
BAB. 23
Kwee Li Siang melesat cepat seperti sedang terbang, Ia segera kembali memasuki kota. Ketika sampai di penginapan hari hamper gelap, Ia memanggil pelayan meminta untuk menyiapkan makan malam dalam kamarnya.
Keesokan harinya, setelah membayar semua tagihan penginapan Kwee Li Siang segera melanjutkan perjalanannya menuju ke sebuah pulau kosong mengikuti peta pemberian Dewa Arak.
Kwee Li Siang menuju ke pelabuhan untuk mendapatkan perahu.
“Lopek. Saya ingin menyewa perahu mu selama satu bulan untuk berkeliling di sekitaran sini”.
“Maaf Nona, perahu ini saya gunakan sehari hari untuk mencari ikan, jika nona menyewa perahu ini selama sebulan, bagaimana saya mencari makan untuk keluarga saya?”
“Saya rasa ini cukup untuk biaya hidup lopek dan keluarga selama satu tahun”. Sambil memberikan sekantong uang emas.
Pemilik perahu yang melihat bahwa uang dalam kantong adalah uang emas hanya melongo, seperti orang linglung merasa tidak percaya bahwa di tangannya da uang emas yang sangat banyak. Uang emas yang bisa menghidupi keluarganya selama setahun penuh.
“Bagaimana Lopek? Apakah uang utu cukup untuk menyewa perahu mu!”
“Ah.ah.ah. ya nona uang ini lebih dari cukup untuk mendapatkan perahu baru yang lebih besar”.
“Sudahlah Lopek, saya menyewa perahumu untuk beberapa bulan dan lopek boleh memiliki uang emas itu. Setelah urusan saya selesai perahu ini akan saya kembalikan dalam keadaan baik dan uang emas itu tetap menjadi milik lopek”.
“Baiklah Nona dan terima kasih”.
Setelah membayar perahu Kwee Li Siang segera medayungkan perahunya berlayar ke tengah laut. Sekitar dua jam mendayungkan perahunya, kini mulai terlihat beberapa pulau yang seperti dalam pentunjuk di petah.
Seperti tergambar dalam peta, ketika memasuki deretan pulau pulau itu, Kwee Li Siang harus mengambil jalur kiri dan membelokan perahunya meuuju kearah selatan hingga menemukan sebuah pulau kosong yang di tumbuhi pepohonan besar.
Kwee Li Siang terus mendayung perahunya hingga malam tiba belum nampak tanda tanda pulau yang di maksud. Kwee Li Siang mulai kawatir jangan jangan Dia tersesat, tapi kalau melihat keterangan peta, harusnya arah yang di ambil Nya sudah benar.
Untung bagi Kwee Li Siang bahwa cuaca saat itu sedang teduh, air laut terlihat tenang hanya ombak ombak kecil yang terlihat mengiasi keadaan sekeliling perahuNya.
Tanpa di sadari Kwee Li Siang tertidur di perahunya. Entah berapa lama Ia tertidur dan di permaikan ombak, namun ketika Ia terbangun, matahari telah mulai menyinari lautan di sekelilinya.
Melihat hamparan air laut yang begitu luas dan tenang, namun tanpa kelihatan dasarnya meski air kelihat jerni, seketika menimbulkan perasaan ngeri di benak Nya. Apa yang akan terjadi dengan dirinya jika tiba tiba terjadi badai di tengah laut, sementara perahunya hanya berukuran kecil di tambah hanya seorang diri.
Keadaan keadaan seperti ini membuat kesadaran Kwee Li Siang menjadi lebih waspada dan pekah terhadap alam dan lebih mengakui kekuasaan Tuhan yang tiada batas.
__ADS_1
Ketika hari mulai menjelang siang, Kwee Li Siang melihat sebuah pulau seperti yang tergambar dalam peta.
Kwee Li Siang terus mendayung perahunya hingga mencapai pesisir pantai pulau itu. Ia mencari tempat untuk menyimpan perahunya agar tidak di bawa ombak jika terjadi air pasang.
Setelah menyimpan perahunya di tempat yang aman dari air pasang, Kwee Li Siang segera mencari Goa yang di maksud.
Tidak sulit bagi Kwee Li Siang untuk menemukan Goa itu, karena Goa itu terletak di puncak seisi selatan pulau itu.
Setelah berada di depan Goa Kwee Li siang berusaha mendorong pintu Goa itu dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, namun pintu itu tidak bergeser sidikitpun. Begitu juga ketika ia mengunakan seluruh tenaga dalamnya untuk menghancurkan pintu Goa tetap pintu yang terbuat dari batu besar itu masi kokoh berdiri.
“Sepertinya tidak ada carah lain untuk memasuki Goa ini selain yang di katakana Dewa Arak”.
Kwee Li Siang mulai bersemadhi mengumpulkan hawa murni dengan cara yang di ajarkan Dewa Arak, setelah merasa tenaganNya cukup, Kwee Li Siang mengalirkan hawa itu secarah perlahan kearah pintu Goa.
Terdengar suara seperti batu yang mengelinding dan secarah perlahan pintu batu Goa yang terbuat dari batu itu mulai bergerak ke samping hingga terbentuk sebuah celah seukuran manusia untuk lewat.
Kwee Li Siang langsung memasuki Goa dengan cepat. Seperti yang di katakana Dewa Arak, begitu pintu Goa terbuka harus segera memasukinya karena pintu ituu hanya kaan terbuka beberapa menit dan secarah otomatis akan tertutup lagi.
Setelah berada di dalam Goa, Kwee Li Siang mulai memeriksa isi Goa tersebut. Bagian dalam goa itu cukup luas pada sisi kanan gua itu terdapat batu besar yang memanjang dan bagian atas batu membentuk lempeng memanjang yang cukup untuk di gunakan sebagai tempat tidur.
Beberapa saat kemudian, terdengar pintu goa mulai bergeser dan tertutut, setelah pengaruh hawa murni yang di lairkan Kwee Li Siang mulai menipis dan tidak mampu menahan bobot pintu itu.
“Hemp. Sepertinya keterangan Dewa Arak benar”.
Kwee Li Siang kembali memasuki goa dan mulai memeriksa keadaan lebih dalam, setelah menemukan kitab peninggalan keluarganya dan memeriksa kitab itu, Ia merasa kagum dengan Ilmu dalam kitab itu, sebuah ilmu pedang kuno dengan teknik meyerang yang tinggi dan di bekali dengan teknik bertahan yang kokoh.
Pada bagian lembar pertama kitab itu tertulis riwayat pencipta ilmu pedang itu.
Ilmu pedang itu di ciptakan oleh seorang pengeran yang hidup di masa Tiga Maha Raja dan Lima Kaisar.
Di kisahkan seorang pangeran bernama Pangeran Yu adalah salah seorang putra dari salah satu kepala suku terkuat saat itu dari ras penguasa manusia.
Peperangan antara ras Manusia, ras Bumi dan ras Langit, memaksa pangeran Yu untuk terus bertambah kuat demi mempertahankan kekuasaan Ayahnya yang selalu di ganggu oleh kedua ras lainnya.
Setelah menaklukan suku suku dari ras manusia dan mengumpulkan parah ahli beladiri dan ahli perang, Pangeran Yu berhasil menciptakan Ilmu Pedang tingkat tinggi dan dan sebuah Ilmu Seni Perang.
Sayang nya, Pangeran Yu menghilang setelah suku Xia berhasil menyatukan daratan Tiongkok hingga membentuk sebuah kerajaan.
__ADS_1
Menghilangnya Pangeran Yu sekaligus ikut leyapnya kedua kitab ciptaannya yang berhasil menjadikan suku Xia sebagai penguasa pertama daratan Tiongkok.
****
“Perampok keji, lepaskan anak ku!”
Terdengan suara seorang pria paru baya yang sedang berusaha merebut anaknya.
Pria itu melompat ke udara sambil berjungkir balik sebanyak tiga kali dan menendang kearah perampok itu.
Kepala perampok yang meremehkan lawannya menjadi terkejut, ketika serangan kaki lawannya mendekat, terasa hawa yang amat kuat keluar dari kaki penyerangranya.
DUK…
Perampok itu terjengkang belasan meter ke belakang karena tendangan lawannya dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Para perampok lainnya yang melihat pimpinan mereka kalah dalam satu gebrakan hingga terluka parah menjadi terkejut dan marah, serempak mereka maju menyerang lawan mereka dengan menggunakan golok dan pedang.
Seganas apapun para perampok dan meski menang jumlah namun mereka hanyalah kumpulan orang kasar yang bisa mengandalakan kekuatan fisik untuk menindas yang lemah.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, belasan perampok itu di buat tak berdaya oleh pria paru baya itu.
“Hemp.. Hanya mengandalakan kemampuan seperti ini untuk menjadi perampok!”
Guman pria paru baya itu.
“Tunggulah pembalasan kami!” kata kepala perampok sambil di gotong anak buahnya meninggalkan tempat itu.
“Ayah…!” teriak gadis remaja yang tadi di tangkap perampok itu.
“Anak Mei, hayo kita segera meninggalkan tempat ini.”
“Siapa mereka ayah?”
“Mereka adalah para perampok yang biasanya beroprasi di sepanjang sungai ini.” Kata pria paru baya itu sambil mengandeng anaknya meninggalkan tempat itu.
Sial bagi para perampok itu, mereka bisanya tidak pernah gagal dalam menjalankan aksi mereka selama ini, namun kali ini mereka ketemu batunya tidak mereka sangka dan mungkin mereka akan berpikir seratus kali untuk menggangu pria paru baya itu jika mereka tau siapa calon korban mereka
__ADS_1
**Terima kasih bagi para pembaca yang masi menunggu update selanjutnya, untuk beberapa waktu kedepan update akan ada keterlambatan karena kesibukan pekerjaan.
salam penulis**