
"Sepertinya masih di ranah Pendekar Pejuang," gumam Liuzhen dalam hati.
Sekelompok orang tiba-tiba mendekat ke arah tim Liuzhen, pria itu memutuskan untuk berpisah sementara.
Pria muda itu langsung mengenakan topeng untuk menutupi jati diri, dia juga membuatkan topeng khusus untuk momo.
Sebenarnya Liuzhen tidak begitu mempermasalahkan kedatangan mereka, tetapi salah satu diantara musuh memancarkan aura jahat.
Tubuh Liuzhen sangat sensitif mengenai aura yang dapat membahayakannya, satu-satunya penjelasan adalah Seni Raga Langit.
Setelah beberapa saat kelompok tersebut menemukan Liuzhen, sekarang mereka mengepung keberadaannya.
Salah satu diantara mereka berbicara, "Dari mana asalmu nak?" Pria sepuh itu berbicara pada Liuzhen dari atas pohon.
Suaranya sangat santai dan pelan tetapi mampu didengar oleh Liuzhen dengan baik, ada sekitar tiga orang yang mengepung Liuzhen.
Salah seorang pria lainnya ikut bersuara, "Tetua... tidak perlu mengajaknya berdiskusi, dia berani memasuki kawasan ini." Perkataannya membuat pria satunya lagi ikut membenarkan.
Pria sepuh itu kemudian membalas, "Kalian berdua tenanglah, dengarkan terlebih dahulu penjelasannya."
Liuzhen lalu mencoba menjawab, "Maafkan aku senior, tapi junior ini tidak dapat memberitahukan senior sekalian," balas Liuzhen sambil mengangkat tangannya.
Pria sepuh itu kembali bertanya, "Lalu bagaimana dengan rekan-rekanmu di depan sana?"
__ADS_1
Mendengar ucapan itu Liuzhen langsung bersiaga, dia sadar jika dua diantara mereka adalah Pendekar Pejuang tetapi di depan pria sepuh ini Liuzhen tidak dapat merasakannya.
Pria yang terlihat tua di hadapan Liuzhen belum mengeluarkan auranya sama sekali, sehingga Liuzhen sulit untuk menebak ranahnya.
Liuzhen lalu berinisiatif untuk bernegosiasi, dia tidak ingin bertarung jika bentrokan masih dapat dilerai.
"Senior... aku tidak tau apakah senior dapat memberikan kesempatan kepada kami, mungkin suatu saat aku bisa memberikan sedikit manfaat untukmu," ucap Liuzhen kepada pria sepuh itu.
Perkataan Liuzhen membuat dua pria lainnya tersulut emosi, salah satu diantaranya meneriaki Liuzhen, "Lancang! Kau pikir apa yang telah kau lakukan, berani menginjaki kaki di sini sama saja mencari kematian." Pria itu dapat mengendalikan amarahnya.
"Senior maafkan aku, tetapi...." Perkataan Liuzhen harus berhenti ketika salah satu diantara mereka memutuskan untuk menyerang Liuzhen dari belakang.
Liuzhen dapat merasakan ancaman dari punggungnya, tetapi dia juga memiliki insting jika pria satunya lagi akan menyerangnya juga.
"Bocah sepertimu pantasnya mati!" Ucap pria itu setelah memukul telak Liuzhen.
"Tetua, dia layak mendapatkannya," bisik pria satunya lagi menyakinkan senior mereka.
Tidak lama dari itu Liuzhen mencoba bangkit sambil mengeluarkan darah dari mulutnya, dia berusaha agar mereka semua mempercayai akting pria muda tersebut.
Saat melihat Liuzhen mencoba bangkit Sam terkejut, padahal dia sudah memukul Liuzhen dengan kuat.
Liuzhen lalu menghadap ke arah pria sepuh dan berkata, "Senior aku harap kau bisa memberikan keringanan padaku," tawar Liuzhen sambil memberikan hormat.
__ADS_1
Tindakan Liuzhen membuat Sam kesal, "Kau... bagaimana bisa?" Sam semakin geram dan mencoba menyerang Liuzhen kembali.
Saat Liuzhen memalingkan wajahnya ke arah Sam tiba-tiba pria tua itu mengambil tindakan, dengan cepat dia memegang muridnya.
"Tetua kenapa kau...." Belum selesai berbicara pria tua itu menimpal, "nyawamu itu hampir saja melayang." Perkataan tetua membuat Sam dan senior satunya lagi terkejut.
"Apa?"
"Anak muda... aku tidak tau apa yang membuatmu berada di Tanah Terlarang ini, tetapi siapapun orang itu aku tidak akan membiarkannya," ucap pria tua itu kepada pria muda di hadapannya.
Liuzhen sedikit tersenyum dan berbicara, "Senior... aku tau kau bijak, tetapi muridmu berhutang satu pukulan padaku, bagaimana kau menjelaskannya? Padahal dari awal kita sedang berdiskusi dan mencoba mencari jalan tengahnya," ucap Liuzhen mendesak.
Pria tua itu tidak dapat berkata apa-apa saat Liuzhen mengungkit satu pukulan, dia hanya bisa membantah pernyataan tersebut, "Nak... aku yakin kemampuanmu lebih dari ini, bisa saja kau menghindar tetapi memilih untuk menerima serangan, bagaimana bisa kau menuntut kepada orang tua ini."
"Senior, aku tidak bermaksud untuk menyudutkanmu tetapi muridmu tidak tau caranya menghargai seseorang, kalau begitu bagaimana jika menganggap satu pukulan ini sebagai awal kesepakatan kita, tentu saja ditambahkan dengan satu buah ini," Liuzhen memperlihatkan satu kristal energi murni kepada mereka.
Mata pria tua itu melebar ketika merasakan pancaran energi dari batu tersebut, hatinya sedikit bimbang untuk menerima tawaran dari Liuzhen.
"Kau...." Tiba-tiba pancaran aura dari sang kakek merembes.
Liuzhen yang merasakannya mulai menepuk jidat, dia berpikir jika tindakannya sedikit ceroboh.
"Harusnya aku tau jika kristal ini tidak dapat dijadikan alat negosiasi," gumam Liuzhen dalam hati.
__ADS_1