
BAB. 17
perhatian Kwee Li Siang dan segera memasuki restoran itu.
“Selamat sore Nona, sepertinya nona bukan berasal dari kota ini. Sebuah pilihan tepat bagi nona memilih restoran kami”.
Kata seorang pelayan yang menyambut Kwee Li Siang di depan pintu masuk. Kwee Li Siang sedikit heran, karena sekilas pelayan itu langsung mengetahui bahwa tamunya adalah seorang yang berasal dari luar kota.
“Nona tidak perlu heran, terlihat jelas dari penampilan Nona, pakaian Nona menandakan Nona baru saja melakukan perjalanan jau. Kami juga memiliki penginapan yang kami sediakan bagi para tamu kami Nona”. Sambung si pelayan dengan wajah tersenyum.
“Tuan, tolong siapkan saya kamar yang bersi lengkap dengan air untuk mandi”.
“Baiklah Nona, untuk itu silakan menunggu terlebih dahulu sambil kami meyiapkan kamar pesanan Nona. Apakah nona ingin makan di kamar atau di restoran kami?”
“Ah. Baiklah nona dan maaf, mari ikut saya ke lantai dua, Nona bisa menunggu di sana karena kamar kami terletak di lantai dua restoran ini”. Sambung pelayan itu, karena melihat tamunya seperti tidak menyukai sikapnya yang terlalu banyak bicara.
Kwee Li Siang di antar ke lantai dua dan menunggu kamarnya dia siapkan. Silakan Nona menunggu di meja ini, kami akan segera menyiapkan kamar pesanan Nona.
“Tuan, tolong siapkan saya makanan sekarang, sayur dan daging. Biarlah saya makan sambil menunggu kamar pesanan saya”.
“Baiklah Nona, pesanan anda akan segera kami siapkan. Apakah Nona membutuhkan arak?”
“Cukup siapkan saya air putih tuan”
Setelah menunggu beberapa terlihat beberapa pelayan mengantarkan makanan ke meja Kwee Li Siang.
“Silakan nona menikmati makanan ini”
Setelah pelayan berlalu Kwee Li Siang mulai menyantap makanannya. Setelah bebrapa minggu hanya makan buah buahan dan binatang hutan dengan bumbu seadanya, bagai terbalaskan dendam dalam perut Kwee Li Siang.
Seorang pria mudah nampak duduk di pojokan restoran sedang menikmati makanannya, sekilas pemuda itu memandang Kwee Li Siang dan merasa terpesona dengan kecantikan dan keindahan bentuk tubuh Kwee Li Siang, namun pemuda itu segera memalingkan wajahnya ketika Kwee Li Siang tanpa sengaja melihat kearah pemuda itu.
Karena pemuda itu kembali menikmati makanannya dan tidak lagi memperhatikannya, Kwee Li Siang pun mengabaikanya dan kembali menikmati makannanya.
“Nona, kamar pesanan Nona suda siap, apakah Nona akan beristirahat sekarang atau masi akan di sini, kami bisa memindahkan makanan Nona ke kamar jika Nona ingin melanjutkan makan di kamar?”
“Biarlah Tuan, saya masi ingin di sini”.
“Kamar Nona terletak di seberang tangga menghadap ke taman bagian belakang, jika butuh sesuatu silakan memanggil pelayan”. Kata pelayan itu sambil meningga kan Kwee Li Siang melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, Kwee Li Siang segera menuju kamarnya untuk beristirahat. Terlihat sebuah bak air yang terisi penuh di sudut ruangan lengkap dengan peralatan mandi.
“Ternyata penginapan ini sangat lengkap”.
Kwee Li Siang nampak puas dengan pelayanan penginapan ini dan fasilitas yang ada, palagi saat membuka jendela bagian belakang terlihat taman yang di penuhi bunga bunga indah yang kebetulan sedang bermekaran.
Kwee Li Siang segera membersihkan dirinya menggunkaan air yang telah di sediakan, Kwee Li Siang yang merasa kamar itu aman dan setelah memastikan pintu dan jendela tertutup rapat segera melepas pakaiannya. Tampak tubuhnya yang ramping namun padat berisi di tambah lagi dengan kulitnya yang putih bersi terlihat sempurna untuk seorang wanita.
Kwee Li Siang membenamkan dirinya ke dalam bak air, ia tampak menikmati suasana itu apalagi selama dua minggu ia hanya membersihkan dirinya menggunakan air dalam hutan.
Tidak terasa hampir setengah jam ia berada dalam bak air, ia kadang tersenyum sendiri menyaksikan tubuhnya yang tanpa busana.
Setelah selesai mandi, Kwee Li Siang memilih untuk tidur. Bagi seorang wanita seperti Kwee Li Siang meski dalam keadaan tertidur tetapi semua panca indranya tetap dalam ke adaan siap dari segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Tok. Tok. Tok. (suara pintu di ketuk)
“Nona. Nona.”
Kwee Li Siang terbangun karena mendengar suara pelayan.
__ADS_1
“Ada apa tua?” Kwee Li Siang menjawab tanpa berdiri dari tempat tidur.
“Nona, apakah Nona akan makan malam di kamar atau di restoran?”
“Tolong siapkan makanan di restoran, sebentar lagi saya akan keluar”.
“Baiklah Nona” terdengar suara langka kaki yang mulai menjau.
Setelah selesai bersiap dan merapikan tempat tidur, Kwee Li Siang segera menuju ke restoran.
“Ah ternyata Lihiap menginap di sini”
Kwee Li Siang melihat kearah suara yang menegurnya.
“Komandan Ang!”
“Kalau Lihiap tidak keberatan, silakan bergabung di meja kami kebetulan kami hanya berdua dan perkenalkan Lihiap, ini Jendral Bow Panglima di benteng kota ini”.
Kwee Li Siang merangkapkan kedua tangannya kearah Jendral Bow yang di balas dengan gerakan yang sama oleh Jendral Bow sambil tersenyum.
“Terima Kasih, saya telah memesan meja sendiri”.
Saat kwee Li Siang berjalan menuju ke mejanya, kembali dia melihat Pemuda yang sore tadi duduk di pojok ruangan itu. Pemuda itu nampak telah selesai makan dan setelah mengahabiskan minumannya, pemuda itu terlihat meninggalkan mejanya dan turun ke lantai satu. Dari temppat duduknya, Kwee Li Siang dapat melihat pemuda itu meinggalkan restoran itu.
Kwee Li Siang yang tidak menaruh perhatian lebih pada pemuda itu memilih untuk segera memakan makanannya, namun berbeda dengan Komandang Ang, ia nampak berbisik dengan jendral Bow setelah itu ia terlihat pergi meninggalkan Jendral Bow sendiri di restoran itu.
Jendral Bow juga yang di tinggal sendiri tak berapa lama setelah komandan Ang pergi juga meninggalkan restoran itu.
Pemuda itu nampak berjalan sendiri mengelilingi kota Ji’an seperti seorang yang sedang mengagumi keindahan malam kota Ji’an.
“Ada apa dengan kota ini, setahu saya kota ini sangat ramai di malam hari”.
Dari atap pemuda itu melihat sesosok bayangan melesat dan berhenti tepat di simpang jalan.
“Ke mana orang itu, gerakannya begitu cepat” guman bayangan yang ternyata sedang mengikuti pemuda itu. Orang itu segera melesat kembali kearah dia tadi datang.
“Sepertinya sengaja mengikuti ku”
Banyangan itu akhirnya pergi dengan cara melompat dari atap rumah keatap rumah lainnya.
“Berhenti. Tangkap penjahat!”
Terdengar teriakan dan entah dari mana bermunculan belasan orang yang memegang pedang di tangan.
“Penjahat cabul, lebih baik segera meyerah untuk di adili”.
Pemuda itu merasa heran akan kemunculan belasan orang ini di atap, di tambah lagi mereka menyebutnya penjahat cabul.
“Apa maksud tuan tuan dengan penjahat cabul dan siapa penjahat cabul itu?”
“jangan berpura pura, lebih baik kau menyerah untuk kami bawa di pengadilan!”
“Sepertinya terjadi salah sangka di sini” guman pemuda itu.
Karena tidak ingin bertarung dan di kenali, pemuda itu segera melesat pergi, belasan orang yang ternyata adalah para pengawal kota Ji’an memandang bingung karena lawan mereka tiba tiba menghilang entah ke mana.
Terjadi keributan malam itu di kota Ji’an, kembali seorang gadis menjadi korban Siauw Sik Kwi. Kali ini yang menjadi korban anak seorang hartawan, terlihat para petugas keamanan sibuk memerikasa jasad wanita itu yang di temukan meninggal di kamarnya dalam keadaan tanpa busana.
Sementara itu di sutut kota Ji’an, di antara atap rumah penduduk terlihat dua sosok yang melesat sangat cepat. Sosok pertama seorang pria berpakaian putih, sementara sosok kedua terlihat seorang wanita yang juga berpakaian putih.
__ADS_1
Sosok pertama berhenti di atap sebuah gedung paling tinggi. Sementara sosok keduapun berhenti di tempat agak jau sambil mengawasi sosok pertama.
“Hemp. Kemana perginya orang itu?”
Terdengar suara sosok pertama yang ternyata seorang pria muda berwajah tampan.
Pria itu tiba tiba memiringkan tubuhnya, sebuah senjata rahasia se jenis Piauw (pisau kecil yang bisa di lempar) melesat melewati kepalanya.
Terdengar bentakan keras dan tiba tiba tempat itu telah di kepung belasan orang yang memegang senjata.
“Penjahat cabul, mau lari kemana kau?” seorang yang menjadi pemimpin rombongan itu langsung memberi aba aba menyerang.
Pemuda itu, merasa bingung dalam semalam dua kali Ia di maki penjahat cabul.
Dalam beberapa gebrakan, ia mengetahui bahwa jika ia mau dalam waktu singkat semua penyerangnya dapat di robohkan dengan muda.
Para penyerang semakin mendesak pemuda itu, mereka mengerakan semua kemampuan mereka namun tetap saja tidak bisa menyentuh pemuda itu.
Seorang tiba tiba melepaskan tanda rahasia keudara, sebuah panah api melesat dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu singkat para penjaga kota mulai berdatangan mengepung pemuda itu. Setidaknya ada seratusan orang prajurit di tambah lagi yang masi berdatangan.
Kepung rapat, jangan biarkan dia lolos. terdengar teriakan seorang yang ternyata adalah seorang perwira.
Para prajurit yang mendengar komando atasannya segera mengepung pemuda itu. Beberapa prajurit yang berada di bawa segera melincat keatap dan mengepung pemuda itu.
“Kalau seperti ini terus bisa berbahaya” guman pemuda itu.
Pemuda itu yang awalnya hanya menghindar kini mulai balas menyerang balik, tanpak kepungan mulai kocar kacir.
“Siapkan anak panah!”
Seketika berterbangan belasan anak panah kea rah pemuda itu, namun dengan sekali mengerakan tangan semua anak panah berjatuhan di atap.
Perwira itu terkejut, ternyata penjahat ini sunggu lihai hanya dalan satu kibasan tangan semua anak panah dapat di halau.
“Minggir semua, biarkan saya yang meghadapinya”.
Seorang wanita muda kini berhadapan dengan pemuda itu.
“Sepertinya penjahat cabul adalah tamu restoran tadi” kata wanita itu.
Ternyata bayanyan yang mengejar pemuda itu adalah Kwee Li siang.
“Nona, saya tau dari tadi kau mengikuti saya”.
Kwee Li Siang yang sedari tadi hanya menontong kini menyadari lawannya adalah seorang yang berkepandaian tinggi. Pantas saja para penjaga kota dan para pendekar yang berusaha menangkapnya semuanya gagal bahkan ada yang meregang nyawa di tangan penjahat cabul ini.
Menyadari lawannya seorang yang berkepandaian tinggi, Kwee Li Siang langsung mencabut pedangnya.
Kwee Li Siang langsung menyerang menggunakan pedang, sinar pedang mengurung pemuda itu. Jurus pedang Kwee Li Siang terlihat bagai ratusan pedang yang menyerang dari berbagai arah.
Sementara itu, perwira dan para pasukan hanya mengepung dari jarak aman agar tidak terekna imbas pedang Kwee Li Siang.
“Hebat! Jurus pedang yang hebat!” kata pemuda itu memuji.
Kwee Li Siang merasa di remehkan, walaupun lawannya memuji jurus pedangnya namun lawannya masi bisa bicara, hal itu
\=\=\=\=\=\=\=》》》》
Tetap dukung penulis dengan meninggalkan like dan komen..🙂
__ADS_1