Pendekar Penentang Langit

Pendekar Penentang Langit
Ch. 77 - Tanah Terlarang II


__ADS_3

"Jarang-jarang aku bisa bertemu Pendekar Roh bersama muridnya melawan seorang junior," ucap Liuzhen dengan sinis.


Perkataan Liuzhen membuat Mi semakin geram, Mi adalah nama tetua kedua muridnya itu.


"Bocah tidak tau diuntung, membuatmu bernapas lebih lama ternyata pilihan yang salah," ketus Mi kepada Liuzhen.


Liuzhen lalu membalas, "Senior... seorang pendekar selalu memiliki prinsip hidupnya sendiri, aku khawatir jika prinsipmu tidak sesuai dengan hati seorang pendekar."


"Aku baru menunjukkan padamu satu kristal dan kau langsung lupa diri." Liuzhen kembali menyambung perkataannya, "kau menginginkan ini bukan?" Liuzhen menunjukkan satu buah kristal lainnya.


Saat Mi melihat kristal itu dia merasakan sebuah harapan baru, dia sadar tindakannya barusan tidak akan membuka ruang negosiasi lagi sehingga memutuskan untuk merebutnya.


Liuzhen yang sadar dengan tindakannya langsung menghancurkan satu keping kristal itu, tiba-tiba energi murni ke luar dan seakan terbebas.


Pancaran dari energi itu membuat suhu lingkungan sekitar menurun secara drastis, bahkan beberapa tanaman yang terlihat layu menjadi segar kembali.


Bahkan saking padat dan banyaknya energi murni tersebut, Yu Fei yang bedara jauh dari Liuzhen mampu merasakan perubahan aura lingkungan.


Tetapi kejadian itu hanya sesaat hingga energi itu berpencar di alam luas dan menghilang, Mi yang melihat semakin berang pada Liuzhen.

__ADS_1


"Bocah bodoh! Apa kau tidak tau manfaat dari energi murni? Kebodohanmu baru saja membuat...." Perkataan Mi dipotong oleh Liuzhen, "bukankah aku telah menawarkan padamu? dan kau menolaknya? Mengetahui kalau benda itu berharga tetapi masih menyudutkanku dengan menukar satu nyawa? Pria tua yang menyedihkan," gumam Liuzhen.


Tidak ada yang membantah perkataan Liuzhen, hanya saja mereka bertiga tetap tidak menerima sikap pria muda tersebut.


Bahkan keberadaannya di atas Tanah Terlarang sudah menjadi permasalahan serius, mereka bertiga memutuskan untuk menyelesaikan Liuzhen dengan cepat.


Usulan Sam untuk mengalahkan Liuzhen secepat mungkin di setujui oleh rekannya, dan Mi juga tidak membantah perkataan muridnya.


"Kalian sebegitu tidak tau malunya, kalau begitu majulah... aku ingin melihat kekuatan seperti apa yang akan menyelesaikanku dengan cepat," balas Liuzhen yang mendengar ucapan mereka.


Sam dan rekannya saling mengangguk dan menyerang Liuzhen, sedangkan gurunya menunggu moment yang tepat untuk menjatuhkan Liuzhen.


Bagaimana tidak, lahkah yang diperlihatkan oleh Liuzhen selalu membuat mereka mengira telah mengenai target tetapi untuk sepersekian detik serangan itu mampu dihindari.


Liuzhen masih belum mau bertukar jurus dengan mereka berdua, dia khawatir jika gerakannya menjadi informasi bagi Mi.


Sebenarnya Liuzhen tidak mempermasalahkan hal sepele seperti itu, hanya saja dia ingin membuat kedua murid itu merasakan harapan yang kosong.


Hingga pada akhirnya Liuzhen mulai bosan dan memutuskan untuk lebih serius, dia lalu menggunakan gerakan seni bela diri dasar miliknya.

__ADS_1


Baru saja bertukar beberapa pukulan kedua murid Mi langsung mengalami patah tulang, kedua kaki dan lengannya dipatahkan oleh Liuzhen.


"Aku rasa muridmu memerlukan pelatihan yang leb...." Perkataan Liuzhen membuat dia terpental mengucurkan darah.


"Sial apa yang terjadi," gumam Liuzhen dalam hati.


Liuzhen melihat Sang Kakek hanya berdiam diri, tetapi seseorang memukulnya dengan telak tanpa merasakan kehadiran seseorang.


Serangan tersebut mampu melukai tubuh Seni Raga Langit milik Liuzhen, meskipun tidak fatal tetapi tetap saja pukulan itu cukup kuat.


Sang Kakek yang berdiam diri mulai berbicara kembali, "Terlalu sombong, hanya beberapa teknikku saja tidak dapat menahannya," ucap Mi kepada Liuzhen.


"Kakek tua... aku tau teknikmu yang barusan itu bukanlah teknik biasa, pasti membutuhkan harga yang setimpal untuk menggunakannya." Liuzhen meyakini ucapannya sendiri.


Mi lalu membalas perkataan Liuzhen, "Bocah sepertimu tau apa? Bahkan jika nyawaku sebagai taruhannya akan kubawa kau mati," ucap Mi sambil melirik ke arah kedua muridnya.


Dia melihat kedua muridnya tidak dapat bergerak sama sekali, tulang kaki dan tangan berhasil dipatahkan oleh Liuzhen.


Bukan hanya dipatahkan tetapi membuat tulang mereka remuk seperti kepingan, tidak ada rasa kasihan di mata pria muda itu.

__ADS_1


__ADS_2