PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS

PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS
BAB.10


__ADS_3

BAB. 10


untuk bergerak. namun tiba tiba terdengar suara dari panggung.


“Perwira lek ajak tamu kita ke panggung pertandingan.” terdengar sura panglima Ang.


“Tuan, jika tuan ingin melanjutkan mari silakan, pesta ini juga di siapkan tempat mengadu ketangkasan.” kata perwira Lek sambil tersenyum.


Dalam kebiasaan pesta para pejabat, selalu di siapkan panggung untuk mengadu ilmu beladiri karena biasanya pesta seperti ini pasti ada banyak tamu tamu yang berasala dari dunia Kang aow.


Perwira lek langsung berjalan kearah panggung yang di ikuti oleh ke empat pengacau itu.


“hahaha. pertandingan ini akan seru jika taruhannya adalah pengantin wanita.”


Para tamu undangan terlihat kaget mendengar suara orang tertua dari pengacau itu, mereka menganggap ini sudah sangat keterlaluan, kata kata orang itu sudah merupakan penghinaan yang bisa mengakibatkan hukuman mati.


Sesosok bayangan melesat kearah panggung dan menarik mundur perwira Lek.


“Perwira Lek mundurlah”.


“Tuan Muda Cin”.


“Mundurlah Perwira Lek dia bagian ku, orang ini terlalu menghina Tuan rumah.”


Perwira Lek tau siapa Tua Muda Cin, dia adalah salah satu bangsawan di kota ini yang terkenal memiliki Ilmu kepandaian tinggi dan merupakan saudara sepupuh pengantin wanita dan juga sahabat baik Tuan Muda Ang. Perwira Lek segera meninggalkan panggung dan serta memerintahkan pasukannya untuk memperketat penjagaan.


“Sepertinya para penjahat danau angsa merasa hebat hingga tidak menghargai kami di sini, biarlah saya yang muda ini meminta petunjuk”. Kata Tuan muda Cin.


Para pengacau tidak mengenal pemuda yang menggantikan Perwira Lek, hingga terkesan meremehkannya namun tuan muda cin tau, mereka adalah para perampok danau angsa dan terkenal dengan sebutan “Empat Perampok Danau Angsa”.


“hahahaha. anak muda, apakah kau mewakili tuan rumah? Ingat, kekalahan mu nanti sama dengan peyerahan Pengantin Wanita. Hhahaa.”

__ADS_1


“Tidak ada taruhan di sini, namun kalau tuan ingin mengacau maka saya siap mewakili tuan rumah untuk memberikan hajaran pada mu”.


Plak. terdengar suara tapak beradu, tanpa mengelak tuan muda cin langsung menyambut serangan lawannya.


“beginikah sikap orang gaga”. Tanya tuan muda Cin..dalam adu tenga tadi kedua pihak telah telah saling mengukur kemampuan masing masing. Lawannya terdorong dua langkah, sementara tuan muda Cin merasa tanganya agak tergetar, namun jelas tuan muda Cin masi lebih tinggi satu tingkat.


“twako, sepertinya tidak perlu terlalu banyak basa basi kita habisi saja orang muda ini” terdengar orang kedua dari pengacau itu berkata. Serempak ke empat Perampok Danau Angsa mencabut goloknya dan menyerang Tuan muda Cin.


Tuan muda Cin mengelak sana sini mengandalkan gingkangnya, setelah lewat belasan jurus tuan muda cin merasa bahwa bahwa lawannya ternya memiliki permainan golok yang hebat dalam bekerja sama, tuan Cin makin hati hati dan masi mengandalkan gingkangnya.


Ke empat perampok Danau Angsa mengurung tuanmuda Cin dengan goloknya, mereka berniat menghabisi lawannya secepat mungkin.


Tuan muda Cin yang menyadari maksud ke empat perampok Danau Angsa itu tiba tiba meningkatkan seranganya, Tuan muda Cin merubah gerakannya dari hanya menghidar kini Tuan muda Cin mulai menyerang, para perampok Danau Angsa mersa kaget dengan perubahan yang terjadi namun terlabat, saat menyadari keadaan salah satu anggota perampok itu terkena tendangan di bagian lutut kakinya yang menyebabkan tulang kakinya retak dan tak mampu lagi berdiri tegak dan saat bersamaan, tangan kanan Tuan Cin menghatam kearah kepala Anggota tertua itu. Plakkkk. tanpa dapat di cegah orang tertua perampok Danau Angsa terjengkang kewaba panggung dan tak sadarkan diri.


“sunggu tidak berguna..”


Baru saja terdengar suara itu, tiba tiba di atas panggung telah berdiri 4 orang berusia sekitar 40 tahun, dua orang terlihat berwajah mirip dan 2 orang lainnya berpakaian warna hitam yang sama.


“Dua Setan Kembar dan Sepasang Iblis satu kehormatan bagi kami bisa menyambut kalian”.


Empat tamu baru itu kaget, ada orang mengenali mereka namun mereka tidak mengenali orang itu. Mereka berusaha untuk mengingat namun tetap saja mereka tidak bisa. Mereka bersikap waspada karena kini mereka telah di kenali lebih dulu. Chen yang menyaksikan dari bawa panggung merasa kaget, ternyata empat orang dia lihat di penginapan adalah orang orang dari golongan hitam yang namanya sangat terkenal di dunia persilatan. Chen kini bertindak lebih waspada, sudah lama dia mendengar ke empat tokoh ini namun kerena Chen lebih banya di istana dan di medan perang, maka dia belum pernah bertemu dengan ke empat tokoh ini.


“kalian berempat sunggu tidak berguna, melawan orang muda ini saja kalian tidak becus. Lebih baik kalian mati saja”. Tiba tiba entah bagaimana, ke empat perampok itu terguling dengan dan tampak kulit mereka berwarna kehijauan, tubuh mereka terlihat menegang dan akhirnya terdiam. Mereka meninggal tanpa mengetaui penyebabnya.


“hehehehe.begini lebih baik”. terdengar suara wanita sepasang iblis ter keke.


Orang orang yang meyaksikan kejadian itu merasa ngeri melihat jasad keempat perampok itu yang meninggal dengan kulit berwarna hijau. Hal ini manyebabkan makin banyak tamu undangan yang meninggalkan kediaman Gubernur An kini yang tertinggal rata rata adalah para tamu yang berasas dari Dunia Persilatan. Merea merasa penasaran dengan keadaan berikutnya, mereka sangat mengenal keganasan sepasang iblis dan iblis kembar, namun di sisi lain juga mereka penasaran dengan keluarga Bangsawan Cin.


Perwira Lek segera memerintahkan beberapa prajuritnya untuk menyingkirkan jenasah para perampok Danau Angsa, namun saat seorang prajurit menyentuh jenasah itu tiba tiba prajurut itu terbanting dan tubuhnya bergelenjotan hingga akhirnya tewas dengan seruluh kulit berwarna hijai.


Perwira Lek nampak terkejut melihat keadaan prajurinya yang tiba tiba mati dengan kulit berwarna hijau tanda keracunan.

__ADS_1


Bangsawan Cin melompat ke bawa panggung dan terlihat tangannya mengeluarkan sesuatu dari kantong jubahnya.


“Tidak usah repot repot kalau hanya untuk mengubur jenasah mereka.” kata Bangsawan cin seraya tanagnnya terlihat menyebarkan cairan dari botol di tangannya. Tampak uap hujau mengepul dari tubuh para jenasa dan secarah perlahan, asap hijau berubah menjadi warna putih. Beberapa saat kemudian terlihat jenasah para perampok mulai mencair dan cariran itu mulai meresap ke dalam tanah hingga tak berbekas.


Perwirah Lek tertegun dan merasa berterima kasih pada Bangsawan Cin karena merasa perbuatan Bangsawan Cin telah meringankan pekerjaannya mengurus jenasah itu.


Bangsawan Cin kembali melompat ke atas panggung dan berhadapan dengan keempat tamu tak di undang itu. Sambil tersenyum Bangsawan Cin berkata.


“Hem. Racun Tangan hijau Sepasang Iblis sepertinya ingin di pamerkan di sini”.


Sepasang Iblis yang melihat kejadian itu tampak terkejut namun mereka hanya tersenyum, kini mereka maklum bahwa Bangsawan yang berdiri di depan mereka adalah orang berkepandaian tinggi, namun mereka yang sudah sangat terkenal di dunia persilatan sebagai tokok hitam tingkat tinggi tetap memandang remeh Bangsawan itu.


“Ternyata keluarga bangsawan Cin adalah keluarga yang memiliki kepandaian.” Kata sepasang Iblis.


“hahaha..kami lebih senang mengurus keluarga kami, tidak seperti nama Sepasang Iblis yang terkenal di dunia Persilatan. Apa yang kalian inginkan di sini?”


“Kami memiliki urusan dengan Guburnur Ang dan Panglima Ang namun sepertinya di sini hadir orang orang berkepandaian”


“Memiliki urusan tapi berniat mengacaukan, sebaiknya kalian tau bahwa pengantin wanita adalah Keponakan Keluarga Cin maka siapa yang berani mengacau di sini tentunya akan berhadapan dengan semua keluarga Cin”.


“Ingin kami lihat seberapa hebat kemampuan Keluarga Cin”. Kata Sepasang Iblis”


Sepasang Iblis langsung menyerang Bangsawan Cin dengan dengan Ilmu andalan mereka, tangan kedua Iblis itu tampak mengeluarkan Asap berwana hijau. Bangsawan Cin tidak berani berdu tangan secarah langsung, karena Bangsawan Cin tau ke ampuhan Ilmu itu. Bangsawan Cin mengandalkan Gingkangnya untuk menghindar dan mengunakan tenaga dalamnya untuk menolak seragan asap beracun yang keluar dari tangan Sepasang Iblis.


Belasan Jurus telah lewat, Bangsawan Cin masi mengandalkan Gingkanya. Bangsawan Cin berpikir jika terus seperti ini maka dia akan mengalami kerugian besar. Dia tidak bisa mendekati kedua lawannya, namun lawannya dengan leluasa bisa mendekatinya. Karena hanya bisa menghindar, bangsawan Cin makin tersudut dan telah nampak beberapa goresan di beberapa tempat di tubuh bangsawan Cin, luka goresan kuku Sepasangan Iblis tidak kalah hebat dengan goresan pedang karena mengandung racun kelabang Hijau.


Dalam keadaan terdesak itu, bangsawan Cin mendengar suara bisikan yang hanya di tujukan padanya. Bangsawan Cin tertegun namun segera tersenyum, tiba tiba terjadi perubahan, bagsawan Cin mulai merubah cara bertarungnya..kini bangsawan cin mengandalkan serangan kaki untuk membalikan keadaan. Keadaan kini mulai


\=\=\=\=\=\=》》》》


Jangan lupa like dan komen ya..

__ADS_1


__ADS_2