Pendekar Penentang Langit

Pendekar Penentang Langit
Ch. 17 - Perpisahan


__ADS_3

Setelah Yin merasa Liuzhen cukup mendapatkan pelatihan dia memutuskan untuk membantu mengeluarkan saudaranya itu dari Hutan Kuno.


Selain itu Yin berpesan agar Liuzhen membawa monyet putih tersebut bersamanya, karena cepat atau lambat monyet itu akan banyak membantu perjalanan Liuzhen kedepan.


Sebelum keluar Liuzhen memberikan rasa hormat kepada saudaranya itu, dia mengatakan suatu hari nanti dirinya akan menjadi pendekar terkuat di negaranya bahkan diseluruh negara.


Yin yang mendengar bualan saudaranya itu hanya tersenyum kecut, meskipun begitu dia berharap Liuzhen mampu merubah kehendak langit. Selain itu Yin juga memberikan sebuah pedang sebagai tanda perpisahan mereka.


Pedang tersebut berwarna hitam pekat dengan terukir sebuah kata dan cukup berat ketika dipegang oleh Liuzhen.


Disisi lain informasi yang didapatkan Liuzhen mampu untuk membuatnya keluar dari hutan kuno, hanya saja dia harus memburu hewan buas sebanyak-banyaknya terlebih dahulu.


Kristal yang didapatkan Liuzhen digunakan untuk mengaktifkan energi altar, Yin mengatakan kalau altar di atas reruntuhan tersebut adalah sebuah susunan ruang.


Liuzhen mencoba sebaik mungkin mengukuti instruksi dari Yin, dia menggambar sebuah formasi dari darahnya sendiri.


Formasi Liuzhen digunakan untuk memicu altar tersebut, sehingga susunan ruang dapat bekerja.


Altar berjalan dengan perkiraan, tetapi membuat Liuzhen tidak bisa bergerak, dia lupa kalau dirinya harus membawa monyet putih itu.


Seketika kekuatan yang kuat membuka celah ruang waktu di sekitar, sebuah cahaya putih terang membuat Liuzhen tidak bisa melihat sekeliling.


Energi kristal diserap habis oleh altar tersebut, "Sekarang aku mengerti kenapa senior menyuruhku mencari kristal sebanyak mungkin," gumam Liuzhen kesal tak berdaya.


**


Di dalam suatu ruangan Sang Kakek terlihat tidak begitu puas dengan jawaban yang diberikan pelayan kepadanya.


Bahkan pelayan tersebut terlihat seperti menyembunyikan sesuatu, A Fan yang tidak senang mulai mempertanyakan kembali kemampuan informan Rumah Bulan.


"Sepertinya Rumah Bulan tidak sesuai dengan reputasinya," ucap A Fan ketus.


Pelayan yang mendengar perkataan tersebut menangkap maksud A Fan," Tuan apakah ada kesalahan dari penjelasanku?" Tanya pelayan memastikan.

__ADS_1


"Nona, apakah aku membayarmu untuk menceritakan sesuatu berbelit-belit?" Tanya A Fan kembali.


"Maaf tuan, apa yang kau maksud? Aku telah mencoba untuk menjelaskan," tegas pelayan.


A Fan menyadari jika ada sesuatu yang disembunyikan, tetapi dia sulit untuk memastikan hal tersebut.


Disisi lain A Fan merasakan dari awal jika percakapan mereka sedang diawasi oleh seseorang, "Baiklah. Ternyata aku menghabiskan waktuku di tempat yang salah," ucap A Fan beranjak dari tempatnya.


A Fan berencana ingin memberikan sebuah kesan untuk menarik seseorang yang mengawasi mereka.


Seketika seorang wanita muncul menampakkan diri, "Tunggu!" pinta wanita tersebut.


Pakaian wanita itu sangat berbeda dengan palayan sebelumnya, "Maaf tuan, jika orangku tidak memuaskan hati tuan ini." Memberikan isyarat agar pelayan tersebut meninggalkan mereka berdua.


"Perkenalkan aku adalah Matriark Rumah Bulan. Chan Juan," ucap wanita tersebut.


"Ahhh... nona Chan, kau membuatku menghabiskan banyak uang untuk bertemu denganmu," sapa A Fan tersenyum licik.


**


"Liu gege, apa kau akan membuatku terus mengkhawatirkanmu," gumam Anzhu pelan.


"Bahkan kakek juga tidak di rumah," lanjut Anzhu kesal.


Sang Kakek terkadang menjadi tempat Anzhu bercerita ketika dirinya tidak menemukan Liuzhen, tapi sekarang mereka berdua sama sekali tidak berada disisinya.


Anzhu berjalan dengan rasa kecewa dan kesepian sepanjang jalan hingga dia tersandung menabrak senior Yu Yan.


Terkadang takdir mempertemukan seseorang dengan cara yang tidak disangka-sangka.


"Heii! Apa kau menggunakan mata kaki saat berja...lan." Yu Yan melirik Anzhu seperti kelinci tersesat.


"Kauu! Ahh... adik juniorku, akhirnya kita berjumpa kembali...."

__ADS_1


"Apa matamu sudah berpindah ke dengkul?" Tanya Yu Yan geram.


"Apa yang kau katakan senior? Bahkan orang bodoh sekalipun masih bisa melihat kedua mataku di kepala," gumam Anzhu pelan.


"Ahhh... aku mengerti sebenarnya batu itu membuatku menabrakmu, jika kau ingin menyalahkan, salahkan batu itu," tunjuk Anzhu ke arah batu.


"Kurang ajar, bukannya meminta maaf kau malah melawan," protes Yu Yan.


"Senior, apakah kau tidak menangkap penjelasanku barusan? Jika kau menginginkan permintaan maaf, batu itu yang harusnya menyampaikan,"


"Kakak, apa lagi yang kau tunggu! Gadis bodoh ini memang perlu diberi pelajaran," seru wanita di sebelahnya.


"Dasar sialan!" Jerit Yu Yan sambil berlari menyerang.


Yu Yan tidak menunggu respon Anzhu, dirinya langsung menyerang tanpa segan-segan.


"Batu! Sepertinya kau harus bertanggung jawab jika mereka terluka," ucap Anzhu tersenyum.


Yu Yan yang mendengar perkataan Anzhu semakin beringas ingin menghajar Anzhu, mereka bertukar jurus puluhan kali, tetapi Anzhu masih mampu menyeimbangkannya.


Yu Yan merupakan salah satu senior Gunung Persik yang berada di tingkatan Puncak Ahli, selangkah lagi dirinya akan menjadi Pendekar Pejuang tingkat pertama.


***


Tingkatan Pendekar


1. Pendekar Muda (pemula) 1-9


2. Pendekar Ahli 1-9


3. Pendekar Pejuang 1-9


4. Pendekar Raja 1-9

__ADS_1


5. Pendekar Roh 1-9


6. Alam Suci 1-9


__ADS_2