Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Keberadaan Semangat Hua Xiang


__ADS_3

"Hahaha !!! Dasar manusia lemah! Dengan ini, aku bisa membangkitkan kekuatan energi spiritual di dalam tubuhku!"


Da Yinshen tertawa lebar. Tangannya melambai, menarik kristal energi dari tubuh Xu Zhu. Bisa mengalahkan seorang pendekar dengan kemampuan spiritual sangat tinggi, akan membuat Da Yinshen mencapai kemampuan yang serupa.


"Dengan energi kehidupan ini ... APA ??!! Kepa*rat!" Da Yinshen tersentak saat menyadari bahwa yang dia ambil bukanlah energi kehidupan, melainkan bahan peledak.


Daaarrr!


Meski telah coba untuk menghindar, tetap saja tubuh Da Yinshen terlempar jauh hingga menghantam dinding tebing batu dengan sangat keras. Darah mengalir di sudut bibirnya.


"Fuiihh! Kurang ajar!" Da Yinshen meludah, bisa-bisanya dia dipermainkan oleh trik ilusi murahan.


Energi kehidupan yang berhasil Da Yinshen rebut hanyalah tipuan yang menyerupai energi kehidupan melainkan bahan peledak. Karena tubuh tersebut bukanlah tubuh Xu Zhu yang asli, melainkan hanya ilusi.


"Di mana manusia lemah itu?! Beraninya mempermainkan aku!" Da Yinshen menggertakkan gigi gerahamnya.


"Aku di sini Iblis jelek!" suara Xu Zhu muncul dari arah atas.


Da Yinshen mengangkat kepalanya, disaat yang bersamaan telapak tangan Xu Zhu terjulur dan menghantam kepala Da Yinshen dengan keras.


BAMM !!!


Untuk yang kesekian kalinya tubuh Iblis Besar itu terlempar dengan keras. Pandangan matanya sampai berkunang-kunang, jelas Xu Zhu menambah tingkat kekuatan dalam pukulan kali ini.


"Manusia hina! Tidak peduli apa batas kekuatanmu yang sesungguhnya, kali ini aku tidak akan berbelas kasih! Yaaattt !!!" Da Yinshen mengerahkan segenap tenaga dalamnya, menyelimuti tubuh hingga mengubah penampilan fisiknya.


"Sayap Darah?! Teknik terlarang di dunia iblis. Meskipun mampu tingkatkan kekuatan hingga berkali lipat, tapi trik ini akan menguras persediaan energi kehidupan pemiliknya," Xu Zhu mengenali jenis kekuatan yang akan Da Yinshen gunakan.


Da Yinshen si Iblis Besar ini kiranya telah mencapai tahap dewa. Teknik sayap darah yang dia pelajari telah membuat kemampuannya meningkat berkali lipat. "Baiklah! Lagi pula tidak ada yang melihat, aku bebas pergunakan kemampuan budidaya apa pun. Kau harus coba yang satu ini!" Xu Zhu mengangkat tangan kanannya, menghimpun energi, lalu memunculkan kekuatan yang dia sembunyikan.


"Mata Dewa?! Kau ... kau si penyihir itu!" Da Yinshen tercengang.


Xu Zhu memasukkan kekuatan di tangannya ke mata sebelah kanan, untuk menggunakan kekuatan Mata Dewa dan mengakhiri perlawanan Iblis Besar.


BAAMMM !!!


Satu titik cahaya yang keluar dari mata dewa sudah cukup untuk membuat Da Yinshen jatuh terkapar. Sayap darah di punggungnya perlahan terkelupas dan terbakar.


"Aaa !!! aaakkhhh !!!" Da Yinshen melolong, menjerit pilu penuh kesakitan. Sayap yang menjadi sumber kekuatannya dirampas secara paksa.


Mengiringi jerit tangis dan lolongan derita Da Yinshen, sayap darah terlepas seluruhnya kemudian berubah menjadi kristal energi, berada di tangan Xu Zhu.


"Kaulah yang menjadi mangsaku!" desis Xu Zhu.


"Hup!" Xu Zhu melompat turun, menghampiri Da Yinshen yang tergeletak di atas tanah.


Sambil berjalan mendekat, Xu Zhu melepas kekuatan Mata Dewa dan mengembalikan kekuatan tersebut ke dasar jiwa.


"Kau ... si penyihir! Mengapa kau tidak mati!" Da Yinshen menunjuk ketakutan.


"Si Penyihir?!" Xu Zhu mengerutkan dahi. Iblis Besar ini menyebutnya Si Penyihir. Selain itu, raut wajah penuh ketakutan yang dia tunjukkan jelas menegaskan hal serupa.


"Tidak disangka, alam iblis pun digegerkan oleh mitos itu. Dan aku pikir, hanyalah sugesti yang kau ciptakan supaya kau merasakan mati dengan lebih terhormat."


"Pantas karmamu begitu buruk. Kaulah Si Penyihir yang menggemparkan itu. Jika mengetahui hal ini, penyesalan terbesar gurumu ialah bukan karena kau tak kunjung naik ke puncak nirwana kekal abadi, tapi mengetahui bahwa penyihir yang ingin mereka musnahkan adalah muridnya sendiri!"

__ADS_1


Da Yinshen nyerocos panjang lebar. Dia menambahkan jika Xu Zhu selamanya tidak akan pernah bisa naik ke dunia tanpa batas, karena dia merupakan Si Penyihir yang dimusuhi oleh setiap orang, bahkan iblis dan juga dewa.


"Kau menyegel langit bukan untuk membuatku tidak bisa kabur, tapi supaya berita ini tidak tersebar. Pantas sejak dahulu kau tidak ingin ada orang yang tahu di mana batas kemampuanmu!"


CRAASSS!


Jika bukan karena Pedang Yongheng yang memenggal kepalanya, bisa dipastikan kalau Da Yinshen mengoceh lebih lama.


"Menyebalkan sekali! Mulutmu lebih dari mulut wanita!" Xu Zhu mengomel pada kristal kehidupan milik Da Yinshen yang berada di tangannya.


Xu Zhu menghela napas panjang, berulang kali, coba membuat hatinya kembali tentram. Sudah beberapa pendekar tahap dewa dan pendekar tahap abadi yang mengatakan hal serupa. Mereka yang berhasil Xu Zhu kalahkan, menuding bahwa Xu Zhu adalah Si Penyihir.


Merupakan beban batin bagi Xu Zhu jika teringat hal itu. Hidupnya yang sendiri, menderita, akankah sebuah karma yang menegaskan bahwa dialah sosok Si Penyihir yang diburu seluruh penghuni langit dan bumi?!


Tidak diketahui secara pasti, siapakah Si Penyihir. Cerita dan legenda mengatakan kalau Si Penyihir adalah sosok penjahat yang harus dikalahkan. Bagaimana Xu Zhu bisa percaya semua itu jika dia sendiri selama hidup ini berniat untuk mengalahkan Si Penyihir. Ya, seperti pesan gurunya dahulu.


"Iblis Besar sialan! Mengapa aku harus terpengaruh oleh ucapannya?! Menyebalkan!" Xu Zhu melanjutkan langkah untuk menemukan sesuatu yang berharga di Lembah Huang Quan itu.


"Logam Bambu Emas, bantu aku dapatkan sesuatu!" Xu Zhu membuka sebuah formasi di telapak tangannya.


Formasi Logam Bambu Emas dengan cepat mampu mendeteksi keberadaan benda asing dan berharga di seantero Lembah Huang Quan.


"Hmmm, kunci formasi ini cukup menarik!" Xu Zhu menghampiri sebuah formasi yang miliki aura yang begitu kuat.


DEG!


Tiba-tiba Xu Zhu seperti merasakan adanya jarum beracun yang menusuk dan membuat jantungnya seolah berhenti berfungsi.


Untuk membuktikan kecurigaannya, Xu Zhu lalu mundur dua langkah. Tatapan Xu Zhu fokus pada bentuk formasi dan kemudian Xu Zhu menjejakkan kakinya ke tanah.


Tanah yang bergeser menciptakan guncangan keras di sekitar Lembah Huang Quan. Hanya dengan satu hentakan kaki, Xu Zhu berhasil membuka kunci formasi. Sekarang telah terbuka jalan untuk memasuki sebuah gua batu.


Menatap gua batu dengan penuh iba. Xu Zhu tidak lekas masuk, malah memandangi tusuk konde milik Hua Xiang. Beberapa kali Xu Zhu mencivm tusuk konde tersebut, mengingat aroma Hua Xiang yang tidak akan lepas dari benaknya.


Formasi yang diberi nama segel pelindung langit. Formasi yang sama seperti saat dulu Xu Zhu temukan di hutan ketika berjumpa naga dewa (*episode ke-7 - segel pelindung langit).


"Apa yang ditinggalkan gadis Hua untukku?" Xu Zhu akhirnya melangkah memasuki gua.


Sekilas tidak ada yang istimewa dari gua itu. Bahkan tidak terdeteksi adanya aura siluman atau roh penunggu lainnya.


Hua Xiang menyegel sesuatu di Tanah Terlarang dengan memanfaatkan Iblis Besar sebagai roh penjaga. Secara logika, tidak mungkin Hua Xiang sekadar menyembunyikan kotak harta di sini. Pasti sesuatu yang sangat penting.


Wuuss! Wuuss! Serangan kilat tiba-tiba muncul.


"Kau siluman roh tahap langit, berhenti bermain-main!" gertak Xu Zhu.


Bukannya menampakkan diri, siluman roh itu justru menambah kekuatan dalam melakukan serangan. Tidak ingin membuat keributan yang terlalu besar, Xu Zhu hanya menciptakan tameng pelindung yang membungkus tubuhnya dari serangan apa pun.


Tidak peduli sekuat apa pun upaya yang dilakukan oleh roh siluman penunggu, Xu Zhu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.


Ketika roh penunggu mengendurkan serangan, Xu Zhu mengambil kesempatan untuk melakukan serangan balik. Namun bukan melepaskan pukulan mematikan, tapi Xu Zhu melemparkan tusuk konde milik Hua Xiang ke arah roh penunggu.


Benar saja, setelah merasakan aura serta aroma dari tusuk konde tersebut. Roh penunggu pun menampakkan wujudnya.


Seorang gadis kecil yang imut dan lucu, tersenyum manis ke arah Xu Zhu. Dengan sikap sopan, gadis kecil itu kembali menyerahkan tusuk konde milik Hua Xiang kepada Xu Zhu.

__ADS_1


"Jangan sok imut di depanku. Aku lebih suka melihat wujud aslimu!" Xu Zhu mengibaskan tangannya.


Angin yang tercipta dari kibasan tangan Xu Zhu menerpa tubuh gadis lucu, yang kemudian memaksanya untuk kembali pada wujud aslinya yakni seekor burung pancawarna.


"Aaa Tuan besar ... mengapa aku harus seperti ini? Padahal saat itu Nona telah memberiku hadiah wajah yang cantik," gerutunya.


Xu Zhu tidak menyahut. Matanya berkeliaran menatap ke segala arah. Setelah tidak dapatkan apa pun, barulah kemudian dia kembali pada burung pancawarna.


"Mengapa Hua Xiang mengurung mu di tempat ini?" tanya Xu Zhu.


"Nona berpesan padaku untuk tidak pergi, tetap di sini, menunggu sampai Nona keluar atau Tuan yang datang menjemput," Pancawarna menjelaskan.


"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan."


"Baiklah ... aku harus memulai dari mana, ya?" Pancawarna berpikir sejenak.


Kemudian dia memulai cerita ...


Setelah perang besar yang menghancurkan isi dunia sepuluh ribu tahun yang lalu, Hua Xiang berhasil selamat. Dia yang terluka parah bisa lolos dari maut dengan membawa Hati Malaikat bersembunyi ke Tanah Terlarang. (Hati Malaikat merupakan material alam tanpa batas yang muncul di dunia fana. Karenanya seluruh penghuni langit dan bumi bertarung untuk bisa mendapatkan material tersebut).


Burung pancawarna adalah mahluk roh yang tidak terikat oleh formasi dan teleportasi apa pun. Dia bisa menerobos masuk ke dalam teleportasi meskipun sedang digunakan.


"Nona, kau terluka sangat parah. Beritahu aku bagaimana cara untuk membantumu ..." Pancawarna memapah Hua Xiang.


"Hati malaikat ini ... merupakan penyebab terjadinya perang. Kita harus berhasil menyembunyikannya supaya tidak ada korban lagi," suara Hua Xiang lemah.


"Tapi Nona kondisimu sangat lemah. Jika kau terus memaksa menggunakan energi spirit dan tenaga dalammu, aku khawatir kau tidak tertolong." Tentu saja Pancawarna sangat cemas, meski berstatus pelayan tapi mereka merupakan sahabat yang sangat dekat.


"Kau percaya padaku 'kan? Tenanglah, aku akan baik-baik saja ..." Hua Xiang coba untuk tersenyum, menghibur Panca warna.


"Hingga kemudian kami tiba di Lembah Huang Quan ini. Saat itu aku bertugas untuk memancing Iblis Besar, sementara Nona masuk dan menciptakan segel formasi dari dalam," saat bercerita, terlihat mata Pancawarna yang basah oleh air mata.


"Kita bertemu di sini ... lalu Hua Xiang?" suara Xu Zhu pun bergetar, jelas dia hanya sedang berpura-pura tegar.


Pancawarna mengeluarkan sebuah kotak harta kecil yang berukir indah. Di dalamnya terdapat Hati Malaikat. Material yang diperebutkan kala itu.


"Nona berpesan untuk nanti menyerahkan Hati Malaikat ini pada orang yang membawa properti dengan aura dan aroma yang sama persis dengan Nona. Sekarang Tuan guru telah datang, penantian ku selama ini tidak sia-sia."


Pancawarna memberikan kotak harta berisi Hati Malaikat pada Xu Zhu. "Tuan guru, dengan ini pula maka izinkan aku untuk berbakti padamu."


"Apa pun yang menjadi keinginan Hua Xiang, pasti akan aku kabulkan. Terima kasih atas baktimu selama ini, Pancawarna."


Tangan Xu Zhu gemetaran ketika membuka tutup kotak harta tersebut. Hatinya semakin kacau setelah melihat secara langsung Hati Malaikat.


Bukan karena terharu mendapatkan material tak ternilai harganya, juga bukan karena bentuknya yang indah menyerupai love atau lambang cinta. Akan tetapi, karena apa yang tersegel di dalam Hati Malaikat tersebut.


"Hua Xiang ... akhirnya aku menemukanmu !!!" Xu Zhu tak mampu menahan haru.


Sesuatu yang tidak pernah terlihat, yakni senyuman Xu Zhu yang mengembang di bibirnya. Luapan emosi yang tak terbendung, bahagia tak terhingga. Xu Zhu berhasil menemukan semangat Hua Xiang yang tersegel di dalam Hati Malaikat.


"Nona masih terlihat cantik. Sama seperti saat dahulu ..." Pancawarna menengadah, memandangi bayangan semangat Hua Xiang tanpa berkedip.


Sebelum menutup kotak harta, sebelum menyimpan Hati Malaikat dan semangat Hua Xiang. Sekali lagi Xu Zhu menatap wajah Hua Xiang dengan senyuman hangat merekah.


"Walau harus bertaruh nyawa, aku akan membuat kau kembali ada di sisiku. Tidak peduli meski menentang dewa, aku akan berjuang untuk kau kembali ke dunia. Hua Xiang, ingatlah janjiku!"

__ADS_1


__ADS_2