
BAB. 6
Seketika wajah Kwee Li Siang terlihat tegang dan pucat, nampak sedang berusaha mengingat kejadian 13 tahun lalu. Hal itu tidak lepas dari pengatan suhunya..
“Baiklah suhu, kapan kira kira tecu harus berangkat.”
“Hari ini juga..”
Kwee Li Siang nampak kaget, tidak menyangka gurunya akan menyuruh pergi hari ini juga.
“tapi suhu, tidak bisakah menunda hingga beberapa pecan, tecu masi ingin bersama suhu…”
“Lepaskan ikatan karena segala sesuatu di dunia ini pasti ada akhirnya..pergi hari ini atau besok atau beberapa pekan lagi sama aja toh akan berpisah murid ku.”
“baiklah suhu, tapi ijinkan murid memasakan masakan kesukaan suhu, karena murid tidak tau kapan akan bertemu lagi..”
“tidak usah repot repot murid ku, suhu sudah menyiapkan semuanya..hayo kita makan, sebagai tanda perpisahan..”
__ADS_1
Kwee Li Siang terharu melihat gurunya telah menyiapkan semuanya…bahkan terlihat sebuah buntalan pakaian lengkap dengan isinya telah di letakan di atas meja..
Setelah selesai makan bersama, Kwee Li Siang pamit dan mulai meninggalkan timpat tinggal gurunya, tempat yang membesarkan dirinya dan tempat di mana dia di latih ilmu silat tinggi selama kurang lebih 13 tahun.
Langkah kakinya begitu ringan, kini Kwee Li Siang Bisa berlari ratusan KM tanpa berhenti dan seakan kakinya tidak menyentuh tanah, Kwee Li Siang sekaan terlihat terbang bagai.
Beberpa bulan kemudian, semenjak memasuki Dunia Persilatan, namanya mulai di kenal karena perbuatannya yang menentang segala tindakan kejahatan. Banyah golongan hitam di hancurkannya tanpa ampun, mulai dari perampok, bajak sungai hingga tokoh golongan hitam dan para pendekar yang penasaran dengan Kwee Siang, satu persatu mereka yang menentangnya di robohkan. Hingga namanya makin terkenal di bagian utara..karena penampilannya yang selaalu berpakaian putih dan selalu berwajah tanpa senyum kwee siang akhirnya di juluki “BIDADARI BERKABUNG”.
Kwee Li Siang mengembara selama kurang lebih 2 tahun di sisi utara tiongkok, hingga jau ke pedalaman utara, ke suku suku yang di kenal suku pengembara, kita, yuan bahkan hingga ke daerah mongol. Setelah merasa puas mengembara hingga ke daerah mongol, kwee li siang teringat akan musuhnya, para perampok yang telah membantai keluarganya tanpa ampun bahkan telah memperkosa ibunya. Segera kwee siang kembali ke selatan perbatasan sisi utara dan selatan tiongkok untuk mencari musuhnya.
“sudah sejau ini tapi tidak ada tanda tanda keberadaan mereka”. Terdengar wanita itu berkata perlahan.”
Saat Kwee Li Siang sedang berjalan sendiri, dia mendengar suara senjata beradu. Dengan gerakan ringan, kwee li siang melayang kearah sumber suara. Kwee siang bersembunyi di atas pohon, untuk melihat situasi.
Terlihat perkelahian yang berat sebelah, sekumpulan Piauwshu sedang bertarung mati matian melawan sekelompok orang yang terlihat berwajah garang dan kasar yang rata rata memiliki ilmu silat di atas para Piauwshu.
“Menyerahlah dan serahkan semua barang kawalan kalian.” Terdengar suara pimpinan perampok sambil mengerahkan goloknya kearah para Piauwshu. Dua orang Piauwshu roboh dengan luka sabetan golok.
__ADS_1
“Kami selalu membayar pajak dan selama bertahun tahun kami selalu melewati tempat ini dengan aman, tapi kenapa sekarang kalian menyerang kami?” kata Tan Piauwshu penuh penasaran.
“Jangan banyak bicara, serahkan semua barang yang kalian kawal atau kalian mati semua di tempat ini.”
“Tuan Tan…apa yang terjadi? Apakah ada masalah..kenapa mereka menghalangi jalan kita..berikan saja mereka sekantong uang perak dan kita pergi dari sini.” Terdengar
suara seorang wanita dari dalam kereta yang ke dua..
“Nyonya..saya rasa tidak semudah itu, bertahun tahun kami selalu melewati hutan ini dan kami selalu memberikan upeti pada mereka, namun kali ini mereka tetap menggangu. Saya rasa yang terjadi hari ini tidak semudah yang di pikirkan.”
“Berapa jumlah mereka Tuan Tan..?”
“Jumlah mereka dua kali lipat dari jumlah kita Nyonya.”
“Apakah Tuan Tan yakin bisa menghadapi mereka?”
“kalau tujuan mereka uang, saya yakin kita bisa melewati mereka, namun kalau pikiran saya benar sepertinya…..”
__ADS_1