
BAB. 16
Yu Bing yang menerima Kain itu langsng memanggil tabib untuk mengobati paha Dewa Arak.
“Kau sunggu licik sahabat, namun kami sangat berterima kasih dengan kesediaan mu selama ini menjaga pusaka peninggalan suhu”.
“Belasan bahkan puluhan tahun kulit itu menggangu kaki saya, kini kulit itu saya serahkan kembali pada kalian berarti tugas saya selesai”.
Yu Bing yang melihat lembaran kulit itu memandang pada Dewa Arak dengan wajah kaget, karena potongan kulit itu bukan barang yang di titipkannya puluhan tahun lalu melainkan sebuah peta penunjuk arah.
Dewa Arak yang melihat reaksi temannya tampak tersenyum dan berkata.
“Pengemis Tua, apa kamu kira saya begitu sinting membawa barang titipan mu yang puluhan bahkan sejak ratusan lalu telah menjadi rebutan orang orang dunia persilatan?. Saya tidak sebodoh itu, potongan kulit yang kau pegang adalah peta untuk menuju ke tempat di mana saya menyimpan benda titipan mu itu. Dan orang yang nantinya mengambil benda itu, harus menguasai Singkang yang kusus saya ciptakan untuk membuka pintu tempat penyimpanan.”
Yu Bing dan Suhengnya tertegun dan merasa berterimah kasih, bahwa sahabat mereka menjaga benda peninggalan Suhu mereka dengan cara yang luar biasa.
“Nona Kwee, pergilah nona mengikuti petah itu untuk mengambil benda peninggalan keluarga mu, namun pesan saya sebelum nona memutuskan untuk untuk mengambil benda itu, nona harus berjanji untuk untuk mempelajari semuanya dengan sempurna baru keluar dari tempat itu, karena jika nona tidak menguasai ilmu itu dengan sempurna hanya akan mendatangkan bencana pada Dunia persilatan”.
“Apa maksud Locianpwee?”
“Dengarlah Nona, kitab peninggalan keluarga nona adalah kitab yang ratusan tahun lalu sangat mengemparkan dunia persilatan dan menjadi rebutan kaum dunia persilatan jika kitab itu jatuh ke tangan aliran hitam maka dapat di pastikan akan terjadi kekacuan besar. Setelah nona menguasai ilmu keluarga nona maka nona harus mempelajari kitab kedua yang ada di belakang batu besar berwarna putih, karena hanya dengan ilmu yang ada dalam kitab itu nona bisa keluar dari dalam tempat penyimpanan kitab dan setelah itu, harap nona memunsnakan kitab kitab itu agar tidak terjatuh ke tangan yang salah”.
“Baiklah Locianpwe, saya mengerti maksud Locianpwe, kalau begitu saya mohon pamit untuk mengambil kita itu”.
“Tunggu nona, memiliki peta itu bukan berarti nona bisa memasuki tempat penyimpanan itu, seperti yang telah saya katakan, untuk memasuki tempat itu di butuhkan singkang kusus, maka dari itu nona sebelum berangkat harus mempelajari tenaga singkang itu, tinggal lah di sini bebrapa hari hingga nona menguasai ilmu Singkang itu”.
Kwee Li Siang tinggal di bersama para pengemis selama tiga hari dan selama itu juga Dewa Arak mengajarkan Singkang kusus yang dia ciptakan untuk membuka pintu tempat penyimpanan pusaka peninggalan keluarga Kwee.
Tiga hari kemudian, Kwee Li Siang meninggalkan gedung perkumpulan Pengemis Teratai mengikuti peta pemberian Dewa Arak. Kwee Li Siang terus berjalan kearah selatan hingga berbulan bulan.
****
Kota Ji’an adalah salah kota pesisir pantai yang terletak di selatan Tiongkok, kota ini merupakan salah satu kota ramai di sepanjang pesisir pantai karena memiliki pelabuhan laut yang cukup besar.
Tahun 592 merupakan tahun ke tiga pemerintahan Dinasti Sui atas keseluruhan Dataran Tiongkok, mulai dari Utara hingga Selatan Tiongkok .
Kaisan Wen yang merupakan Kaisar pertama Dinasti Sui, memerintah dengan sangat tegas. Kaisar ini tidak segan segan menjatuhkan hukuman mati bagi pejabatnya yang melakukan pelanggaran, bahkan beberapa keluarga kerajaanpun tidak luput dari sikap keras Kaisar Wen.
Sikap keras inilah yang membuat Kekaisaran Sui mendapatkan pengakuan sepenuhnya dari daerah daerah taklukannya, termasuk daerah bekas QI Utara dan Dinasti Chen di selatan.
Setalah memerintah selama kurang lebih tiga tahun, telah nampak perubahan di hampir seluruh Daratan Tiongkok, kini kota kota mulai kembali ramai aktifitas masyarakat mulai berangsur pulih, kota kota yang awalnya banyak di tinggal mengungsi penduduknya karena peperangan kini mulai ramai karena para penduduknya mulai kembali.
Dapat di kata, Kaisar Wen merupakan kaisar yang paling sukses di jaman Dinasti Sui selama periode tahun 581 hingga tahun 604 dan kemudian di gantikan oleh putranya yang kedua yang bernama Yang Guan dan bergelar Kaisar Ming.
Kota Ji’an adalah salah satu kota yang menderita kerusakan besar akibat perang, pada saat bala tentara Dinasti Sui menyerang Dinasti Chen, namun karena Kota Ji’an merupakan salah satu kota pelabuhan yang ramai maka pembangunan di kota ini terbilang sangat cepat. Kaisar Wen sendiri membantu pembangunan kota ini dengan mengirim utusan kusus ke Kota Ji’an.
Namun, seperti lakyaknya kota kota lain sebaik apapun Pejabatnya, sebaik apapun pemangaman kota itu, seramai appaun kota itu aka nada satu dua kejadian kejahatan yang terjadi, Kota Ji’an tidak terkecuali.
__ADS_1
Beberapa hari terakhir Kota Ji’an di gemparkan dengan munculnya seorang yang di sebut Siauw Sik Kwi, seorang penjahat yang sering menculik gadis gadis muda dan saat gadis gadis itu di temukan selalu dalam keadaan meninggal, terlebih lagi gadis gadis itu meninggal dalam keadaan telanjang dan terdapat tanda tanda kekerasan pada tubuh mereka. Dapat di pastikan para gadis gadis itu telah di perkosa sebelum di bunuh.
Segala upaya di lakukan pihak pemerintah untuk menangkap penjahat itu, namun selalu penjahat itu dapat meloloskan diri. Bahkan pihak pemerintah telah meminta bantuan para pendekar pendekar yang tinggal di kota itu, namun banyak di antara pendekar pendekara itu mati terbunuh oleh Siauw Sik Kwi.
Telah ada tujuh wanita mudah menjadi korban Siauw Sik Kwi namun pemerintah masi tidak bisa menangkapnya.
Seorang wanita cantik terlihat berjalan memasuki kota Ji’an, wanita itu berpakain putih yang terlihat selaras dengan warna kulitnya yang putih mulus, apalagi di tambah bentuk tubuhnya yang padat berisi membuat semua mata pria yang memandangnya seakan sedang melihat seorang bidadari.
Wanita itu adalah Kwee Li Siang atau yang di kenal Bidadari Berkabung, Kwee Li Siang tiba di kota Ji’an setelah melakukan perjalanan berbulan bulan dari Loukyan menuju ke tempat penyimpanan kitab keluarga Kwee.
“Ah. Sepertinya ini kota terakhir yang harus saya lewati”.
Karena hari makin sore, Kwee Li Siang bergegas masuk ke kota untuk mencari penginapan sekaligus untuk mengisi perut. Semenjak melewati kota terakhir sekitar dua pekan yang lalu, Kwee Li Siang hanya memakan buah buahan dan binatang hutan yang di panggang dengan bumbu seadanya dan untuk beristirahat pun di lakukan di tengah hutan dan hanya di terangi oleh sinar api yang sekaligus untuk mengusir hawa dingin.
“Nona, Harap berhenti sebentar”.
Terdengar suara penjaga gerbang kota menahan langkah Kwee Li Siang.
“Nona, harap bersedia mengikuti prosedur untuk memasuki kota bagi para pendatang”.
“Saya hanya ingin bermalam di kota ini”.
Kata Kwee Li Siang agak ketus.
“Maaf Nona, ini sudah menjadi prosedur keamanan di sini dan berlaku bagi siapapun yang ingin masuk ke kota ini”.
Kwee Li Siang yang tidak ingin menimbulkan keributan segera mengikuti penjaga kota, lagi pula ia merasa terlalu lelah dan sangat membutuhkan tempat untuk beristirahat sekaligus untuk mengisi perutnya. Kwee Li Siang di perhadapkan pada Komandan jaga saat itu.
Terdengar suara komandan jaga sambil merasa terkagum melihat kecantikan wanita di depannya.
“Nama saya Li Siang bermaga Kwee. Saya adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di kota ini setalah melakukan perjalanan berminggu minggu semenjak meninggalkan kota terakhir yang saya lewati Tuan”.
Jawab Kwee Li Siang sambil memperhatikan reaksi komandan jaga.
“Hemp. Sepertinya nona seorang pendekar wanita?”
Bersamaan dengan pertanyaan Komandan jaga itu, melesat beberapa senjata rahasia kearah Kwee Li Siang dengan kecepatan luar biasa. Kwee Li Siang hanya mengeser posisi sambil tersenyum.
“Hemp. Inikah sikap para penjaga keamanan kota terhadap para tamunya?”
“Lihat Serangan Nona”.
Komandan jaga langsung menyerang Kwee Li Siang dengan Goloknya. Komandan jaga ini terkenal dengan ilmu golok keluarganya yang amat luar biasa, hingga dia di juluki Golok Sakti Dari Ji’an.
Serangan goloknya bergerak lincah namun terlihat kokoh, setiap pengerahan jurusnya menimbulkan suara desingan angin namun terarah pada satu tujuan.
Kwee Li Siang merasa takjub dengan Ilmu Golok yang di mainkan lawannya.
__ADS_1
Kwee Li Siang yang merasa tidak bermusuhan dengan lawannya dan tidak ingin mencelakakn lawannya hanya mengelak sana sini dengan mengandalkan gingkang.
Komandan jaga merasa penasaran, telah lewat dua puluh jurus namun belum juga dia mampu mendesak lawannya. Hingga lewat tiga puluh jurus akhirnya komandan itu menghentikan serangannya.
“Maafkan kelancangan saya Nona”. Terdengar suara Komandan jaga.
“Hemp”. Hanya terdengar suara kecil dari mulut Kwee Li Siang.
“Saya ingin memastikan bahwa nona adalah seorang pendekar wanita, karena melihat keadaan kota saat ini sangat berbahaya bagi seorang wanita biasa untuk bepergian sendiri, baik di luar kota ataupun dalam kota sendiri”.
Kwee Li Siang merasa heran dengan penjelasan Komandan Jaga itu.
“Apa maksud tuan dengan semua yang baru tuan katakan?”
“Sekali lagi saya mohon maaf atas sikap saya tadi Nona”.
“Sudahlah tuan, saya pun tau tuan tidak bersungguh sungguh menyerang, tuan hanya sekedar ingin memastikan apakah saya bisa Ilmu Silat atau tidak. Saya melihat tuan hanya menggunakan sebagian dari kemampuan tuan saat menyerang saya”.
Komandan jaga merasa agak malu, karena niatnya bisa di tebak oleh Kwee Li Siang.
“Sebenarnya apa yang terjadi di kota ini tuan, mungkin saya bisa membantu?”
“Ah lihiap maaf kan kebodohan saya, tidak taunya saya sedang berhadapan dengan seorang pendekar wanita, boleh saya tua siapa dan dari maan Lihiap dan perkenalkan nona, saya Ang To komandan jaga di gerbang ini”
“Seperti yang saya katakana tadi tuan, nama saya Li Siang bermarga Kwee dan saya hanya kebetulan tiba di kota ini”.
Jawab Kwee Li Siang yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Sebagai seorang komandan jaga, tentunya Komandan Ang memahami tabiat kebanyakan orang orang dunia persilatan yang tidak mau di kenali lebih jau.
“Akhir akhir ini kota kami sering di ganggu oleh seorang yang di sebut Siauw Sik Kwi, seorang penjahat wanita dan sampai hari ini sudah ada tujuh wanita menjadi korbannya. Semuanya saat kami temukan telah meninggal dalam keadaan telanjang tanda telah mengalami pemerkosaan”.
Saat menyebut kalimat terakhir, komandan Ang terlihat agak ragu karena Kwee Li Siang adalah seorang wanita.
“Hem. Penjahat cabul. Tuan apakah saya sudah bisa memasuki kota, saya merasa lelah dan ingin beristirahat”.
“Baiklah lihiap, silakan memasuki kota dan berhati hatilah, kami berharap jika ada sesuatu yang mencurigkan, Lihiap segera memberitahukan pada kami. Lihiap cukup berteriak orang orang kami akan segera muncul”.
Kwee Li Siang meninggalkan pos penjagaan dan segera memasuki kota untuk mencari penginapan.
“Sepertinya kota ini di penuhi penjaga yang menyamar seperti masyarakat biasa”.
Bagi Kwee Li Siang yang memiliki tingkat kewapadaan tinggi, tidak sulit mengenali dan membedakan antara masyarakat biasa dan orang orang yang memiliki kemampuan bertarung.
Kemaramian dan keindahan Kota Ji’an membuat Kwee Li Siang merasa tabjub, di sana sini terlihat bangunan bangunan dua lantai berdiri megah has bangunan selatan.
Sebuah bangunan restoran dua lantai yang terletak di ujung jalan utama menarik
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=》》》》
Covid 19 masi menjadi penghalang dalam bwraktifitas, namun penulis berharap agar para penbaca selalu menjaga kesehatan.