mudahnya terpengaruh dan mengira kalau Zao Ji Han orang baik.


Dengan satu kibasan tangan, seluruh kaki tangan Zao Ji Han segera keluar dari dalam bilik. Mereka berjaga di luar, mengamankan juragan mereka yang bersiap menyantap hidangan spesial.


"Tu, Tuan ... Gao Yin takut ..." di sela tangis yang mulai mereda, Gao Yin miliki keberanian untuk bicara. Kewaspadaannya mulai mengendur, terbuai oleh perkataan Zao Ji Han yang menekuk hatinya.


Dengan sabar dan ramah, Zao Ji Han mengajak Gao Yin mengobrol. Coba untuk menenangkan Gao Yin. Dan ketika dia memberi Gao Yin segelas minum, dengan tanpa ragu Gao Yin pun menerimaku. Mereka minum bersama.


"Ya, sudah. Sekarang kau mandi dulu. Aku akan tunggu kau di sini. Nanti setelah itu, sekalian kau ikut ke tempatku. Tinggal di sana, bersamaku dan yang lain," senyum di wajah Zao Ji Han menghilangkan kesan angker di wajah seramnya yang berkumis.


Gao Yin yang polos pun mengangguk. Lekas berdiri dan menuruti apa yang Zao Ji Han katakan.


"Hehehe ... anak ini sangat istimewa. Wajahnya begitu cantik dan tubuh sekal padat berisi. Hampir aku tidak bisa mengendalikan diri ..." gumam Zao Ji Han seraya memperbaiki celananya yang kian menyempit.


Sebenarnya gelora nafsu Zao Ji Han telah meronta dan batang kebanggaan miliknya pun telah menggeliat ingin menunjukkan pesona gagahnya. Namun Zao Ji Han sekuat tenaga coba untuk menahan. Dia ingin menikmati tubuh Gao Yin dengan penuh perasaan bukan paksaan.


"Aku yakin, anak ini masih perawan. Huuhhh, alangkah nikmatnya bisa merasakan sesuatu yang sudah lama tidak aku temui. Aku ingin punya anak dari rahimnya." Zao Ji Han menyeringai. Seringai menjijikkan yang lebih busuk dari kotoran hewan.


Tidak bisa dipungkiri. Gao Yin memiliki wajah yang ayu dan tubuh yang sangat proporsional. Bentuk buah dadanya bulat dan indah dipandang mata. Belum lagi bokongnya yang memanjakan mata tiap kali dia melangkah. Munafik bagi seorang pria yang menampik pesona tersebut.


"Di usia 13 tahun saja sudah semok begitu. Nanti setelah di tanganku, maka akan ku bentuk semakin menarik. Hehe ..." Zao Ji Han tertawa sendiri, mencium kedua telapak tangannya yang sudah tidak sabar ingin menjamah dan meremas daging-daging kenyal di tubuh Gao Yin.


Tanpa disadari, kamar mandi yang Gao Yin pakai memiliki batas transparan jika di lihat dari luar. Hingga apa pun yang Gao Yin lakukan di dalam sana, terlihat jelas oleh kedua mata mesum Zao Ji Han.


Batang kebanggaan milik Zao Ji Han kian tegak mengeras ketika Gao Yin mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya. Hingga kemudian tubuh polosnya pun terekspos tanpa terhalang sehelai benang. Keindahan yang sangat sempurna! Air liur Zao Ji Han hampi menetes.


"Saatnya hampir tiba ..."


Zao Ji Han telah memasukkan serbuk perang*sang ke dalam air minum Gao Yin. Serbuk biadab yang pula mikiki kemampuan untuk hilangkan kesadaran diri seseorang, sampai hilang kendali dan lupa daratan.


Dengan kata lain, setelah selesai mandi nanti maka tubuh dan pikiran Gao Yin akan menjadi milik Zao Ji Han. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, manut pada perintah. Apa pun yang dikatakan Zao Ji Han akan Gao Yin turuti, termasuk menyerahkan mahkota dara yang selama ini dia jaga.


Kreekkk !!! Pintu kamar mandi terbuka.


Gao Yin keluar dengan senyum hangat, membalas kedipan mata Zao Ji Han. Gao Yin telah siap untuk menghangatkan ranjang, melayani Zao Ji Han yang brutal.


_Bersambung ...

__ADS_1


Tahan, ya ... tunggu episode selanjutnya (⁠•⁠‿⁠•⁠)


__ADS_2