PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS

PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS
BAB. 19


__ADS_3

BAB. 19


“Ilmu pedang yang baik! Sayang masi jau dari kemampuan mu melawan saya. Marilah ikut saya dan saya bisa membantu agar kau bisa menguasai ilmu ini dengan sempurna”.


Wanita itupun merasakan hal yang sama, meski mampu mengimbangi lwannya, namun masi belum mampu mengalahkannya. Pertarungan telah berlau setengah jam, namun wanita itu masi belum mampu mengalahkan Siauw Sik Kwi, apa lawannya mengandalkan Gingkangnya untuk menghindar. Siauw Sik Kwi merasa sayang kalau harus melukai lawannya, apalagi lawannya seorang wanita muda yang sangat cantik, Siauw Sik Kwi berpikir untuk mengalahkan wanita ini tanpa melukainya.


“Sepertinya Kamu lebih senang di tundukan dengan kekerasan! Baiklah kalau itu yang kamu mau”.


Siauw Sik Kwi mulai bersikap serius, dia mulai mengunakan ilmu silat tangan kosong yang tadi di gunakan untuk menghancurkan tumpukan api.


Seketika keadaan di sekitar mulai terlihat seperti ada perubahan cuaca, rerumputan di sekeliling terlihat bergoyang padahal tidak ada angin yang bertiup, hal itu di keranakan Siauw Sik Kwi mulai memainkan Ilmu andalannya Ilmu Silat pembalik Delapan Penjuru Angin.


Terjadi perubahan besar pada pertarungan itu, wanita itu kini terlihat kebingungan karena semua jurusnya dapat di mentalkan dengan hanya mengunakan tangan kosong.


Kwee Li Siang yang menonton pertandingan itu dari jau merasa terkejut, tidak menyangka kalau kepandaian Siauw Sik Kwi sehabat ini. Apalagi Ilmu Silat tangan kosongnya, dari tempat dia bersembunyi dapat merasakan energi besar yang keluar dari kedua tangan Siauw Sik Kwi.


Sementara itu Chen yang menyaksikan pertandingan itu dari tempat yang berbeda merasa ada yang aneh dengan Siauw Sik Kwi. Tidak di sangkan penjahat cabul itu memiliki ilmu silat tinggi bahkan ilmu ilmu yang di gunakan bersumber dari aliran bersih, terlihat dari serangan seranganya yang tidak mengandung unsut tipu muslihat.


Sementara itu, dari sisi celah gunung berdatangan rombongan para prajurit yang di pimpin oleh perwira Ang.


Wanita berbaju merah nampak mulai terdesak dan kelelahan, masi untung baginya bahwa lawannya tidak menggunakan tenaga penuh. Pakaiannya terlihat mulai basah oleh keringatnya, pernafasannya terlihat mulai memburu tanda mulai kelelahan.


Namun wanita itu, tetap tidak mau menyerah ia memompa semangatnya untuk terus melawan Siauw Sik Kwi. Ia telah memutuskan bertarung sampai mati.


“Nona kamu terlalu keras kepala”.


Siauw Sik Kwi menambah tenaganya dan memutuskan untuk menundukan wanita cantik di depannya.


Pada saat pedang wanita itu menyerang kearah kepalanya, Siauw Sik Kwi membiarkan pedang itu lewat dengan memiringkan sedikit kepalanya ke kiri, lengan kanannya menangkap pedang sementara lengan kirinya menghantam kearah pundak wanita itu.


Kwee Li Siang dan Chen yang menonton dari tempat persembunyiannya merasa kaget namun terlambat untuk menolong. Kwee Li Siang hanya bisa menahan seruannya.

__ADS_1


Tubuh wanita itu terlempar beberapa meter pedangnya terlepas dari pegangannya. Namun Siauw Sik Kwi terlihat tidak gembira walau berhasil mengalahkan wanita cantik itu.


“Nona. Kau terlalu mendesak saya, beginilah akibatnya kalau orang bertindak tanpa memikirkan akibatnya dan tanpa melihat kemampuan sendiri” Siauw Sik Kwi menendang pedang wanita itu dan terlempar tepat ke samping tubuh wanita itu, menancap ke tanah.


“Penjahat cabul aku lawan mu”


Kwee Li Siang yang tidak tegah melihat keadaan wanita itu, langsung bergerak dan menyerang Siauw Sik Kwi.


“Hemp. Wanita liar dari mana lagi yang datang mengacau”.


Siauw Sik Kwi merasa ada energy pedang yang dasyat yang menyerang bersamaan dengan suara ejekan tadi. Siauw Sik Kwi berusaha menghindar namun semua arah mundur terhalang oleh sinar pedang Kwee Li Siang.


“Hemp! Satu lagi wanita cantik, bukannya lebih baik kalian bersahabat dengan ku. Ah akan terasa indah hidup ini jika mendapat teman dua orang wanita cantik dan memiliki ilmu silat tinggi”.


“Tutup mulut mut kotor mu. Penjahat cabul seperti mu tidak layak di biarkan hidup”.


“Nona terlalu meremehkan orang dan terlalu menganggap tinggi diri sendiri. Kalau merasa memiliki kemampuan nona boleh mencobanya”.


Kwee Li Siang yang merasa tertangtang memompa semangatnya, Ia langsung memainkan Jurus Ratu Pedang, ilmu pedang warisan gurunya yang sengaja di ciptakan untuk Kwee Li Siang karena dia seorang wanita. Ilmu pedang ini adalah ilmu pedang gubahan dari ilmu Raja Pedang milik gurunya dan yang telah menjadikan gurunya pendekar tersohor pilih tanding puluhan tahun lalu. Ilmu ini sengaja di gubah agar lebih cocok di mainkan seorang wanita seperti Kwee Li Siang.


Kwee Li Siang juga merasa kali ini lawannya seorang yang sakti bahkan melebihi kempampuannya sendiri.


Kwee Li Siang telah memainkan Ilmu pedang andalannya, namun lawannya meski sempat terdesak tapi tidak bertahan lama, lawannya mampu mengimbangi lagi bahkan lawannya masi mampu berbicara dengan santai.


Siauw Sik Kwi kini kembali memainkan Ilmu Silat pembalik Delapan Penjuru Angin namun, namun kalau saat melawan wanita berbaju merah tadi hanya menggunakan separuh tenaganya kini Ia harus menambah tenaganya hingga seper empat bagian tenaganya.


Kwee Li Siang merasa bahwa Siaw Sik Kwi telah menambah tenaganya dan merasakan dari kedua tangan lawannya mengalir hawa pukulan yang dasyat yang mampu menghancurkan batu sebesar gaja dewasa.


Kwee Li Siang yang tidak mau kalah tetap memaikan ilmu pedangnya denga rapat, bayangan pedang tetap mengurung Siaw Sik Kwi dengan rapat, bahkan terlihat ada satu goresan pada baju Siaw Sik Kwi. Hal ini membuat Siaw Sik Kwi marah, tiba tiba Ia meloncat ke belakang dan mengangkat tinggi tangan kanannya, sementara tangan kirinya di tarik kebelakang dan dalam satu gerakan selanjutnya, tubuhnya melesat ke depan dengan kecepatan kilat menerobos bayangan pedang.


Kwee Li Siang terperanjat kaget, Ia berusaha menghindar, menutupi celah dengan beberapa teknik pedangnya, namun terlambat pertahanan jurus pedangnya telah hancur, serangan Siauw Sik Kwi menuju kea rah kepalanya.

__ADS_1


Perwira Ang dan anak buahnya terperanjat kaget dan tidak mampu berbuat apa apa, karena pertarungan di depan mereka adalah pertarungan tinggkat tinggi.


Kwee Li Siang, berusaha menghindar sebisanya, namun serangan Siauw Sik Kwi terus mengarah tanpa henti dan sepertinya Siauw Sik Kwi telah berniat untuk menyudahi pertandingan ini dan menganggap Kwee Li Siang sebagai orang lancang yang sepantasnya di beri pelajaran keras.


Kwee Li Siang tau bahwa tidak mungkin menghindari serangan ini, sementara untuk melawannya Dia masi tidak mampu, yang bisa di lakukan adalah sebisanya mengerahkan tenaga hingga puncak sambil pasrah.


Tiba tiba Kwee Li Siang mengingat pemuda tampan yang semalam bertarung dengannya, Kwee Li Siang merasa begitu dekat dengan pemuda itu dan merasa perasaan yang sangat nyaman.


Kwee Li Siang tersadar ketika tubuhnya seperti terhenti oleh sesuatu yang hangat namun terasa hidup dan tanpa di duga pinggangnya yang ramping kini melingkar sebuah tangan yang kokoh dan kekar yang merangkul pinggangnya dengan halus, entah mengapa Ia merasa memiliki perasaan nyaman dan aman ketika tangan itu merangkul pinggangnya.


Seperti tersihir sama perasaannya, ia memejamkan mata dan membiarkan hal itu.


Kwee Li Siang seperti dalam mimpi kini dia di peluk seorang pria yang sering di pikirkannya dan tanpa terasa Ia balas merangkul pria itu seakan pasra dengan keadaan.


Blarrrrr….!


Suara keras terdengar dari pertemuan dua tangan yang sama sama di penuhi hawa singkang yang dasyat. Akibatnya Siauw Sik Kwi mundur empat langkah, sementara orang yang menagkis pukulannya mundur dua langkah sambil tetap memeluk Kwee Li Siang.


Siauw Sik Kwi merasa terkejut ketika melihat orang yang menangkis pulukannya adalah seorang yang masi muda namun dapat membuat Dia terdorong mundur hingga empat langkah. Hal itu membuktikan bahwa Dia kalah tenaga dengan orang muda itu.


Kwee Li Siang tersadar karena suara ledakan tenaga dalam itu, wajahnya berubah menjadi merah dan merasa malu. Dia di peluk di depan orang oleh seseorang yang tidak dia kenal, karena mersa malu tanpa sengaja ia menampar pipi penolonya.


Chen yang tidak menduga akan di tampar oleh wanita itu hanya melongo dan sambil memegang pipinya.


“Anak muda, kepandaian mu begitu tinggi namun sepertinya kamu memiliki bakat yang melebihi bakat ku, kalau saya hanya sekedar merayu kamu bahkan jau melampai saya. Ha..ha..ha.”


Chen yang mendengar itu menjadi jegah, wajahnya menjadi merah tanda ia merasa telah berbuat lancang.


“Maafkan aku nona, aku tidak bermaksud berbuat tidak sopan pada mu. Saya hanya berusaha menolong mu”.


\=\=\=\=\=\=\=》》》》

__ADS_1


**Penulis selalu mengharapkan agar tetap bisa menyajikan tulisan yang bisa memuaskan para pembaca serita silat mandarin. 🙂


jangan lupa like dan komen serta saran dan kritikannya ya. 😎**


__ADS_2