Pendekar Nomor Satu

Pendekar Nomor Satu
Simpati yang Mahal


__ADS_3

Zhang Lian menuangkan teh dan menyuguhkan pada Xu Zhu. Melihat adanya tekanan dalam setiap Xu Zhu mengingat, membuat Zhang Lian tidak tega jika harus Xu Zhu bercerita.


"Aku berpikir bahwa aku telah bisa untuk melupakannya, aku merasa jika aku telah mampu untuk rela. Ternyata aku salah. Kenangan adalah hal yang tidak mungkin hilang dalam ingatanku, tidak akan pernah bisa untuk dihapuskan. Bagaimanapun kuatnya aku mencoba."


Xu Zhu membuka matanya, menatap ke arah pohon rindang yang kini menjadi tempat tinggal Naga Dewa.


"Leluhur, kau pernah berkata padaku kalau kita hanya memiliki hari ini, sekarang. Karena hari kemarin merupakan kenangan yang tidak bisa dirubah. Hari esok adalah harapan, tergantung bagaimana yang kita lakukan hari ini. Karena sebuah penyesalan merupakan tindakan sia-sia yang sama sekali tidak berharga." Zhang Lian bicara dengan sangat hati-hati.


"Selain Naga Dewa, aku juga membawa beberapa oleh-oleh dari hutan larangan. Separuh peta harta, beberapa kitab dan catatan ilmu yang pernah ada di masa lalu. Namun yang lebih penting daripada itu ialah harapan," ucap Xu Zhu.


"Leluhur pernah berkata jika tidak menemukan jasad Senior Hua kala itu. Mungkinkah beliau masih hidup, atau menyegel diri di suatu tempat?"


"Itulah harapan yang aku maksud. Meskipun keyakinanku saat ini ialah hidup baru yang benar-benar baru. Tidak terikat oleh masa lalu, memulai semuanya dari titik nol. Kendati tidak yakin, tapi aku percaya bahwa aku pasti bisa."


"Leluhur adalah yang terbaik. Semua keputusan yang diambil pasti dengan perhitungan yang matang."


"Kau bisa pergi sekarang," ucap Xu Zhu kemudian.


"Baik, Leluhur." Zhang Lian membungkuk dan mohon pamit. Baru beberapa langkah berjalan, Zhang Lian kembali berhenti saat terdengar suara Xu Zhu bicara.


"Satu hal lagi. Berhati-hatilah pada orang baru itu. Jangan katakan apa pun kecuali atas persetujuan diriku. Ya ... bahkan aku belum sempat berbincang dengannya."


"Saya akan mengingatnya dengan baik, tidak berani membantah perintah Leluhur."


Zhang Lian yang baru saja meninggalkan kediaman Patriark langsung dihadang oleh Lin Fei. "Senior, bagaimana? Apakah kau sudah katakan pada Patriark?"


Zhang Lian menarik napas berat. "Leluhur tidak banyak bicara, dia terlihat begitu lelah. Aku pun hanya menuangkan teh untuknya. Tidak berani mengganggu."


Tentu saja Zhang Lian berbohong. Ya meskipun Lin Fei mempercayai sepenuhnya ucapan seniornya itu.


"Tapi ada satu hal. Dan kau pasti sangat kaget jika aku ceritakan!" sambung Zhang Lian.


"Hahaha! Sama sekali tidak akan. Semua yang Patriark lakukan dan yang beliau dapatkan adalah hal-hal yang tidak masuk. Untuk apa aku kaget, karena apa pun aku pasti percaya!" Lin Fei malah tertawa.


"Siluman penjaga sekte. Leluhur menempatkan naga dewa di pohon besar seribu tahun. Kau tahu kekuatannya? Akan mampu melindungi sekte kita dari apa pun," papar Zhang Lian dengan berbinar.


"Na-naga dewa? Dilepas di pohon ???" bohong jika Lin Fei tidak kaget. Meskipun sepenuhnya ia percaya, tetap saja hatinya merasa janggal. Hal yang tidak bisa dilakukan orang, merupakan hal yang gampang di tangan Patriark.


Biasanya, siluman penjaga sekte akan ditempatkan di tempat khusus yang rata-rata dikunci oleh formasi. Mengeluarkan siluman penjaga sekte adalah cara terakhir setelah segala upaya yang dilakukan manusia mengalami kebuntuan.


Zhang Lian meninggalkan Lin Fei. Dia harus melanjutkan berlatih untuk bisa secepatnya menembus ke level yang lebih tinggi. Urusan Lin Fei dan Gao Yin, tentu di luar kuasa Zhang Lian.

__ADS_1


"Aduuhhh, aku harus bagaimana? Setidaknya ada cara yang aku lakukan, untuk membuat Patriark bisa menerima Gao Yin," Lin Fei mengelus dagu, memikirkan cara terbaik.


Tidak berani mengganggu Xu Zhu yang sedang beristirahat, Lin Fei kemudian memutuskan untuk menyusul Zhang Lian ke tempat berlatih.


Sesaat setelah Lin Fei berlalu, Gao Yin muncul dari balik tiang. Kiranya sudah sejak tadi Gao Yin berada di sana, menunggu sampai kedua orang murid Xu Zhu itu pergi. Barulah kemudian Gao Yin melangkah menghampiri tempat kediaman Xu Zhu.


"Aku tidak yakin jika Patriark Sekte Jinlong penyuka sesama jenis. Tidak mungkin dia sanggup mengabaikan tubuhku yang menggoda?" dengan kepercayaan diri yang tinggi, Gao Yin terus mengayun langkah.


Perlahan Gao Yin mendorong daun pintu yang tidak dikunci, dia menemukan Xu Zhu yang sedang bersantai di kursi seraya memandang ke luar jendela.


Gao Yin menghela napas tiga kali, menerapkan kemampuan tertingginya. Sebagai kultivasi level Golden Core, tentu Gao Yin kuasai tenaga dalam yang tidak bisa dianggap remeh.


Dua ekor kupu-kupu berwarna ungu terbang rendah, menghampiri Xu Zhu lalu kemudian melebur menjadi serbuk tatkala tiba di dekat wajah Xu Zhu.


Xu Zhu membuka matanya, saat itu yang terlihat olehnya ialah hamparan bunga lavender yang mekar. Harum mewangi yang amat menyejukkan hati.


Seorang wanita cantik tersenyum dengan membawa arak di nampan. Menuangkan arak pada cangkir emas berukir, lalu menyerahkan minuman itu pada Xu Zhu.


"Musim semi yang begitu indah, Tuan ... tempat tidur yang sangat nyaman. Sungguh kau menyempurnakan hidupmu." Wanita berpakaian seksi yang datang tidak lain adalah Gao Yin.


Xu Zhu menoleh dan menatap lekat wajah Gao Yin. "Kau begitu cantik. Wangi tubuhmu bahkan mengalahkan aroma jutaan bunga lavender."


Xu Zhu menggenggam tangan Gao Yin, mengambil arak dengan diminumkan oleh Gao Yin.


"Kau membuka bajuku, tapi kau sendiri berpakaian lengkap!" Xu Zhu mencengkeram kain sutera yang membungkus tubuh Gao Yin.


Breettt !!! dengan satu sentakan, baju itu robek meninggal tubuh Gao Yin yang polos, dibuang begitu saja di atas ranjang.


"Wow!" Xu Zhu memandangi buah pepaya mengkal di dada Gao Yin yang seketika muncul seiring penutupnya dicampakkan.


Menarik tubuh Gao Yin untuk duduk di pangkuannya, hingga memudahkan Xu Zhu dalam menjangkau indahnya aset indah milik Gao Yin.


"Tuanku ... Gao Yin sangat kesepian, nikmatilah semuanya ..." dengan berbalut desa*han manja, Gao Yin membusungkan dadanya, menyodorkan buah pepaya mengkal untuk segera Xu Zhu nikmati.


Perlahan namun pasti, kedua tangan Xu Zhu bergerak bersamaan. Menyentuh dan menikmati kelembutan pada sisi kiri dan kanan gunung dengan penuh irama.


"Uuhhh ..." Gao Yin mele*nguh seraya mendongak, memejamkan matanya. Menikmati sensasi nikmat ketika Xu Zhu mulai memelintir ujung put*ing pepaya mengkal miliknya.


Setiap sentuhan yang Xu Zhu berikan semakin membuat Gao Yin kelabakan. Sensasi rasa yang membun*cah pun tidak bisa dikuasai, hingga Gao Yin menceracau, mengekspresikan perasaan dalam dirinya.


"Emmhhh ... aa aahhh ..." desa*h manja begitu merang*sang keluar dari bibir seksi Gao Yin.

__ADS_1


Cletaak !!! terdengar satu petikan jari, yang mana membuat Gao Yin mengakhiri semuanya. Gao Yin membuka mata dan menarik pakaiannya, secepatnya menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka.


"Trik murahan! Trik receh seperti itu, mana mempan padaku!" suara Xu Zhu yang membelakangi Gao Yin sambil makan buah apel dewa tanpa masalah.


"Apa ??? Ja-jadi aku terpengaruh oleh kekuatan ilusi yang aku ciptakan sendiri?" Gao Yin terbelalak, begitu tidak percaya. Senjata akan memakan Tuannya.


"Sialan! Kau telah mempermainkan aku!" umpat Gao Yin geram.


Kekuatan mantra penggodanya tidak mempan, Gao Yin bersiap untuk melakukan serangan fisik. Meskipun sangat jelas jika ranah kemampuan Xu Zhu berada di atasnya, tapi Gao Yin tidak punya pilihan lain.


"Apa yang terjadi?" Gao Yin terbelalak, menyadari bahwa tubuhnya tidak bisa bergerak. Jangankan untuk melakukan serangan, bahkan untuk bangkit pun Gao Yin tidak mampu.


Bukan hanya mematahkan pengaruh trik sihir yang Gao Yin gunakan. Tapi dengan begitu mudah dan tanpa Gao Yin disadari, bahkan Xu Zhu telah melumpuhkan titik energi di dalam tubuh Gao Yin.


"Siapa orang yang ada di belakangmu?" tanya Xu Zhu kemudian.


Gao Yin tidak menjawab, dia masih berusaha mengerahkan segenap tenaga untuk bisa memberontak meskipun yang didapat hanyalah napasnya yang hampir putus, ngos-ngosan.


"Awalnya, saya adalah utusan Sekte Mouyun. Saya ditugaskan untuk memata-matai Sekte Jinlong. Akan tetapi setelah beberapa hari di sini, saya sadar kalau Sekte Jinlong adalah rumah yang diidamkan oleh segenap pendekar."


"Hmmm, rumah kau bilang? Itu karena sekarang kau telah sadar, jika kau tidak akan pernah bisa kembali ke Sekte Mouyun hidup-hidup?" Xu Zhu mengangkat kedua alisnya.


"Akkhh! Aaa ..." Gao Yin merintih kesakitan ketika kekuatan energi Xu Zhu mengikat tubuhnya lebih erat.


Tubuh Gao Yin melayang, tak berdaya. Kapan pun Xu Zhu mau, maka saat itu merupakan akhir hidup Gao Yin.


"Tu-Tuan ... mohon terima saya sebagai murid. Sa-saya akan mengabdikan seluruh hidup saya pada Tuanku," mohon Gao Yin dengan linangan air mata.


"Kau tidak mengganggu murid-murid ku, kau juga tidak melakukan hal yang merugikan ku. Bisa saja aku memberi simpati padamu. Tapi kau tahu, simpati ku sedikit mahal."


"Saya akan penuhi, apa pun itu!" tanpa berpikir lagi, Gao Yin langsung menjawab.


"Pergi keluar dari sekte, kau bisa menjadi mata dan telingaku di luaran sana. Jangan kembali jika tanpa berita bagus. Anggap ini sebagai jalan pengampunanmu!"


"Akan saya lakukan apa pun perintah Tuanku," jawab Gao Yin sungguh-sungguh.


Xu Zhu mengibaskan tangannya, seketika itu juga tubuh Gao Yin yang terbungkus bola energi terhempas keluar ruangan. Menghantam hancur jendela dan meluncur deras ke langit, meninggalkan sekte Jinlong dan entah terjatuh di mana.


Xu Zhu benar menaruh simpati. Dia tidak membunuh Gao Yin, hanya membuangnya dari sekte. Satu kesempatan yang Xu Zhu berikan untuk Gao Yin menunjukkan bakti dalam kesungguhan ucapannya.


Gao Yin bisa dengan bebas pulang ke Sekte Mouyun, lalu melaporkan apa yang terjadi pada Tetua Bai. Kemudian datang dengan kekuatan besar Sekte Mouyun untuk menyerang Sekte Jinlong.

__ADS_1


Atau ... Gao Yin benar-benar ingin bergabung dengan Sekte Jinlong, dengan pulang ke Sekte Jinlong. Nanti, jika dia dapatkan berita baik. Menjadi mata-mata sekte Jinlong seperti yang Xu Zhu katakan.


Entahlah, pilihan mana yang Gao Yin ambil. Yang jelas, semua merupakan rencana Xu Zhu. Terlebih lagi seandainya Gao Yin datang dengan membawa pasukan besar Sekte Mouyun, merupakan kabar baik. Karena dengan itu Xu Zhu bisa menegakkan panji Sekte Jinlong semakin kokoh, menjadi sekte yang disegani.


__ADS_2