PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS

PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS
BAB. 20


__ADS_3

BAB. 20


Kwee Li Siang seperti tersihir oleh kata kata pemuda itu, apalagi pemuda itu sejak semlaam selalu ada dalah pikirannya, bahan pemuda itu perna masuk dalam hayalannya saat Dia sedang mandi. Mengingat hal itu wajahnya semakin memerah.


Tanpa terasa, Kwee Li Siang seorang yang berjuluk Bidadari Berkabung telah jatuh cinta pada pemuda yang belum ia kenal.


“Anak muda, siapa kamu dan apa hubungan mu dengan Pendekar Berambut Emas?”


Chen merasa Siauw Sik Kwi bukan orang yang sederhana, Ia mengenal gurunya hanya dari satu gebrakan.


“Kepung penjahat ini”. Teriak perwira Ang memberi komando.


Seketika puluhan prajurit yang telah hadir di tempat itu mengelilingi Siauw Sik Kwi mereka siap bertarung dan menunggu perintah selanjutnya.


Siauw Sik Kwi yang melihat hal itu hanya tersenyum, begitu muda baginya untuk merobohkan kepungan para prajurit ini namun kehadiran Wanita itu dan di tambah lagi hadirnya pemuda sakti yang dia tau memiliki kepandaian tinggi akan membuat dia kerepotan.


“ha..ha..ha..entah salah apa saya hingga hari ini menerima perlakuan seperti ini, di kepung oleh puluhan prajurit bersenjata lengkap, dan di bantu oleh pendekar pendekar muda yang sakti. Aku Si Mata Keranjang tidak menyesal kalau hari ini harus mati di tangan murit murit orang pandai para tokoh sakti dunia persilatan. Nona kau pasti murid Pendekar Pengembara dan pendekar muda, kalau tidak salah kau murid Pendekar Berambut Emas“


Semua orang terkejut mendengar kedua orang muda itu adalah murid orang sakti yang


puluhan tahun lalu pernah mengeparkan dunia persilatan.


“Nona kalau tidak salah kau yang beberapa tahun terkahir ini mengemparkan wilayah utara dan sepanjang sungai Huang Hoo, yang berjuluk Bidadari berkabung dan kau Pendekar Muda melihat jurus yang kau mainkan tadi tidaklah salah dugaan Ku kalau kau murid Pendekar Ber…”


“locianpwe terlalu menjunjung tinggi nama Suhu, benar saya murid Beliau” kata Chen yang langsung memotong kata kata Siauw Sik Kwi.


“hari ini bisa kalah di tangan pendekar muda seperti mu saya tidak merasa menyesal. Namun yang membuat saya penasaran kenapa tiba tiba tempat ini yang sepih bisa di kunjungi orang orang seperti kalian dan para prajurit ini”.


“Hemp. Penjahat cabul lebih baik kau segera menyerah dan mempertanggung jawabkan kesesatan mu, telah banyak orang yang menjadi korban mu beberapa hari ini” Kwee Li Siang yang mencoba menguasai perasaan malunya mengalihkan pembicaraan.


“Nona. Tolong katakan apa kesalahan saya hingga saya di sebut penjahat cabul?”


Para prajurit tetap mengepung Siauw Sik Kwi dengan rapat dan berusaha agar penjahat yang telah berada di depan mereka tidak kabur.


“Beberapa hari terakhir ini kota Ji’an di gemparkan oleh hilangnya beberapa orang wanita dan setelah di temukan telah meninggal”. Kwee Li Siang berkata sambil melihat perwira Ang.


Perwira Ang yang merasa memahami situasi segera maju kedepan.


“Siauw Sik Kwi lebih baik kau menyerah karena tempat ini telah di kepung oleh ratusan tentara kami, petualangan mu sebagai Pemerkosa telah berakhir. Saya menjamin tidak ada tempat untuk kamu meloloskan diri”.


“Hemp. Bukankah kamu perwira Ang, komanda gerbang benteng selatan?”


“Benar! Saya Perwira Ang komandan jaga Gerbang selatan kota Ji’an”.


“Saya mengenal mu, karena nama mu selain di kenal sebagai perwira gerbang Selatan juga di kenal dengan sebutan Golok Sakti Dari Ji’an”.


“Benar orang orang sering menyebutku seperti itu”

__ADS_1


“Sunggung penasaran dan membikin hati penasaran. Kami telah menghuni gua ini hampr lima tahun dan tidak sekalipun kami menggangu penduduk di sekitar sini bahkan beberapa kali saya menyelamatkan penduduk yang terjebak binatang buas di tempat ini, sekarang saya di tuduh menculik wanita wanita muda. Saya Si Mata Keranjang memang mengagumi kecantikan namun saya tidak pernah menggangu wanita apalagi memperkosanya mereka. Sungguh membuat hati ini penasaran”.


“Penjahat cabul! Kau boleh menipu mereka tapi tidak dengan Ku!”


Wanita berpakaian merah itu langsung menyerang Siauw Sik Kwi dengan pedangnya, namun dalam satu gerakan tangan pedang wanita itu berhasil di rampas.


“Nona melihat jurus Mu, bukankah anak murid Perguruan Silat Garuda Hitam?”


“Baguslah kalau Kau mengenali Ku! Kini saatnya kau mempertanggung jawabkan kebiadaban Mu”.


“Belum selesai satu masalah kini datang lagi masalah baru” Guman Siauw Sik Kwi.


“Nona dan kalian semua, mari kita bica baik baik. Perwira Ang bisakah Kau terlebih dahulu menyingkirkan prajurit Mu?”


Perwira Ang menatap Kwee Li Siang namun Kwee Li Siang hanya berdiri tanda tidak tau harus berbuat apa. Saat menatap Pemuda yang menolong Kwee Li Siang, Ia mendapat anggukan kepala tanda pemuda itu menyetujui. Karena percaya dengan kemampuan dua orang anak muda itu yang dia tau ternyata murid orang orang sakti, perwira Ang memerintahkan semua ank buahnya mundur hingga hingga ratusan meter namun tetap bersiaga dan siap menerima perintah.


“Baik. Mari kita bahas satu persatu masalah ini”


Siauw Sik Kwi mengajak mereka duduk di rerumputan.


“Baiklah Nona, kalau boleh tau siapa nama mu dan hubungan mu dengan Perguruan silat Garuda Hitam, serta apa permasalahan hingga kau meyebut ku penjahat cabul?”


“Aku adalah anak ketua perguruan silat garuda hitam, namun sejak 10 tahun lalu aku berguru pada sahabat ayah ku, seorang pengemis yang kebetulan lewat di desa kami dan mampir, saya mengikuti Suhu saya selama tujuh tahun dan setelah lewat tujuh tahun saya kembali ke rumah.


Agar kisah Nona berbaju merah ini bisa sejalan dan bisa di pahami, baiknya penulis sedikit menarik mundur cerita ini ke kejadian tiga tahun lalu.


Karena kepiawaian dalam melatih silat dan ilmu silat garuda hitam yang telah terkenal di sepanjang provinsi Yangshou maka dalam beberapa tahun perguruan silat garuda hitam berkembang dengan pesat. Sekitar lima tahun lalu Tan Kauwsu menerima sahabat lamanya yang kebetulan singga di rumahnya, karena telah bertahun tahun tidak ketemu, Tan Kauwsu meminta sahabatnya untuk tinggal dan bermalam di rumahnya.


Tidak ada yang menduga, bahkan Tan Kauwsu tidak sendiri tidak menyangka bahwa Dia sedang mengundang bencana di rumahnya.


Malam itu ketika Tan Kauwsu sedang beristirahat bersama istrinya di kamar tidak menyangka bahwa ada sepasang mata yang sedang mengawasi istrinya dengan pandangan penuh birahi, nyonya Tan meski telah berumur tiga puluh delapan tahun tetapi masi terlihat cantik dengan tubuhnya yang padat dan berisi tanda terawat dengan baik.


Para murid saat itu telah beristirahat dan hanya terdapat beberapa orang anak murid yang sedang bertugas jaga malam itu.


Sepasang mata yang mengawasi Nyonya Tan bukan lain adalah sahabat Tan Kauwsu sendiri.


Dengan gerakan ringan orang itu menghampiri pembaringan dan sekali tangannya bergerak Tan Kauwsu telah berhasil di totoknya hingga tidak lagi mampu bergerak.


Tan Kauwsu hanya bisa melotot melihat sahabatnya berada di dalam kamarnya tengah malam dan Dia sendiri dalam keadaan tertotok. Wajah sahabatnya tampak tersenyum mengejek kepada Tan Kauwsu lalu dengan sekali gerakan tangan tampak pakaian nyonya Tan telah terlepas dari badannya, kini Nyonya Tan dalam keadaan tanpa busana.


Nyonya Tan yang merasa kaget mencoba berteriak karena menyadari ada yang menarik pakainnya, namun gerakan tangan tamunya sangat cepat nenotok. Nyonya Tan hanya bisa melotot penuh kebencian pada tamu suaminya.


Sementara itu, Tan Kauwsu sedang berusaha melepaskan pengaruh totokan temannya.


“Hehehe..salahkan istri mu sahabat, kenapa dia memiliki bentuk tubuh yang seksi seperti ini, juga salahkan istri mu yang memandang ku seakan seseorang yang membutuhkan dekapan pria”.


Tubuh Tan Kauwsu di pindahkan ke kursi menghadap ke pembaringan, sementara istrinya masi terkulai diam di atas pembaringan dalam keadaan tanpa busana.

__ADS_1


Tan Kauwsu terlihat sangat marah dengan kebiadaban temannya, tidak di sangka bahwa malapetakan datang dari temannya sendiri.


“ha.ha.ha.ha, manis ku saatnya kita menikmati keindahan dunia ini, menikamti kenikmatan yang tidak bisa di berikan suami mu”.


Nyonya Tan hanya bisa memandang penuh kebencian dan dan mengalirkan air mata karena sedang di perhadapkan pada satu mala petaka yang melebihi kematian sediri bagi seorang wanita.


Nyonya Tan melihat tamunya mula mengerayangi tubuhnya, dan mulai mencium wajahnya. Nyonya Tan hanya bisa memejamkan mata, sambil menagis.


Bagaimanapun sebagai seorang wanita yang telah bersuami dan di usia usianya yang mekar dan membutuhkan belain dan cumbu rayu seorang pria, sedikitnya Nyonya Tan seperti menikmati kejadian itu, namun hanya sesaat Nyonya Tan menyadari bahwa hal ini tidaklah benar karena dia memiliki suami apalagi kejadian itu di depan suaminya sendiri yang dalam keadaan diam karena tertotok.


“Sayang. Sepertinya keberadaan suami mu sangat menggangu baiknya kita singkirkan dulu agar tidak menggangu kesenagan kita berdua”.


Tanganya bergerak kearah Tan Kauwsu duduk, sinar putih melesat cepat menancap di bagian kepala Tan Kauwsu.


Tan Kauwsu meninggal dengan kepala menancap sebuah Piauw berukuran kecil.


“Hehehe. Sekarang tidak ada lagi yang akan menghalangi kita manis, saatnya menikmati malam ini”.


Berkali kali Nyonya Tan mengalami pemerkosaan, hingga sulit di bedakan apakah Nyonya Tan di perkosa atau membiarkan dirinya di perkosa, ada pada saat tertentu Nyonya Tan merinti seperti sedang menikmati, namun pada saat lain Nyonyan menangis dengan keadaan yang menimpah dirinya, apalagi totokan Nyonya Tan telah terbebas beberapa waktu lalu.


Kejadian itu berlangsung berulang ulang, sekan tidak menemukan kepuasan Tamu Tan Kauwsu melampiaskan nafsu birahinya pada istri temannya dan di lakukan di depan mayat Tan Kauwsu.


Hingga pagi hampir menjelang Tamu itu seakan baru merasa puas akan aksinya. Nyonya Tan terlihat terkulai lemas di pembaringan. Tamu Tan Kauwsu terlihat mengenakan pekaiannya dan berjalan keluar dengan wajah tersenyum puas.


Tan Kauwsu terlihat duduk di luar rumah sambil menyaksikan para murit Tan Kauwsu berlatih, seorang murid kepala terlihat sedang melatih para murid lainnya.


“Hemp. Orang orang ini tidak boleh di biarkan hidup agar tidak meninggalkan kerepotan!”


“Selamat pagi Tuan, apakah tuan melihat Suhu? Biasanya jam begini suhu memimpin langsung latihan para murid!”


“Suhu kalian masi beristirahat, mungkin sedang menikmati malam indahnya bersama istrinya. Biaknya saya pagi ini menggantikan Suhu kalian.”


Murit itu tampak kaget dengan kata kata tamu Suhunya, namun tidak menaru curiga. Bisa jadi suhunya sedang beristirahat karena semalam mereka melihat suhunya sedang bercara dengan tamunya hingga larut malam.


Para murit yang di beritahu oleh murid kepala, bahwa latihan pagi ini akan di pimpin oleh teman Suhu mereka merasa gembira.


\=\=\=\=\=\=\=》》》》


****Sampai di sini semoga selalu mendapai supor dari para pembaca. penulis berharap pada bab ba selanjutnya akan lebih menarik ceritanya dan akan bemunculan tokoh tokoh baru yang memiliki kesaktian tinggi.


Sampai ketemu pada Bab selanjutnya


Tetap jaga kesehatan di masa pandemik ini, ketahanan fisik akan sangat berguna dan bisa mengurangi resiko tertular Covid 19.


Salam penulis


WpK002

__ADS_1


🙂🙂🙂**


__ADS_2