
Setelah seharian penuh akhirnya Liuzhen menyadari sedikit makna dari Kitab Lima Jari, dia kemudian memutuskan untuk memperagakan teknik tersebut.
Pada malam hari Liuzhen keluar ruangan menuju bukit belakang, setelah merasa nyaman dengan tempat itu dia lalu berkonsentrasi terlebih dahulu.
Liuzhen mangarahkan telunjuknya ke arah bawah dengan penuh energi, "Kitab Lima Jari Jurus Satu Jari!" Ucap Liuzhen dengan penuh antusias.
Setelah berkali-kali Liuzhen mencoba, tetapi teknik tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda berhasil.
Sesaat Liuzhen berpikir, "Apa ada yang salah dari teknik ini," gumam Liuzhen dalam hati.
Pria itu memutuskan untuk membaca ulang di bawah sinar bulan, semakin dia membaca lebih dalam dia merasakan rasa ngantuk yang luar biasa.
Liuzhen lalu beranjak dan pergi mencari sungai terdekat, dia berpikir jika dirinya dalam keadaan basah mungkin akan menghilangkan rasa ngantuknya.
Beberapa saat kemudian Liuzhen menemukan sebuah aliran sungai, pria itu mendekat dan membasahi wajahnya.
Liuzhen mencoba memperhatikan pantulan sinar bulan tersebut, dia melihat pantulan tersebut sebagai bulan kedua.
Sesaat Liuzhen terpikir sesuatu, dirinya baru saja mendapatkan pencerahan, "Apa ini yang dimaksud Kitab Lima Jari, aku adalah cerminan kehendak sang pencipta," gumam Liuzhen pelan.
__ADS_1
Setelah mendapatkan pemahaman baru Liuzhen langsung mencobanya, dia mengarahkan telunjuknya dari atas ke bawah sambil bergumam pelan, "Kitab Lima Jari Jurus Satu Jari," ucap Liuzhen kecil.
Seketika angin di sekitar berhenti untuk beberapa saat, bahkan air yang tenang menjadi tidak karuan berguncang.
Pada malam itu langit bergejolak diiringin badai, awan-awan sekitar membentuk sebuah pusaran besar.
Banyak orang yang menyaksikan hal tersebut, Wenhua sebagai penjaga perpustakaan hanya bisa tersenyum sambil memegang jenggotnya, "Sepertinya aku tidak salah," gumam Wenhua dalam hati, dia juga langsung menuju ke arah tempat kejadian.
Tidak ada yang tidak menyaksikan hal tersebut, bahkan sebuah kilat berkali-kali muncul tetapi tidak menimbulkan petir.
Lebih anehnya kilat tersebut muncul di tempat pusaran langit itu terbentuk, beberapa petinggi kerajaan yang melihat hal tersebut tidak percaya, dan sebagiannya lagi mengatakan ini adalah karunia.
Salah seorang tetua yang melihat berkata, "Bukankah ini dekat dengan daerah kita? Perguruan Elang Putih, cepat perintahkan beberapa orang untuk mencari bocah itu, aku khawatir dia akan menjadi target seseorang," ucap pria sepuh itu.
Di sisi lain seseorang yang mengawasi gerak-gerik Liuzhen terkejut ketika melihat pria tersebut mampu menggunakan Kitab Lima Jari.
"Dia semakin kuat, sepertinya aku harus bergerak cepat dan melapor hal tersebut," gumam pria itu yang melihat Liuzhen.
Saat Pendekar Roh itu ingin pergi, tiba-tiba seorang pria sepuh menghentikannya dia mengatakan, "Ternyata sudah ada orang yang mencoba menargetkan bocah itu, sepertinya aku terlalu lambat kali ini," ucap pria tua itu kepada orang yang mengawasi Liuzhen selama ini.
__ADS_1
"Jika tidak ingin mati menyingkirlah," jawab Pendekar Roh tersebut.
Wenhua cuma tersenyum ramah dan langsung menghajar pria di hadapannya itu, dengan cepat dia membereskan Pendekar Roh.
**
Saat menggunakan teknik Satu Jari, tangan Liuzhen menjadi sangat berat bahkan dia merasakan tangannya seperti gunung besar.
Tiba-tiba sebuah ujung jari terlihat oleh Liuzhen, dia tidak menyangka jari tersebut begitu besar.
Bayangan Jari itu mampu menutupi seluruh kota, bahkan Perguruan Elang Putih bisa hancur kapan saja.
Liuzhen tidak bisa menghentikan tangannya, dia merasakan energinya terserap dengan cepat ke ujung jarinya.
Teknik ini terus menghisap energi Liuzhen, tetapi jurus tersebut tidak bergerak sama sekali.
Saat energi Liuzhen sudah hampir habis, teknik tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, bahkan energi kehidupannya juga mulai terkikis perlahan-lahan.
"Sial ada apa ini," ucap Liuzhen yang mulai menyesal.
__ADS_1
Liuzhen terlihat mulai pasrah dengan keadaan, dia tidak mampu untuk menghentikan jurus yang sedang dia gunakan.