
Reruntuhan kuno merupakan peninggalan zaman terdahulu. Bangunan sebesar ini biasanya adalah tempat para penguasa, sehingga ada beberapa jebakan terpasang untuk mengantisipasi musuh.
Lompatan monyet putih secara tidak sengaja mengaktifkan jebakan, meskipun bangunan sudah tua tetapi tidak menurunkan kualitas pertahanannya.
Liuzhen yang terjatuh mulai meraba kepalanya, "Aduhh! Kepalaku." Dirinya sadar jika sudah memasuki perangkap.
Dia mulai berpikir jika ini adalah ulah monyet busuk itu, seandainya Liuzhen memberikan makanan terlebih dahulu mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini.
"Sial! Apa pemilik bangunan ini terlalu kuno untuk menyediakan sebuah penerangan," kritik Liuzhen.
Baru beberapa langkah berjalan, Liuzhen merasakan kehadiran makhluk hidup hanya saja dia tidak bisa melihat dengan jelas.
Liuzhen sulit untuk mempercayai keberadaan manusia, setelah begitu lama dia tidak melihat satu orangpun, "Seseorang berada di sini? Yang benar saja," gumam Liuzhen dalam hati.
Liuzhen berpikir untuk berinisiatif menyapa terlebih dahulu, "Salam kenal senior. Junior tidak bermaksud berada disini tetapi beberapa hal telah terjadi," ucap Liuzhen klarifikasi.
"Mohon maaf bila junior ini mengganggumu, jika senior tidak keberatan junior ini akan pergi." Sambil memberi hormat dengan tangannya.
Awalnya Liuzhen tidak berharap seseorang akan membalas perkataannya, tetapi sekarang suara itu terdengar nyata.
"Kau bisa merasakan ku bocah, kemampuan boleh juga." Menatap Liuzhen takjub.
Liuzhen cukup terkejut mendengar jawaban atas pertanyaannya, padahal dia tidak berhadap ada yang menjawab.
"Sejujurnya junior ini meragukan keberadaan senior, hanya saja firasat seorang pendekar haruslah tajam," balas Liuzhen menyembunyikan keterkejutannya.
"Hahaha. Bagus! Aku kira kau hanyalah seorang bocah bodoh yang bisa masuk ke dalam perangkap tua ini," ejek senior tersebut.
__ADS_1
"Haha." Tawa canggung Liuzhen.
"Baiklah, karena kau mampu merasakanku, aku akan memperkenalkan diriku."
Yin mulai memperkenalkan dirinya, dia berada di dalam reruntuhan sudah cukup lama, nasibnya tidak jauh dari Liuzhen, bedanya seseorang mengurungnya dalam reruntuhan.
"Bocah, kau hanyalah seorang pendekar ahli bagaimana bisa berada di sini?" Tanya senior penasaran.
"Senior sebenarnya...."
Liuzhen menceritakan perjalanannya dari awal dia dikejar hingga bertahan hidup, dirinya mengatakan tentang permata dan kekuatan yang didapat setelah mengkonsumsi daging.
Dalam waktu singkat Liuzhen dan Yin sudah begitu akrab, bahkan sesekali mereka bercanda di dalam kurungan itu.
Tidak tanggung-tanggung Liuzhen juga menanyakan tentang kekuatan misterius di dalam hutan, setiap kali dirinya ingin melangkah maju tubuhnya merasakan tekanan yang luar biasa.
"Hahaha. Bocah kau cukup beruntung tetapi tidak kalah sialnya denganku," ucap Yin tertawa kembali.
"Senior kenapa kau tertawa begitu keras," ucap Liuzhen mulai menyesal telah bertanya.
"Ahhhh... aku tidak tahu apakah ini takdir, tapi kau juga telah melihat di sekelilingmu tidak ada jalan keluar bukan?" Tanya senior memastikan kepada Liuzhen.
"Senior dirimu di dalam sini sudak cukup lama, kau yang lebih mengerti tentang ini dibanding junior," balas Liuzhen.
"Benar, kau memang cukup pintar, tapi masih jauh dari kata pintar yang sesungguhnya," balas Yin dengan tersenyum.
"Aku bisa mengeluarkanmu dengan mudah, bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Senior jika kau bisa mengeluarkan junior ini kenapa dirimu masih berada di dalam sini?" Tanya Liuzhen kembali.
Sontak Yin menundukkan kepalanya, dia tidak bisa berkata apa- apa selain mengatakan kenyataan, "Aku tidak akan bisa keluar." Melihat pasungan yang mengikat kaki dan tangannya.
Liuzhen yang mengerti hal tersebut berinisiatif memberikan bantuannya, "Senior jika itu masalahnya, aku bisa menghancurkannya untukmu," ucap Liuzhen percaya diri.
"Hahahaha...." Tawa Yin keras.
"Bocah, niat baikmu aku terima tetapi tidak untuk saat ini. Aku juga tidak mengatakan kau bisa keluar sekarang," ucap Yin memperjelas, "kekuatanmu yang sekarang hanyalah kematian bagimu, tetapi aku melihat tubuhmu berbeda. Apa kau melatih sesuatu?" Lanjut Yin bertanya.
"Ahhh ... senior ... itu, sebenarnya aku melatih Seni Raga Langit," ucap Liuzhen yang tidak yakin memberitahu.
"Seni Raga Langit?" Tanya yin tidak percaya.
"Bocah busuk, kau melatih kekuatan langit pantas saja tubuhmu menarik perhatianku," balas Yin yang tidak menyembunyikan perasaannya itu, "bersujud padaku 10 kali dan aku akan menjadikanmu muridku," pinta Yin mendadak.
Liuzhen tiba-tiba merasakan aura Yin mendominasi seluruh reruntuhan, hampir saja bangunan itu hancur berkeping-keping kalau Yin tidak teringat kata-kata orang yang mengurungnya.
Bahkan Liuzhen hampir tersujud hanya dengan perintah yang dikeluarkan Yin, kalau bukan karena Seni Raga Langit mungkin dirinya sudah tersungkur bersujud.
"Ahhh... aku begitu bersemangat, sebenarnya aku belum menemukan seseorang yang begitu sejalan dengan Seni Raga Langit, bahkan jika orang itu memiliki kitabnya dia bahkan tidak bisa mengeja satu huruf pun," terang Yin, "Seni Raga Langit adalah jurus dari leluhur ku, jurus ini memilih tuannya sendiri, aku bahkan tidak mempercayai kau dapat mempelajarinya." Sambung Yin menerangkan.
Yin juga mulai menceritakan tentang Seni Raga Langit dan keluarganya, Yin tidak berharap Liuzhen memberikan simpati melainkan dia ingin memberitahu takdir sedang dia jalani.
"Karena kitab itu keluarga kami harus mengalami nasib buruk. Aku adalah satu-satunya penerus dari keluargaku yang tersisa," lanjut Yin mengenang masa lalu.
Liuzhen tidak menutup rasa terkejutnya setelah mendengar Seni Raga Langit adalah milik pria sepuh di hadapannya, tetapi dia tidak bisa memiliki dua guru setelah kakeknya sendiri.
__ADS_1
"Senior maafkan aku junior tidak bisa memiliki lebih dari satu guru, meskipun kekuatan senior sangat kuat tapi aku harus menghargai guruku," balas Liuzhen percaya diri.
"Hahaha... bocah, aku memintamu menjadi muridku karena kau telah melatih jurus ku, selain itu kau memiliki potensi yang cukup bagus untuk meneruskan jurus ini," jelas yin, "hidup ataupun mati guru tetaplah guru, jika aku tidak bisa membuatmu menjadi muridku, setidaknya aku bisa menjadikanmu saudaraku."