
BAB. 26
Namun dara remaja itu tampak tersenyum, seakan tidak sedang mengalami bahaya apapun.
“Mampus kau bocah tengil!”
Saat tapak dan pundak beradu, terdengar teriakan keras dari mulut Orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho.
“Arkkkk.! Tidak mungkin”
“Menggunakan racun? Apa hanya seperti itu kemampuan Sam-Eng Hwang ho!”
Terlihat tangan Orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho bercucuran darah pada bagian telapak tangannya.
“hihihi.” Baru saja dara remaja itu tertawa karena berhasil melukai lawannya, tiba tiba sebuah serangan yang penuh dengan hawa tenaga dalam yang besar terasa menghimpit pernafasannya. Dara remaja itu, merasakan tenaga desakan ayang amat luar biasa mengarah padanya, saat menyadari orang pertama dari Sam-Eng Hwang ho telah nenekan pundaknya dengan kedua jarinya.
“Bocah lancang, tidak tau di kasihani!”
Dara remaja itu merasa kaget dan mersakan aliran darahnya terasa kecau karena ada hawa aneh yang mengalir ke dalam tubuhnya melalui tangan orang pertama dari Sam-Eng Hwang ho.
“Menggunakan racun keji melawan soerang gadis kecil, apkah itu di sebut seorang gagah?”
Tiba tiba di belakang gadis kecil itu telah berdiri sesosok pria paru baya yang tadi datang bersama dara remaja itu.
Pria paru baya itu menekan pundak bagian belakang dara remaja itu dan mengalirkan hawa murni yang amat besar.
orang pertama dari Sam-Eng Hwang ho merasakan bahwa pria paru baya ini bukan orang sembarangan, dari cara kemunculannya yang tidak di ketahui hingga adu tenaga dalam, ia dapat merasakan bahwa lawannya kali ini bukanlah lawan biasa.
orang pertama dari Sam-Eng Hwang ho, terdorong mundur beberapa langkah sementara dara remjaa itu terlihat pucat.
“Anak Mey, mundur dan obati luka mu, usir hawa beracun di tubuh mu dengan cara bermeditasi seperti yang kau latih akhir akhir ini!”
“Baik ayah.”
Dara remaja itu segera mundur mendekati kedua perwira itu dan melakukan meditasi untuk mengusir hawa beracun dalam tubuhnya.
“Tuan berdua, tolong lindungi putri saya sebentar dan saya akan sangat berterima kasih!”
“Baik tuan pendekar”
__ADS_1
Kedua perwira itu menjawab bersamaan.
“Sepertinya Sam-Eng Hwang ho tidak mengenal belas kasih pada lawan lawannya, bahkan melawan anak kecil harus menggunakan racun.”
“Lihat serangan!”
Mengetahui lawan memiliki kepandaian tinggi, Sam-Eng Hwang ho tidak merespon kata katanya. Secarah serempak mereka langsung menyerang lawan apalagi mengingat nasib saudara termuda Sam-Eng Hwang ho yang telah tertangkap.
Sementara itu, dara remaja yang sedang mengobati dirinya akibat keracunan mulai pulih, wajahnya mulai terlihat memerah. Kedua perwira yang melihat keadaan dara meraja itu menuji dalam hati kemampuan penolong mereka.
“Sungguh hebat, nona masi semuda ini namun memiliki kepandaian tinggi”.
Dara remaja itu hanya tersenyum tanda bangga di piji oleh dua orang perwira di depan nya.
“Nona, apakah ayah mu mampu melawan mereka?”
“Tuan tenang saja, ayah ku mampu melawan mereka. Kemampuan mereka masi jau di bawa ayah.” Dara itu berkata dengan dada di budungkan ke depan, penuh kebanggaan akan ilmu silat ayahnya.
Memang bukan omongan kosong belaka, tidak membutuhkan waktu lama kedua Sam-Eng Hwang ho mulai tampak terdesak, selain perbedaan tenaga dalam yang selisih jau, juga dari segi ilmu silat mereka kalah murni dan kalah keaslian dasar dasar ilmu silat.
Sam-Eng Hwang ho tidak menyangka, lawan yang mereka kejar adalah orang yang memiliki kasaktian tinggi bahkan jau melampau mereka.
“Ingin berpikir melarikan diri? Apakah belum terlambat!”
Pria paru baya yang lebih dulu menyadari niat kedua lawannya yang berniat melarikan diri tidak mau kehilangan lawannya dan bentindak cepat.
“Liat serangan”. Giliran pria paru baya ini yang memperingati ke dua lawannya sambil merubah gerakan silatnya. Kedua tangan nya berubah menjadi kemerahan dan mengeluarkan percikan cahaya berwanrna merah.
Sementara itu, pelayan muda yang menyaksikan pertarungan antara tamu penginapan dan Sam-Eng Hwang ho menjadi terkejut melihat perubahan ilmu silat yang di gunakan tamunya.
“Tangan Dewa Petir Merah!”
Ucapan yang keluar dari mulut pelayan muda itu hampir tidak ada suaranya, namun tidak bagi pria paru baya itu. Ucapan itu jelas terdengar di telinganya.
Sepintas, pria paru baya itu menoleh ke arah sumber suara itu, namun segera berbalik karena Sam-Eng Hwang ho kini mengeluarkan segenap kemampuan mereka untuk mengalahkan lawan.
“Baiklah..baiklah. sepertinya kalaian harus segera di lumpuhkan”.
Pria paru baya itu, bergerak lambat ketika Sam-Eng Hwang ho melakukan serangan bersamaan. Mereka mengandalkan racun yang keluar dari kedua tangan mereka untuk mengalahkan lawan.
__ADS_1
Dukkk.!
Suara benturan tangan terdengar di ikuti dua orang Sam-Eng Hwang ho yang terduduk lemas. Kedua tangan mereka terkulai lemas, karena tulang tulang tangan mereka telah hancur dan tenaga dalam mereka yang mengandung racun berbalik menghantam diri mereka dan menyebabkan mereka keracunan oleh jurus mereka sendiri.
Sam-Eng Hwang ho tidak pernah menyangka, mereka dengan mudah di kalahkan seorang yang tidak di kenal, nama besar mereka sepanjang sungai Hwang Ho hancur hanya dalam semalam.
Kedua perwira yang melihat lewan telah berhasil di kalahkan segera maju dan member hormat kepada penolong mereka.
“Terimah kasih pendekar karena telah menolong kami.”
“kami tidak bermaksud mencampuri urusan tuan tuan, hanya karena keberadaan Sam-Eng Hwang ho sebenarnya karena mengejar kami yang siang tadi anak buah mereka bentrok dengan kami di hutan. Kami hanya tidak menginginkan permasalahan ini melibatkan orang lain.”
“Baiklah tuan pendekar, kami mengundang tuan dan anak tuan untuk mampir melihat situasi di bawa, sementara kedua orang ini biarlah di urus sama petugas keamanan!”
Perwira berewok yang berbadan kekar terlihat memberikan tanda kearah beberapa orang yg kini mulai terlihat ramai di bagian halaman. Tampak beberapa orang meloncat ke atas atap dan langsung membawa Sam-Eng Hwang ho ke kamar di mana orang termuda Sam-Eng Hwang ho di tahan.
“Silakan Pendekar!” ke dua perwira segera meloncat ke bawa di ikuti oleh ayah dan anak itu.
Begitu mereka memasuki ruangan, terlihat seorang pria tua dengan penampilan penuh wibawa dan mata mencorong, menandakan kematangan seorang yang bijaksana.
“Tuan perkenalkan kedua orang ini yang membantu kami melumpuhkan para penyusup!"
“Ah. Terima kasih Tuan pendekar dan Nona, kiranya kami bersyukur di bantu oleh golongan pendekar”.
Pria paru baya itu hanya menganguk sementara matanya terlihat mencari seseorang namun tidak di temukan sosok yang di cari.
“Ah, kiranya siapa yang tuan pendekar cari? Bisakah kami megetahui siapa nama besar tuan pendekar!”
“Maafkan kami Tuan, kami hanya pelanong yang kebetulan kemalam di desa ini, para penyusup malam ini sebenarnya mencari kami, karena tadi siang kami bentrok denganmereka di tengah hutan. Kami merasa bertanggung jawab karena telah melibatkan orang lain.”
“Ah sepertinya, Tuan Pendekar terlalu mencurigai kami hingga masi tidak memperkenlakan diri. Bukankah kami sedang berhadapan dengan salah satu penghuni Lembah Panjang?”
“hemp. kiranya kami ayah anak sedang berhadapan dengan orang cukup mengenal tentang keluarga kami, baiklah Tuan kami memang berasal dari Lembah Panjang, tidak tau apakah Tuan bersedia memperkenalkan diri setelah mengetahui keadaan kami!”
Ucapan ini keluar seperti omongan biasa, namun terdapat penegasan menuntut karena lawan bicara telah mengetahui keadaan mereka.
“Ha.ha.ha. baiklah, sepertinya tidak sopan apabila kami tidak memperkenalkan diri, meskipun tuan sendiri tidak memperkenalkan diri pada kami! Saya adalah salah satu pejabat Istana yang telah pensiun dan secarah kebetulan kami menginap di desa ini, saya yang tua ini bernama Tian bermarga Hong, kami sedang dalam perjalanan untuk kembali ke kampung halaman kami.”
\=\=\=\=\=\=\=》》》》
__ADS_1
Salam merdeka
Kita Bineka Tunggal Ika